Share

Bab 3

Auteur: Pieda11
last update Dernière mise à jour: 2025-11-22 07:15:04

Tiara menyetir mobilnya ke tempat kerja Juna. Tetapi, tiba-tiba di tengah perjalanan, ibunya menelfon.

"Iya, ada apa, Bu?" tanya Tiara sembari fokus menyetir.

"Ibu ada di rumah sakit, Tiara. Penyakit Jantung ibu kambuh." jawab ibunda Tiara di sebrang sana.

"Apa?"

"Rumah sakit?"

"Okeh, aku akan kesana." teriak Tiara lalu memutuskan panggilan telfonnya. Dia memutar balik mobilnya menuju rumah sakit.

Di kantor.

"Dimana Tiara" tanya Gery ke semua karyawannya yang di kumpulkan di lantai satu.

"Saya melihat sekertaris Tiara pergi terburu-buru." jawab satpam yang berjaga di depan pintu.

"Kalian semua boleh pergi dan lanjut bekerja." ucap Gery.

"Sayang!" teriak Sindy yang berlari memeluk Gery.

"Hari ini, kita jadi pilih gaun pengantin, kan?" tanyanya sembari mencium pipi Gery.

"Sindy, jaga sikapmu di depan semua karyawanku." pinta Gery yang tak nyaman.

"Kenapa?"

"Oh, sekarang kamu malu kalau aku cium-cium kamu?" Sindy menyilangkan tangannya di dada.

"Apa jangan-jangan wanita murahan yang bernama Tiara itu berhasil meluluhkan hatimu."

"Stop, jangan bilang Tiara wanita murahan." emosi Gery.

"Kenapa?"

"Dia pantas di juluki wanita murahan karena dia sudah menjebakmu agar bermalam denganmu di hotel." teriak Sindy membuat beberapa karyawan mendengarnya.

Gery menarik tangan Sindy keluar kantor.

"Jangan tarik-tarik tanganku, Gery!"

"Sakit tahu!"

"Sindy, aku punya batas kesabaran dan aku tidak suka kamu menjelek-jelekan Tiara di depan karyawanku." tegas Gery.

"Kamu sekarang lebih membela wanita murahan itu daripada aku yang calon istrimu sendiri, Ger?"

"Bukan seperti itu, Sindy, tapi—"

"Tapi apa?"

"Oh, jangan-jangan kamu sudah tidak cinta lagi padaku?" tuduh Sindy.

"Sewaktu kejadian di hotel, aku tiba-tiba ragu menikah denganmu. Kita tunda pernikahan ini sampai aku benar-benar percaya lagi denganmu." ucap Gery kemudian masuk kedalam mobilnya.

"Gery!" teriak Sindy yang berlari mengejar.

"Kamu tidak bisa memainkan perasaanku, Ger!"

"Kamu tidak bisa menunda pernikahan kita!"

"Aku cinta kamu, Ger!"

"Aku tidak mau kehilangan kamu!" teriaknya.

Mobil Gery melaju sangat cepat, salah satu tangannya bermain ponsel menghubungi Tiara.

Tiara yang baru saja sampai di rumah sakit pun melihat ponselnya yang menyala.

"Hallo, Pak Gery?" ucap Tiara setelah tersambung dengan Gery.

Gery mengurangi kecepatannya.

"Kau pikir, hilang di jam kerja tidak akan—"

"Maaf, Pak. Ibu saya masuk rumah sakit. Dan sekarang, saya sedang di rumah sakit." ucap Tiara yang berlari menuju resepsionist.

"Suster, pasien riwayat jantung atas nama Ibu Juliana, ada ruangan mana?" tanya Tiara yang terdengar sampai Gery.

"Oh, sebentar saya cek dulu."

"Pasien ada di ruang Anggrek No.1" jawab suster.

Tiara berlari menuju ruang Anggrek tanpa sadar telfonnya masih tersambung dengan Gery, Bos nya.

Setelah sampai di ruang Anggrek.

"Ibu," Tiara memeluk ibunya.

"Siapa yang mengantarmu kemari, hem?"

"Kenapa tidak menelfonku lebih awal?"

Plak!

"Ibu kecewa denganmu!" ucap Juliana dengan mata berkaca-kaca.

"Ibu malu punya anak sepertimu, Tiara!" teriaknya.

"Apa maksud ibu?" tanya Tiara kebingungan.

"Aku tidak tahu, apa yang dibicarakan olehmu?"

"Jangan berpura-pura lagi. Juna sudah menceritakan semuanya." jawab Juliana membuat Tiara paham dan meremas ponselnya.

"Ibu tidak pernah mengajarkanmu jual diri demi harta!"

"Kita memang orang miskin tapi—"

"Dengarkan penjelasanku dulu, Bu." pinta Tiara meraih tangan Juliana.

"Jangan sentuh ibu. Ibu tidak mau punya anak wanita murahan sepertimu!" bentak Juliana menepis tangan Tiara.

Air mata Tiara mengalir membasahi pipi.

'Juna, kenapa kamu tega kepadaku. Kamu sudah mengingkari janjimu.' batin Tiara.

"Juna," panggil Juliana membuat Tiara menoleh ke belakang.

"Maafkan Tiara, ibu tidak menyangka kalau Tiara berani menjual tubuhnya hanya demi uang."

"Juna, kita butuh bicada empat mata!" ucap Tiara menarik tangan Juna keluar ruangan.

"Kenapa, Jun? kenapa?" bentak Tiara emosi.

"Aku sudah memberikan apa yang kamu mau, tapi kenapa kamu tega kepadaku?" gumam Tiara sembari menghapus air matanya.

"Semuanya?"

"Kamu tidak pernah memberikan semuanya kepadaku, Tiara!" jawab Juna dengan senyum tipisnya.

"Kamu sudah mengecewakanku!"

"Aku tidak pernah mengecewakanmu. Dan sekali lagi, ibuku mempunyai riwayat jantung. Dia tidak bisa mendengar kabar buruk tapi kenapa kamu memancing penyakitnya, ha!" teriak Tiara.

"Aku hanya ingin kamu merasakan sakit hati yang aku rasakan, Tiara!" bentak Juna.

"Kau pikir, aku percaya dengan semua ucapanmu saat aku lihat darah di bagian bawahmu?"

"Aku tahu, kamu dan bos mu sudah—"

"Cukup!"

"Jangan pernah kamu bahas masalah itu lagi." teriak Tiara.

"Okeh, aku tidak akan membahas apapun lagi. Pernikahan kita juga batal." jawab Juna lalu memperlihatkan ponselnya.

"Kamu lihat ini!" pintanya.

"JUNA!" Tiara melototkan matanya. Tangannya tak sengaja mematikan telfon dari Gery saat hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Ini foto kebersamaan kita di atas ranjang. Dan kamu bisa lihat sendiri, kamu tidak memakai apapun di foto ini, haha …"

"Hapus foto itu sekarang!"

"Aku menyesal sudah memberikan tubuhku untukmu!" geram Tiara berusaha merebut ponsel Juna.

Juna segera memasukkan ponselnya kedalam saku celana bagian depan.

"Ambil saja kalau kamu berani dan aku pastikan, semua orang di sini akan berpikir buruk tentangmu." tantang Juna.

"Sebenarnya, apa mau mu?" teriak Tiara.

"Kehancuranmu." jawab Juna.

"Haha … aku bisa saja menyebarkan fotomu ini ke semua media sosial."

"Brengsek!" umpat Tiara.

"Aku menyesal mencintaimu."

"Haha … aku tidak perduli." jawab Juna.

"Turuti semua permintaanku, dan aku pastikan foto ini tidak akan tersebar." ucap Juna lagi lalu pergi.

Tiara bersandar di dinding rumah sakit, sesekali tangannya menghapus air matanya yang terus keluar.

'Kenapa?'

'Kenapa harus jadi seperti ini. Aku takut, aku takut foto itu sampai ke tangan ibu dan orang-orang di luar sana. Aku juga takut hamil anak Pak Gery. Aku harus bagaimana ini?' gumam Tiara dalam hati.

"Tiara." panggil seseorang.

Tiara menghapus air matanya dan menoleh ke sumber suara.

"Pak Gery." gumamnya.

"Maaf, saya akan membuat surat pengunduran diri dan mengirimnya sekarang."

"Hem," jawab Gery.

'Kenapa mulutku susah sekali berkata. Padahal, aku hanya ingin menanyakan hubungan dia dengan pacarnya tapi rasanya tidak tega saat melihat dia menangis.' batin Gery.

"Pak?" ucap Tiara.

"Saya mendengar pembicaraanmu dengan orang tuamu tadi. Dan kedatangan saya kesini karena saya ingin menjelaskan semuanya." ujar Gery.

"Tidak perlu, Pak." jawab Tiara.

"Ini masalah keluarga saya dan anda tidak perlu ikut campur. Terimakasih atas kedatangannya."

"Keluarga dari Ibu Juliana?" ucap suster membuat Tiara berlari menghampiri.

"Iya, suster. Saya anak dari Ibu Juliana." jawab Tiara.

"Kondisi Ibu Juliana tiba-tiba menurun. Dan kita butuh operasi jantungnya sekarang juga." ucap suster membuat Tiara histeris.

"Apa?"

"Operasi?"

"Okeh, suster. Lakukan yang terbaik untuk ibu saya, tapi apakah boleh, saya melihatnya sebelum beliau di operasi?" tanya Tiara penuh harap.

"Silahkan," jawab suster.

Tiara dan Gery masuk kedalam ruangan dan mereka melihat Juliana yang sedang merintih kesakitan.

"Ibu," Tiara tak bisa menahan tangisnya lagi.

"Jangan panggil aku ibumu sebelum kamu memberitahukan kepadaku, kepada siapa kamu menjual tubuhmu itu!" ucap Juliana sembari memegang bagian jantungnya.

"Saya akan bertanggung jawab." ucap Gery mengejutkan Tiara dan ibunya.

"Apa maksud anda?"

"Anda tidak perlu bertanggung jawab. Semua ini, bukan salah anda." ujar Tiara.

"Tapi saya sudah menyentuhmu dan saya bukan pria pengecut yang lari dari tanggung jawab." tegas Gery.

"Kamu—" Juliana menunjuk Gery.

"Saya akan menikahi Tiara. Anda tenang saja dan anda fokus untuk operasi nanti." ucap Gery.

"Pak, kita butuh bicara empat mata." pinta Tiara menarik paksa Gery keluar ruangan.

"Anda gila?"

"Apa maksud anda bicara seperti itu di depan ibu saya?"

"Apa anda pikir, semua masalah akan selesai kalau kita menikah?" ucap Tiara tak percaya, dia berjalan bolak balik sembari mengusap wajahnya berulang kali.

"Saya tidak mau pacar anda marah dan menjuluki saya sebagai perebut calon suami orang!" lanjutnya lagi.

"Keputusan saya sudah bulat. Saya akan tetap menikahimu." jawab Gery tak bisa di bantah.

"Tidak bisa, Pak!" geram Tiara.

"Kenapa tidak bisa?" tanya Gery.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Skandal Panas CEO   Bab 45 Persyaratan

    Suara ketukan membuat Tiara seketika bangkit. "Apa di rumah ini masih ada tamu?" tanya Gery terkejut."Em," Tiara tersenyum tipis. "Pak Gery?" panggil Renata dari luar kamar.Gery menautkan kedua alisnya. "Bukankah itu suara Renata. Apa dia masih ada di rumah ini?" tanya Gery yang mendapat anggukan dari Tiara."Em … maaf, Pak. Sebenarnya, malam ini Renata mau menginap di sini. Dan karena saya tidak bisa menolak permintaannya, jadi saya izinkan dia menginap sehari di sini." jawab Tiara lirih."Apa telingamu bermasalah, ha? Bukankah saya memintamu untuk mengusirnya, tapi kenapa kamu malah membiarkan dia menginap di sini. Sangat mengganggu!" gerutu Gery.Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pak, boleh saya minta bantuan anda?" pinta Tiara memohon.Gery menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kamu berani menyuruhku?" tanyanya."Eh, bukan seperti itu maksudku, Pak. Tapi saya memang butuh bantuan anda. Saya tadi izin ke Renata mau ke dapur mengambil minuman tapi karena anda, saya t

  • Skandal Panas CEO   Bab 44 Ketukan Pintu

    Tiara tersedak minumannya. Uhuk … Uhuk …."Apa-apaan sih. Mana mungkin aku tidak mengizinkanmu tinggal di rumahku. Ya sudah, aku izinkan kamu menginap satu hari di rumahku tapi—""Jangan pakai tapi-tapian!" ketus Renata, "Sekarang aku tidur dimana?""Hehehe …." Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamar tamu saja, bagaimana? Gudang sudah aku bersihkan menjadi kamar tamu. Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa pakai kamar itu.""Lalu kamu tidur dimana? Jangan bilang, malam ini kamu mau tidur dengan Pak Gery?" tuduh Renata.'Em … dia sudah tahu kalau kita pasangan suami istri. Ya, pastinya dia memintaku untuk tidur bersamanya. Itu pikiranku saja.' gumam Tiara dalam hati.'Jangan sampai Tiara dan Pak Gery tidur di satu ranjang. Aku tidak terima!' batin Renata."Em, begini saja. Bagaimana kalau kamu tidur bersamaku saja. Biarkan Pak Gery tidur sendirian. Ingat, Tiara, Pak Gery sedang amnesia dan dia tidak tahu siapa kamu!" ucap Renata dengan senyum manisnya."Tapi—""Jangan pakai

  • Skandal Panas CEO   Bab 43 Mengusir Renata

    Tiara berhenti di depan pintu, jarinya yang lentik mulai memutar gagang pintu. 'Aku tidak bisa mengusir Renata tapi aku juga tidak bisa melawan perintah Pak Gery. Jadi, aku harus apa? Kenapa aku bisa sampai di situasi yang rumit ini, Tuhan!' jerit Tiara dalam hati."Tunggu!" pekik Gery membuat Tiara menarik tangannya dari gagang pintu."Ada apalagi, Pak?" tanya Tiara tanpa menoleh kebelakang."Karena kamu sudah mau patuh padaku maka aku akan merubah keputusanku untuk tidak mengusir Renata dari rumah tapi secepatnya dia harus pergi!" titah Gery yang membuat hati Tiara terasa lega.'Nah begitu dong, jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan alasan untuk mengusir Renata dan aku juga punya kesempatan untuk memantaunya.' batin Tiara bergegas pergi.Renata yang melihat gagang pintu kamar bergerak pun langsung berlari ke tempat duduknya. 'Aduh, sialan. Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka selain Pak Gery meminta Tiara mengusirku. Tapi Pak Gery benar-benar menyebalkan. Tega-teganya di

  • Skandal Panas CEO   Bab 42 Sikap Aneh

    "Ma-maaf, saya tidak sengaja. Saya antar anda ke kamar tamu." ucap Tiara yang kemudian berlari.Gery menggelengkan kepalanya, 'Dasar wanita aneh, tapi lucu juga ekspresi wajahnya.' gumamnya.Tiara menghentikan langkahnya di depan kamar. "Apa-apaan ini. Masa aku harus satu kamar dengan Pak Gery. Ya, walaupun aku dan dia sepasang suami istri tapi dia sekarang sedang amnesia. Ya sudahlah, lebih baik aku tidur di ruang tamu saja untuk antisipasi.""Siapa yang memintamu tidur di ruang tamu, hem?" ucap Gery yang baru saja datang. "Pa-pak Gery, anda mendengar—""Ya, saya dengar semuanya dan ternyata apa yang dikatakan Pak Rt itu benar, kita ini sepasang suami istri dan anak yang ada di dalam kandunganmu itu anak saya?" cecar Gery."Pak, anda—""Tidak perlu mengelak lagi. Semuanya sudah jelas. Tapi kenapa kamu sembunyikan rahasia ini dari saya? Apa karena saya amnesia dan kamu takut terjadi sesuatu dengan saya?" tanya Gery membuat Tiara semakin terpojok."Tidak, Pak. Anda salah paham. Saya—"

  • Skandal Panas CEO   Bab 42 Pertengkaran

    "Sabar dulu, Tiara." keluh Gery yang tengah melepas sepatunya. "Pak, anda bisa melepas sepatu itu di dalam rumah." pinta Tiara menyembunyikan kepanikannya."Ah, biar saya saja yang urus. Anda masuk kedalam rumah." ucap Tiara tak sabar.Tiara mendorong tubuh Gery sampai masuk kedalam rumahnya. Tok … Tok ….Gery mengerutkan keningnya. "Siapa yang ketuk pintu?" tanyanya.'Haduh, pasti Pak Rt datang. Pak Gery tidak boleh bertemu dengan Pak Rt. Bisa-bisa Pak Rt bicara yang sebenarnya dan kondisi Pak Gery langsung drop.' gumam Tiara dalam hati."Biar saya saja yang—""Pak Gery tunggu di dalam rumah.Biar saya saja yang melihat kedepan rumah." titah Tiara yang berlari dan membuka sedikit pintu rumah."Tiara." panggil Pak Rt.Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ad-ada apa ya, Pak? Tumben sekali Pak Rt datang ke rumah." tanyanya sembari melirik kearah ruang tamu."Dimana suami mu? Tadi saya lihat suamimu ada di sini?" tanya Pak Rt."Su-suami? Oh, Pak Rt salah lihat. Suamiku belum pul

  • Skandal Panas CEO   Bab 40 Pergi Ke Rumah

    Tiara menatap wajah Renata. "Ta-tadi aku dengar—""Kamu jangan salah paham dulu. Pak Gery tidak pernah mencintaiku. Dia sengaja bicara seperti itu supaya pernikahannya dengan Nona Sindy batal. Kamu harus percaya padaku. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak Pak Gery. Tidak mungkin, aku merebut Pak Gery darimu." ucap Renata.Tiara mengangguk, 'Tapi kenapa rasanya sangat sakit sekali?' batinnya.'Seketika raut wajahmu berubah saat mendengar ucapan Pak Gery. Ini baru permulaan, Tiara. Aku janji, akan merebut Pak Gery darimu.' gumam Renata dalam hati."Aku tidak percaya kalau kamu mencintai wanita bernama Renata itu. Aku yakin, Ger!" teriak Sindy."Ya sudah, kalau kamu tidak percaya. Aku juga tidak butuh kamu percaya denganku." ketus Gery kemudian membuka pintu mobilnya dan melihat bangku depan kosong. 'Renata pergi kemana? Apa jangan-jangan dia kabur atau Ayah menyuruh seseorang untuk menangkapnya?' batin Gery panik lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan beberapa langkah menuju

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status