แชร์

Bab 183

ผู้เขียน: Citra Sari
"Apa maksudmu? Uang maharmu semuanya dipakai buat beli rumah untuk adikmu?"

"Ya."

Delara memutar matanya dengan kesal. Dia membuka sebotol bir dan meneguknya pelan, berusaha menenangkan diri. "Mereka jangan harap bisa mendapatkannya begitu saja. Katanya aku sudah kerja tiga atau empat tahun jadi pengacara dengan gaji tinggi. Tentu saja punya tabungan cukup. Menggunakan uangku untuk beli rumah adikku jelas menjadi kewajibanku."

Shanaya menjilat bibirnya lalu mengulurkan tangan, menepuk lembut kep
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 855

    Lucien tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung menutup telepon.Namun, dia tidak segera kembali ke ruang kerja.Dia teringat bagaimana Reynald berbicara dengan begitu hormat dan hati-hati saat meneleponnya tadi. Sikap itu sangat bertolak belakang dengan kepercayaan diri Reynald yang nyaris angkuh, seperti yang baru saja diceritakan Rivaldi.Mustahil seseorang yang tadinya begitu tunduk tiba-tiba berani bersikap seolah punya kuasa tanpa alasan.Lucien menyipitkan mata. Perlahan, sebuah dugaan mulai muncul di benaknya.Lucien kembali ke ruang kerja dan membuka pintu dengan sangat pelan.Benar saja, Shanaya masih meringkuk di sofa. Gelas susunya sudah kosong, dan dia sedang sibuk melihat sesuatu di ponselnya. Mendengar suara pintu, dia langsung mendongak."Sudah selesai? Cepat sekali.""Ya."Lucien menghampiri dan duduk di sampingnya, lalu mengambil gelas kosong dari tangan Shanaya dan meletakkannya di samping."Ayo, kita kembali ke kamar. Sudah waktunya tidur."Lucien merangkul bahu S

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 854

    Setelah telepon ditutup, ruang kerja itu hening selama beberapa detik.Lucien duduk di belakang meja kerjanya, ponsel masih tergenggam di tangan. Jari-jarinya yang panjang perlahan mengerat. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, tetapi rahangnya tampak menegang.Shanaya sedang meringkuk di sofa seberangnya sambil menyeruput segelas susu hangat. Melihat Lucien tetap duduk diam setelah menutup telepon, dia melirik dari balik gelasnya dan memperhatikan pria itu beberapa saat.Lucien memang bukan tipe orang yang mudah menunjukkan emosi. Sebesar apa pun masalah yang dihadapinya, dia selalu terlihat tenang.Namun, Shanaya sudah terlalu lama bersamanya. Dia bahkan bisa membaca banyak hal dari perubahan sekecil apa pun pada diri Lucien, termasuk amarah yang sedang ditahannya saat ini."Ada masalah?" tanya Shanaya lembut sambil meletakkan gelasnya.Lucien meletakkan ponsel di atas meja, lalu menoleh kepadanya. Ekspresinya sedikit melunak. "Tidak apa-apa.""Wajahmu sudah muram begitu, masih

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 853

    Reynald tidak langsung menjawab. Dia hanya berkata, "Kamu sendiri tahu jawabannya.""Aku tidak tahu."Aurelia mencibir dingin. "Kalau kamu sudah menduga Shanaya adalah adikku, seharusnya kamu juga tahu apa yang akan dilakukan Keluarga Wirantara padamu kalau kamu berani membocorkan rahasia ini."Dari seberang telepon, jelas Reynald sudah nekat mempertaruhkan segalanya. Namun, nada suaranya masih terdengar cukup tenang. "Asalkan Lucien mau berhenti, aku janji akan tutup mulut. Aurelia, aku cuma ingin mempertahankan apa yang masih kumiliki. Aku tidak berniat menghancurkan diriku sendiri hanya untuk menjatuhkanmu."Aurelia tahu betul apa yang sedang dipertaruhkan Reynald.Pria itu yakin Aurelia tidak akan berani mengambil risiko yang bisa membahayakan Shanaya.Apalagi Shanaya sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan.Kalau Shanaya tiba-tiba mengetahui asal-usulnya, termasuk kenyataan kedua kaki Nadira lumpuh karena dulu berusaha mengejarnya, dengan sifatnya yang seperti itu, di

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 852

    Aurelia sedikit mengernyit, malas berbasa-basi dengannya. "Reynald, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?"Mungkin karena kini merasa punya kartu truf, Reynald menjawab dengan santai dan penuh percaya diri, "Begini saja. Lucien sekarang benar-benar ingin menghancurkan Keluarga Anandita. Hampir semua bisnis Grup Anandita di Kota Panaraya sudah dia habisi. Kalau kamu ingin bercerai, setidaknya kamu harus membuatnya berhenti dulu.""Aku sudah bilang, itu tidak mungkin."Aurelia menjawab tanpa ragu sedikit pun, nadanya tetap tenang seperti biasa. "Aku tidak punya hak untuk ikut campur dalam keputusan Lucien. Soal perceraian, kalau kamu tidak mau menandatanganinya, kita selesaikan saja lewat jalur hukum."Seberang telepon terdiam sesaat.Tidak lama kemudian, Reynald tiba-tiba tertawa kecil. "Aurelia, kamu memang tidak pernah berubah. Selalu pintar memilih kata-kata supaya tidak ada celah untuk membantahmu."Aurelia tidak menjawab. Dia hanya menunggu Reynald melanjutkan."Kalau begitu, bag

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 851

    Belum lama Reynald duduk di ruang kerjanya, Alan sudah membuka pintu dan masuk."Pak Reynald," ujar Alan dengan sedikit ragu. "Neira baru saja mengirim pesan."Reynald tetap tenang. "Apa katanya?""Dia menanyakan kapan Anda punya waktu untuk mengurus akta cerai dengan Nyonya Aurelia."Alan menyampaikan pesan itu apa adanya. "Katanya belakangan ini Bu Aurelia cukup sibuk, jadi waktunya harus dijadwalkan lebih dulu."Meski disampaikan dengan sopan, maksudnya sudah sangat jelas.Pihak Aurelia sudah begitu yakin Reynald pasti akan datang untuk mengurus perceraian mereka.Di hadapan Aurelia, dia memang sudah tidak punya ruang untuk tawar-menawar.Tiba-tiba, sudut bibir Reynald terangkat membentuk senyum tipis, seolah baru saja mendengar lelucon yang menarik."Balas pesannya. Katakan belakangan ini aku sedang sibuk."Alan tertegun. "Pak Reynald, tapi ....""Kenapa?"Nada suara Reynald tetap santai. "Dia bertanya kapan aku punya waktu, dan aku menjawab sedang sibuk. Apa susahnya memahami itu?

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 850

    Suasana di seberang telepon seolah membeku sesaat.Tidak lama kemudian, suara Tuan Abimana berubah berat, penuh wibawa yang membuat orang gentar. "Reynald, kamu bilang tidak punya waktu untuk pulang?""Benar."Reynald menggenggam ponselnya. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat yakin. "Kakek, dengarkan aku dulu. Memang benar Lucien menyerang kita karena ulahku. Tapi masalah ini akan segera selesai.""Selesai bagaimana?""Dia akan menghentikan serangannya."Reynald menegaskan setiap katanya. "Bukan cuma itu. Semua yang sudah direbut Keluarga Wirantara dan Wiraatmadja dari Keluarga Anandita akan kita dapatkan kembali, satu per satu."Kali ini, bukan hanya Tuan Abimana yang terdiam.Alan pun sampai membuka mulut, tetapi akhirnya tidak berani menyela.Selama bertahun-tahun mendampingi Reynald, baru kali ini dia melihat pria itu berbicara seperti itu kepada sang kakek.Dulu, Reynald selalu sangat berhati-hati di hadapan kakeknya.Sebanyak apa pun rencana yang dia simpan dalam hati,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status