MasukPagi itu, udara di pinggiran Jakarta terasa lebih segar setelah diguyur gerimis semalam, meski sisa-sisa air masih menggenang di aspal yang berlubang. Kavindra keluar dari rumah dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Di tangannya, ada sebuah ponsel murah yang baru ia beli di konter depan gang seharga ratusan ribu rupiah jauh dari ponsel titanium yang biasa ia kantongi dulu.Ia memasukkan kartu SIM baru, lalu menarik napas dalam-dalam. Tidak ada lagi nomor kolega bisnis, tidak ada nomor Nadira, dan tidak ada nomor ibunya. Kontak di ponsel itu kini kosong, bersih, seolah merepresentasikan hidupnya yang baru saja lahir kembali."Pagi, Dokter Vindra!" sapa Mak Asih, penjual gorengan di ujung gang, yang sedang menata dagangannya.Kavindra tersenyum ramah, senyum tulus yang bertahun-tahun terkubur di balik ketegangan ruang rapat Syahreza Group. "Pagi, Mak. Wah, wangi sekali pisang gorengnya.""Ini, Dok, dibawa buat sarapan," ucap Mak Asih menyodorkan sebungkus kanton
Gerimis tipis mengguyur Jakarta saat sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan sebuah rumah petak di gang sempit daerah pinggiran. Nadira turun dengan anggun, meski wajahnya menunjukkan ekspresi jijik saat sepatunya yang seharga belasan juta harus menginjak aspal yang becek.Di depan pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, ia berhenti. Di dalam, ia melihat Kavindra, pria yang dulu selalu tampil klimis dengan jas Armani kini hanya mengenakan kaos oblong putih tipis dan celana kain biasa, sedang duduk di meja kayu kecil sambil memeriksa tumpukan rekam medis pasien kliniknya.Nadira mengetuk pintu dengan keras. Kavindra menoleh, matanya sedikit membelalak melihat siapa yang datang. Ia berdiri dan membuka pintu. "Nadira? Sedang apa kamu di sini?"Nadira tidak menjawab, ia langsung menerobos masuk dan menutup hidungnya. "Astaga, Vindra! Tempat apa ini? Bau apak, sempit, dan ... apa itu? Kipas angin karatan?""Ini tempat tinggalku sekarang. Kalau kamu tidak suka, silakan keluar," ja
Enam bulan telah berlalu sejak badai di RS Syahreza mereda. Kavindra benar-benar menepati janjinya. Ia menanggalkan jabatan Direktur Utama, keluar dari rumah mewah Syahreza, dan memutuskan hubungan finansial sepenuhnya dari Sofia. Kini, ia bukan lagi pangeran mahkota medis Jakarta. Ia hanyalah dr. Kavindra, seorang dokter umum yang membuka praktik di sebuah klinik kecil di pinggiran kota, jauh dari gemerlap kekuasaan.Sore itu, udara Jakarta terasa gerah. Kavindra baru saja selesai melayani pasien terakhir ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raisa.Raisa: Arkan ada latihan basket di lapangan komplek jam 4 sore. Aku ada operasi darurat, Abimanyu sedang di luar kota untuk simposium. Kalau kamu mau mencoba bicara dengannya, ini waktunya. Tapi ingat janji kita, jangan memaksa.Tangan Kavindra gemetar. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Selama enam bulan, ia hanya berani mengirimkan buku atau mainan lewat kurir tanpa nama, atau mengintip dari kejauhan saat Abi menjem
Pintu ruang sidang Komite Etik RS Syahreza tertutup rapat, menciptakan suasana yang mencekam. Di dalam, Raisa duduk sendirian di kursi pesakitan, dikelilingi oleh lima dokter senior yang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Di sudut ruangan, Sofia Syahreza duduk dengan anggun, menyilangkan kaki, dan menatap kuku-kukunya seolah nyawa karier Raisa hanyalah hiburan pagi yang membosankan."Dokter Raisa Andriana." Suara Ketua Komite Etik, dr. Gunawan, menggema. "Ada laporan serius mengenai pelanggaran prosedur medis yang Anda lakukan pada pasien anak di bangsal Melati tiga hari lalu. Pasien mengalami reaksi alergi berat setelah Anda memberikan injeksi antibiotik. Laporan menyebutkan Anda tidak melakukan skin test terlebih dahulu."Raisa mengepalkan tangannya di bawah meja. "Itu tidak benar, Dok. Saya melakukan skin test. Hasilnya negatif, dan perawat saksinya ada. Saya mencatat semuanya di rekam medis digital.""Sayangnya," sela Sofia dengan suara lembut yang berbisa, "rekam medis digi
Kavindra merasa dunianya runtuh tepat di depan matanya sendiri. Dari balik pilar beton di lorong, ia menyaksikan pemandangan yang lebih menyakitkan daripada melihat laporan kerugian perusahaan. Ia melihat Raisa tersenyum dengan rona merah di pipi. Dan senyum itu bukan untuknya. Senyum itu milik Abimanyu.Begitu Raisa menghilang di balik belokan menuju poliklinik, Abimanyu berbalik. Pria itu berjalan santai menuju area parkir, masih dengan sisa senyum di bibirnya. Kavindra tidak bisa menahan diri lagi. Amarah yang membuncah, rasa cemburu yang membakar, dan ego sebagai seorang Syahreza meledak seketika. Ia keluar dan mencegat langkah Abimanyu tepat di area parkir VIP yang sepi."Berhenti di sana, Dokter Abimanyu." Suvara Kavindra berat dan penuh ancaman.Abimanyu menghentikan langkahnya. Ia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, ia menarik napas panjang dan berbalik dengan tenang, menatap lurus ke mata Kavindra yang merah karena emosi."Pak Direktur. Ada yang bisa saya bantu sepagi i
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap masuk melalui jendela ruang makan apartemen Raisa. Aroma nasi goreng mentega sisa semalam masih tercium tipis, suasana di meja makan terasa lebih tenang dari biasanya. Raisa sedang sibuk memasukkan kotak bekal ke dalam tas sekolah Arkan dan Aira, sementara tangan kirinya sesekali membetulkan letak stetoskop di dalam tas kerjanya.Arkan duduk terdiam, jemari kecilnya memainkan ujung sendok. Ia sudah rapi dengan baju biru. Aira di sebelahnya masih sibuk menghabiskan susu cokelatnya sampai menyisakan kumis putih di atas bibir."Ma," panggil Arkan pelan. Suaranya yang biasanya tegas kini terdengar sangat serius, khas Arkan jika sedang memikirkan sesuatu yang berat.Raisa menoleh, tersenyum lembut. "Iya, Sayang? Ada yang ketinggalan? Buku gambarnya sudah Mama masukkan, kok."Arkan menggeleng. Ia menatap lurus ke arah kursi kosong di hadapannya, kursi yang kemarin seharian diduduki oleh Abimanyu. "Ma, boleh Arkan tanya sesuatu?""Boleh, Sa
Hari Minggu itu, suasana di apartemen Raisa terasa jauh lebih hidup. Sejak pukul sembilan pagi, bel pintu sudah berbunyi, di sana sosok Abimanyu yang berdiri tegap dengan senyum lebar. Di kedua tangannya, ia menjinjing kantong-kantong besar berisi bahan makanan segar."Selamat pagi, Dokter Raisa!"
Raisa keluar dari lobi apartemen bersama kedua buah hatinya. Namun, pemandangan di depan lobi membuat langkahnya terhenti sejenak. Sebuah mobil SUV hitam yang mengilap sudah terparkir rapi, dan sosok Abimanyu berdiri di samping pintu penumpang dengan senyum yang menenangkan."Selamat pagi, Dokter
Raisa menatap tangan Kavindra, lalu menatap matanya dengan kilat amarah yang belum pernah Kavindra lihat sebelumnya. "Cukup, Vindra!" desis Raisa. "Jangan bersikap seolah kamu pemilikku."Raisa turun dari mobil Kavindra. Ia berjalan cepat mengejar Abimanyu yang baru saja hendak membuka pintu mob
Lampu kristal di Grand Ballroom Grand Hyatt memancarkan cahaya yang mewah, menandai dimulainya acara Gala Dinner sebagai penutup seminar pediatri hari itu. Di tengah riuh rendah suara denting sendok dan tawa para dokter dari berbagai penjuru negeri, Raisa memilih menyepi.Ia duduk di meja bundar n







