Compartir

155.

Autor: Lil Seven
last update Fecha de publicación: 2026-10-11 22:36:10
Maxwell tidak mengejar Damien. Ia langsung memangkas jarak, berlutut dengan satu kaki di hadapan Sylvia di atas lantai kayu tua itu, menatap wajah gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca oleh keputusasaan murni. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun di dunia bisnis kini berlutut merendahkan harga dirinya demi sebuah pengampunan.

“Tatap mataku, Sylvia! Tatap aku!” pinta Maxwell dengan suara serak yang memohon, kedua tangannya terangkat ragu-ragu di udara, takut menyentuh gadis itu. “Aku be
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Baby Boy
Malangnya nasibmu Sylvia, hbs bercinta malah nama wanita lain yg dipanggil Maxwell ... hiks
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   238.

    --- Pintu griya tawang masih bergema ketika Maxwell mendorong Clarissa ke belakang hingga punggungnya menghantam dinding kaca dingin. Cengkeraman di rahangnya semakin keras, hampir menyakitkan. Bibirnya masih menempel brutal di mulut wanita itu, lidahnya menyerbu tanpa ampun, seolah ingin mencabik habis rasa pengkhianatan yang baru saja ia saksikan. Clarissa mengerang di sela ciuman itu, tubuhnya melengkung penuh kemenangan. Ia mengira akhirnya Maxwell jatuh ke dalam jebakan yang telah disiapkan Helena. Tangan-tangannya merayap ke dada pria itu, merobek kemeja putih yang sudah terbuka, kuku-kukunya mencakar kulit keras di bawahnya. Tapi Maxwell tidak memberi ruang untuk kenikmatan semu itu. Dia melepaskan bibir Clarissa dengan kasar, lalu menarik rambut wanita itu ke belakang hingga lehernya terekspos. Napasnya berat, panas, penuh racun. “Sylvia…” desisnya serak, hampir tidak manusiawi. “Kamu pikir

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   237

    Malam itu, dentum bas dari sebuah lounge eksklusif di kawasan SCBD berdenyut meredam rintik hujan di luar. Adrian menyewa seluruh lantai mezanin privat, sengaja menciptakan suasana remang dan terisolasi dari keramaian. Di atas meja marmer bundar, gelas kristal berisi koktail buah berwarna merah delima telah kosong untuk ketiga kalinya. Adrian tersenyum tipis, matanya mengawasi Sylvia yang mulai menyandarkan keningnya di telapak tangan. Campuran likur manis beralkohol tinggi yang sengaja ia pesankan bekerja jauh lebih cepat dari dugaan; kepala Sylvia berputar hebat, pandangannya mengabur diiringi gelombang pening yang melucuti seluruh kewaspadaannya. "Kepalaku... berat sekali, Adrian," bisik Sylvia parau. Pipinya memerah saga, suaranya meluncur lambat dan cadel. "Aku harus pulang... Maxwell pasti..." "Jangan sebut nama bajingan itu lagi, Sylvia," potong Adrian lembut. Pemuda itu bergeser merapat di sofa beludru, melingka

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   247.

    Pintu studio apartemen berderit menutup rapat, mengunci desau angin dingin dan gemuruh sisa badai di luar. Ruangan berukuran tiga puluh meter persegi itu seketika dipenuhi aroma lembap kain basah dan wangi kayu cendana dari tubuh Maxwell yang kian pekat terbakar demam.Lampu tidur di sudut ruangan memancarkan temaram hangat berwarna kuning gading. Begitu kunci pintu berputar, tubuh Maxwell yang semula ditopang Sylvia perlahan mendorong gadis itu mundur hingga punggungnya merapat ke daun pintu kayu.Kedua telapak tangan Maxwell yang besar menempel di sisi kepala Sylvia. Pria itu menundukkan wajahnya, napasnya memburu pendek dan panas, menyapu kening serta pipi Sylvia yang masih basah oleh air mata dan hujan."Maxwell, bajumu basah kuyup..." bisik Sylvia dengan suara bergetar pelan. Kedua tangannya terangkat ke dada bidang pria itu, berniat mendorongnya menjauh agar bisa mengambil handuk kering di kamar mandi. "Kamu harus segera berganti pakaian atau demammu akan makin tinggi."Bukannya

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   235.

    Pintu ganda griya tawang di lantai puncak Salvador Tower terbanting menutup dengan suara dentuman memekakkan telinga. Sylvia terdorong masuk ke ruang tamu yang temaram, mantelnya basah oleh sisa gerimis sore. Dua pengawal bertubuh kekar langsung mundur dan mengunci akses lift privat dari luar atas perintah mutlak sang pimpinan. Sylvia berbalik cepat dengan dada naik-turun menahan luapan amarah, rasa takut, dan harga dirinya yang diinjak-injak setelah dijemput paksa dari kafe tempat Adrian mengantarkannya berteduh. Di depannya, Maxwell berdiri bagai monster yang baru saja lepas dari rantai neraka. Kemeja putih pria itu basah menempel di tubuh tegapnya, dasinya sudah terlempar entah ke mana, dan rahangnya bergemeletuk kaku dengan urat-urat leher yang menonjol tegang. "Kamu menyuruh anak buahmu menyeretku seperti kriminal, Maxwell?!" suara Sylvia pecah, bergetar hebat di tengah luasnya ruangan mewah yang mendadak terasa mencekik. "Siapa kamu sebenarnya?! K

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   234

    Dentingan lift yang meluncur turun ke lantai dasar terasa bagai peti mati yang menyesakkan bagi Sylvia. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah membasahi pipinya, mengaburkan pemandangan lorong lobi marmer saat pintu baja terbuka. Setiap jengkal harga dirinya terasa hancur berkeping-keping; pemandangan Clarissa di pangkuan Maxwell seolah menjadi stempel pengesahan atas setiap kata hinaan yang dilontarkan Helena. Sylvia melangkah setengah berlari menembus pintu putar kaca gedung Salvador Group, sama sekali tidak memedulikan gerimis siang yang mulai membasahi aspal pelataran lobi. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pria itu. Namun, derit ban mobil memecah lamunannya. Sebuah sedan Maybach hitam berhenti mendadak tepat di tepi trotoar, menghalangi langkah Sylvia. Pintu penumpang belakang terbuka cepat, dan sosok Adrian Pratama melangkah keluar. Mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, wajah pemuda itu tampak tegang, namun matanya memancarkan keleg

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   232.

    Keesokan paginya, suasana di lantai empat puluh terasa berbeda. Ketegangan dingin yang menggantung di antara Sylvia dan Maxwell sejak malam sebelumnya belum sempat mencair, namun ritme kerja korporat memaksanya tetap melangkah profesional. Sylvia baru saja selesai merapikan berkas analisis pasar di meja kerjanya saat pintu lift eksekutif berdenting terbuka. Langkah kaki dengan ketukan stiletto yang tegas memecah keheningan koridor. Seorang wanita melangkah keluar dengan percaya diri. Rambut cokelat bergelombang jatuh sempurna di atas bahu gaun terusan merah marun berpotongan pas badan yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Clarissa Wijaya. Putri salah satu mantan diplomat rekanan dekat keluarga Salvador, lulusan luar negeri yang baru saja ditempatkan langsung di kantor eksekutif melalui memo pribadi Helena Salvador—tanpa melalui persetujuan Maxwell, dengan dalih "asisten protokoler khusus urusan konsorsium internasional". Claris

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status