MasukMati dikhianati mantan tunangan dan aktris selingkuhannya? Kiara Larasati menolak mengulang kebodohan yang sama! Kembali ke malam di mana ia dijebak, Kiara menerobos masuk ke kamar hotel Reyhan Dirgantara, CEO paling ditakuti di negara ini. Saat wartawan bayaran mantannya menggedor pintu, Kiara justru menempelkan tubuhnya pada sang Presdir. "Ssst, Tuan Presdir... jika Anda bersedia sembunyikan aku, aku akan memuaskan ambisimu." Sebuah kontrak iblis ditandatangani. Kiara menggunakan kekuasaan Reyhan untuk menampar wajah orang-orang yang dulu menghancurkannya. Mantan menyesal sampai berlutut? Si aktris selingkuhan menangis darah? Itu baru permulaan! Masalahnya, Reyhan Dirgantara ternyata lebih berbahaya dari sang mantan. Pria itu tidak hanya menginginkan kesetiaan Kiara di depan kamera, tapi juga dominasi mutlak di balik pintu yang terkunci!
Lihat lebih banyak"Siapa yang mengirimmu?!"
Sebuah tangan besar mencengkeram leher Kiara. Tarikannya begitu kuat dan cepat sehingga punggung gadis itu membentur dinding dengan keras.
"Pembunuh? Pesaing bisnisku? Atau kau wanita sewaan yang ditugaskan untuk membuat skandal?" ujar sosok siluet pria bertubuh tegap itu lagi.
Belum genap satu jam yang lalu, Kiara mati kedinginan di tengah hujan aspal jalanan. Ia tewas setelah mantan tunangannya, Julian, dan aktris selingkuhannya merampas semua harta warisannya.
Namun saat membuka mata, ia justru terlahir kembali ke lima tahun lalu, tepat saat Julian baru saja menjadi salah satu sutradara yang sedang naik daun menjebaknya di kamar hotel bersama pria hidung belang.
"Jawab pertanyaanku!" ancam pria di depannya dengan suara rendah yang mematikan. Jari pria itu semakin menekan leher Kiara.
Kiara baru saja memukul pria bayaran Julian hingga pingsan, lalu kabur dengan gaun malam yang robek. Ia sempat menyambar ponselnya sebelum kabur.
Karena tidak ada jalan lain, ia terpaksa menerobos masuk ke kamar penthouse VVIP ini secara acak, untuk bersembunyi dari puluhan wartawan yang disewa Julian.
Sialnya, kamar yang ia pilih justru milik pria paling berbahaya di industri hiburan.
Kiara sangat mengenali aroma parfum maskulin bercampur tembakau ini. Pria yang mencekiknya di dalam kegelapan ini adalah Reyhan Dirgantara.
Sosok penguasa industri hiburan yang paling ditakuti, Presiden Direktur Starlight Entertainment.
Wanita berusia dua puluh enam tahun itu perlahan mengangkat tangan dan menyentuh punggung tangan Reyhan. Sentuhan itu membuat tangan besar Reyhan sedikit tersentak kaget.
Tatapan Reyhan turun ke arah bibir Kiara, menyoroti kerentanan fisiknya di dalam balutan gaun yang robek.
"Maaf mengganggu ketenangan Anda, Tuan Reyhan Dirgantara. Kalau saya datang untuk membunuh Anda, saya tidak akan masuk lewat pintu depan," jawab Kiara dengan suara yang sangat tenang.
Cengkeraman Reyhan di lehernya perlahan mengendur. Pria itu tampaknya terkejut mendengar keberanian sang tamu tak diundang.
“Saya hanya ingin numpang bersembunyi,” ujar Kiara, berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar gemetar. “Sebagai gantinya … saya bisa memberikan sesuatu yang mungkin membuat Anda tertarik.”
Dengusan sinis terdengar dari pria di hadapannya.
Reyhan lalu mengulurkan tangan dan menyalakan lampu dinding kecil di samping tempat tidur. Cahaya redup perlahan menerangi ruangan sekaligus menampakkan wajah tampannya yang sejak tadi tersembunyi dalam gelap.
Kiara refleks menahan napas. Wajah dengan tatapan dingin itu, bahkan setelah bertahun-tahun, dia masih mengingatnya dengan sangat jelas.
Reyhan yang diingatnya dari kehidupan sebelumnya jauh lebih mengerikan daripada pria yang sekarang berdiri di hadapannya. Pria yang tidak mudah percaya pada siapa pun, apalagi pada seorang wanita asing yang tiba-tiba masuk ke kamarnya tengah malam dalam keadaan berantakan seperti dirinya.
Tatapan Reyhan turun perlahan, memperhatikan penampilan Kiara yang kacau. Rambutnya berantakan, napasnya belum sepenuhnya teratur, sementara pakaian yang dikenakannya sudah tidak serapi ketika pertama kali meninggalkan rumah.
“Ribuan orang mencari alasan untuk mendekatiku setiap hari,” ujar Reyhan dingin. “Kau pikir aku akan percaya begitu saja?”
Kiara menelan ludah. Dia tahu pria ini tidak akan percaya. Tapi masalahnya, dia juga tidak punya banyak waktu. Di luar sana, orang-orang yang mengejarnya masih mencarinya dan kalau dia keluar dari ruangan ini sekarang, dia tahu persis apa yang akan terjadi.
Kiara menarik napas dalam-dalam, lalu memaksa dirinya mengangkat wajah. “Kalau begitu … saya bisa memberikan informasi yang jauh lebih berharga.”
Tatapan Reyhan kembali tertuju padanya.
“Saya tahu siapa orang yang selama ini menggelapkan dana produksi film terbesar perusahaan Anda,” lanjut Kiara dengan tegas.
Saat itu juga, ekspresi Reyhan sedikit berubah. Tatapannya menjadi lebih tajam, seolah sedang memastikan apakah wanita di depannya benar-benar tahu apa yang baru saja diucapkannya.
Kiara kembali bersuara. “Saya tahu namanya. Saya bahkan tahu bagaimana dia melakukannya.”
Reyhan tidak langsung menjawab. Wajahnya kembali tenang, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari Kiara.
“Beri aku alasan untuk percaya bahwa kau tidak sedang mengarang cerita,” ujar Reyhan akhirnya.
Kiara menggigit bibirnya. Ia memang tahu siapa pelakunya dan bagaimana semuanya akan terbongkar, tetapi sebagian besar bukti itu baru akan muncul beberapa waktu lagi. Bahkan di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memegang dokumen tersebut secara langsung.
Sial. Seharusnya ia memikirkan hal ini sebelum datang.
“Tiga puluh detik,” ucap Reyhan dengan nada dingin. “Buktikan kalau informasi yang kau bawa memang layak membuatku melindungimu. Kalau tidak, kau keluar dari ruangan ini.”
Kiara menelan ludah. Waktu terus berjalan, sementara dari balik pintu suara para wartawan mulai terdengar semakin jelas.
“Coba cek kamar sebelah!”
“Tidak ada. Mungkin dia naik ke lantai atas.”
Mereka belum menemukan kamar ini, tetapi pencarian itu membuat Kiara semakin gelisah. Ia tidak mungkin membuka semua kartu yang dimilikinya, apalagi menjelaskan bahwa pengetahuannya berasal dari kehidupan sebelumnya.
“Dua puluh detik,” Reyhan kembali mengingatkan.
Kiara menatap pria itu. Wajah Reyhan masih tenang, seolah tidak ada belasan wartawan yang sedang menyisir lantai tempat mereka berada.
Sementara dirinya justru semakin panik.
Apa yang harus dilakukannya?
Tap... tap... tap...
Langkah kaki terdengar dari luar, kali ini jauh lebih dekat.
Kiara kembali menatap Reyhan. Pria itu jelas tidak akan memberinya kesempatan kedua.
Sial.
Tanpa sempat berpikir panjang, Kiara maju dan mengecup bibir Reyhan.
Pria itu seketika terdiam.
Namun, belum sempat keduanya menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba—
BRAK!
Suara pintu didobrak membuat Kiara dan Reyhan tersentak. Kiara sontak menarik diri dan bersembunyi di balik tubuh besar Reyhan ketika beberapa wartawan langsung menyerbu masuk sambil membawa kamera.
Kiara menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menatap Tara yang masih kebingungan. Perubahan mendadak pada raut wajah Kiara membuat manajernya itu cemas."Ada apa, Kiara?" tanya Tara."Kita harus pergi sekarang, Kak Tara," jawab Kiara tenang. "Reyhan Dirgantara baru saja menyuruhku datang ke kantor pusatnya."Tara membuka matanya lebar-lebar. "Sekarang? Tapi kita tidak punya jadwal pertemuan resmi dengan perusahaannya!""Kita tidak membutuhkannya," balas sang aktris singkat.Mereka berdua lalu berjalan keluar dari kafe untuk mencari taksi. Tara menelan ludah karena merasa sangat gugup."Kiara... kamu yakin ini bukan jebakan?" tanya Tara lagi saat taksi mulai berjalan.Gadis itu tersenyum tipis untuk menenangkan. "Kalau ini jebakan, aku tidak akan mengajakmu ikut bersamaku."Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan gedung perkantoran Dirgantara Group. Bangunan bertingkat puluhan itu terlihat sangat megah. Mereka turun lalu berjalan masuk ke dalam.Lobi utama gedung
"Katakan yang sebenarnya kepadaku, Kiara... siapa bajingan yang menyewamu untuk menjebakku?" tuntut Tara. Sorot matanya dipenuhi kecurigaan.Mendapat pertanyaan tajam itu, Kiara tidak langsung menjawab. Gadis itu justru mengambil gelas air putih di atas meja, lalu meminumnya dengan perlahan."Tidak ada yang mengirimku, Kak Tara," jawab Kiara dengan suara yang sangat tenang. "Aku bergerak murni untuk kepentinganku sendiri."Perempuan berambut pendek itu tidak langsung percaya. Tara menatap Kiara dari atas sampai bawah secara bergantian. Ia mencoba mencari kebohongan di mata gadis tersebut."Aku tahu Kak Tara adalah manajer artis yang berbakat," lanjut Kiara memecah keheningan. "Sayangnya, Kakak sedang kesulitan mencari pekerjaan tetap saat ini."Kiara menatap lurus mata lawan bicaranya. "Aku butuh orang yang jujur dan tegas sepertimu. Aku ingin kamu menjadi manajer pribadiku."Tara mengerutkan dahi kebingungan. "Kamu baru saja menyelamatkanku dari penipuan besar. Aku sangat berte
Setelah Julian dan Sisil pergi dari apartemennya, Kiara segera masuk ke kamar. Ia mengganti pakaiannya dengan busana kasual yang rapi. Tujuannya hari ini adalah menemui Tara Amalia.Di kehidupan masa lalunya, Tara adalah manajer jenius. Karier Tara hancur berantakan karena fitnah jahat dari Julian. Kini, Kiara bertekad merekrutnya lebih awal.'Aku tidak akan membiarkan Julian menghancurkan hidup Kak Tara lagi,' batin Kiara penuh tekad.Gadis itu mengendarai mobil menuju sebuah kafe di pusat kota. Ia segera mengedarkan pandangan saat melangkah masuk. Udara di dalam kafe terasa hangat dan dipenuhi aroma kopi.Matanya menangkap sosok yang sedang dicari di sudut ruangan. Tara Amalia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas abu-abu. Terdapat tumpukan kertas kontrak kerja di atas meja mereka."Tunggu sebentar, Kak Tara!" panggil Kiara dengan suara keras.Tara terkejut dan mendongak menatapnya. Gerakan tangan Tara yang hendak menandatangani kertas itu langsung terhenti di uda
Taksi akhirnya berhenti di pelataran gedung apartemen mewah itu. Kiara membayar ongkos taksi dan melangkah turun. Ia melihat Julian berdiri di lobi dengan sebuket bunga."Cih!" gumam Kiara berdecak muak. Ia memilih masuk lewat pintu samping untuk menghindari Julian.Gadis itu berjalan menuju lift dan langsung menekan tombol lantai lima belas. Saat membuka pintu apartemen, matanya langsung melihat perabotan mahal di dalam.Tempat tinggal ini dibeli dari setiap tetes keringatnya selama bertahun-tahun syuting.Namun, nama yang tertera pada sertifikat kepemilikannya justru milik Julian."Rumah yang ku banggakan, bahkan bukan lagi milikku secara hukum. Ck ck. Aku benar-benar buta!"Gadis itu berjalan perlahan dan duduk di sofa ruang tamu. Tidak lama setelah ia duduk, bunyi bel apartemen terdengar berulang kali dengan nyaring."Buka pintunya, Kiara!" seru Julian dari arah luar.Kiara berdiri dan melangkah menuju pintu. Lewat layar kamera kecil di dinding, ia melihat wajah Julian dan Si
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.