LOGINBodohnya, gumam Karin dalam hati.
Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bertanya basa-basi. “Dokter tinggal dengan siapa di apartemen?” Akhirnya karena bosan, Karin memberanikan diri bertanya. Arlan hanya tertawa kecil dan tetap fokus mengemudi sambil menggosok lembut bibirnya. Rasanya itu pertanyaan normal, ucap Karin dalam hati. “Kamu tinggal dengan siapa?” Arlan bertanya balik pertanyaan yang sama. Sebanyak itu kosa kata di dunia ini, Arlan memilih pertanyaan yang membuat Karin kesal. Arlan melihat Karin menyandarkan lembut kepalanya ke punggung kursi, tatapannya sayu dengan senyum yang meremehkan. Keluarga? Karin merasa punya keluarga yang aneh. Keluarga yang membuatnya trauma sampai saat ini dan keluarga yang tidak pernah memahami dirinya. “Sama keluarga,” jawab Karin akhirnya. Arlan tertawa, pertanyaan semudah itu tetapi dijawab selama ini oleh gadis itu. “Saya pikir kamu punya kekasih, tinggal dengan kekasih mungkin.” Gila!!!!! Karin mendengus kesal. Mana mungkin ia seliar itu dengan penyakit aneh ini. “Pacaran?” tanya Karin dengan menutup mulutnya sambil tertawa. Untung ia hidup saja sudah cukup. Sekarang Arlan malah berpikir ia bisa menjalani hubungan normal dengan seorang pria dewasa. Tidak mungkin! “Ada yang aneh dengan pertanyaan saya?” Karin menggeleng. Pertanyaan itu tidak aneh, Karin yang aneh. “Ngak ada dokter, gimana istri dokter?” tanya Karin lagi. Entah kenapa saat Karin yang bertanya, Arlan tidak pernah menjawab dengan benar. Tidak pula peduli dengan pertanyaannya seakan menyepelekan. “Saya sudah terlihat tua di matamu?” Arlan menatap nakal wajah Karin. Sialan! Lagi dan lagi Karin terdiam, tidak bisa menjawab karena memang itu pertanyaan omong kosong. Mana mungkin Karin tidak tahu kalau dr. Arlan Pradipta ini masih lajang, pesonanya memang menyebar seantero rumah sakit. Mungkin kalau dr. Arlan akhirnya mendapatkan seorang wanita, akan banyak wanita yang patah hati termasuk koas-koas sepertinya. “Umur saya tiga puluh delapan tahun,” ucap Arlan kembali fokus ke jalan. “Belum menikah!” Karin ingin tertawa rasanya mendengar jawaban itu tetapi ia tahan. Dokter di sampingnya ini adalah Konsulennya, Karin tidak ingin mendapat masalah. Arlan juga salah satu dosen di kampusnya. Arlan sangat sibuk sebenarnya tetapi pagi ini malah mengajak Karin untuk memasak. “Dokter seganteng ini, beneran belum mau menikah?” tanya Karin dengan lembut. Sialan! Dia menggodaku, gumam Arlan dalam hati. “Apa tujuan menikah?” tanya Arlan. “Ngak tau,” jawab Karin malas. Tujuan menikah sudah jelas untuk berkembang biak dan Karin tidak punya cita-cita itu dengan penyakitnya yang aneh ini. “Sepele Karin. Kemana otakmu?” tanya Arlan kesal. Karin tidak pernah senang ketika Arlan mulai mengejeknya, bodoh! “Bercinta,” jawab Karin malas sambil melengos ke arah jendela. “Yuph!” Arlan setuju. “Dan kau pikir, diumur saya sekarang. Saya belum pernah melakukan semua itu?” Karin menoleh cepat dengan wajah terkejutnya. Tidak mungkin! Karin tahu gosip yang berkembang di rumah sakit. Arlan tidak suka wanita, ia pria dingin nan genius yang tidak pernah tertarik berurusan dengan yang namanya wanita. “Jadi untuk apa menikah kalau saya bisa merasakannya,” jawab Arlan mendekati leher Karin dan mengendus wangi tubuhnya yang menggoda. “Apa bersentuhan seperti itu menarik, dok?” Gilaaaa!!!! Karin menutup mulutnya dengan tangan dengan cepat, ia tidak seharusnya penasaran dengan rasa sentuhan tidak bermoral seperti yang baru saja Arlan katakan. “Kau ingin merasakannya?” jawab Arlan dengan nakal. Arlan jelas tidak keberatan karena hal seperti itu mengasyikkan. Bukan hal yang luar biasa dan menyenangkan sekali kalau ada wanita yang mengerti dengan hasrat seperti itu. “TIDAK!!!” Karin menjawab dengan tegas. Arlan mengangguk sambil senyum. Senyum yang penuh dengan tanda tanya, senyum itu mengerikan dan senyum itu sangat nakal. “Enak! Rasanya sangat nikmat, ketika kulit bertemu kulit, dengan hentakan lembut masuk pelan dan … pelan!” Karin tidak nyaman, ia menutup telinganya dengan earphone. Lebih baik Karin mendengarkan musik. Penjelasan Arlan tidak patut mengingat ia seorang dosen dan juga Konsulen di rumah sakit. Arlan bahkan digadang-gadang akan ikut pemilihan Direktur rumah sakit. Tidak lama mereka sampai di apartemen mewah Arlan yang ada di Jakarta Pusat. Untungnya Karin tadi membawa pakaian ganti, Karin tidak tahu ia akan lama atau cuma sebentar di apartemen ini, yang jelas walaupun lama, Karin sudah siap menumpang mandi di rumah Arlan. “Apartemen dokter mewah banget,” ucap Karin setelah masuk. Mewah dan rapi, untuk pria dewasa yang tinggal sendirian. Ini termasuk sudah luar biasa. Furniture di rumah Arlan juga semua modern dan terkini ada lantai atas, sepertinya itu kamar Arlan. “Dapur di sana, kau bisa mulai. Saya mau mandi dulu atau kau ingin ikut saya mandi?”“Ngebut, Sayang! Ngebuuut! Anggap aja kamu lagi balapan di sirkuit F1!” teriakKarin heboh dari kursi penumpang, tangannya gemetaran menahan kaca rias di sun visor mobil seraya mencoba mengaplikasikan lipstik yang berulang kali mencong karena guncangan jalan.“Aduh, ya ampun.”Arlan fokus menatap jalanan, sesekali melirik spion dan menginjak pedal gas lebih dalam, meliuk-liuk di antara kemacetan kota dengan gesit.“Ini sudah kecepatan maksimal di jalur kota, Sayang. Kalau lebih cepat lagi, kita bukan sampai di tempat presentasi, tapi di kantor polisi,” sahut Arlan tenang namun tetap memacu mobilnya dengan cekatan.Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!Ponsel di pangkuan Karin tidak berhenti bergetar.Layarnya terus menyala menampilkan rentetan pesan masuk dari Silvi.Karin melirik layar itu dengan frustasi.“Karin, kamu di mana sih? Tiga urutan lagi nama kamu dipanggil!”Padahal musuhan! Tapi, Karin tetap menja
“Mau lagi?” Arlan berbisik di ceruk leher Karin. Ciuman pembuktian di ruang makan yang semula diniatkan Karin hanya untuk meredam cemburu Arlan, justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.Sentuhan lembut itu menyulut kembali api gairah yang sempat padam semalam.Arlan, yang dasarnya sudah terlanjur posesif dan begitu tergila-gila dengan tubuh Karin, langsung kehilangan kendali akal sehatnya.Rencana awal mereka yang seharusnya pergi ke rumah sakit pagi ini menguap begitu saja ke udara.Arlan memutus ciuman sejenak hanya untuk meraup napas, menatap Karin dengan tatapan gelap penuh damba.“Rumah sakitnya kita tunda siang nanti,” bisik Arlan rendah, suaranya serak dan sarat akan gairah yang kembali tersulut.Sebelum Karin sempat memprotes atau mengingatkan jadwal mereka, Arlan sudah menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Karin. Membungkam mulut Karin dengan cumbuannya.Ia mengangkat tubuh istrinya ya
Setelah selesai berpakaian, Karin melangkah ke ruang makan dengan langkah yang masih sedikit tertatih karena sisa pegal semalam. “Hemm, enak banget.” Puji Karin dengan tulus. Di atas meja sudah tersaji nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi dan potongan ayam, semuanya disiapkan oleh pembantu setia mereka. Karin memang sama sekali tidak bisa memasak bahkan untuk sekedar merebus telur, tipe istri manja yang beruntung karena Arlan tidak pernah mempermasalahkan hal itu sedikit pun bagi Arlan, kenyamanan Karin adalah yang utama. Arlan duduk di hadapannya sambil menyesap kopi hitam, menatap sang istri dengan senyuman tipis yang sarat akan sisa kemesraan pagi ini. Karin menyuap sesendok nasi goreng, lalu menatap Arlan dengan ekspresi serius yang mendadak dibuat-buat, seperti seorang anak kecil yang ingin mengadukan sebuah rahasia besar. “Sayang,” panggil Karin, menaruh sendoknya dan mencondongkan tubuh ke depan. “Aku mau buat pengakuan dosa.” Arlan menaikkan satu alisnya,
“Eugh!”Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang tampak seperti kapal pecah setelah badai semalam.Karin perlahan membuka matanya, mengerang pelan saat merasakan seluruh persendiannya protes. Tubuhnya terasa remuk dan ada rasa pegal yang tertinggal di area pinggangnya.Di sampingnya, Arlan masih tertidur lelap dengan posisi miring, menampilkan punggung tegapnya yang dipenuhi beberapa bekas cakaran tipis, ulah Karin sendiri saat kehilangan kendali semalam.Karin menarik selimut tebal sampai ke dagu, menatap wajah suaminya yang tampak begitu tenang saat tidur. Sisa-sisa kejadian semalam mendadak berputar di otaknya, membuat pipinya langsung memanas.Sambil memegangi pinggangnya yang encok, Karin membatin dalam hati, bersumpah tidak akan pernah lagi mengejek 'aset' suaminya itu kecil.Arlan benar-benar tidak memberi ampun. Pria yang biasanya lempeng dan kaku itu berubah menjadi monster yang luar biasa perkasa di ranjang, membuat Karin yang tadinya te
“Lepasin, Sayang! Hahaha!”Karin memekik di antara tawa renyahnya, kedua kakinya menjuntai pasrah saat tubuhnya mendadak melayang, digotong persis seperti sekarung beras di atas bahu kokoh suaminya.Arlan mendengus, melangkah lebar meninggalkan area toilet tempat istrinya itu sempat barikade diri.Plak!Sebuah tepukan gemas mendarat di bokong Karin sebagai hukuman.“Aduh! Sakit, Sayang!” protes Karin, walau sama sekali tidak terdengar kesakitan. Ia justru semakin tertawa puas di dalam gendongan, memegangi perutnya yang mulai kaku karena terlalu banyak terbahak.“Lagian kamu makin hari makin jahil, ya. Mau kabur dari rumah tapi sembunyinya di kamar tamu. Itu namanya pindah tidur, Sayang, bukan minggat,” gerutu Arlan sambil menurunkan istrinya dengan hati-hati ke atas ranjang.Karin langsung berguling, menatap wajah Arlan yang mencoba pasang tampang datar, meski telinganya sudah memerah.“Ya lagian kamunya lempeng terus kayak jalan tol! Aku kan butuh hiburan malam-malam gini.”Arlan ber
Arlan melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi senyap.Keningnya berkerut!Sebagai sesama dokter, ia tahu persis jadwal Karin. Malam ini istrinya tidak ada jadwal jaga koas, tidak ada panggilan darurat di rumah sakit dan tidak ada pesan izin keluar rumah.“Sayang?” panggil Arlan, meletakkan kunci mobilnya di meja depan.Nihil.Rumah itu terasa seperti rumah hantu, bersih, rapi, tapi tak berpenghuni. padahal Arlan sudah bela-belain mengosongkan jadwal dengan pasiennya malam ini hanya demi memeluk istri kecilnya itu dan mengajaknya makan malam romantis.Dengan langkah cepat, ia menuju kamar utama.Harapannya untuk melihat Karin sedang rebahan di ranjang langsung pupus saat matanya menangkap secarik kertas di atas nakas.Arlan berjalan mendekat, mengambil kertas itu dan membacanya.“Arlan, aku pergi. Burung kamu kecil.”Arlan melongo.Ia membaca tulisan tangan Karin yang berantakan khas dokter itu sampai tiga kali.Detik berikutnya, ia langsung memeriksa lemari pakaian. Kosong melompong
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







