Home / Romansa / Skandal Di Balik Meja Pengacara / Soraya Istri yang Patuh

Share

Soraya Istri yang Patuh

Author: AD07
last update Last Updated: 2025-10-14 09:00:48

Soraya menarik napas pendek, mengumpulkan sisa keberanian yang terserak. "George..." ia memulai, suaranya bergetar halus. Ia meletakkan serbet di pangkuannya, meremas kain linen itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Apakah... apakah hanya dia pilihan kita? Maksudku, pasti ada firma hukum lain yang sama kompetennya, kan?"

Ia menelan ludah, mencoba mencari kata yang tepat, kata yang tidak akan terdengar seperti pengakuan dosa. "Aku... aku merasa tidak nyaman dengannya. Metodenya... dia terlalu... dominan. Terlalu intens."

George berhenti mengunyah. Ia meletakkan pisau dan garpunya perlahan, dentingnya seperti lonceng peringatan kecil. Ia menatap Soraya, ekspresinya tak terbaca selama beberapa detik yang menyiksa.

"Tidak nyaman?" ulangnya, nada suaranya datar, seolah sedang mencicipi kata itu dan menemukannya hambar.

Kemudian, sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum, melainkan seringai kecil yang dingin. "Justru itu intinya. Itu bagus."

Soraya mengerjap. "Bagus? Tapi dia membuatku merasa tertekan..."

"Tekanan menciptakan berlian, Sayang," potong George dengan halus. Ia meraih gelas airnya, memutarnya perlahan. "Dengar, pengacara yang 'bagus' itu banyak. Mereka lulusan Ivy League, punya kantor mewah, bicara sopan. Tapi mereka bermain aman. Mereka takut kotor."

Ia mencondongkan tubuh, tatapan mata birunya mengunci Soraya. "Vargan berbeda. Dia lapar. Dia memiliki jenis ambisi yang buas, dia harus menang, bukan demi uang, tapi karena dia kecanduan rasa kemenangan itu sendiri. Dia satu-satunya bajingan di kota ini yang berani menjaminkan reputasinya untuk kasus sebusuk ini."

Soraya membuka mulut, ingin membantah, ingin berteriak bahwa 'ambisi buas' itu kini sedang memangsa istrinya sendiri. Bahwa 'jaminan' itu dibayar bukan dengan uang, melainkan dengan harga dirinya yang dicabik-cabik di atas meja kaca penthouse.

Namun George mengangkat satu tangan, gerakan anggun yang seketika membungkamnya.

"Biar kuperjelas posisiku," suaranya turun satu oktaf, menjadi lebih lembut, namun setiap suku kata terasa dilapisi racun yang melumpuhkan. "Yang aku inginkan adalah masalah ini lenyap. Bersih. Tanpa sisa. Tanpa drama tambahan."

Ia menatap Soraya lekat-lekat, tatapan yang biasanya membuat Soraya merasa dicintai, kini membuatnya merasa kerdil. "Kau tahu berapa banyak yang mengincar kursiku sekarang? Satu kesalahan kecil, satu keraguan darimu, dan mereka akan menerkam. Aku tidak akan membiarkan karier yang kubangun seumur hidup hancur hanya karena kau merasa sedikit... tidak nyaman."

Kata terakhir itu diucapkan dengan nada meremehkan yang halus, seolah perasaan Soraya adalah gangguan sepele, seperti lalat yang berdengung di telinganya.

"Kita butuh monster untuk melawan monster lain. Dan Damien Vargan adalah monster kita. Jadi, belajarlah untuk nyaman dengan ketidaknyamanan mu itu."

George tersenyum lagi, kali ini senyum sempurnanya yang biasa kembali terpasang. "Paham, Sayang?"

Soraya menatap pria di hadapannya. Pria yang seharusnya menjadi pelindungnya. Pagi ini, di bawah sinar matahari yang menembus jendela ruang makan mewah mereka, Soraya akhirnya melihat kebenaran yang telanjang, ia sendirian. Benar-benar sendirian di antara dua monster yang berbeda wujud.

"Paham," bisiknya, suaranya mati.

**

Ruangan kantor Damien Vargan terasa seperti diisi gas beracun. Tiga orang di dalamnya bernafas, tapi hanya dua yang benar-benar memegang kendali atas pasokan oksigen.

Soraya berdiri kaku di antara kedua pria itu, merasa seperti sepotong daging yang sedang ditawar di pasar gelap.

"Pertama-tama, izinkan aku meminta maaf atas nama istri ku," George memulai, suaranya berwibawa namun ramah, nada sempurna seorang diplomat. "Pembatalan janji dua hari lalu... itu sepenuhnya salahku. Aku sedikit... posesif malam itu. Maklum, kami jarang punya waktu berkualitas sejak badai ini menerjang."

Ia menoleh pada Soraya, tatapannya melembut, penuh kasih sayang yang terlihat begitu nyata hingga Soraya hampir terpedaya lagi.

Hampir.

Tanpa peringatan, George menunduk dan mengecup sudut rahang Soraya. Bukan kecupan singkat yang sopan, melainkan ciuman yang lambat dan basah, cukup lama untuk menjadi pernyataan kepemilikan di depan pria lain.

Tubuh Soraya menegang, lalu seketika melemas. Lututnya goyah. Secara refleks, tangannya mencengkeram lapel jas mahal suaminya untuk menjaga keseimbangan.

Dari seberang meja eboni, Damien tidak bergerak. Ia duduk bersandar di kursi kulitnya, jemarinya membentuk piramida di depan bibir. Matanya, dingin, kelabu, dan tajam, terkunci lurus pada mata Soraya saat suaminya menciumnya.

Ada seringai tak kasat mata di mata itu. ‘Lihat dirimu’, tatapan Damien seolah berkata. ‘Pura-pura menjadi istri setia saat tubuhmu masih mengingat sentuhanku’

George menarik diri sedikit, namun lengannya yang kuat melingkar posesif di pinggang ramping Soraya, menariknya menempel. Ia terkekeh pelan, suara rendah yang intim.

"Sayang, kau selalu seperti ini," guraunya santai, seolah mereka hanya berdua di kamar tidur. "Setiap kali kusentuh sedikit saja, kau langsung meleleh."

Wajah Soraya memanas hebat hingga ke akar rambutnya. Ia ingin menghilang. Ia ingin bumi membelah dan menelannya bulat-bulat. Rasa malu itu begitu pekat hingga mencekik…, malu karena keterusterangan suaminya di depan pria asing, dan hancur karena ia tahu, dan Damien tahu, bahwa reaksi tubuhnya barusan bukan karena cinta, melainkan karena teror yang bercampur dengan memori sentuhan pria lain.

Damien hanya mengangkat satu alisnya sedikit, sebuah gerakan mikro yang sarat ejekan. George, yang tampaknya sama sekali tidak menyadari atau tidak peduli pada ketegangan arus bawah di ruangan itu, kembali menatap Damien dengan ekspresi bisnis.

"Jadi, Mr. Vargan," nadanya berubah tajam dan profesional dalam sekejap. "Bagaimana perkembangannya? Aku harap sesi latihan intensif kalian membuahkan hasil yang sepadan dengan biaya yang aku keluarkan."

“Istrimu lumayan menjengkelkan. Dia menyadari kemampuannya tapi memilih menyangkal. Dia senang dalam cangkang kerapuhan. Tapi jangan panggil aku Vargan kalau tidak bisa membuatnya mengerti, apa yang harus dilakukannya.”

Soraya tercekat. Damien bicara seolah dia tidak ada di antara mereka. Dan yang lebih parah adalah, jawaban Damien tidak mengarah pada pertanyaan suaminya. Suaminya menanyakan kasus, Damien menjawab soal gairah.

Soraya tidak tahu apakah suaminya menyadari hal tersebut atau tidak. Tapi saat mendengar tanggapan suaminya, Soraya sadar, tidak ada kecurigaan.

“Benarkah? Setahuku Soraya istri yang patuh dan cepat belajar. Oh, dia sempat memberitahu ku ketidaknyamanannya atas sikapmu. Dia bilang kau dominan, dan itu mengganggunya.”

Damien menatap Soraya, lalu bertanya, “benarkah begitu Nyonya?”

Keringat membasahi punggung Soraya, padahal Ac cukup dingin. Kedua pria ini membuatnya bingung, takut, cemas dan kesal. Soraya mencoba menutupi perasaan tersebut meski tatapan Damien seperti menelanjanginya dengan kasar.

Soraya berusaha menetralkan suara saat menjawab, “ya, kau membuatku tidak nyaman, Sir. Kau terlalu menekanku. Seharusnya tidak begitu, aku ini klien-mu.”

Damien menyeringai, lalu berkata, “cara kerjaku tidak bisa diatur. Aku tahu benar bagaimana memperlakukan klien. Ada yang harus dilembutin, dikasari atau didominasi. Dan kau… kau tipe yang harus didominasi. Alasannya sederhana, kau terlalu naif dan penakut.”

Soraya menutup mata. Jantung berdetak hebat. Ia bisa merasakan kalau Damien menjanjikan hukuman keras setelah ini. Hukuman sepihak yang tak pernah ia setuju-i.

Damien memberikan surat pada Goerge, “Istrimu dipanggil untuk dimintai keterangan.”

“Apa?!” Teriak Soraya. Suaranya sangat ketakutan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Untuk Anak yang Kita miliki

    Suasana ruang sidang itu hening, hanya suara dengungan pendingin ruangan dan ketukan sepatu Jaksa Penuntut Umum yang mondar-mandir di depan meja hijau yang terdengar. Soraya duduk di kursi saksi, sebuah kursi kayu keras yang terasa seperti panggangan di bawah sorotan lampu dan ratusan pasang mata.Di hadapannya, duduk majelis hakim yang tampak lelah namun berwibawa. Di samping kanan, duduk tim pembela "terdakwa" yang entah datang dari mana, mungkin pengacara publik yang ditunjuk hanya sebagai formalitas. Dan di sana, di kursi pesakitan, duduk Pak Budi Santoso, pria tua yang menunduk pasrah, tumbal dari permainan catur para dewa di menara gading.Jaksa mulai bertanya, suaranya menggema melalui mikrofon, memecah keheningan yang mencekam."Saudari Saksi, apakah Saudari mengenali terdakwa yang duduk di sana?"Soraya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah dilapisi pasir. Dia menoleh ke arah Pak Budi. Pria itu mengangkat wajahnya sedikit. Mata tua yang keruh itu bertemu dengan

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Menjebak Orang Lain

    Soraya terus mendesah, mengerang di bawah serangan Damien yang tidak mengenal belas kasihan."Hapus dia... hapus jejaknya!" racau Soraya di sela-sela napasnya yang putus-putus. "Jangan sisakan apapun dari George di dalam sini! Aku membencinya! Aku membencinya!"Permintaan itu seperti bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api obsesi Damien. Mengetahui bahwa George telah menyentuh wanita ini, memaksakan kehendaknya, dan mencoba menanamkan benih di rahim yang Damien anggap sebagai wilayah kekuasaannya, membuat darah pengacara itu mendidih.Dia tidak hanya sedang bercinta, dia sedang melakukan eksorsisme. Dia sedang mengusir hantu George dari tubuh Soraya dengan cara yang paling brutal dan efektif: menggantikannya dengan dominasi mutlak.Soraya membuka diri lebih lebar, kakinya melingkar erat di pinggang Damien, tumitnya menekan punggung pria itu, menariknya mendekat. Dia meminta Damien masuk lebih dalam, melampaui batas fisik, menyentuh jiwanya yang terluka."Kau tidak akan hamil anakn

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Mengisi rahimmu, selain Aku

    Pagi itu, sinar matahari New York yang terik gagal menembus tirai tebal di ruangan sudut lantai teratas gedung pencakar langit tempat firma hukum Vargan & Associates bernaung. Suasana di dalam ruangan itu dingin, steril, dan beraroma maskulin yang mengintimidasi, campuran antara kulit mahoni tua dan cologne mahal yang menjadi ciri khas penghuninya.Pintu ganda dari kayu ek itu terbuka tanpa ketukan, sebuah pelanggaran protokol yang hanya berani dilakukan oleh segelintir orang. George melangkah masuk. Langkah kakinya mantap, namun terburu-buru, mengkhianati ketenangan yang biasanya ia proyeksikan. Ia tidak menunggu sekretaris Damien mengumumkan kedatangannya. Ia menerobos masuk layaknya seorang raja yang menuntut audiensi dengan bawahannya.Damien, yang sedang memeriksa berkas di balik meja kerjanya yang luas, bahkan tidak mendongak saat George masuk. Ia membalik halaman dokumen dengan gerakan lambat dan sengaja, membiarkan George berdiri di tengah ruangan selama beberapa detik, mencip

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Tubuhmu, Milikku!

    Cukup lama Soraya diam, mencerna ucapan George. Matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi, mencoba mencari oksigen di ruangan yang tiba-tiba terasa hampa udara. Dia membayangkan benih George bertemu dengan sel telurnya, menciptakan kehidupan yang akan mengikatnya selamanya pada pria manipulatif ini, menutup pintu kebebasannya, dan, yang paling menakutkan, menghancurkan perjanjian tak tertulisnya dengan Damien. Damien tidak akan mentolerir ini. Damien tidak mau berbagi wadah.Soraya mengumpulkan sisa keberaniannya yang terserak. Dia menyingkirkan tangan George dari perutnya dengan gerakan pelan namun tegas.Sampai akhirnya berkata, suaranya parau namun tidak bergetar, "Aku tidak mau."George, yang sedang menikmati fantasinya sendiri, mengerjap. Dia menoleh, menatap profil samping wajah istrinya. "Apa katamu?""Aku tidak mau punya bayi sampai kasusku selesai," ulang Soraya, kali ini menoleh untuk menatap mata suaminya. Tatapannya tajam, defensif. "Dan sekarang bukan waktu yang tep

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Aku ingin Kau Hamil

    Lampu gantung kristal di langit-langit kamar utama seolah menjadi mata Tuhan yang menatap dingin ke arah ranjang tempat Soraya terbaring tak berdaya. Napas George terdengar berat dan kasar, memenuhi ruangan yang biasanya sunyi dan steril itu.Tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi basa-basi diplomatik yang biasa menjadi tameng suaminya. Malam ini, George telah menanggalkan topengnya, menyisakan seorang pria yang dikuasai oleh insting purba untuk mengklaim kembali apa yang ia rasa mulai lepas dari genggamannya.Tanpa menunggu George melucuti pakaian Soraya, pria itu berdiri tegak di tepi ranjang, menatap istrinya dengan sorot mata yang menggelap oleh kabut nafsu dan kemarahan. Soraya masih mengenakan dress yang ia pakai seharian, kainnya kini kusut dan tersingkap hingga ke paha, menampilkan kulit putih yang gemetar ketakutan.George tidak berusaha membuka dress itu dengan sabar. Baginya, pakaian itu hanyalah pembungkus yang menghalangi aksesnya.Dia berkata, suaranya rendah dan penu

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Tidak akan Dikunci, Sora

    Lampu kristal di foyer yang menyilaukan itu seolah menjadi lampu interogasi bagi Soraya. Berdiri di hadapan George yang baru saja pulang dari London, lebih cepat dari jadwal, dengan tatapan mata yang tajam dan setelan trench coat yang membuatnya terlihat seperti detektif di film noir, Soraya tahu dia hanya punya waktu sepersekian detik untuk mengubah narasi.Aroma Damien masih samar-samar menempel di kulitnya, sebuah bom waktu aroma yang bisa meledak kapan saja jika George mendekat terlalu agresif. Kepanikan yang sempat menyergapnya harus segera dikubur dalam-dalam, digantikan oleh akting terbaik yang pernah dia pelajari dari sang pengacara iblis.Soraya memasang wajah tenang, sebuah topeng dingin yang menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu seperti kuda liar. Dia tidak mundur. Dia tidak menunduk. Dia membalas tatapan suaminya dengan sorot mata lelah yang mengandung sedikit kemarahan, seolah kedatangan George dan pertanyaannya adalah gangguan yang tidak perlu."Ya, aku memang ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status