Share

Bab 6 Rasanya Enak

last update publish date: 2026-04-09 10:19:33

Bodohnya, gumam Karin dalam hati.

Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini.

Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bertanya basa-basi.

“Dokter tinggal dengan siapa di apartemen?”

Akhirnya karena bosan, Karin memberanikan diri bertanya. Arlan hanya tertawa kecil dan tetap fokus mengemudi sambil menggosok lembut bibirnya.

Rasanya itu pertanyaan normal, ucap Karin dalam hati.

“Kamu tinggal dengan siapa?” Arlan bertanya balik pertanyaan yang sama.

Sebanyak itu kosa kata di dunia ini, Arlan memilih pertanyaan yang membuat Karin kesal.

Arlan melihat Karin menyandarkan lembut kepalanya ke punggung kursi, tatapannya sayu dengan senyum yang meremehkan.

Keluarga?

Karin merasa punya keluarga yang aneh. Keluarga yang membuatnya trauma sampai saat ini dan keluarga yang tidak pernah memahami dirinya.

“Sama keluarga,” jawab Karin akhirnya.

Arlan tertawa, pertanyaan semudah itu tetapi dijawab selama ini oleh gadis itu.

“Saya pikir kamu punya kekasih, tinggal dengan kekasih mungkin.”

Gila!!!!!

Karin mendengus kesal.

Mana mungkin ia seliar itu dengan penyakit aneh ini.

“Pacaran?” tanya Karin dengan menutup mulutnya sambil tertawa.

Untung ia hidup saja sudah cukup. Sekarang Arlan malah berpikir ia bisa menjalani hubungan normal dengan seorang pria dewasa. Tidak mungkin!

“Ada yang aneh dengan pertanyaan saya?”

Karin menggeleng. Pertanyaan itu tidak aneh, Karin yang aneh.

“Ngak ada dokter, gimana istri dokter?” tanya Karin lagi.

Entah kenapa saat Karin yang bertanya, Arlan tidak pernah menjawab dengan benar. Tidak pula peduli dengan pertanyaannya seakan menyepelekan.

“Saya sudah terlihat tua di matamu?”

Arlan menatap nakal wajah Karin.

Sialan!

Lagi dan lagi Karin terdiam, tidak bisa menjawab karena memang itu pertanyaan omong kosong.

Mana mungkin Karin tidak tahu kalau dr. Arlan Pradipta ini masih lajang, pesonanya memang menyebar seantero rumah sakit.

Mungkin kalau dr. Arlan akhirnya mendapatkan seorang wanita, akan banyak wanita yang patah hati termasuk koas-koas sepertinya.

“Umur saya tiga puluh delapan tahun,” ucap Arlan kembali fokus ke jalan.

“Belum menikah!”

Karin ingin tertawa rasanya mendengar jawaban itu tetapi ia tahan. Dokter di sampingnya ini adalah Konsulennya, Karin tidak ingin mendapat masalah. Arlan juga salah satu dosen di kampusnya. Arlan sangat sibuk sebenarnya tetapi pagi ini malah mengajak Karin untuk memasak.

“Dokter seganteng ini, beneran belum mau menikah?” tanya Karin dengan lembut.

Sialan!

Dia menggodaku, gumam Arlan dalam hati.

“Apa tujuan menikah?” tanya Arlan.

“Ngak tau,” jawab Karin malas.

Tujuan menikah sudah jelas untuk berkembang biak dan Karin tidak punya cita-cita itu dengan penyakitnya yang aneh ini.

“Sepele Karin. Kemana otakmu?” tanya Arlan kesal.

Karin tidak pernah senang ketika Arlan mulai mengejeknya, bodoh!

“Bercinta,” jawab Karin malas sambil melengos ke arah jendela.

“Yuph!” Arlan setuju.

“Dan kau pikir, diumur saya sekarang. Saya belum pernah melakukan semua itu?”

Karin menoleh cepat dengan wajah terkejutnya.

Tidak mungkin! Karin tahu gosip yang berkembang di rumah sakit. Arlan tidak suka wanita, ia pria dingin nan genius yang tidak pernah tertarik berurusan dengan yang namanya wanita.

“Jadi untuk apa menikah kalau saya bisa merasakannya,” jawab Arlan mendekati leher Karin dan mengendus wangi tubuhnya yang menggoda.

“Apa bersentuhan seperti itu menarik, dok?”

Gilaaaa!!!!

Karin menutup mulutnya dengan tangan dengan cepat, ia tidak seharusnya penasaran dengan rasa sentuhan tidak bermoral seperti yang baru saja Arlan katakan.

“Kau ingin merasakannya?” jawab Arlan dengan nakal.

Arlan jelas tidak keberatan karena hal seperti itu mengasyikkan. Bukan hal yang luar biasa dan menyenangkan sekali kalau ada wanita yang mengerti dengan hasrat seperti itu.

“TIDAK!!!” Karin menjawab dengan tegas. Arlan mengangguk sambil senyum.

Senyum yang penuh dengan tanda tanya, senyum itu mengerikan dan senyum itu sangat nakal.

“Enak! Rasanya sangat nikmat, ketika kulit bertemu kulit, dengan hentakan lembut masuk pelan dan … pelan!”

Karin tidak nyaman, ia menutup telinganya dengan earphone. Lebih baik Karin mendengarkan musik.

Penjelasan Arlan tidak patut mengingat ia seorang dosen dan juga Konsulen di rumah sakit. Arlan bahkan digadang-gadang akan ikut pemilihan Direktur rumah sakit.

Tidak lama mereka sampai di apartemen mewah Arlan yang ada di Jakarta Pusat. Untungnya Karin tadi membawa pakaian ganti, Karin tidak tahu ia akan lama atau cuma sebentar di apartemen ini, yang jelas walaupun lama, Karin sudah siap menumpang mandi di rumah Arlan.

“Apartemen dokter mewah banget,” ucap Karin setelah masuk.

Mewah dan rapi, untuk pria dewasa yang tinggal sendirian. Ini termasuk sudah luar biasa. Furniture di rumah Arlan juga semua modern dan terkini ada lantai atas, sepertinya itu kamar Arlan.

“Dapur di sana, kau bisa mulai. Saya mau mandi dulu atau kau ingin ikut saya mandi?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bertanya basa-basi. “Dokter tinggal dengan siapa di apartemen?” Akhirnya karena bosan, Karin memberanikan diri bertanya. Arlan hanya tertawa kecil dan tetap fokus mengemudi sambil menggosok lembut bibirnya. Rasanya itu pertanyaan normal, ucap Karin dalam hati. “Kamu tinggal dengan siapa?” Arlan bertanya balik pertanyaan yang sama. Sebanyak itu kosa kata di dunia ini, Arlan memilih pertanyaan yang membuat Karin kesal. Arlan melihat Karin menyandarkan lembut kepalanya ke punggung kursi, tatapannya sayu dengan senyum yang meremehkan. Keluarga? Karin merasa punya keluarga yang aneh. Keluarga yang membuatnya trauma sampai saat ini dan keluarga yang tidak pernah memahami dirinya. “Sama

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di depannya sedang berdiskusi dengan residen senior yang lain, sedangkan Karin sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.“Karin?” panggil dr. Dimas, tetapi Karin tidak menanggapinya.“Karin?” Dua kali dr. Dimas memanggilnya, bahkan sampai harus melangkah mendekati gadis itu.“Oh, iya, Dokter. Sorry.” Karin menggigit kuat bibir bawahnya.“Kau kenapa?” tanya dr. Dimas dengan sangat lembut. Pria itu memang selalu menaruh perhatian lebih padanya.“Tidak apa-apa, Dokter. Cuma ngantuk saja,” jawab Karin dengan senyum simpul.“Semalam katanya kau bermasalah dengan dr. Arlan?” tanya Dimas hati-hati sambil memindai Karin dari atas sampai bawah.Dimas tahu Arlan tidak menyukai Karin hingga me

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu ada perdebatan saat dia meminta hal yang wajar. Ia bukan meminta Karin telanjang di depannya.Ah, sudahlah! Karin menggerutu dalam hati. Perlahan ia membuka snelli miliknya. Mereka hanya berdua dan tidak ada orang yang melihat. Karin yakin Arlan tidak mungkin melakukan apa pun dengannya.Dia tidak suka wanita, gumam Karin dalam hati setelah melepaskan jasnya dan duduk tepat di depan Arlan. Pria itu bahkan tidak melihatnya dan kembali melanjutkan membaca laporan.Di dalam ruangan Arlan hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak bersahutan dengan petir di luar. Sebentar lagi hujan deras. Udara semakin dingin, ditambah ruangan Arlan yang memang diatur rendah. Apa Arlan sengaja membuatnya memb

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian seperti ini adalah sebuah kesalahan. Karin menelan ludah. Ia melepaskan kenop pintu, berbalik, dan setengah berlari menyusuri lorong menuju ruang ganti koas."Ahhh, tidakkk! Aku harus ganti atau aku mati malam ini." Karin bicara sambil berlari dengan napas yang terengah-engah. Tiba di depan loker, napas Karin memburu. Jari-jarinya bergerak cepat menarik ritsleting rok mini itu dan membiarkannya luruh ke lantai. "Sialan," gerutu Karin. "Dia pasti marah karena aku kabur." Karin meraih rok kain selutut dari dalam loker dan memakainya. Arlan jelas akan mempermasalahkan keterlambatannya, tetapi itu lebih baik daripada pria itu mendapat celah baru untuk menghakiminya. “Gak jadi ke ruangan dr. A

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,” bisik Arlan tegas, tapi itu seperti perintah yang tidak bisa ditolak oleh Karin. Karin menarik napas dalam, menelan salivanya dan dengan dua jarinya pelan-pelan masuk ke inti dalam wanita itu tapi Karin malah berkeringat hebat dan menggelengkan kepalanya. “Dok,” bisik Karin dengan suara serak dan menatap sayu mata Arlan. dr. Arlan langsung mengambil alih prosedur dengan cepat dan presisi, menenangkan pasien dalam hitungan detik. “Ngak berguna,” gumam Arlan sambil melirik Karin yang mematung disampingnya, setelah menyelesaikan pemeriksaan dan membuat pendarahan pasien terkendali. Saat mencuci tangan, tanpa meninggikan suara sedikit pun, Arlan masih menatap tajam tangan koasnya yang mas

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar, seorang pria tampan dan tegap tiba-tiba menarik pinggang Karin. Tangan pria itu membekap mulut Karin dan tubuhnya menekan tubuhnya. Mereka berhimpitan dan berpelukan. “Shhhhhttt jangan lari!” bisik Arlan, nama pria itu. Sontak saja Karin makin gelagapan, pria yang menahannya itu adalah Arlan Pradipta. Tepatnya, dr. Arlan Pradipta, Sp.OG-KFER,M.Kes. Ia terkenal dingin, selalu menyulitkan koas dan terkenal dengan kesempurnaannya. Dan, tentu saja, semua orang tahu betapa mengerikan jika berada satu ruangan bersamanya. Apalagi… dalam pelukannya! “Aku sudah tidak sabar memilikimu!” Kata-kata sang dokter senior itu segera membuat Karin sadar kembali. “I–itu, dr. Mikael…” Dokter senior it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status