Mag-log in~akaa Love Just Like Wine~ "It get better with time" Tentang seorang wanita Eleanor Liemsudibyo, cucu raja sawit di Indonesia yang terkenal anti-sosial dan arogan. Ia jatuh cinta pada seorang Pria yang sudah bertunangan. Dengan sebuah stiletto eksklusif, Eleanor pun bermaksud merebut pria itu dari tunangannya. Namun berhasilkah rencana itu? Jatuh cinta seperti rasa Wine, ada rasa pahit, sepat, asam dan manis. Namun yang pasti entah itu cinta ataupun Wine membutuhkan waktu untuk menjadikannya lebih berharga.
view moreImani knew something was off the moment Malik started being extra gentle with her.
Not affectionate—he was always affectionate. Malik was the type of husband who kissed her shoulder while she washed dishes and warmed her car before she left for work. No, this was different. This was careful. Like he was handling glass instead of a woman who had stood beside him for eight years. She noticed it first that Sunday morning when he slid her coffee across the kitchen island exactly the way she liked it—two creams, one sugar, dash of cinnamon. He watched her take the first sip like he was waiting for approval. “You good?” he asked. She narrowed her eyes playfully. “Why you looking at me like I’m a science experiment?” He smirked but it didn’t quite reach his eyes. “Can’t I just admire my wife?” Imani hummed and took another sip. Something in her chest stirred, a quiet instinct she’d learned not to ignore. Malik only acted like this when he wanted something. A new car. A risky investment. That time he asked her if his cousin could stay with them “for a few days” and the man ended up on their couch for three months. “What you about to ask me?” she said. Malik leaned against the counter, arms folded. “Why I gotta be asking for something?” “Because you got that look.” “What look?” “The I practiced this speech in my head already look.” He laughed, but again—it was tight. Measured. She watched him carefully now. Malik was handsome in that effortless way that made strangers assume he was charming before he even spoke. Deep brown skin, sharp jaw, eyes that could soften or harden in seconds depending on his mood. She used to love that about him—the intensity. It made her feel chosen. Protected. Lately though, that same intensity sometimes felt like pressure. “Aight,” he said finally. “I did wanna talk to you about something.” She set her mug down slowly. “Uh huh.” “It’s nothing bad.” “That’s what people say right before it’s bad.” He exhaled through his nose and rubbed the back of his neck. “Imani, our marriage been… good. Right?” The question was simple, but it landed heavy. She tilted her head. “Yeah. Why?” “I’m just saying. We solid. We trust each other.” Her stomach tightened. Trust. That word wasn’t random. “Malik,” she said quietly, “just say it.” He hesitated. And that’s when she knew this conversation was about to change something. “I think we should try something new,” he said. She raised a brow. “Like…?” His eyes flicked to hers, then away, then back again. “Like inviting someone else into our relationship. Just once. An experience. Something exciting.” Silence swallowed the kitchen. Imani blinked. She waited for him to laugh. For him to say he was joking. For him to break character. He didn’t. “You mean…” She swallowed. “Another person.” “Yeah.” “A woman,” she said flatly. Malik nodded slowly. “Yeah.” Her heart thudded once, hard, like it hit a wall. She wasn’t shocked because she’d never heard of it. She’d heard friends joke about it. Seen conversations online. Even had coworkers whisper about “keeping things spicy.” But hearing it from her husband felt different. Real. Heavy. Personal. “And you been thinking about this for how long?” she asked. He scratched his beard. “A little while.” “A little while like… a week?” she pressed. He didn’t answer. Her lips parted. “Malik.” “…Couple months.” Imani let out a quiet breath and leaned back against the counter, crossing her arms. Not angry. Not yet. Just… processing. “And in these couple months,” she said carefully, “you pictured this how? Me just smiling and saying yes?” “No,” he said quickly. “I pictured us talking about it like we are now. I wouldn’t ever force you into nothing.” She studied his face. He looked sincere. Hopeful, even. And that’s what made this complicated. Because there was no cruelty in his voice. No disrespect. Just curiosity. Excitement. Like he thought he was offering her something fun, not something that could split their world open. “You bored with me?” she asked quietly. His head snapped up. “What? No. Never.” “Then why you want somebody else in our bed?” “It’s not about replacing you,” he said softly. “It’s about adding something. An experience. Together. We strong enough for that.” She stared at him. Strong enough. Her mind repeated the words slowly, like testing them for cracks. Truth was… their marriage had been calm lately. Peaceful. Predictable. No fights. No chaos. Just routine. Work. Dinner. TV. Sleep. Repeat. She used to think peace was the goal. But peace, she was starting to realize, could sometimes feel a lot like silence. “What if I don’t like it?” she asked. “Then we stop,” he said instantly. “No questions. No pressure. I promise.” “And if I do like it?” she said. He smiled faintly. “Then we had fun.” Imani searched his face for even a hint of doubt. There wasn’t any. That should’ve comforted her. Instead, something deep inside her whispered a warning she couldn’t quite translate. She picked up her coffee again, now lukewarm, and took a slow sip while thinking. This wasn’t just about curiosity. This was a door. And doors didn’t just open. They led somewhere. “…You already got somebody in mind?” she asked. Malik hesitated. That was all the answer she needed. Her chest tightened slightly. “Her name’s Zariah,” he admitted. The name lingered in the air between them like perfume. Imani didn’t know why—but the moment she heard it, she felt it. Something had just begun. And she had no idea it would end with her questioning everything she thought she knew about love, loyalty… and herself.Atas permintaan Jonathan acara pernikahan itu pun digelar secara sederhana. Pemberkatan yang digelar di salah satu gereja di Surabaya Barat hanya dihadiri oleh keluarga. Di salah satu gereja elit dengan bangunan bernuansa putih dan berlantai marmer, lukisan-lukisan kisah kristus di langit-langitnya serta deretan tempat duduk jemaat yang dihiasi pita-pita cantik, juga bunga-bunga segar; camelia, mawar, ponny hingga krisan itu Eleanor dan Jonathan berdiri berdampingan menghadap sang pastor untuk mengucapkan janji pernikahan. Eleanor dengan gaun brokat satin putih berlengan panjang dengan potongan dada rendah serta tundung transparan yang menutupi wajahnya terlihat tenang dan anggun saat mengucapkan janji pernikahan dengan bimbingan sang pastor. Sementara Jonathan dengan setelan tuxendo hitam dan sarung tangan putih tampak memandang lurus ke depan seolah memikirkan sesuatu. Di barisan depan kursi jemaat duduk Liem Hok dengan wajah masamnya lalu ayah Eleanor dengan pandangan mata berkaca-
“Ada hal yang harus kita bicarakan!” Saat pesan itu masuk ke ponselnya, Jonathan sudah bisa menebak hal apa yang akan mereka bicarakan. Sehingga dia langsung memutar mobilnya dan mengambil jalur tercepat menuju HS Group Building. Jam kerjanya fleksibel jadi dia akan memberitahu Ryan untuk memulai briefing tanpanya. Sebenarnya ini adalah hari pertamanya kembali berkerja setelah mengambil cuti panjang. Tidak terbayang banyaknya perkerjaan yang harus diselesaikannya nanti. Meskipun selama masa cutinya baik dia maupun Ryan tetap terhubung dengan perkerjaan mereka. Sesampainya disana Jonathan segera mencari tempat parkir. Meski sudah beberapa kali menginjakkan kakinya di tempat itu, entah kenapa dia masih sering merasa terintimidasi saat memandang bangunan tinggi di hadapannya. Jonathan pun terdiam begitu saja disana setelah keluar dari mobilnya. Butuh beberapa saat baginya untuk menetralkan pikirannya sebelum menghadapi Eleanor. Letak kesalahan itu memang ada pada diri Jonathan. Baik yan
Bahagia itu bukan hanya perkara memiliki sesuatu. Tapi melepaskan juga bisa menjadi awal dari bahagia. Hanya saja melepaskan memang terkadang lebih sulit dari pada mengejar sesuatu yang diinginkannya. Jadi Jonathan tidak bisa menyalahkan Allena sepenuhnya atas apa yang terjadi tempo hari. Allena berada dalam keterpurukan karena sesuatu hal yang Jonathan belum pahami. Mungkin karena kekasih baru Allena yang pernah dilihat Jonathan telah meninggalkan perempuan itu entah kemana, atau barangkali mereka hanya sedang menggunakan istilah “break” dalam hubungan mereka seperti yang pernah Allena katakan pada Jonathan. Tapi apapun itu perasaan Allena pada Jonathan malam itu pasti hanya bersifat temporal. Dan ketika Allena tidak lagi merasa kesepian, dia pasti akan mencampakkan Jonathan lagi. Atau mereka akan sering bertengkar lagi karena kebiasan Jonathan yang gila kerja. Jadi Jonathan telah memutuskan tidak ingin lagi terjebak perasaan lam
Rere berjingit saat Eleanor menyumpit potongan tumis pare dan kemudian memakannya. Tidak peduli apakah sayuran pahit itu sudah direndam dalam air garam atau tidak sebelum memasaknya, rasa pahit pare tidak akan hilang sepenuhnya. Tetap ada rasa pahit yang tertinggal. Rere pun tidak habis pikir dengan selera makan Eleanor. Orang-orang berduit di luar sana menghabiskan waktu makan siang mereka dengan makanan enak dan mewah yang dimasak oleh chef di restaurant terkenal sambil menikmati pemandangan indah. Tapi Eleanor justru menikmati tumis pare, nasi putih, ikan kukus, sup kaldu jamur bening dan hidangan pencuci mulut berupa pudding buah untuk makan siangnya. Ditambah Eleanor harus melakukan perjalanan bolak-balik dari kantor ke rumahnya lalu ke kantor lagi hanya untuk makan siang itu.Hari ini Rere tiba dengan penerbangan pertama dan dia langsung menemui Eleanor yang sedang menikmati makan siang di rumahnya. Eleanor ternyata sudah kembali dari Perth sejak beberapa
Dari kecil kakeknya selalu mengajarinya untuk hidup sederharna. Begitu pula dengan keseharian mereka yang seolah seperti keluarga pada umumnya. Hingga lulus SMA pun Eleanor masih tidak menyadari jika keluarganya memiliki kekayaan yang melebihi keluarga pada umumnya. Dia bersekolah seperti anak pa
Seorang investor mahir tidak akan melepaskan saham potensial-nya hanya karena sebuah krisis sementara. Berbeda dari investor pemula yang akan langsung panik begitu mengetahui harga saham yang dimilikinya terjun bebas. Mereka kemudian akan terburu-buru menjual saham tersebut guna menghindari kerug
“Tahu kapan waktunya merasa cukup”, kata-kata itu selalu ditekankan kakeknya dalam kehidupan mereka. Karena itu sepanjang sisa hidupnya, ia tetap tinggal di rumah sederhana yang kini ditempati Eleanor. Tidak pernah ada renovasi di rumah itu.
Berkali-kali Eleanor memuas blush on di pipinya namun sebentar kemudian dia hapus kembali. Kali ini saja dia ingin mencoba memakai riasan yang lebih manis dengan warna sedikit terang dan bukannya gelap seperti yang dia gunakan sehari-hari. Eyes shadow-nya berwarna me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu