LOGINWaktu terus bergulir, dan sudah enam bulan sejak kematian orang tua Silvi berlalu.Selama setengah tahun itu pula, Silvi benar-benar memutus rantai hubungannya dengan dunia lama. Ia tidak mau lagi bertemu, menyapa, apalagi peduli dengan keberadaan Aldi.Silvi mencoba menata kembali hidupnya yang sempat hancur lebur.Hari ini, suasana di kediaman Arlan dan Karin tampak begitu hangat dan ramai. Rumah itu di dekorasi cantik untuk merayakan acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Karin.Kebahagiaan Karin berlipat ganda karena hasil pemeriksaan menyatakan bahwa ia tengah mengandung bayi kembar berjenis kelamin laki-laki.Di tengah hiruk-pikuk acara, Karin menghampiri Silvi yang sedang duduk termenung di sudut ruangan.Wajah sahabatnya itu tampak menyiratkan beban pikiran yang berat.“Kenapa, Sil?” tanya Karin lembut, ikut duduk di samping sahabatnya.“Gak ada,” jawab Silvi singkat, mencoba tersenyum tipis.Namun, tepat saat itu, layar ponsel Silvi yang tergeletak di atas meja menyala.Sebua
“Non, Pak Aldi kirim bunga-bunga ini untuk Nona Silvi,” ucap asisten rumah tangga Karin, sambil membawa satu buket besar mawar putih yang tampak segar dan mahal.Karin memijat pelipisnya perlahan, menatap bingung ke sekeliling ruangan. Ia benar-benar tidak tahu lagi dimana harus meletakkan “tanda cinta” dari Aldi itu.Sudut-sudut rumahnya, mulai dari ruang tamu hingga teras, sudah penuh sesak oleh berbagai macam karangan bunga kiriman sang konglomerat selama beberapa hari terakhir.“Bi, kalau ada lagi yang datang, tolak saja!” perintah Karin tegas pada asisten rumah tangganya.Sepertinya ini adalah cara Aldi untuk memohon maaf dan menunjukkan penyesalannya.Namun, semua usaha itu sia-sia karena Silvi sendiri sama sekali tidak pernah melangkah keluar kamar.Rumah Arlan kini beraroma semerbak bunga, tetapi di dalamnya tetap terasa sedingin es.Tok... Tok…Karin mengetuk pintu kamar tamu tempat Silvi mengurung diri dengan gerakan lembut.“Sil, sarapan dulu, yuk!” panggil Karin setengah b
Di titik terendah dalam hidupnya ini, penyesalan dan kebencian terhadap diri sendiri datang menghantamnya tanpa ampun.Silvi tersadar akan kenyataan tentang masa lalunya.Pikiran-pikiran gelap mulai menggerogoti warasnya. Ia merasa dirinya hanyalah seorang wanita malam yang telah menjual harga diri demi uang dan keamanan yang semu.Ingatan tentang bagaimana ia menyerahkan tubuhnya dulu, termasuk bercinta dengan para mantan kekasihnya, kini berputar seperti kaset yang menyiksa batinnya.Silvi merasa dirinya adalah wanita kotor yang tidak punya nilai sedikit pun. Wanita yang tidak akan pernah bisa dibanggakan oleh siapapun.Rasa jijik yang teramat sangat terhadap dirinya sendiri seketika merayap dan memenuhi seluruh rongga dadanya.“Aku bangga denganmu, Sayang. Aku pasti akan menjagamu!” ucap Aldi tapi Silvi tidak peduli dengan suara itu. Cukup sudah!Prosesi pemakaman ayah dan ibu Silvi akhirnya selesai dengan bantuan pengurusan dari pihak Arlan dan Aldi.Untuk Silvi, kehadiran materi
Hiks!Hujan deras mengguyur bumi dengan begitu kejam, seolah sengaja memburamkan suara tangisan Silvi yang pecah di sepanjang koridor.Wanita itu benar-benar hancur malam ini. Seluruh dunianya runtuh tanpa menyisakan satupun pilar untuk bersandar.Baru saja pihak kepolisian mengabarkan kondisi kritis sang ayah, Silvi bergegas datang dengan jantung yang berdebar hebat.Namun, takdir rupanya bergerak jauh lebih cepat dari langkah kakinya.Kejam!Begitu ia menginjakkan kaki di ruang IGD, dokter yang menangani hanya bisa menunduk pasrah. Ayahnya dinyatakan meninggal dunia.Mereka bahkan belum sempat memulai peperangan hukum ini di pengadilan, tetapi sang ayah sudah kalah dan berpulang duluan.“Ayaaahhhhhhh....”Teriakan Silvi menggema pilu, membelah kesunyian ruang IGD yang dingin. Isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati.Di balik rasa kehilangan yang luar biasa itu, ada satu kenyataan pahit yang mendadak menyusup di benaknya.Kali ini, pria-pria berkuasa yang dulu selalu mengintimi
“Dokter Dimas?” tanya Arlan setengah terkejut saat langkah kakinya terhenti di koridor kantor polisi yang ramai.Pulang dari Puskesmas, Arlan dan Karin langsung mendampingi Silvi menuju kantor polisi untuk menjenguk sang ayah.Di sana, pengacara independen yang mereka sewa sudah menunggu di depan ruang kunjungan.Namun, pemandangan tak terduga justru tersaji di ruang tunggu utama. Sosok rekan sejawat mereka berdiri di sana.Dimas menoleh, sama terkejutnya melihat kehadiran Arlan, Karin, dan Silvi.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Arlan heran, menatap jas putih dokter yang dipegang Dimas.Asal Arlan tahu saja, hari-hari Dimas belakangan ini dipenuhi tekanan psikologis. Ia sudah sangat terganggu dengan kelakuan gila Moreno.Pria obsesif itu sengaja menyewa rumah tepat di depan kediaman mereka hanya untuk mengganggu keharmonisan rumah tangganya.Puncaknya, Moreno kini nekat berlatih menembak pada malam hari, menciptakan bunyi letusan yang meneror ketenangan.“Aku melaporkan Moreno.
Suasana di ruang tengah rumah Arlan mendadak hening. Suara penyiar televisi yang membacakan berita utama pagi itu terasa begitu menusuk telinga.“Ayah….”Layar kaca menampilkan foto wajah ayah Silvi dengan tulisan besar di bawahnya, Dugaan Korupsi Ratusan Miliar, Kerugian Negara Fantastis.Karin yang duduk di samping Silvi langsung meletakkan cangkir tehnya dengan tangan sedikit gemetar. Matanya melebar menatap layar, lalu beralih menatap sahabatnya dengan tatapan cemas yang mendalam.“Sil, kasus Ayah kamu jadi besar banget,” bisik Karin, suaranya tercekat.Berita di televisi dan media sosial benar-benar heboh. Semua platform membahas kasus ini tanpa henti.Silvi hanya menatap lurus ke depan. Wajahnya pucat, namun matanya tidak lagi memancarkan ketakutan. Ia tahu betul siapa sutradara di balik semua kehebohan media ini. Aldi!Pria itu sengaja mengerahkan kekuasaan dan uangnya untuk menggoreng kasus ini. Aldi sedang memojokkannya, menciptakan kegelisahan agar Silvi merasa tercekik, fru
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se







