ANMELDENReyhan terkekeh kecil. Tangannya di daun pintu kayu justru semakin erat.Tubuh tinggi pria itu kian merapat dari belakang, mengurung Kiara sepenuhnya."Banyak wartawan di luar?" ulang Reyhan lambat, menirukan nada panik Kiara.Ujung hidungnya menyapu halus garis leher Kiara. "Lalu kenapa kamu malah berlari masuk ke toilet pria? Mau mengintip?"Kiara yang panik berusaha keras mempertahankan martabatnya. Ia berbalik mendorong dada bidang Reyhan yang kokoh, lalu membalas dengan tatapan tajam."S-siapa yang mau mengintip?!" sergah Kiara berusaha keras menyembunyikan rona merah yang menjalar ke telinganya. "S-saya dikejar wartawan tadi!”Sudut bibir Reyhan terangkat, membentuk senyum miring yang penuh keangkuhan. Pria itu melangkah maju, membuat cengkraman tangan Kiara di dada bidangnya yang basah terasa semakin intim.Pria itu menunduk lebih dalam, menyisakan jarak tipis di antara bibir mereka.‘Ngapain sih? Deket banget. Masa dia mau cium aku lagi?’Darah Kiara seketika berdesir heba
"Akting dari mana?!" balas Tara berapi-api."Kameranya menyorot kalian dalam resolusi 4K, Kiara! Tidak ada ruang untuk alibi kamuflase. Para produser saling pandang dengan ngeri. Mereka mendadak sadar bahwa mereka baru saja memaki dan mengusir wanita yang bisa membuat seorang Reyhan Dirgantara menanggalkan akal sehatnya secara langsung."Tara mencondongkan tubuhnya, menatap mata Kiara dengan senyum miring kepuasan."Sutradara arogan itu sekarang sedang berkeringat dingin di ruang sebelah, menyadari dia baru saja mencoba menendang permaisuri dari istananya sendiri. Posisi pemeran utama itu sekarang mutlak milikmu."Kiara terdiam kaku. Ia menoleh perlahan menatap ambang pintu yang dibiarkan terbuka, ke arah lorong tempat Reyhan baru saja menghilang.Batinnya berkecamuk hebat.Presdir gila itu menggunakan metode yang paling modus untuk membungkam para juri.Namun, efeknya benar-benar tak terbantahkan.Suka atau tidak, Reyhan baru saja meletakkan mahkota perlindungan di atas kepala Kia
Napas Reyhan yang memburu terasa begitu hangat, menyapu permukaan bibir Kiara.Gadis itu memejamkan mata.‘Mungkin dia cuma akan berbisik sesuatu,’ pikirnya.Namun, dugaannya meleset total.Alih-alih menghindar, jari-jari kokoh Reyhan yang menangkup rahangnya justru memberikan sedikit tekanan, mendongakkan wajah gadis itu lebih tinggi.Detik berikutnya, Reyhan menghapus sisa jarak di antara mereka dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Kiara.Mata Kiara seketika terbelalak lebar.‘Gila! Dia beneran—.’Waktu seolah berhenti berdetak di ruang audisi yang hening itu.Sentuhan Reyhan awalnya terasa menuntut, sejalan dengan emosi kelam karakter protagonis pria yang sedang ia perankan.Namun perlahan, ciuman itu berubah menjadi pagutan yang lembut yang memabukkan, seolah pria itu dengan sengaja menyalurkan hasrat tersembunyinya.Tubuh Kiara menegang kaku. Otaknya mendadak mati keping. Ia tidak bisa berpikir, tidak bisa meronta, dan tanpa sadar hanya bisa meremas lengan kemeja Reyh
Sutradara Haris yang baru saja mengamuk seketika pucat pasi. Matanya terbelalak menatap sosok yang baru saja melangkah masuk melewati ambang pintu.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di ruangan tersebut.Seorang pria dengan setelan jas hitam bespoke melangkah masuk. Auranya begitu gelap, dingin, dan mendominasi, seolah menyedot seluruh udara di dalam ruangan."Sepertinya, ada yang lupa, siapa yang sebenarnya berkuasa di gedung ini,” ujar pria itu memecah keheningan.Kehadiran Reyhan Dirgantara di ruang audisi itu ibarat badai salju yang membekukan seisi ruangan dalam hitungan detik.Kelima juri yang duduk di balik meja panjang, termasuk Sutradara Haris yang tadinya mengamuk layaknya singa, seketika merinding berdiri dari kursi mereka.Wajah-wajah arogan itu kini tergantikan oleh pias ketakutan yang amat nyata.Langkah panjang Reyhan melewati Kiara begitu saja, menyapu bahu gadis itu dengan aroma musk dan mint yang dingin.Pria itu terus berjalan menuju meja juri tanpa
Bima dengan gerakan sangat efisien dan wajah yang tetap tanpa dosa, berjalan mendekat untuk menyodorkan selembar tisu."A-apa kamu bilang?" tanya Kiara dengan suara serak, buru-buru menyeka sudut bibirnya. Wajahnya yang semula sudah normal kini kembali memerah sempurna."Pak Presdir sangat peduli pada persiapan audisi ini, Nona," lanjut Bima dengan raut wajah datar tak terbaca.“Huh!”Kiara mendesah lepas.‘Yah, sudah pasti karena proyek ini. Apa sih yang aku harapkan?'Setelah berhasil menenangkan diri dari insiden 'teh penenang' Reyhan, Kiara turun dari penthouse, dan disambut oleh Tara yang sudah menunggunya di lobi lantai audisi dengan wajah tegang Lalu, mereka melangkah keluar dari lift khusus didampingi Bima.Begitu pintu lift terbuka, suasana lorong yang semula dipenuhi obrolan puluhan aktris papan atas dan pendatang baru mendadak senyap.Semua mata tertuju pada Kiara. Pagi itu, Kiara mengenakan midi dress berwarna navy dengan potongan asimetris yang memeluk tubuhnya denga
Sepersekian detik kemudian, Reyhan menarik tangannya dari dinding kaca.Pria itu mundur selangkah dengan cepat, memutus kontak mata mereka secara sepihak."Ehem."Reyhan berdeham pelan, terdengar canggung dan serak dari biasanya. Ia segera berbalik membelakangi Kiara.Dengan gerakan yang sangat kaku dan tidak natural, sang CEO yang terkenal kejam itu tiba-tiba sibuk menunduk untuk memungut lembaran naskah yang tadi ia jatuhkan ke lantai.Di bawah cahaya lampu temaram, Kiara bisa melihat dengan jelas ujung telinga pria itu perlahan memerah.Kiara yang telah menurunkan jinjitnya, seketika memalingkan wajah. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke dinding kaca, sementara tangan kanannya tanpa sadar naik meremas pakaian yang ia kenakan.Detak jantungnya semakin menggebu-gebu. Di balik wajahnya yang perlahan memanas, batin Kiara meronta hebat.'Masa sih, Pak Presdir beneran suka aku?’Kiara menggigit bibir bawahnya, matanya bergerak gelisah menatap ujung sepatunya sendiri.Sebuah bay







