Mag-log in"Kenapa, kamu mau menolak ajakanku lagi?" tanya Juna saat melihat raut wajah Tiara yang bingung.
"Aku bukan mau menolak tapi sebentar lagi kita mau menikah dan aku ingin—" "Kalau kamu cinta sama aku, kamu pasti mau melayani aku. Kita saling mencintai, Tiara. Dan kalau kamu hamil, aku akan bertanggung jawab. Aku berjanji." tegas Juna. "Tapi—" Juna mundur selangkah, "Okey kalau kamu tidak mau, itu artinya kamu tidak mencintaiku lagi dan aku akan memberitahukan semua yang terjadi kepada ibumu." ancamnya lalu berjalan selangkah menjauh. "Tunggu, Jun." Tiara menahan langkah kaki pacarnya. "Jangan beritahukan masalah ini kepada ibuku. Okey, aku mau menuruti permintaanmu, aku mau melayani kamu tapi bukan karena aku bersalah tapi karena aku tidak mau sakit ibuku semakin parah." jawab Tiara pasrah. "Bagus, sekarang ikut aku. Kita pesan kamar di sini." Juna menarik tangan Tiara menuju resepsionis. Setelah memesan kamar, Juna dan Tiara kini sudah berdiri di depan pintu kamar hotel. "Kamu tenang saja, aku akan bertanggung jawab kalau kamu hamil." ucap Juna sembari membuka pintu kamar hotel. Tiara menundukkan wajahnya, dia berjalan masuk mengikuti Juna. Juna duduk di tepi ranjang. "Duduklah di pangkuanku." pintanya kepada Tiara. "Jun, kamu janji mau bertanggung jawab?" tanya Tiara memastikan. Juna mendengus kesal. "Kita sudah lama menjalin hubungan dan seharusnya kamu tidak perlu meragukan janjiku lagi." Tiara mengangguk, dia menjatuhkan pantatnya di pangkuan Juna. "Sayang, aku merindukanmu." Juna memeluk erat tubuh Tiara, kepalanya dia sandarkan di belahan dada yang sangat kenyal dan berisi. "Juna, aku—" "Hust, jangan mematahkan gairahku, sayang. Aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Aku takut kehilanganmu." Juna perlahan menjatuhkan tubuh Tiara keatas kasur. Tangannya yang nakal berusaha melepas kancing kemeja Tiara. Tiara menutupi dada nya saat pakaiannya sudah terbuka. "Juna, kamu bilang, kamu mau bawa aku—" "Nanti saja. Setelah permainan ini selesai." jawab Juna sembari melepas baju dan celananya dan mereka kini sama-sama polos tanpa menggenakan pakaian. Juna mulai mencium bibir mungil Tiara yang manis dan merah merona, dia memainkan lidahnya dengan lihai. Kedua tangan nakalnya mulai berkeliaran meraba bagian tubuh Tiara yang lain. Tiara perlahan mulai terbawa suasana menikmati permainan kekasihnya. "Aku tahu kamu sangat menyukai permainanku, sayang." gumam Juna saat melihat raut wajah Tiara. "Jun, kamu adalah orang pertama." gumam Tiara. Setelah tangan dan bibirnya menjelajahi tubuh Tiara, kini tiba saat Juna menyempurnakan permainannya. Dia memasukkan kejantanannya, tiba-tiba dia melihat darah yang keluar dari bagian bawah Tiara. "Ada apa, Jun?" tanya Tiara saat melihat pacarnya diam. "Kamu datang bulan ?" tanya Juna. "Apa?" Tiara langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan melihat sedikit darah. 'Perasaanku, minggu lalu aku baru saja datang bulan.' gumam Tiara dalam hati. Di sisi lain. "Kamu yakin, semalam tidak melakukan apapun dengan wanita itu?" ucap Sindy setelah di dalam mobil. 'Semalam, aku ada di pesta dan aku mabuk. Aku juga meminta Tiara untuk membantuku. Tapi sebelum Tiara membantuku, dia diberikan minuman oleh rekan bisnisku.' gumam Gery dalam hati. "Gery, kamu dengar aku bicara, kan?" tanya Sindy membuyarkan lamunan Gery. "Apa jangan-jangan kamu sudah tergoda dengan wanita murahan itu?" tuduh Sindy lagi. "Aku tidak tergoda." jawab Gery yang berusaha mengingat kejadian semalam. 'Sekarang aku ingat kejadian semalam.' ucapnya lagi dalam hati. Ke esokkan harinya. Sebagai sekertaris pribadi yang baik, Tiara selalu berangkat lebih pagi ke kantor. Dia menyiapkan semua jadwal meeting dan laporan untuk atasannya yaitu Gery. Gery yang baru saja datang ke kantor, melihat Tiara yang sedang fokus membagi beberpa dokumen di meja kerjanya. "Tiara, kita harus bicara." ucapnya membuat Tiara terkejut. "Bicara tentang apa, Pak?" tanya Tiara. "Oh iya, Pak. Saya sudah memisahkan dokumen meeting hari ini dan besok." "Ikut saya sekarang. Ini masalah kemarin di hotel." tegas Gery membuat Tiara bergegas mengikutinya ke ruangan pribadi. Setelah sampai di ruangan pribadi, sekali lagi Gery menatap sekertarisnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tiara merasa risih saat mendapat Tatapan dari bos nya yang mengintimidasi. "Maaf, Pak. Saya rasa, tidak ada yang perlu di bicarakan." ucapnya membuka topik cerita. "Oh," Gery menjatuhkan pantatnya di atas meja. Dia melepas jas kerjanya dan melemparkannya kepada Tiara, sekertarisnya. "Bagaimana hubunganmu dengan—" "Kita sudah baikan. Anda tenang saja dan anda tidak perlu merasa bersalah." jawab Tiara. Gery mengangguk. "Apa kau ingat dengan kejadian itu?" Tiara berpikir sejenak. "Setahu saya, kita mengikuti pesta tahunan dan saya membantu anda yang sedang mabuk tapi—" Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya tidak ingat lagi, Pak." lanjutnya. "Saya melihat kamu meminum sesuatu sebelum kamu membantu saya." ucap Gery. "Oh, minuman itu … oh iya, tiba-tiba ada pelayan yang memberikan minuman kepada saya dan dia bilang, kalau minuman itu khusus untuk para sekertaris yang datang dari rekan bisnis anda. Memangnya, ada apa, Pak?" tanya Tiara dengan raut wajah bingungnya. "Apa tidak terjadi sesuatu setelah saya pergi?" tanya Gery lagi dengan tatapan menyelidik. 'Karena kejadian itu, aku terpaksa memberikan tubuhku untuk Juna, walaupun belum seutuhnya karena tiba-tiba aku datang bulan, tapi rasanya aku ingin marah. Dan karena kejadian di hotel itu, aku terpaksa bohong ke ibu agar ibu tidak berpikir buruk kepadaku.' batin Tiara. "Ada apa denganmu?" tanya Gery saat melihat perubahan raut wajah Tiara yang bersedih. "Oh, tidak, Pak." jawab Tiara memaksa bibirnya untuk tersenyum. "Saya sudah meminta orang untuk mengambil rekaman CCTV di kamar hotel saya." ucap Gery yang mengejutkan Tiara. "Apa?" "Rekaman CCTV di kamar hotel?" "Tapi … sejak kapan anda memasang CCTV di kamar hotel itu?" Tiara sangat terkejut. Gery menghembuskan napasnya panjang. Dia meminta Tiara untuk mendekat. Perlahan jemari Gery menari di atas papan keyboard laptopnya. "Saya juga belum melihat rekaman itu. Jadi, kita lihat sama-sama." ucap Gery dengan mata fokus ke laptopnya. Video rekaman CCTV mulai di putar oleh Gery. Mereka bisa melihat dengan jelas situasi malam panas itu. Tiara benar-benar terkejut saat melihat dirinya menggoda Bos nya lebih dulu. "Pak, itu—" "Kita lihat sampai selesai!" tegas Gery yang fokus. Gery mengusap dagu nya pelan. "Semuanya sudah jelas. Malam itu, kamu menggoda saya." tegas Gery sembari menutup laptopnya. "Tidak, Pak!" "Saya bersumpah, saya tidak tahu, kenapa saya bisa menggoda anda. Pasti ada sesuatu yang tidak saya tahu." ucap Tiara. "Semua bukti sudah jelas. Kamu menggoda saya." "Tapi saya tidak menggoda anda, Pak. Dan anda juga tahu. kalau saya mempunyai pacar." jawab Tiara mengatur emosinya. "Begini saja, Pak. Anda tidak perlu khawatir, saya berjanji, saya tidak akan meminta pertanggung jawaban atas kejadian malam itu. Dan mulai detik ini juga, saya akan mengundurkan diri sebagai sekertaris anda." lanjutnya kemudian pergi. Gery menatap kepergian sekertarisnya. Dia menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. "Apa yang harus aku lakukan?" "Dia tidak meminta pertanggung jawaban dan memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tapi kalau dia meminta pertanggung jawaban dariku, bagaimana dengan nasib Sindy?" gumamnya. Di sisi lain. Tiara memukul ringan kepalanya. "Bodoh, dasar bodoh. Kenapa aku tidak sadar kalau aku menggoda Pak Gery di malam itu. Pantas saja, Juna mengiraku menstruasi ternyata—" Tiara kemudia menggigit ujung kuku nya. "Aku tidak mungkin minta pertanggung jawaban ke Pak Gery karena ini semua salahku. Tapi bagaimana kalau aku hamil anaknya? Apa aku percepat saja pernikahanku dengan Juna. Jadi, kalau aku hamil anak Pak Gery, Juna tidak akan sadar dan mengira kalau anak ini adalah anaknya. Itu ide yang bagus. Sekarang, aku harus temui Juna." gumam Tiara lalu pergi keluar kantor.'Amnesia Ringan? Wah, ini kesempatan yang bagus. Jadi, Bryan tidak perlu susah payah menggantikan Gery menikah dengan Sindy. Memang benar, kalau Tuhan sudah menakdirkan mereka bersatu pasti akan tetap bersatu walaupun banyak rintangan yang menghadangnya.' gumam Natalia dalam hati."Dia ayahku?" gumam Gery lagi. "Iya, ini aku ayahmu, Gery." jawab Ryan."Apa benar kalau aku punya calon istri dan sebentar lagi, aku mau menikah?" tanya Gery sembari memegang kepalanya."Semuanya benar. Kamu dan Sindy mau menikah dan kalian saling mencintai. Bahkan cintamu lebih besar, Ger. Banyak yang bilang kalau kalian pasangan yang romantis." jawab Natali dengan senyum manisnya.'Pasangan romantis, tapi kenapa hati ini rasanya tidak bergetar sama sekali. Dan wanita yang bernama Tiara, kenapa selalu ada di pikiranku. Sebenarnya, apa yang terjadi. Kenapa aku bisa amnesia ringan. Siapa Tiara sesungguhnya?' batin Gery kemudian kepalanya terasa pusing."Gery," ucap Ryan panik. "Natali, kamu jangan mengatak
Renata mengerutkan keningnya. "Aku?" tunjuk dirinya sendiri."Haha … mana mungkin aku suka sama Pak Gery. Aku juga tahu diri. Pak Gery itu atasanku dan aku sangat beruntung bisa bekerja dengan bos yang sebaik Pak Gery." ucap Renata lagi.'Jangan sampai kamu mencintai Pak Gery, Re. Aku tidak mau, ada permusuhan diantara kita karena aku sedang mengandung calon anaknya.' batin Tiara."Mungkin kamu yang suka Pak Gery. Kalian kan sudah satu rumah. Jadi, pasti ada timbul benih-benih cinta." ujar Renata dengan tawa kecilnya.'Aku jatuh cinta? Aku hanya ingin menyelamatkan ayah dari calon anakku saja. Apa itu cinta? Apa hatiku masih bisa menerima pria lain setelah Juna memperlakukanku seperti sampah?' batin Tiara."Kamu kenapa diam saja, Ti? Apa yang kamu pikirkan, hem?" tanya Renata lagi.Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, aku hanya memikirkan operasi Pak Gery." jawabnya.'Aku rasa, Tiara sudah jatuh cinta pada Pak Gery. Rasanya aneh sekali hatiku.' batin Renata.Akhirnya setelah men
Tiara menatap wajah Renata. "Aku bicara apa? Aku hanya melakukan apa yang menurutku terbaik, Re. Pak Gery membutuhkan pertolongan kita. Aku tidak mau, kalau Pak Gery telat penanganan. Kamu juga dengar sendiri apa yang dikatakan dokter? Pak Gery harus cepat-cepat di operasi. Lagi pula, aku yakin, kalau keluarga Pak Gery akan setuju dengan keputusanku ini. Mereka juga menyayangi Pak Gery dan pastinya, mereka ingin yang terbaik untuk Pak Gery!" ucao Tiara panjang lebar."Iya, aku tahu, tapi kita juga tidak bisa mengambil keputusan yang berat ini. Kita harus menunggu persetujuan dari keluarga Pak Gery. Kebetulan, aku sudah memberitahukan Pak Ryan dan dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Jadi, kita tunggu Pak Ryan saja." pinta Renata."Baiklah, kalau keluarga pasien sudah datang, tolong sampaikan pesan ini dan keluarga bisa mengurus persyaratannya di administrasi." titah dokter lalu bergegas pergi."Re, hiks … hiks … aku hanya ingin yang terbaik untuk Pak Gery. Apa aku salah, ha?" t
Mobil Gery seketika dilahap si jago merah. Dan dari kejauhan terdengar sirine ambulan yang berjalan kearah kecelakaan."Pak Gery, sadarlah!" teriak Tiara yang memangku kepala Gery. "Ambulan sudah datang." ucap Pak polisi."Cepat bawa dia ke rumah sakit. Dia tidak boleh mati!" pinta Tiara kepada Polisi.Polisi menggotong Gery kedalam ambulan. "Anda luka dan sebaiknya anda ikut ke rumah sakit." ucap Polisi saat melihat tangan Tiara terkena luka bakar.Tiara masuk kedalam ambulan dan ambulan pun melaju cepat.Di sepanjang jalan, Tiara selalu menggenggam tangan Gery."Kamu harus bertahan, Pak! Kamu tidak boleh mati. Aku tidak mau, anakku kehilangan ayahnya. Kamu harus kuat. Aku mohon, Pak!" gumam Tiara.Drt … Drt ….Ponsel Gery berdering, Tiara melihat nama Renata yang tengah menelfon Gery."Hallo, Re?" ucap Tiara setelah menjawab panggilan Renata di ponsel Gery.Renata memastikan nomer yang di telfonnya. "Aku tidak salah menelfon Pak Gery, tapi kenapa suaranya seperti suara Tiara." guma
"Juna!" pekik Tiara. "Kamu ngomong apa sih!""Saya tidak mau Tiara hamil sekarang!" tegas Juna."Jangan dengarkan pria tidak jelas itu, dok!" kesal Tiara.Dokter dan perawat yang sedang bertugas pun kebingungan melihat perdebatan antara Tiara dan Juna."Asal dokter tahu, anak itu bukan anak saya dan saya tidak mau, Tiara hamil anak pria lain!" ucap Juna terbawa emosi. "Bisa kan, dok?""U-untuk kehamilan Ibu Tiara yang masih muda memang masih bisa tapi saya tidak berani melakukan hal keji itu. Apalagi, kondisi janin nya dalam keadaan sehat. Saya tidak bisa mengambil resiko. Dan lebih baik, kalian bicarakan hal ini lebih dulu." pinta dokter."Kamu gila, Jun! Aku tidak mau membunuh anak ini. Kamu tidak berhak, Jun!" teriak Tiara."Aku benci anak itu, Tiara!" pekik Juna."Tapi kamu tidak berhak membuat keputusan sendiri. Apalagi kamu bukan siapa-siapaku! Hubungan kita sudah berakhir. Dan aku sudah menikah dengan pria yang menjadi ayah dari calon anakku." kesal Tiara."Dok, sebenarnya dia
Ryan mengambil ponselnya dan menghubungi Gery.Di tempat kerjanya.Gery melihat ponselnya yang menyala "Ayah?" gumamnya kemudian menggeser tombol hijau di layar ponsel."Ada apa Ayah menelfonku, aku sedang sibuk?" tanya Gery sembari menatap langit-langit kantor."Cepat pulang! Ayah ingin bicara denganmu!" geram Ryan.Gery menghentikan jarinya yang sedang menari di papan keyboard laptopnya. 'Jangan-jangan Sindy sudah mengatakan semuanya.' batin Gery."Aku akan pulang satu jam lagi." jawab Gery."Kenapa harus 1 jam lagi, ha? Apa kamu mau menemui wanita pelakor itu!" bentak Ryan. "DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! Cepat pulang!" pekik Ryan lagi yang kemudian mematikan telfonnya."Mas, kamu yang sabar, dong. Ingat, wajahmu sudah banyak kerutan apalagi di setiap sudut mata. Tolong jangan tambah kerutan halusmu lagi. Kamu kan seorang pemimpin perusahaan, jadi jaga penampilan dan fisikmu." ucap Natalia sembari mengusap lembut pundak Ryan.Ryan menjatuhkan pantatnya di sofa. "Aku tidak bisa berdiam







