Share

Chapter 5 : Sombra

Penulis: Rara Radika
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-12 03:46:59

Lauretta membuka lebar-lebar jendela kamarnya. Mengambil sebuah lintingan kecil dari dalam laci kemudian ia sulut. Menghisap asap segar pun harum khas dari lintingan pada selah jemarinya.

Dirinya duduk pada sofa tunggal di dekat jendela saat beberapa pelayan masuk untuk mengantarkan satu botol redwine lengkap dengan gelas dan satu mangkuk buah cerry segar. Meletakannya tepat di atas meja, di hadapan sen Senora mereka.

Ia memejamkan mata menikmati efek mabuk dari alkohol yang ia tegak. Bayangan hitam pada kelopak matanya seketika berubah menjadi pecahan-pecahan kenangan yang sama sekali tak ingin ia ingat. Lantas, ia segera membuka matanya kembali.

Di hadapannya ia melihat Amor yang berdiri begitu gagah. Memeluk serta mencium pundaknya dari belakang begitu mesra. Pria itu gencar membisikan kata-kata cinta padanya. Merayu, menggoda, amat mempesona.

Di tepi ranjang mereka saling menatap dalam. Menyatukan bibir pun saling melumat. Lalu adegan itu berganti menjadi percintaan panas mereka di atas ranjang. Suara-suara kenikmatan yang memekikkan telinga meskipun itu tidak nyata.

Lauretta melihat dirinya sendiri di dalam bayang-bayang pikirannya. Kenangan masa lalu bersama pria itu begitu menghantui kesendirian selama ini. Kesepian yang selalu memeluknya seolah berbisik jika ia membutuhkan sosok pria itu lagi untuk mengisi kekosongan hidupnya.

Ia segera menegak kembali minuman, menyesap asap rokok lalu menghembuskan ke sembarang. Mengerjap beberapa kali guna menghilangkan bayang-bayang akan pria itu.

Sejenak ia terdiam. Kini memorinya memutar sebuah adegan baru. Adegan di mana pria itu tengah bercinta panas dengan wanita lain. Wanita yang saat ini tengah bersamanya.

Lauretta mengerjap. Memijat pangkal hidungnya pening. Mencoba menghilangkan Amor dari dalam pikirannya. Namun, semakin ia menolak, pria itu semakin hadir membayanginya.

Sulutan rokok pada selah jemarinya semakin pendek. Ia terkejut tatkala api itu mengenai jemari lantas membuat gelas yang ia pegang jatuh pecah berserakkan disertai minuman merah di atas lantai.

Lauretta tersentak lantas membuka matanya. Mata sayu nan merah melirik ke arah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Kembali ia lihat bayang-bayang Amor berjalan masuk mendekat ke arahnya.

Pria itu bersimpuh di hadapannya. Mengecup jemarinya yang kemerahan pun sedikit menjilatnya. Ia menyimpan wajahnya di atas paha Lauretta. Lalu mengelus lembut tangan kekasihnya.

Lauretta tahu itu tidak nyata. Kehadiran Amor merupakan ilusinya lantas ia biarkan bayang-bayang pria itu berada di sana. Melakukan apa saja yang ia inginkan. Malah dengan lembut Lauretta menyusupkan jemarinya yang lain pada helai rambut Amor, mengusap pelan kepala pria itu.

Malam semakin larut serta angin dingin mulai menusuk. Gorden putih di depan jendela sesekali berkibar tatkala angin bertiup. Awan semakin redup nan menghitam tanpa cahaya bulan yang bersembunyi entah di mana.

Lauretta semakin larut ke dalam rasa mabuk. Ia melihat Amor masih berada di hadapannya pun bersimpuh. Pria itu mengangkat wajah lantas menatapnya dengan sayu. Satu lengannya terangkat memegang sisi wajah Lauretta nan hangat pun lembut. Membuat Lauretta memejam merasakan sentuhannya.

“Te amo."

Sosoknya mengatakan kata-kata cinta seperti yang ia lakukan dulu. Tatapan hangat nan teduh menyertai wajah tampannya. Sementara Lauretta hanya diam. Terus ia bergumam dalam hati mengingatkan diri akan ketidaknyataan tersebut.

*****

Lauretta berdiri di depan kaca. Menatap dirinya sendiri serta memikirkan kejadian tadi malam. Mengingat-ngingat kenapa dirinya bisa berakhir berbaring di dalam kamar mandi serta memar di kepala akibat terbentur sesuatu.

Ia menoleh saat tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Melihat Abramo yang berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya. Lantas pria itu masuk pun mencuci tangan.

“Apa yang kau lakukan dengan kepalamu?” tanya Abramo. Melihat Lauretta dari cermin.

“Aku tidak ingat.”

Wanita ini melengos keluar dari kamar mandi. Duduk kembali pada sofa tunggal di dekat jendela di mana tempat itu telah dibersihkan kini. Tidak ada tanda-tanda kekacauan seperti yang terjadi tadi malam.

Abramo mengeringkan jemarinya dengan tissue. Menatap istrinya yang telah memejamkan mata. Lantas ia memerintah pelayan untuk masuk mengobati Lauretta. Dirinya berdiri di depan jendela. Jatuh pandangannya ke arah taman di mana putri kecilnya tengah berlarian di sana.

“Kau tahu aku tak pernah melarangmu untuk melakukan apapun yang kau inginkan,” ungkap Abramo.

Lauretta masih memejam. Membiarkan beberapa pelayan mengobati sementara telinganya terus mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya.

“Tapi setidaknya jagalah dirimu, jangan terlalu memperlihatkannya di hadapan Auretta.”

Kelopak mata berbulu mata lentik itu terbuka. Menatap kosong lurus ke depan. “Aku tahu itu.”

Sesaat Abramo melirik istrinya. Lalu tak lama ia arahkan kembali pandangannya ke depan. Melihat Auretta yang ceria tengah bermain-main di taman. Lantas ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruangan.

“¡Tío!"

(Paman)

Auretta berlari ke arah Amor yang datang bersama Abramo. Bukan berlari kepada dadynya, bocah kecil itu justru menghampiri Amor yang datang membawa Snack favoritnya. Keduanya terlihat begitu dekat meskipun baru berjumpa beberapa minggu saja.

Dua saudara itu duduk di kursi taman dengan meja bulat. Ditemani dua cangkir coffee panas di atas meja.

Abramo melihat Amor setelah ia selesai menyesap minumannya. “Kudengar Mara datang,” katanya pada sang kakak.

“Ya. Dia datang tadi malam, dan pergi pagi tadi.”

Abramo mengangguk samar mengerti. Ia pertanyakan sebab tak pernah sekalipun dirinya melihat Amor serius pada seorang wanita hingga membawanya masuk ke dalam kediaman.

“Kau akan menikahinya?” tanya Abramo lagi.

Tanpa ekspresi apapun lantas Amor menjawab,

“Sí.”

(Ya)

Langkah Lauretta terhenti tepat tiga langkah di belakang Abramo kala ia mendengar jawaban mengejutkan dari kakak iparnya. Ia berusaha tidak terusik dengan ucapan pria itu dan kembali melangkah.

“Buen día.”

(Selamat pagi)

Lauretta melihat Amor lantas menyapa. Kemudian beralih pada suaminya pun mereka saling mengecup bibir mesra. Dirinya duduk di samping Abramo yang tak lama langsung dihampiri oleh putri kecilnya.

“Mama!”

“Sí?”

Auretta memperlihatkan telapak tangannya yang kemerahan membuat Lauretta membelakak begitu pula Abramo. Mami dan papi gadis kecil itu langsung menyoroti tiga pengasuhnya.

Abramo sigap menggendong putrinya lalu ia bawa pergi. Sementara Lauretta langsung beranjak. Ia tampar satu-persatu tiga pengasuh itu di sana, tepat di hadapan Amor dan ia hanya diam memperhatikan.

“Estúpido!"

(Bodoh)

Tiga wanita muda itu menunduk amat takut. Mereka tahu kesalahan mereka karena membiarkan Auretta memegang kelopak bunga hingga menyebabkan tangan gadis kecil itu terluka akibat alerginya terhadap serbuk sari.

Lauretta begitu marah pun tak bisa ia kendalikan. Dengan keras ia meminta agar beberapa pengawal membawa tiga wanita itu untuk pergi dari sana setelah gencar ia marahi.

Bagaimana dirinya tak marah. Bahkan untuk hal sekecil itupun tiga orang tak dapat melakukan pekerjaan dengan benar.

.

.

.

Bersambung ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Skandal Panas Pernikahan   Chapter 29 : Mi hija

    Melenggang Mara menyusuri lorong mansion Calbi lantai dua seraya membawa beberapa papperbag di tangannya. Cantik pun mendayu suaranya menyanyikan sebuah lagu. Ia merasa hidupnya semakin bahagia pun sempurna semenjak menyandang status sebagai nyonya Calbi.“Oh?”Kaki jenjangnya sesaat terhenti ketika ia mendapati adik iparnya baru saja keluar dari kamarnya bersama Amor. Entah yang Lauretta lakukan di dalam sana nan sangat mencurigakan terlebih lagi Mara tahu jika wanita itu ialah mantan kekasih suaminya.“Holla Mara?” sapa Lauretta. Melangkah dirinya menghampiri Mara yang terdiam dan mencoba untuk santai dan tak mulai mencecarnya.“Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?” tanya Mara. Memasang badan namun tetap santai. Tetapi, kekesalan pada raut wajahnya tak bisa ia sembunyikan, dan Lauretta tahu jika wanita itu tengah menahan kesal.Sebagai seorang wanita yang telah memiliki suami dan anak, pantaskah dia masuk ke dalam kamar kakak iparnya sendiri yang kini bahkan telah memiliki seorang

  • Skandal Panas Pernikahan   Chapter 28 : Cerebro

    Chihuahua, Mexico. Satu kakinya terangkat ke atas sementara tubuhnya tersentak-sentak seirama dengan desahan halus yang keluar dari bibirnya. Jemari lentik mencengkram kuat tuxedo hingga kusut di bagian kerah. Amor meraih bibir Lauretta lalu ia lumat panas, membelit lidah pun mereka bertukar saliva.Sebuah gedung di Chihuahua Mexico. Tengah di adakan pernikahan yang begitu besar. Mencakup orang-orang penting besar dari kalangan atas pun juga dunia bawah. Penyatuan antara dua klan besar. Yakni, Calbi dan Antonino.Pengantin wanita tengah berdandan seraya bercermin cantik. Mematut tubuhnya yang terbalut gaun pengantin putih nan sakral. Wajahnya dipenuhi binar-binar kebahagiaan serta tak lepas senyum pada bibirnya yang merona.Tinggal menghitung menit sebelum Mara Antonino resmi menjadi istri dari Amor Calbi. Pria yang amat sangat dicintai serta ia damba-dambakan. Status sebagai nyonya Calbi mampu ia dapatkan. Sukses dirinya membuat semua wanita yang menginginkan Amor patah hati.Sement

  • Skandal Panas Pernikahan   Chapter 27 : Muerto

    “Mudah saja bagimu mendapatkan nomorku, benar? Ada apa?”Mengapit ponsel di antara kepala serta bahunya dan berbicara kepada Gabriel yang tiba-tiba menghubungi. Entah dari mana pria itu bisa mendapatkan nomor ponselnya, yang pasti ia lakukan secara ilegal.Lauretta tengah sibuk berada di dapur. Membuat makan malam sendiri meskipun bisa ia pinta pelayan untuk membuatkannya. Namun, spesial yang satu ini ia tak ingin buatan orang lain.Telah terhidang di atas piring potongan tentakel gurita mentah, satu mangkuk kecil saus serta irisan tipis lemon. Makanan favoritnya yang akan dianggap aneh dan menjijikkan. Saat tinggal di kediaman Fiescho, ia akan diolok-olok sebab memakan makanan tersebut.Duduk di atas kursi meja dapur, Lauretta mulai menyantap makanannya dengan ponsel yang masih ia pegang di depan telinga.‘Aku ingin bertemu denganmu, maukah kau?’“Hanya kita berdua? Tanpa sepengetahuan Maria?” tukas Lauretta berterus terang. Meletakkan chopsticks di samping piringnya lalu ia menegak

  • Skandal Panas Pernikahan   Chapter 26 : Ballerina 2

    “Rivalmu.”Berkedut sudut bibir Lauretta terus menatap lurus ke depan, enggan dirinya untuk menoleh. Tanpa ia lihat sosok di samping, telah ia ketahui dari Elazar yang menyebutkan status orang tersebut. Rival. Ya, musuh Lauretta dari zaman bersekolah dulu, dan itu hanya sebiji.“Holla Elazar.” Sebuah tangan terulur tepat di depan Lauretta. Jemari lentik nan cantik terhias nail art indah serta bertengger jam tangan mahal pada pergelangannya. Uluran itu tak ditujukan kepada Lauretta, melainkan pada Elazar di sisinya.Tangan mereka berjabat tepat di depan wajah Lauretta yang bergeming tak ingin menanggapi. Tak peduli sama sekali jika dirinya yang sebesar ini dilewatkan begitu saja tanpa sapaan. Dan justru dengan sengaja wanita itu lebih memilih untuk menyapa Elazar.Jika Lauretta adalah bara api, maka wanita cantik nan modis di sampingnya ini adalah koreknya.“Kudengar Auretta mengikuti balet, si? Ah ... aku tak sabar melihatnya,” tanya wanita bernama Maria ini. Tatapannya melayang melew

  • Skandal Panas Pernikahan   Chapter 25 Ballerina

    “Ck. Bukankah aku istrimu jika ayahku tak mati hari itu?”Perubahan besar terjadi dalam hidup Lauretta semenjak kematian ayahnya. Seperti ditinggalkan sebatang kara memikul beban yang begitu menumpuk. Seolah semua kesalahan ada padanya sehingga ia yang barus menanggung segalanya.Fiescho diambang kehancuran jika tak ada jabat tangan Calbi beberapa tahun yang lalu. Pernikahannya menyelamatkan seluruh anggota serta merta wilayah kekuasaan yang hampir dirampas dari tangan Fiescho. Lauretta sebagai tumbal yang dijual sekaligus tawanan berat antar dua keluarga. Ikatan mereka terjalin dengan adanya hubungan pernikahan.Manuel dan Johanes hampir menjadi besan. Johanes pemegang kekuasaan penuh Calbi, dan Manuel adalah calon pemegang kekuasaan yang dimilikki Fiescho. Dua keluarga kuat nan kokoh bersanding bersama mempererat suatu wilayah kekuasaan.Kehancuran dimulai dengan serangan tiba-tiba dari pihak musuh. Manuel dibunuh dalam pertempuran dan mati menjelang beberapa hari pernikahan putrin

  • Skandal Panas Pernikahan   Chapter 24 Ha pasado

    Melenggang cantik kaki jenjangnya menelusuri area basement rumah sakit menuju mobilnya yang terpakir di sana. Membeliak Lauretta kontan menganga ketika ia mendapati dua pria sialan sedang mengotak-atik mobil miliknya. Satu pria berdiri menyender pada mobil, dan satunya bersimpuh di depan ban.Berjalan ia segera menghampiri mobilnya membuat si pria bersimpuh lantas berdiri. Higheels tinggi nan runcing ia kenakan menendang-nendang ban mobil yang kempes kini. “Apa yang dua sialan ini lakukan pada mobilku?!”“Little snake, mulutnya begitu tajam dan berbisa,” bisik Galnot pada Amor yang kemudian terkekeh menggeleng kepala. Pria bertubuh besar disertai banyak tato pada tangan kanan dan kirinya mundur ke belakang, membiarkan Amor menghadapi ular berbisa yang sedang mengamuk.“My little cat,” timpal Amor, kemudian melangkah menghadap sang tercinta yang sedang marah-marah karena ban mobilnya yang bocor. “Mobilmu rusak, jadi kupinta Galnot memeriksanya.”Bergerak pandangan Lauretta pada Amor se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status