Share

156.

Author: Lil Seven
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-12 23:08:03

Maxwell tidak mundur. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari manik mata Sylvia.

Keheningan di kamar lantai dua itu terasa mencekam. Aura dingin yang pekat mendadak menguar dari tubuh tegap Maxwell, melenyapkan kekacauan sesaat dan mengembalikan kendali mutlak yang selalu menjadi senjatanya di dunia bisnis. Darah di sudut bibirnya diseka dengan punggung tangan tanpa ekspresi, seolah rasa sakit fisik hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.

Ketika Damien melangkah ma
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   247.

    Pintu studio apartemen berderit menutup rapat, mengunci desau angin dingin dan gemuruh sisa badai di luar. Ruangan berukuran tiga puluh meter persegi itu seketika dipenuhi aroma lembap kain basah dan wangi kayu cendana dari tubuh Maxwell yang kian pekat terbakar demam.Lampu tidur di sudut ruangan memancarkan temaram hangat berwarna kuning gading. Begitu kunci pintu berputar, tubuh Maxwell yang semula ditopang Sylvia perlahan mendorong gadis itu mundur hingga punggungnya merapat ke daun pintu kayu.Kedua telapak tangan Maxwell yang besar menempel di sisi kepala Sylvia. Pria itu menundukkan wajahnya, napasnya memburu pendek dan panas, menyapu kening serta pipi Sylvia yang masih basah oleh air mata dan hujan."Maxwell, bajumu basah kuyup..." bisik Sylvia dengan suara bergetar pelan. Kedua tangannya terangkat ke dada bidang pria itu, berniat mendorongnya menjauh agar bisa mengambil handuk kering di kamar mandi. "Kamu harus segera berganti pakaian atau demammu akan makin tinggi."Bukannya

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   235.

    Pintu ganda griya tawang di lantai puncak Salvador Tower terbanting menutup dengan suara dentuman memekakkan telinga. Sylvia terdorong masuk ke ruang tamu yang temaram, mantelnya basah oleh sisa gerimis sore. Dua pengawal bertubuh kekar langsung mundur dan mengunci akses lift privat dari luar atas perintah mutlak sang pimpinan. Sylvia berbalik cepat dengan dada naik-turun menahan luapan amarah, rasa takut, dan harga dirinya yang diinjak-injak setelah dijemput paksa dari kafe tempat Adrian mengantarkannya berteduh. Di depannya, Maxwell berdiri bagai monster yang baru saja lepas dari rantai neraka. Kemeja putih pria itu basah menempel di tubuh tegapnya, dasinya sudah terlempar entah ke mana, dan rahangnya bergemeletuk kaku dengan urat-urat leher yang menonjol tegang. "Kamu menyuruh anak buahmu menyeretku seperti kriminal, Maxwell?!" suara Sylvia pecah, bergetar hebat di tengah luasnya ruangan mewah yang mendadak terasa mencekik. "Siapa kamu sebenarnya?! K

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   234

    Dentingan lift yang meluncur turun ke lantai dasar terasa bagai peti mati yang menyesakkan bagi Sylvia. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah membasahi pipinya, mengaburkan pemandangan lorong lobi marmer saat pintu baja terbuka. Setiap jengkal harga dirinya terasa hancur berkeping-keping; pemandangan Clarissa di pangkuan Maxwell seolah menjadi stempel pengesahan atas setiap kata hinaan yang dilontarkan Helena. Sylvia melangkah setengah berlari menembus pintu putar kaca gedung Salvador Group, sama sekali tidak memedulikan gerimis siang yang mulai membasahi aspal pelataran lobi. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pria itu. Namun, derit ban mobil memecah lamunannya. Sebuah sedan Maybach hitam berhenti mendadak tepat di tepi trotoar, menghalangi langkah Sylvia. Pintu penumpang belakang terbuka cepat, dan sosok Adrian Pratama melangkah keluar. Mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, wajah pemuda itu tampak tegang, namun matanya memancarkan keleg

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   232.

    Keesokan paginya, suasana di lantai empat puluh terasa berbeda. Ketegangan dingin yang menggantung di antara Sylvia dan Maxwell sejak malam sebelumnya belum sempat mencair, namun ritme kerja korporat memaksanya tetap melangkah profesional. Sylvia baru saja selesai merapikan berkas analisis pasar di meja kerjanya saat pintu lift eksekutif berdenting terbuka. Langkah kaki dengan ketukan stiletto yang tegas memecah keheningan koridor. Seorang wanita melangkah keluar dengan percaya diri. Rambut cokelat bergelombang jatuh sempurna di atas bahu gaun terusan merah marun berpotongan pas badan yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Clarissa Wijaya. Putri salah satu mantan diplomat rekanan dekat keluarga Salvador, lulusan luar negeri yang baru saja ditempatkan langsung di kantor eksekutif melalui memo pribadi Helena Salvador—tanpa melalui persetujuan Maxwell, dengan dalih "asisten protokoler khusus urusan konsorsium internasional". Claris

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   231.

    Malam itu, griya tawang di puncak Salvador Tower tenggelam dalam temaram lampu gantung tembaga. Dari dinding kaca raksasa, kerlip lampu kota membentang bagai hamparan bintang mati. Sylvia berdiri mematung di dekat balkon kaca, jemarinya yang dingin memilin ujung lengan rajut putihnya. Di dalam kepalanya, suara Helena Salvador terus berdengung bagai racun yang mengendap, mengulang-ulang kalimat terkutuk itu tanpa henti: Pernahkah dia membicarakan pernikahan denganmu? Kamu tidak lebih dari pelacur simpanan yang kebetulan pandai bekerja. Denting pintu kamar utama terbuka perlahan. Aroma segar air sabun bercampur wangi maskulin kayu cendana langsung menyusup ke udara, mengumumkan kehadiran sang penguasa menara. Maxwell melangkah keluar hanya mengenakan celana tidur panjang berwarna abu-abu gelap. Dada bidangnya yang kokoh dan berotot masih basah oleh sisa bulir air, sementara handuk putih kecil melingkar longgar di lehernya. Melihat Sylvia masih berdiri kak

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   230.

    Helena sama sekali tidak gentar melihat serpihan kertas cek yang berhamburan di atas meja marmer. Sebaliknya, senyum di bibir wanita bergaun sutra gading itu justru semakin melebar—sebuah senyum dingin, penuh bisa, dan sarat kepuasan melihat mangsanya mulai menunjukkan riak emosi. "Robek sesukamu, Sylvia," suara Helena mengalun begitu tenang, bahkan nyaris lembut, namun setiap suku katanya bagai jarum beracun yang ditusukkan perlahan ke ulu hati gadis itu. "Sikap defensifmu itu membuktikan satu hal: kata-kataku tepat mengenai sasaran terlemahmu." Sylvia menahan napasnya di tenggorokan, berdiri mematung di seberang meja. Jemarinya yang terkepal di samping rok span bergetar samar. Ia berniat melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP beraroma melati itu, namun tatapan tajam sang nyonya besar seolah memaku kedua kakinya di lantai karpet tebal. "Duduk kembali," desis Helena tanpa nada tinggi, namun sarat gravitasi kekuasaan yang menekan. "Aku belum selesai me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status