Share

Bab 7 Godaan Kecil

last update publish date: 2026-05-13 15:52:36

“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat.

Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau.

“Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek.

Tidak lucu! Sungguh!

Karin pergi ke dapur Arlan dan mengabaikan permintaan Konsulen tidak bermoralnya itu. Meskipun memang ada sedikit rasa penasaran.

“Memangnya enak?”

Karin membuka pendingin di rumah Arlan yang ternyata begitu tertata rapi dan isinya sangat sehat sekali. Penuh dengan sayur dan buah.

Dapur Arlan juga sangat mewah, sepertinya Arlan suka memasak.

“Sebenarnya apalagi yang dr. Arlan bisa?” Karin melirik ke atas, ada suara percikan air. Sepertinya Arlan sedang mandi.

Di lantai bawah, ada satu toilet tetapi tidak dipergunakan untuk mandi. Apartemen ini hanya di desain dengan satu toilet sepertinya ada di atas.

“Mau masak apa?” Karin berjongkok sambil melihat sayur-sayuran yang ada. Karin tidak tahu apapun. Di rumahnya semua sudah dikelola oleh pembantu. Ia hanya tinggal makan dan tidur.

Semua yang Karin mau terpenuhi. Karin berasal dari keluarga terpandang dengan ekonomi yang sangat menunjang dan sangat cukup.

“Gimana cara menghidupkan kompornya?”

Karin tidak tahu apapun dan memang ia bodoh sekali untuk ini.

“Apa seorang wanita memang harus bisa masak? Bagaimana kalau tidak?”

Karin mendengus kesal. Hal semacam ini ia tidak tahu apapun.

“Tidak harus, Sayang.”

Tiba-tiba tangan Arlan memeluk Karin dari belakang, tubuh Karin meremang, ia tidak menyangka Arlan segila ini dengannya.

Sayang!

Ya, panggilan sayang yang terdengar aneh dan tidak biasa belum lagi pelukan yang manja dari belakang dengan dagu Arlan yang menempel di pundaknya.

“Seorang wanita tidak harus bisa memasak yang penting bisa memuaskan di ranjang,” bisik Arlan dengan nakalnya.

Oh, apakah ini dr. Arlan yang dingin itu, ucap Karin dalam hatinya.

Karin hampir-hampir tidak percaya, Arlan melontarkan kata-kata godaan nakal seperti ini padanya.

“Aku gak bisa menghidupkan kompor, dok.”

Bodohnya!

Karin tidak bisa menolak pelukan itu, tidak pula ingin menghindar, justru terpaku dan hanya menunjuk kompor sialan itu.

“Kau memang manja, ya? Memangnya harus aku yang mengajarimu, baru kamu bisa, Sayang. Hmmm?” Arlan memutar tubuh Karin untuk berhadapan dengannya.

Tatapan mata mereka bertemu dan Karin langsung melirik ke arah lain.

Kenapa dengan dr. Arlan?

“Kau tidak menolak dengan sentuhan saya?” tanya Arlan sambil mengusap pipi Karin.

Tampilan Arlan saat ini benar-benar tidak pantas, hanya menggunakan kimono handuk dengan tali yang diikat sembarangan, dada yang terekspos dengan jelas dan celana sport ketatnya.

“Dokter, bukannya kita ingin memasak?” tanya Karin dengan polos dan keringat yang mulai mengucur deras.

Meskipun Karin tidak panik dengan sentuhan Arlan tetapi sedekat ini bersama pria dewasa, Karin juga merasa takut.

Ia perawan!

“Memasak telur!” Tangan Arlan membawa tangan Karin menyusuri dadanya yang bidang, turun ke bawah, lebih bawah lagi sampai Karin melonjak.

“Apa itu, dok?” tanya Karin panik.

Keras dan ada di bawah.

Sialan!

Karin bukan anak SD, ia calon dokter dan sekarang sedang dibodohi oleh Arlan.

“Anggap aku pasienmu, mau praktek menggunakan kateter?” tanya Arlan sambil menjulurkan selangnya pada Karin.

“Dokter, apa ini maksudnya?” Karin melepaskan pelukan Arlan. Arlan menganggap Karin ini seperti apa.

“Kenapa? Kau tidak bisa?”

Karin melongo menatap alat medis di depannya setelah itu menatap wajah dr. Arlan.

Arlan tidak melewatkan kesempatan apa pun saat mereka bersama. Brengsek!

“Dokter sedang bercanda?” tanya Karin. Arlan tertawa setelah itu dan puas sekali melihat wajah Karin yang pucat.

Arlan juga tidak bodoh, dia hanya ingin menggoda Karin.

Karin bernapas lega saat mendengar tawa renyah Arlan. Konsulennya memang sedang menggodanya. Karin pikir itu serius.

“Aku tidak bercanda tapi bukan menggunakannya dengan saya. Di atas ada anatomi reproduksi pria. Tidak ada salahnya kita coba. Saya hanya ingin tau. Seberapa parah penyakitmu itu.”

Bohong!

Ini pasti bukan tentang pelajaran.

“Di-di atas?” Karin terbata-bata menjawabnya

“Hari ini saya sedang senggang, jadwal mengajar tidak ada dan malam hanya sebentar karena sebenarnya saya sedang cuti. Malam pun hanya khusus mengajarimu.”

Karin merasa terjebak tetapi kenapa ia malah tidak bisa menolak dan mulutnya keluh.

“Dokter, apa ini … hemm apa ini pantas? Kita se-sedang berdua saja,” jawab Karin sambil menyimpulkan rambut ke telinganya.

“Katanya kau ingin minta tolong padaku?”

Karin sendiri yang meminta semua itu pada Arlan dan begini cara Arlan membantunya.

Apanya yang tidak pantas?

“Belajar bisa dimanapun, tidak harus di kampus, rumah sakit. Kita bisa melakukannya di rumah.”

Arlan menatap Karin yang menunduk sambil meremas tangannya, tubuh Karin membeku. Pikirannya melayang.

Anatomi reproduksi pria?

Karin menggigit kuat bibirnya dan memberanikan diri menatap mata Arlan.

“Bagaimana kalau Karin mencobanya dengan punya dokter?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 376 Tidak Sabar Menunggu Malam Hari

    “Arlan?” Akhirnya Karin tidak lagi memanggilnya ‘dokter’, sudah lama sekali Arlan menginginkan panggilan seperti ini. “Hemm, kenapa?” tanya Arlan sambil memeluk Karin dari belakang. Karin lelah menghadapi birahi Arlan yang tidak pernah pudar. Malah semakin meningkat, Arlan tidak pernah mengatakan bosan dengan Karin saat bercinta. “Makasih Sayang, yang tadi enak banget. Aku puas.” “Sama-sama, aku senang kalau kamu puas.” Arlan meninggalkan Karin setelah mereka berciuman cukup lama. Karin tertidur pulas setelah itu. Ia begitu nyenyak, hingga tidak sadar sudah pagi. Karin libur pagi ini, siang ia masuk sampai malam. Itu karena ia sudah lembur dua hari dan dr. Revan kasihan dengannya. Karin mendengar suara orang samar-samar di ruangan Arlan, ternyata ada tamu. Karin tidak bisa keluar sekarang, ia bahkan takut untuk mandi. Karin menepis selimut yang menutupi tubuh indahnya dan masuk ke toilet sambil bercermin, pria mana yang sanggup menolak kehadirannya. Arlan saja sampai tergila-g

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 375 Tidak Bisa Menahannya Lagi

    “Karin ... kamu benar-benar membuatku gila.”Arlan tidak mampu lagi menahan diri. Ia menarik Karin ke dalam pelukannya. Karin menyambutnya tanpa ragu. Dalam hitungan detik, mereka tenggelam dalam ciuman yang intens, penuh kerinduan, dan rasa bersalah yang bercampur aduk di bawah pendar lampu ruangan yang temaram. Sebuah cinta yang mereka tahu terlarang, namun terlalu kuat untuk dihentikan malam itu.“Ini salah, dok. Status kita, profesi kita ... jika ada yang tahu, ini akan menghancurkan segalanya.” Arlan mengusap bibir Karin yang masih menempel salivanya. Arlan Menatap lurus ke mata Karin, menyentuh lengan Karin lembut.“Lalu kenapa kamu tidak melepaskan tanganmu setiap kali kita tidak sengaja bersentuhan? Kenapa kamu selalu menatapku seperti itu? Katakan padaku untuk pergi jika kamu memang tidak menginginkanku di sini?” Karin tidak bisa menjawab, sebenarnya Arlan tahu kalau Karin juga mendambakan kehadirannya. Lalu, kenapa mereka saling menipu diri sendiri. Karin ada di ruangan A

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 374 Menunggu Jawabanmu

    Karin melamun, mengingat story media sosial yang dibuat oleh dr. Renata, betapa ia hancur saat ini karena tidak bisa jalan dan menggerakkan satu tangannya. Padahal itu bisa sembuh. Arlan juga ternyata memilih menjauh dan ia malah menceritakan semua kesakitannya di media sosial. Membuat semua orang bersimpati dan berkomentar buruk tentang Arlan. Ya, semua pria hanya menginginkan kesempurnaan.“Karin lembur Kek, masih di rumah sakit sekarang,” ucap Karin saat ia ada di ruang koas, Karin lelah sekali, sudah dua hari tidak pulang dan mengerjakan laporan kasus pasien, ia seperti sedang kerja rodi.Untung saja kemarin dr. Arlan membantunya sehingga dr. Revan tidak marah karena ia terlambat datang dan mengumpulkan laporannya.“Apa perlu Kakek bicara dengan Konsulen kamu, Sayang?” tanya Kakek Billy. Ia kasihan melihat Karin, wajahnya sudah pucat, tidak ada istirahat, hanya tidur beberapa saat saja, itupun kalau bisa. Sebisa mungkin Karin bangun saat alarmnya berbunyi.“Gak usah kek, dr. Rev

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 373 Pahlawan Tanpa Tanda Bibir

    Dari jam lima subuh, Karin nongkrong di kantin rumah sakit, kebetulan mereka sudah mulai buka, menjual sarapan pagi dan kopi. Tentu saja pilihan Karin kopi pahit supaya hari ini ia tidak mengantuk, dari tadi tangan Karin sibuk mengetik, pegawai rumah sakit mulai sedikit demi sedikit datang, kantin ini mulai ramai.Mata Karin sudah mulai tipis, ada kantung hitam dibawah matanya. “Oke, keluhan utama: sesak napas sejak dua hari lalu. Riwayat penyakit dahulu: asma... Umur pasien 26 tahun. Mana sih datanya, diagnosis Apendisitis Akut Perforasi yang telah dilakukan tindakan Apendektomi Terbuka. Pasien saat ini sedang hamil G1P0A0 usia kehamilan 22 minggu. Bab empat tinggal kesimpulan. Ayolah Karin, demi nilai stase interna, jangan sampai remedial!” Karin bicara sendiri sambil mengetik. Tangannya sudah mulai sakit dan kapalan. Karin menyeruput es kopinya. Matanya mulai terasa sangat berat setelah terjaga hampir 24 jam penuh karena dinas malam dan lanjut mengetik laporan kasus.“Hoam, gak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 372 Hari Yang Melelahkan

    Sambil mengeringkan rambutnya, Karin melihat aplikasi pesan makanan online, ia sudah lapar sekali, hari ini seperti penyiksaan karena begitu banyak pasien yang datang dan semua dalam keadaan darurat.Padahal sebelumnya ruang IGD sepi, kenapa malah menjadi ramai dan sempat-sempatnya Karin mandi untuk selalu menjaga kecantikan, keringatnya sudah bau kambing, Karin sudah ingin menjerit.Sebagai wanita cantik, ia harus selalu tampil memukau walaupun sedang berjaga. Ia baru saja mengenakan baju scrub yang bersih.Karin baru saja tiba di IGD, Tiba-tiba, perawat menghampirinya dengan wajah yang sangat panik.Apalagi? Pasti ada pasien yang kritis.“Mbak Karin! Untung ada Mbak, cepat ke bilik tiga sekarang, Mbak! Ada pasien G1P0A0, pembukaan lengkap, ketubannya baru saja pecah dan kepalanya sudah kelihatan di vulva!”“Hahh? Pembukaan lengkap?” Terkejut, langsung menyampirkan handuknya.“dokter Residen bedah atau dokter Konsulen di mana, Mbak? dokter Icha mana?” tanya Karin, Icha yang berjaga

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 371 Ganti Pakaian Di Ruanganku

    Jangan harap! Ya, jangan harap Karin akan menghubungi Arlan lebih dulu karena saat ini Karin sedang memikirkan pria mesum yang mempermainkannya siang tadi. Karin lembur, ia mengganti waktunya yang hilang dengan lembur malam dari Senin sampai Jumat, bahkan kalau Sabtu Minggu tidak ada koas yang berjaga, Karin yang harus datang. Cuti sebulan membuat Karin harus siap. Karin juga tidak berani menolak meskipun lelah. “Aduh, pegal banget.” Rasanya ngantuk sekali, Karin memukul lehernya dengan kepalan tangan karena capek sekali hari ini, apalagi pasien bedah cukup banyak. Karin masih sambil mengetik laporan kasus dari semua kasus pasien di rumah sakit, ia harus segera menyelesaikan semua laporannya. Silvi tidak lembur, hanya ia saja. Ruang IGD sedikit lenggang malam ini, ia ada disana untuk berjaga-jaga, jujur saja rata-rata pasien yang datang pada malam hari karena kecelakaan, ada yang bedah minor dan bedah mayor. Dokter spesialis harus siap sedia untuk dihubungi kapanpun bahkan teng

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status