ログインSecepatnya Kiara menggelengkan kepala menyingkirkan pikiran mustahil itu. Ia menarik napas dalam dan berusaha menenangkan jantung.‘Tenanglah Kiara. Pria dingin dan menakutkan itu, mana mungkin naksir kamu.’Ting!Pintu lift terbuka langsung menyatu dengan area penthouse di lantai teratas gedung Starlight.Kiara melangkah keluar dan seketika disambut oleh ruangan yang sangat luas dan mewah.Dominasi warna abu-abu gelap, lantai marmer hitam, serta dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan gemerlap kota malam hari.Perhatian Kiara langsung tertuju pada sofa kulit panjang di tengah ruangan. Reyhan sudah berada di sana.Pria itu tampak jauh lebih santai dibanding tadi siang, jas mahalnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, gulungan lengannya tersingkap hingga memperlihatkan jam tangan hitam yang elegan. Di tangannya, terdapat beberapa lembar kertas naskah Love After Midnight.“Maaf, Pak Presdir. Saya belum sempat mencuci jas yang A
Setelah keluar dari gedung Starlight siang itu, Tara langsung menarik Kiara ke sebuah butik eksklusif untuk menyiapkan pakaian audisi besok."Kamu tidak boleh tampil biasa saja besok," tegas Tara sore itu sambil menyerahkan sebuah gaun elegan. "Audisi ini adalah medan perang pertamamu."Kiara menghabiskan sisa sorenya untuk bersiap dan memutus seluruh akses kartu kredit yang selama ini diam-diam dikuras oleh Julian.Ketika langit mulai gelap, Kiara akhirnya bisa kembali ke apartemennya untuk mengemasi barang-barang penting.Saat sedang menutup ritsleting koper besarnya, terdengar ketukan di pintu depan.Kiara pun membukanya, Bima sudah berdiri di ambang pintu bersama tiga pria berjas hitam bertubuh tegap.Tanpa banyak bicara, mereka mulai mengangkut koper-koper dan beberapa kardus berisi barang pribadi Kiara.Namun, baru saja salah satu bodyguard mengangkat koper kedua Kiara ke luar pintu, sesosok pria melangkah terburu-buru dari koridor.Wajah pria itu terlihat panik bercampur gu
Keheningan kembali mengambil alih ruangan itu. Reyhan masih memegang dagu Kiara, menunggu jawaban.Kiara menelan ludah, memaksakan diri untuk tidak memalingkan wajah dari tatapan mengintimidasi tersebut."Informasi itu..." ujar Kiara akhirnya bersuara, nadanya dijaga agar tetap tenang. "Berasal dari sumber yang tidak bisa saya ungkap kepada Anda, Pak Presdir."Mata Reyhan menyipit. Ibu jarinya berhenti mengusap rahang Kiara."Sumber yang tidak bisa diungkap?" ulang pria itu dengan nada rendah yang penuh selidik."Seorang aktris baru yang bahkan belum punya nama, memiliki sumber informasi sekelas itu? Kau pikir aku bodoh?" tegasnya.Pria itu jelas curiga, rasa penasarannya justru semakin tergelitik oleh keberanian Kiara yang terus-menerus bermain teka-teki dengannya."Saya meminta Anda menjadi pemeran utama bukan karena iseng atau cari sensasi, Pak Presdir" jelas Kiara sungguh-sungguh."Proyek Love After Midnight bernilai delapan puluh miliar. Saya yakin seratus persen, proyek ini
Kiara melangkah masuk ke ruangan.Reyhan duduk di balik meja besar dengan beberapa dokumen terbuka di hadapannya.“Duduk!”Kiara menurut, lalu menatap pria itu penuh tanda tanya.“Pak Reyhan, bukankah jadwal saya seharusnya datang besok pagi?”Reyhan mengangkat pandangan dari dokumen.“Ada proyek yang harus segera dimulai.”Kiara mengerutkan kening.“Lalu apa hubungannya dengan saya?”Reyhan mendorong sebuah map ke arahnya.Kiara mengambil map tersebut dan membukanya. Matanya langsung membeku. Judul proyek itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.STARLIGHT ENTERTAINMENTPROJECT: LOVE AFTER MIDNIGHTGenre: Romance — MelodramaFormat: 16 EpisodeBudget: Rp80 MiliarTarget: National PrimetimeStatus: Pre-ProductionGadis itu langsung terdiam beberapa saat. Ia sangat mengenal proyek itu.Di kehidupan sebelumnya, Love After Midnight adalah drama yang membuat pemeran utamanya melejit menjadi aktris papan atas. Bahkan rating finalnya menjadi salah satu yang tertinggi waktu itu.Tapi Kiara
Kiara menatap layar ponselnya selama beberapa detik.“Bos besar ini benar-benar suka mengubah jadwal sesuka hati,” gumamnya.Tara yang duduk di depannya mengangkat alis.“Bos?”Kiara mengangkat ponselnya dan menunjukkannya kepada Tara.“Ini.”Tara melihat layar ponsel itu dengan sedikit bingung. Namun, begitu membaca si pengirim menyuruh Kiara ke gedung Starlight, tatapan Tara membeku.“Starlight Entertainment?” gumamnya.Kiara mengangguk.Tara kembali membaca pesan itu, lalu menatap Kiara dengan ekspresi berbeda.Starlight Entertainment adalah agensi terbesar di negeri ini. Tidak sembarang artis bisa mendapatkan kesempatan untuk datang langsung ke gedung pusat mereka, apalagi tanpa melalui proses audisi biasa.“Kamu mendapat undangan langsung dari Bos Starlight?”“Um, itu…” Kiara menaruh kembali ponselnya ke dalam tas, ”hanya kesepakatan kecil.” Lalu ia mengalihkan pandang sembari tangannya mengelus leher.Mata Tara menyipit tajam. Tentu siapapun tahu bahwa Bos Starlight bukan seorang
“Kak Kiara…” ujar Sisil, terdengar dibuat-buat khawatir. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu tadi malam?”Kiara mengangkat wajah.Ia sudah bisa menebak sandiwara macam apa yang akan mereka mainkan.“Aku baik-baik saja.”Julian segera melangkah maju. “Kiara, aku benar-benar khawatir padamu. Setelah mengetahui kau menghilang dari hotel, aku langsung mencarimu sepanjang malam.”Kiara hampir tertawa.Mencarinya?Pria itu bahkan mungkin sudah membayangkan bagaimana berita skandalnya akan menghancurkan hidupnya pagi ini.Namun, Kiara hanya menatapnya dengan mata tenang.“Benarkah?”“Tentu.” Julian mengangguk cepat. “Aku takut sesuatu terjadi padamu.”Julian Saputra dikenal publik sebagai sutradara muda berbakat. Wajah tampan, tutur kata lembut, dan senyum yang mampu membuat siapa pun percaya bahwa dirinya adalah pria paling tulus di dunia.Termasuk Kiara di kehidupan sebelumnya.Pria berusia 29 tahun ini sangat pandai merangkai kata. Ia tahu kapan harus menjadi kekasih yang perhatian, kapan







