LOGINteman-teman maaf ya untuk hari ini 1 Bab dulu ya kemungkinan besok aku libur dulu ya sehari, karena lagi flu berat. (。•́︿•̀。)
Pagi ini Laras menyesap kopinya sembari memperhatikan dari luar kaca, bayi-bayi yang baru saja ia bantu lahir. Ia bahkan masih menggunakan penutup kepala dan seragam OKA hijau yang sedikit kusut. Wanita itu memilih istirahat sejenak sebelum memulai kunjungan ke pasien rawat inap.Sambil memegang gelas kopinya, ia mengetuk kaca transparan itu dengan senyum hangat. Setiap kali berhasil membantu para ibu selamat melahirkan, hatinya berbunga-bunga, seolah ia baru saja memiliki anak baru."Hi bayi cantik, sebentar lagi kamu ketemu mamamu Sayang," bisiknya yang sudah pasti tidak terdengar dari dalam sana.Tiba-tiba, Dinda datang dari arah belakang dan menepuk pelan bahu istri Dirgantara, membuat wanita itu sedikit tersentak."Ras, selesai?" tanya Dinda.Laras menoleh, lalu mengangguk kecil. "Selesai Din. Syukurlah dua pasien pagi ini melahirkan normal, semuanya sehat."Dinda makin mendekat dan berbisik tepat di samping telinga Laras dengan menyengir. "Ras, nanti anterin gue ke rumah Papi, m
Malam harinya, api unggun menyala dan menghangatkan di halaman belakang vila. Dirga duduk di bangku kayu, tangannya sibuk membolak-balik jagung di atas bara api bersama si kembar."Jagung bakar Papi eeennnaakkk!" seru Leksa dan Laksa kompak sambil mengipas-ngipas jagung mereka yang masih panas.Dirga terkekeh, lalu matanya melirik ke arah Laras yang sedang menyesap bandrek susu."Kalian tahu? Dulu Mami pernah kejatuhan ulat besar di kebun jagung sampai teriak kencang," celetuk Dirga tiba-tiba.Laras langsung melotot mendengar insiden itu diceritakan lagi. Ingatannya berputar pada masa-masa mendebarkan saat ia pertama kali mengenal sosok dokter mesum ini."Mas! Jangan diingatkan lagi deh, itu ‘kan karena kamu yang ajak leat jalan kebun. Lagian saya nggak teriak!" dengkus Laras.Alih-alih mengklarifikais, Dirga justru tersenyum menggoda. Ia menikmati ekspresi kesal istrinya."Iya, waktu itu Mami antar Papi keliling desa buat periksa anak-anak yang sakit," tambah pria itu.Leksa dan Laks
“Mas, luwaknnya mau diapain? Jangan dibawa ke vila. Lepas di kebun aja!” saran Laras. Bulu kuduknya meremang ketika membayangkan hewan berbulu itu berlarian bersama Leksa dan Laksa di vila. Yang paling menyebalkan bagaimana kalu hewan itu menyerangnya. “Takut, Mas!” Laras memeluk tangannya sendiri, bahkan ia tidak berani dekat-dekat sang suami. Alih-alih mengiyakan permintaan istrinya, Dirga malah memicingkan mata. Bibir pria itu menyunggingkan senyum. Sudah pasti berniat menjahili istrinya yang tampak tak tenang. Sebelum Dirga sempat mendekat, Laras lebih dulu menunjuk suaminya. "Mas, jangan mulai, deh, ya! Tanah di sini licin, nanti kalau saya kaget terus kepeleset gimana? Lepas saja Mas!" protes Laras dan peluh mulai membasahi wajah cantiknya. Tidak langsung menjawab, Dirga memanggil Leksa yang saat ini sedang memperhatikan penjaga vila memotong pohon nanas. "Leksa, Papi lepas luwaknya. Kasihan dia kalau diikat terus, dia punya keluarga di hutan," jelas dokter tampan itu. Seke
“Ya, ampun Leksa.” Air mata Laras banjir sudah. Ia mematung di tengah kebun, napasnya memburu dengan mata buram yang memandangi hamparan hijau di depan. Kepanikan luar biasa menjalar di antara rimbunnya pohon kopi. Para petani yang tadinya tenang bekerja, kini serempak menghentikan aktivitas mereka begitu mendengar teriakan Laras. Tanpa membuang waktu, bahkan Dirga tidak sempat menenangkan Laras, pria itu gegas menerobos semak-semak. Langkahnya lebar dan sangat cepat, ia menyisir setiap sudut di antara batang-batang kopi yang rapat. Sebagai ayah, Dirga yakin betul Leksa tidak mungkin pergi jauh. Apalagi seluruh area kebun ini dikelilingi pagar besi tinggi di perbatasannya. "Leksa! Leksa, jawab Papi!" lantang Dirga. Suaranya yang keras menggema di area perkebunan. "Leksa! Jangan main-main, Nak! Jawab!!!" Sementara itu, Laksa yang melihat maminya syok terdiam ketakutan. Kini wajah Laras nyaris seputih kapas, dengan tatapannya hampa ke depan. Ia merasa jiwanya ikut bernar-benar bersa
"Mami, Papi, kenapa belum bangun? Mi? Pi?" teriak Leksa dengan suara cemprengnya yang khas. Ketukan keras di pintu kayu itu terdengar beruntun.Berbeda dengan Laksa yang berdiri di samping kembarannya sambil memegangi perut."Aku lapar, Mami!" panggil mereka berdua akhirnya.Wajah keduanya masih tampak mengantuk, tetapi bibir mungil itu sudah menekuk karena kesal pintu tak kunjung terbuka. Padahal ini masih pukul lima, perut keduanya memang benar-benar tidak bisa kosong.Kini di dalam kamar yang masih temaram, Dirga justru makin erat memeluk pinggul sang istri. Kepalanya bersandar tepat di samping dada Laras yang penuh dengan tanda merah sisa pergulatan semalam.Laras melenguh, berusaha menyingkirkan tangan suaminya yang berat."Mas?" rengek wanita itu, merasakan tangan besar dan berbulu halus ini mengunci pergerakannya. "Anak-anak lapar, Mas. Kasihan mereka di luar."Tanpa membuka mata sedikit pun, Dirga bergumam, "Biar, Yang. Ini masih pagi banget. Kamu hubungi penjaga vila, minta me
Jumat malam ini, Dirga memboyong istri dan anak-anaknya menuju vila pribadi mereka di kawasan Puncak. Perjalanan yang biasanya lumayan singkat berubah lebih melelahkan karena macet sejak gerbang tol. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat saat mobil mewah itu mulai menanjak di jalanan yang berkelok.Bahkan Leksa dan Laksa sudah terkapar pulas di kursi belakang dengan posisi kepala saling bertumpu. Berbeda dengan Laras berkali-kali mengerjapkan mata, berusaha menahan kantuknya karena tidak tega membiarkan sang suami menyetir sendirian dalam kesunyian.Begitu mobil memasuki kawasan perkebunan kopi, suhu udara turun drastis. Laksa mengerjap-ngerjap kecil sambil memeluk lengannya sendiri. "Dingin, Mi …," gumamnya dengan suara khas bangun tidur.Gegas Laras memutar tombol suhu AC ke arah yang lebih hangat. Sedangkan Dirga tetap fokus menatap jalanan yang berkabut pun ikut menimpali tanpa menoleh, "Pakai jaketnya, jagoan. Udara gunung beda sama AC rumah."Si kembar buru-buru mena







