Masuk“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”
Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus. Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di depannya sedang berdiskusi dengan residen senior yang lain, sedangkan Karin sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. “Karin?” panggil dr. Dimas, tetapi Karin tidak menanggapinya. “Karin?” Dua kali dr. Dimas memanggilnya, bahkan sampai harus melangkah mendekati gadis itu. “Oh, iya, Dokter. Sorry.” Karin menggigit kuat bibir bawahnya. “Kau kenapa?” tanya dr. Dimas dengan sangat lembut. Pria itu memang selalu menaruh perhatian lebih padanya. “Tidak apa-apa, Dokter. Cuma ngantuk saja,” jawab Karin dengan senyum simpul. “Semalam katanya kau bermasalah dengan dr. Arlan?” tanya Dimas hati-hati sambil memindai Karin dari atas sampai bawah. Dimas tahu Arlan tidak menyukai Karin hingga memanggilnya ke klinik pribadi, tetapi Dimas menduga ada hal lain yang diinginkan konsulen itu. Koas muda ini selalu menjadi pusat perhatian berkat parasnya. “Apa urusannya sudah selesai? Kudengar kau tidak akan diluluskan di stase ini olehnya. Kau butuh bantuanku?” tanya Dimas dengan senyum manisnya. Sikap Dimas jelas membuat para koas lain menatap sinis. Begitu banyak konsulen dan residen yang menaruh perhatian, padahal Karin sadar dirinya bukan koas yang menonjol secara akademis. “Sudah, Dokter. Terima kasih. Karin cuma lelah saja,” jawab Karin lembut. “Jangan takut denganku, Karin. Aku bisa membantumu lulus. Katakan saja padaku kalau dr. Arlan menyulitkanmu.” Karin menggeleng pelan. Entah kenapa dr. Dimas terkesan memaksa. Karin justru tidak merasa diintimidasi oleh Arlan semalam. Mereka tidak melakukan apa pun. Arlan bersikap perhatian, dan anehnya, Karin lebih nyaman menjawab pertanyaan konsulen itu daripada Dimas. Padahal jelas-jelas Dimas selalu tampil lebih lembut dan baik. “Tidak, Dokter. Semalam dr. Arlan hanya memberikan pelajaran mengulang prosedur. Dia menganggapku belum mengerti,” jawab Karin. “Oh ya?” Nada bicara Dimas terdengar meragukannya. Tidak mungkin rasanya Arlan begitu saja melepaskan koas sasarannya. Apa Karin spesial? “Iya, Dokter. dr. Arlan hanya mengajari sekilas, setelah itu aku kembali berjaga.” Dimas mengangguk, tetapi ia belum puas. Ia tahu betul reputasi Arlan yang selalu mempersulit koas. Apalagi Karin tidak menangis keluar dari ruangan Arlan semalam. Ancaman tidak lulus stase itu terdengar seperti omong kosong. “Baguslah kalau dr. Arlan berbaik hati denganmu. Tetapi kalau kau ada masalah, aku siap membantumu belajar.” Dimas masih berusaha mendesak. Dimas tiba-tiba melirik ke belakang punggung Karin. Sosok dokter yang ditunggu-tunggu kehadirannya muncul. Bunyi hentakan pantofel yang pelan dan berirama tegas membuat Karin menoleh. Benar saja. dr. Arlan, bisik Karin dalam hati. “Apa maksudmu, dr. Dimas?” tanya Arlan. Arlan menyela interogasi halus dr. Dimas. Kehadirannya seketika mendominasi lorong itu. “Maaf, dr. Arlan. Saya hanya ingin membantu Karin melewati stase ini,” jawab Dimas dengan tangan yang diam-diam mengepal. Dimas ingat betul bagaimana Arlan mempersulitnya saat ia masih koas dulu, hingga kelulusannya tertunda tiga bulan. “Kau pikir saya tidak mampu mengajarinya? Atau kau sudah merasa paling hebat di rumah sakit ini?” Semua residen senior yang ikut laporan pagi terdiam. Termasuk Dimas. Ia menahan diri. “Tidak, Dokter,” jawab Dimas, menatap lekat mata Arlan. “Saya tidak akan menyulitkan kalian selama kalian mampu melakukannya. Tetapi saat ini, saya yang bertanggung jawab. Kesalahan kalian bisa menyebabkan kematian pada pasien. Kalian pikir itu tidak memengaruhi kinerja saya?” tanya Arlan tegas. “Ketidakmampuan Karin menangani pasien semalam membuat saya malu. Apa begitu cara kalian mengajarinya? Itu artinya kalian tidak kompeten.” Atmosfer menegang. Beberapa residen sontak melirik sinis ke arah Karin. “Apa yang ada di kepala kalian? Saya membawa Karin ke klinik tengah malam untuk bercinta?” Arlan tertawa kering. Sialan! umpat Dimas dalam hati. “Saya tidak sekotor itu,” lanjut Arlan. Ia melirik dan melangkah pelan mendekati Karin. Saat berjalan melewati Karin, tangan pria itu secara sengaja menyapu pelan pinggang belakang gadis itu. Sentuhan tersembunyi di tempat umum itu sontak membuat jantung Karin melonjak. "Klinik. Malam ini. Kita mulai praktik yang sebenarnya,” bisik Arlan saat melewatinya. Bulu kuduk Karin meremang. Tak lama setelah itu, kumpulan residen dan koas dibubarkan. Padahal tadi dia bilang dia tidak sekotor itu, gumam Karin meremehkan. Ia tidak percaya, mengingat tindakan Arlan semalam. Arlan sempat menyentuh pipinya, memeluknya, serta mengusap peluh di leher dan dadanya. Tatapan dr. Arlan jelas menyiratkan gairah. “Gimana semalam?” tanya Silvi yang tiba-tiba muncul dengan wajah kelelahan. “Apanya?” tanya Karin. “Kamu sama dr. Arlan. Dia marah-marah atau malah mesum?” Silvi mendesak penasaran. Semalaman mereka tidak bertemu karena Silvi harus membantu persalinan. “Mesum apanya? Kami tidak ngapa-ngapain. Dokter cuma mengajariku. Karena aku belum bisa, makanya dia menyuruhku mengulang lagi. Begitu saja,” jawab Karin jujur. “Syukurlah. Pulang yuk, malam ini kita jaga lagi. Laporanku juga belum selesai.” Silvi menarik tangan Karin menuju parkiran. Di area parkir, Karin melihat mobil dr. Arlan terparkir tepat bersebelahan dengan mobilnya. “Sil, duluan saja. Aku mau ke kantin mencari sarapan,” ucap Karin, mencari alasan. Namun, sosok Arlan tiba-tiba muncul di hadapannya. “Mau pulang?” tanya Arlan. Menyadari kehadiran sang konsulen, Silvi buru-buru berlari masuk ke mobilnya sendiri. Ia tidak mau terjebak menjadi pesuruh dokter spesialis itu. “Iya, Dokter,” jawab Karin pasrah. “Aku malas sarapan di luar. Kebetulan aku ingin masakan rumahan. Bisa bantu aku memasak di apartemenku?” Sialan! Karin mengumpat dalam hati. Malam nanti mereka masih akan bertemu, dan pagi ini, pria itu pun enggan melepaskannya.“Akhirnya, kita bisa tidur nyenyak malam ini, Sayang.” Karin bahagia sekali. Karin bahkan tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya saat ini yang begitu membuncah.Kapal akhirnya bersandar kembali di dermaga sunyi di tepi Sungai Seine.Waktu sudah menunjukkan larut malam, dan hawa dingin Paris kian menusuk tulang seiring dengan salju pertama yang mulai memutihkan jalanan kota.Mobil sedan mewah yang disewa Arlan telah menunggu untuk membawa mereka kembali ke hotel.Namun, sepanjang perjalanan di dalam mobil, mata Karin sama sekali tidak bisa beralih dari kaca jendela.Tatapannya terus tertuju pada Menara Eiffel yang berdiri megah di kejauhan, memamerkan kerlipan lampu keemasannya yang seolah membelah pekatnya badai salju tipis malam itu.Padahal, sesuai jadwal yang mereka susun, agenda untuk mengunjungi ikon Paris itu baru akan dilakukan keesokan harinya.Arlan yang duduk di sampingnya menyadari hal itu. Sebagai suami dan mantan konsulen yang terbiasa membaca gerak-gerik orang, ia begi
“Makanannya buat kamu puas gak malam ini?” tanya Arlan.“Puas banget dong, malah mau datang lagi tapi aku tau kalau perjalanan honeymoon kita panjang, Sayang.” Karin bergelayut mesra di lengan kekar Arlan.Begitu mereka selesai dinner dan melangkah keluar dari kehangatan restoran, sebuah sedan mewah sewaan Arlan sudah menunggu untuk membawa mereka ke dermaga pribadi di tepi Sungai Seine.Karin mengira mereka hanya akan berjalan-jalan di sepanjang tepi sungai, namun matanya langsung membelalak ketika Arlan menuntunnya menuju sebuah private yacht berdesain klasik modern yang telah disewa khusus untuk mereka berdua.Tanpa perlu Karin meminta, Arlan sudah tahu semua yang Karin impikan sejak lama.Ia tahu persis bahwa menyusuri Sungai Seine di malam hari, melihat Paris dari atas air adalah impian masa remaja Karin yang sering ia ceritakan saat mereka masih sibuk mencuri waktu di sela-sela jam kerja rumah sakit.“Sayang, kita naik ini berdua saja, serius?" tanya Karin takjub saat kapten kap
“Sayang apa itu?Suara Karin bergetar, matanya langsung berkaca-kaca menatap troli perak yang baru saja didorong oleh pelayan restoran Le Cinq.Arlan memberikan kejutan lagi malam ini.Di atas troli itu, terdapat sebuah buket raksasa mawar merah merekah dan sebuah kotak beludru hitam kecil yang baru saja dibuka oleh Arlan.Di dalamnya, berkilau sebuah set perhiasan berlian murni, kalung dengan liontin soliter dan sepasang anting yang memantulkan kemilau lampu kristal hotel.Karin terharu, sampai menutup mulutnya dengan satu telapak tangan karena tidak percaya.Tidak hanya itu, sebagai pelengkap, tersaji Saint Honore, salah satu kue paling enak dan ikonis di Paris.Kue mahakarya pastry Prancis ini memiliki dasar puff pastry mentega yang super renyah, dikelilingi choux bun (sus kecil) berselimut karamel tipis yang berkilau seperti kaca.Bagian tengahnya dipenuhi creme chiboust vanilla Madagaskar yang sangat lembut, lalu dihias anggun dengan semprotan whipped cream berbentuk kelopak bung
“Kamu nyangka gak aku bawa kesini?” tanya Arlan sambil memandang ke sekeliling Restoran. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Le Cinq, restoran bintang tiga Michelin di dalam Four Seasons Hotel George V Paris, memantulkan cahaya keemasan yang begitu megah. Dindingnya dilapisi kain sutra brokat bernuansa neoklasik, lengkap dengan rangkaian bunga mawar putih segar yang tingginya hampir menyamai pelayan berbaju jubah rapi di sana. Tempat ini adalah definisi nyata dari kemewahan Paris, tipe restoran yang membuat seseorang otomatis memeriksa saldo rekeningnya setiap kali pelayan menuangkan air putih. Karin ikut mengedarkan pandangannya, matanya berbinar menatap arsitektur megah di sekeliling mereka, lalu beralih pada suaminya yang duduk di hadapannya dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh. “Hemm, makasih ya, Sayang,” bisik Karin setengah tertawa, mencondongkan badannya ke depan meja berbahan marmer putih. “Dua tahun koas, baru kali ini aku ngerasa marta
“Ah, akhirnya sampai!” Pinggang Karin rasanya kaku sekali.Karin mendesah lega begitu melangkah masuk ke dalam kamar hotel mewah di Paris yang sudah dipesan Arlan sejak jauh-jauh hari.Begitu pintu kamar tertutup rapat, Karin langsung menjatuhkan tas tangan dan kacamata hitamnya ke atas meja, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size yang tampak begitu empuk dan mengundang.“Nyaman banget, hmmm enak.”Perjalanan panjang melintasi benua dari Jakarta, transit di Doha, hingga akhirnya mendarat di Bandara Charles de Gaulle Paris benar-benar menguras tenaganya.Meskipun terbang dengan fasilitas kelas bisnis yang serba nyaman, tubuh Karin tidak bisa berbohong. Efek kurang tidur dari sisa-sisa ujian koas ditambah duduk belasan jam di pesawat membuat fisiknya protes.Karin berguling terlentang, menatap langit-langit kamar dengan posisi tangan merentang.“Aku capek Sayang, pinggangku seakan mau rontok. Sayang pijat ... rasanya tulang belakangku kayak habis digeser paksa,” k
“Aku gak mungkin bisa marah sama kamu, Sayang. Kamu tau itu.”Arlan tidak melepaskan genggaman tangan Karin, namun ia juga tidak langsung tersenyum.Ia menatap lurus ke dalam bola mata istrinya dengan tatapan yang begitu dalam, intens dan menuntut. Ada kilat ketegasan yang jarang ia tunjukkan sebelumnya.Selama berapa bulan ini, Arlan sudah cukup banyak mengalah. Ia mengalah pada jadwal jaga malam Karin yang tidak manusiawi.Ia mengalah saat makan malam romantis mereka batal karena ada pasien darurat. Ia mengalah menahan gairah dan ego sebagai suami demi kelulusan ujian istrinya.Bahkan, ia rela ikut pusing mendengar drama kehidupan orang-orang di sekitar Karin.Please! Kali ini saja….Namun untuk sebulan kedepan, batas kesabaran Arlan sudah mencapai puncaknya. Kali ini, ia tidak mau mengalah lagi pada apapun, termasuk pada bayang-bayang Laura.Arlan menarik tangan Karin sedikit lebih dekat, membuat posisi duduk mereka kini saling berhadapan di ruang kursi kelas bisnis yang luas dan p
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







