MasukPintu tertutup dengan bunyi klik pelan yang terdengar seperti dentuman palu godam di telinga Soraya. Suara langkah kaki George yang menjauh di lorong apartemen semakin menegaskan kenyataan pahit itu.
Dia ditinggalkan.
Lagi.
Ditinggal berdua dengan pria yang tatapannya terasa menguliti setiap lapisan pertahanan yang susah payah ia bangun. Soraya frustrasi, di tambah di tinggal lagi berdua dengan Damien, kekalutannya semakin menjadi.
Keheningan yang ditinggalkan George terasa berat, membebani udara di antara mereka. Soraya masih berdiri mematung di tempatnya, tubuhnya gemetar hebat meski ia berusaha menekannya mati-matian. Teriakan yang tadi hanya menjadi cicitan nyamuk kini tersangkut di tenggorokannya, berubah menjadi rasa mual yang pekat.
Damien tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, dengan tangan masih terlipat di dada, memperhatikannya. Dia memindai Soraya dari ujung rambut hingga ujung kaki, tatapannya yang lekat dan analitis itu membuat Soraya merasa telanjang dan kotor.
Pria itu tidak terburu-buru. Dia seolah menikmati setiap detik dari kekalutan yang merayapi Soraya. Dia adalah predator yang sabar, menunggu mangsanya kehabisan tenaga untuk lari.
"George...," bisik Soraya, lebih kepada dirinya sendiri, sebuah permohonan yang sia-sia agar suaminya kembali.
"Dia tidak akan kembali," suara Damien memecah keheningan. Dalam, tenang, dan tanpa ampun. "Dia sudah menyerahkanmu padaku."
Kata-kata itu menghantam Soraya. ‘Aku percayakan istriku padamu. Lakukan apapun, aku ingin masalah ini segera selesai’
George telah memberi Damien izin. Izin untuk apa? Izin untuk memaksanya? Izin untuk... mendidiknya?
Frustrasi Soraya memuncak, bercampur dengan ketakutan yang melumpuhkan. Dia menatap Damien, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Kau tidak bisa memaksaku," desisnya, meski suaranya bergetar. "Aku tidak mau pergi ke kantor polisi. Aku tidak bersalah! Kau pengacaraku, Vargan! Seharusnya kau yang bicara pada mereka, bukan aku!"
Damien mengangkat sebelah alisnya, ekspresi mengejek yang tipis tersungging di bibirnya yang kaku. "Benarkah? Itu tugas seorang pengacara? Berbohong untuk kliennya yang pengecut? Sebenarnya mudah, tapi aku tidak mau.”
"Aku tidak pengecut!"
"Kalau begitu buktikan," Damien mengambil satu langkah maju. Soraya refleks mengambil satu langkah mundur, punggungnya membentur rak buku di belakangnya. "Kau bilang kau tidak bersalah. Orang yang tidak bersalah tidak akan gemetar seperti daun kering hanya karena diminta memberi keterangan."
"Kau tidak mengerti!" Soraya memekik, suaranya akhirnya keluar, meski pecah dan serak. "Mereka... Aku tidak mau bertemu mereka!"
Damien berhenti, kepalanya sedikit miring. Dia menangkapnya. Kata kunci itu. "Mereka?" ulangnya, suaranya melembut berbahaya. "Siapa 'mereka', Soraya? Polisi? Atau orang-orang yang membuatmu terlibat dalam kasus ini?"
Mata Soraya membelalak ngeri. Dia sudah salah bicara. Dia telah memberi Damien amunisi baru.
"Aku... aku tidak tahu maksudmu," elaknya lemah.
"Kau tahu," Damien melangkah maju lagi, kali ini Soraya tidak bisa mundur. Pria itu kini berdiri tepat di depannya, menjulang tinggi dan mengintimidasi. Soraya harus mendongak untuk menatap wajahnya yang keras. "Kau takut bertemu mereka. Kau takut mereka akan mengatakan sesuatu. Kau takut jawabanmu yang 'konsisten', seperti kata suamimu, tidak akan cukup."
Jantung Soraya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. Pria ini melihat menembusnya. Dia melihat ketakutan yang sebenarnya.
"Ini bukan hanya tentang kasus, kan?" bisik Damien, tatapannya kini menelusuri fitur wajah Soraya, seolah sedang menghafalnya. "Ini tentang 'rasa takut' yang selalu mendominasimu. Rasa takut yang membuatmu 'sulit di ajari'."
Ucapan itu kembali. Ucapan yang sama yang didengarnya beberapa hari lalu. Ucapan yang merujuk pada 'gairah' yang tidak ia akui. Soraya merasa pusing. Semuanya tumpang tindih. Ketakutannya pada 'mereka' di kantor polisi, dan ketakutannya pada Damien di ruang tamu ini, kini terasa menyatu menjadi satu teror besar yang tak terlukiskan.
"Jangan... jangan bicara seperti itu," rintih Soraya.
"Kenapa tidak?" Damien mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Aroma cologne-nya yang maskulin dan sedikit pedas menusuk indra Soraya, membuatnya semakin sesak napas. "Suamimu ingin masalah ini cepat selesai. Dia memintaku melakukan apapun. Dan menurutku, masalahmu bukan hanya kasus ini. Masalah utamamu adalah ini."
Damien mengangkat tangannya, sangat pelan. Soraya tersentak, memejamkan mata, mengira akan dipukul. Tapi yang ia rasakan hanyalah ujung jari telunjuk Damien yang dingin menyentuh pelipisnya, di mana keringat dingin mulai mengalir.
"Rasa takutmu," bisiknya. "Kau membiarkannya mengendalikanmu. Kau bisa belajar dengan baik, Soraya, tapi kau memilih untuk takut."
Soraya membuka matanya. Kemarahan yang putus asa tiba-tiba melonjak, mengalahkan ketakutannya sesaat. Dia menepis tangan Damien dengan kasar.
"Hentikan! Hentikan analisis psikologismu! Kau pengacaraku, bukan terapisku! Dan kau bukan... kau bukan apa-apa bagiku selain pengacara yang dibayar George!"
Untuk pertama kalinya, Soraya melihat kilatan emosi di mata Damien. Sesuatu yang gelap dan berbahaya. Tapi itu hilang secepat kemunculannya.
Dia mundur selangkah, kembali melipat tangannya. Wajahnya kembali menjadi topeng tanpa ekspresi.
"Baik," katanya datar. "Sebagai pengacaramu, aku akan beritahu situasinya. Kau wajib datang. Jika kau tidak datang secara sukarela sebagai saksi, mereka akan datang dengan surat perintah, dan kau akan dijemput paksa sebagai tersangka. Pilihan mana yang kau inginkan, Soraya? Terlihat kooperatif, atau terlihat seperti kriminal?"
Logika itu menghantam Soraya. Tidak ada jalan keluar. George tidak akan melindunginya. Dan Damien... Damien tidak hanya akan membiarkannya tenggelam, dia akan mendorong kepalanya ke bawah air sambil mengajarinya cara berenang.
Kekalutan itu mencapai puncaknya. Soraya merasa dunianya berputar. Di satu sisi ada 'mereka' di kantor polisi—ancaman yang tidak diketahui namun sangat ia takuti. Di sisi lain ada Damien, ancaman yang sangat nyata, berdiri di depannya, menuntut kepatuhan mutlak.
Tubuh Soraya merosot. Dia bersandar pada rak buku, kakinya tidak sanggup lagi menopangnya. "Aku tidak bisa..."
"Kau bisa," sela Damien, tanpa simpati. "Kau akan bisa. Karena aku yang akan 'mendidikmu'. Ingat janjiku?"
Damien berjalan ke meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan segelas air putih, dan kembali ke hadapan Soraya. Dia tidak menyodorkan gelas itu. Dia menahannya.
"Minum." Itu bukan permintaan. Itu perintah.
Soraya menatap gelas itu, lalu menatap mata Damien. Tatapan Damien jelas menjanjikan sesuatu. Janji bahwa ini baru permulaan. Bahwa 'pendidikan' ini akan jauh lebih sulit daripada sekadar menghadapi polisi.
Dengan tangan gemetar, Soraya meraih gelas itu. Jari-jarinya menyentuh jari-jari Damien yang dingin dan kuat. Pria itu menahan gelas itu sepersekian detik lebih lama, memaksanya untuk merasakan kontak fisik itu, sebelum akhirnya melepaskannya.
Soraya meneguk air itu dengan rakus, air dingin itu mengalir ke tenggorokannya yang kering, tetapi tidak melakukan apa pun untuk memadamkan api kecemasan dan frustasi yang membakarnya dari dalam.
"Bagus," kata Damien, seolah memuji seekor anjing yang patuh.
"Sekarang, ganti pakaianmu. Kita berangkat dalam tiga puluh menit. Kau tidak akan pergi ke sana dengan penampilan seperti korban yang ketakutan. Kau akan pergi ke sana sebagai wanita yang memegang kendali."
Soraya menatapnya dengan putus asa. "Bagaimana jika aku tidak bisa?"
Damien tersenyum tipis. Senyuman itu tidak mencapai matanya.
"Itulah gunaku, Soraya. Aku akan memastikannya. Jangan panggil aku Vargan kalau aku tidak bisa."
Soraya menunduk, menatap sisa air di gelasnya. Dia kalah. Dia terjebak di antara suaminya yang tidak peduli dan pengacara yang terlalu peduli dengan cara yang salah. Kekalutan itu tidak mereda, justru mengeras menjadi semacam keputusasaan yang dingin. Dia harus mengikuti Damien ke kantor polisi, dan setelah itu... dia akan tetap terjebak dengan Damien.
Frustrasinya kini bukan lagi sekadar kemarahan. Itu adalah teror yang hening akan apa yang akan terjadi selanjutnya, setelah George menutup pintu dan menyerahkannya kepada Vargan.
***
Sepanjang perjalanan ke kantor polisi, Damien berkata, "bagaimana rasanya klimaks yang bukan didapat dari suamimu?"
Tubuh Soraya menegang seketika. Darah terasa surut dari wajahnya, meninggalkan rasa dingin dan pusing. Jantungnya yang sudah berdebar kencang kini terasa seperti berhenti berdetak sesaat, sebelum menghantam tulang rusuknya dengan brutal.
Dia tidak menoleh. Dia tidak sanggup.
Damien melanjutkan, matanya lurus menatap jalan di depan, tetapi Soraya bisa merasakan seringai tipis dalam nadanya. "Desahanmu malam itu, membuktikan kau belum pernah mendapat klimaks seperti itu. Diplomat itu tak jago di ranjang? Atau kau yang..."
"Jangan bahas itu!" Soraya memekik, suaranya pecah dan bergetar persis seperti yang ia takutkan. Dengan suara takutnya, ia menoleh, menatap profil pria itu dengan ngeri. "Yang terjadi malam itu..."
"Kesepakatan sudah deal saat kau klimaks," Damien menyela, memotong ucapannya tanpa ampun. Dia akhirnya menoleh, matanya yang kelam bertemu dengan mata Soraya yang panik hanya sepersekian detik. "Kau membayarku dengan tubuhmu."
Pernyataan itu menggantung di udara yang pengap.
Bukan tuduhan. Bukan pertanyaan. Itu adalah fakta. Sebuah transaksi yang telah ditutup. Soraya terkesiap, rasa mual melandanya dengan hebat. Frustrasi dan kekalutan yang ia rasakan di kantor tadi kini terasa kecil dibandingkan dengan gelombang penghinaan dan rasa jijik—jijik pada Damien, dan lebih lagi, jijik pada dirinya sendiri, yang kini menenggelamkannya.
"Tidak," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Itu tidak benar."
"Apa yang tidak benar?" tanya Damien, masih dengan nada bicara yang santai. "Bahwa kau klimaks? Bahwa kedahsyatan itu yang pertama untukmu? Atau bahwa itu adalah bayarannya?"
"Kau... kau memanfaatkanku!" Suara Soraya naik, histeris. "Aku sedang... aku sedang tidak stabil malam itu! Kau tahu aku ketakutan!"
"Tentu saja," Damien membelokkan mobil dengan mulus ke jalan yang lebih lengang. "Itulah intinya. Rasa takut adalah pemicu terkuat, Soraya. Jauh lebih kuat dari cinta, atau kesetiaan. Kau takut, kau putus asa, dan kau butuh seseorang untuk mengambil alih kendali. Aku memberimu itu. Dan kau berterima kasih padaku dengan cara yang paling jujur."
"Jujur?" Soraya tertawa, tapi suaranya terdengar seperti isak tangis.
"Kau menyebut itu jujur? Kau menjebakku!"
George tidak main-main dengan ancamannya. Pria itu membangun benteng tak kasat mata di sekeliling istrinya, sebuah sangkar emas yang dirancang dengan dalih "perlindungan dan cinta", namun beraroma kepemilikan yang sakit.Soraya merasa ruang geraknya terbatas, seolah oksigen di sekitarnya dijatah.Pagi itu, Soraya mencoba keluar dengan alasan ingin membeli bunga segar, hobi lamanya. Namun, baru saja kakinya melangkah ke teras, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam langsung menghalanginya. "Maaf, Nyonya," ucap salah satu dari mereka, nadanya sopan namun memblokir jalan sepenuhnya. "Tuan berpesan agar Nyonya tidak keluar tanpa pendampingan beliau. Jika Nyonya menginginkan bunga, kami akan memanggil florist terbaik untuk datang ke sini membawakan katalog.""Aku hanya ingin jalan-jalan, menghirup udara!" protes Soraya, tangannya mengepal."Udara di taman belakang sangat segar,. Dan jauh lebih aman dari polusi," jawab pengawal itu tanpa berkedip.Soraya mendengus kesal,
Uap panas mengepul dari permukaan air di dalam bathtub marmer yang luas itu, memenuhi kamar mandi dengan kabut tipis yang menyesakkan. Soraya membiarkan keran air terus menyala meski bak sudah hampir penuh, suara gemericik air yang jatuh menjadi satu-satunya white noise yang meredam kebisingan di kepalanya. Dia telah menanggalkan seluruh pakaiannya, menumpuknya sembarangan di lantai, kebiasaan baru yang dia pelajari dari ketidaksabaran Damien.Dia berdiri di depan cermin wastafel yang berembun, tangannya mencengkram pinggiran meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, namun pikirannya tertuju pada kemeja putih yang teronggok di sofa luar sana.Menyadari fakta kemungkinan George selingkuh, hati Soraya jelas saja sakit.Ada rasa perih yang menjalar di dadanya, bukan seperti tikaman pisau yang tajam, melainkan seperti pukulan benda tumpul yang menyisakan memar dalam. Rasa sakit itu membingungkan baginya. Bukankah dia sendiri baru saja pulang
Soraya hendak melangkah menuju kamar mandi, membawa serta tas-tas belanjaan yang menjadi alibi sempurnanya, ketika tiba-tiba tangan kuat George menahannya.Tanpa peringatan, George menarik pinggul Soraya sampai jatuh ke atas pangkuannya."Ahh! George!" pekik Soraya kaget, tubuhnya terhempas ke paha suaminya yang keras. Tas-tas belanjaan itu terlepas dari tangannya, jatuh ke karpet tebal dengan bunyi buk yang teredam.George tidak membiarkannya bangun. Lengan pria itu melingkar erat di perut Soraya, menahan wanita itu dalam posisi menyamping di pangkuannya. Wajah George yang lelah namun penuh kemenangan berada begitu dekat. Aroma kopi basi dan kertas tua menguar dari pakaiannya, sangat berbeda dengan aroma whiskey dan maskulinitas tajam yang baru saja Soraya nikmati bersama Damien.Ia mencumbu Soraya, bibirnya mencari leher istrinya dengan gerakan yang tidak sabar. George ingin menuntaskan hasrat. Mungkin keberhasilan menyelesaikan pidato PBB-nya, ditambah dengan kepulangan Soraya yang
Cahaya kota New York yang tak pernah tidur berpendar di bawah kaki mereka, sebuah lautan neon dan beton yang membentang sejauh mata memandang dari lantai 40. Namun, pemandangan spektakuler Manhattan itu seketika menjadi latar yang kabur dan menakutkan saat Damien melakukan manuver yang mendominasi.Tanpa peringatan, Damien menarik pinggang Soraya, menyeret tubuh wanita itu menjauh dari meja kerja, melintasi karpet tebal, dan langsung menyandarkannya di dinding kaca raksasa yang transparan."Damien! Ya Tuhan!" pekik Soraya tertahan.Soraya sempat panik. Matanya melebar saat menyadari tidak ada apa-apa di belakang punggungnya selain selembar kaca tebal dan jurang vertikal setinggi ratusan meter. Lampu-lampu mobil di 5th Avenue tampak seperti semut bercahaya yang merayap jauh di bawah sana. Vertigo menyerangnya sesaat, rasa takut akan ketinggian bercampur aduk dengan rasa takut akan keterbukaan, seolah seluruh kota bisa melihat ketelanjangannya."Lihat ke bawah," bisik Damien di teling
Lampu merah di kamera utama studio Global Crossfire masih menyala terang, merekam setiap kedutan mikro di wajah narasumbernya. Pertanyaan Sebastian Wolf menggantung di udara seperti guillotine yang siap jatuh, menuduh, menjebak, dan menuntut pengakuan tentang "bom waktu" yang mungkin disembunyikan sang pengacara.Jutaan pasang mata di seluruh Amerika, dan satu pasang mata indah yang sedang menahan napas di sebuah suite hotel mewah di Manhattan, menunggu jawaban itu.Damien tersenyum tipis.Itu bukan senyum gugup, bukan pula senyum arogansi yang berlebihan. Itu adalah senyum seorang pemain catur yang baru saja memindahkan kudanya ke posisi mematikan, namun lawannya belum menyadarinya.Lalu menjawab pertanyaan pembawa acara dengan lugas, suaranya lebih tenang dari danau tak tersentuh, kontras dengan agresivitas Sebastian."Bom waktu adalah istilah yang terlalu dramatis untuk sebuah strategi hukum," ucap Damien santai, menatap lurus ke kamera seolah menatap jiwa Soraya di seberang sana.
Palu hakim telah diketuk tiga hari yang lalu, menghasilkan gema yang seharusnya melegakan bagi siapa pun yang duduk di kursi pesakitan. Vonis bebas murni. Kata-kata itu dicetak tebal di setiap surat kabar nasional, diteriakkan oleh penyiar berita di televisi, dan dirayakan oleh tim hubungan masyarakat George sebagai kemenangan kebenaran melawan fitnah keji.Serangkaian perjalanan hukum dilewati Soraya dengan kecepatan yang tidak wajar, sebuah blitzkrieg hukum yang dirancang oleh Damien Vargan dan didanai oleh ambisi politik George.Akhirnya Soraya divonis tidak bersalah.Nama baiknya dikembalikan. Aset-aset yang sempat dibekukan kini cair kembali. Undangan-undangan pesta sosialita mulai membanjiri kotak suratnya lagi, seolah-olah masyarakat elit Amerika mengalami amnesia kolektif tentang skandal yang baru saja terjadi beberapa bulan terakhir.George berjalan dengan kepala tegak, merangkul Soraya di setiap kesempatan pers, memamerkan istrinya yang "suci" sebagai trofi kemenangannya ata







