로그인Keesokan harinya, Caleb terbangun dari tidurnya. Waktu masih sangat pagi.Saat turun ke bawah, dia mengenakan sweater turtleneck putih dan celana kasual berwarna gelap, membuat penampilannya terlihat sangat segar.Satu-satunya hal yang kurang baik adalah, di bawah matanya terdapat dua lingkaran samar berwarna gelap.Nadira adalah orang pertama yang melihatnya. Tatapannya berhenti sejenak saat melihat wajah Caleb, lalu berkata, "Caleb, tadi malam kamu tidur kurang nyenyak? Apa karena belum terbiasa dengan tempat tidur baru?""Tidak, Tante Nadira."Caleb berjalan menghampirinya dan membantunya berdiri. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Aku menangani sedikit pekerjaan kemarin, jadi tidur agak larut."Dia tentu saja tidak mungkin mengatakan bahwa itu karena panggilan telepon dari Reynald.Dia sampai tidak bisa tidur nyenyak karena merasa kesal."Pekerjaan memang penting, tapi kesehatan lebih penting."Nadira mengomel manja, lalu dengan dibantu olehnya duduk di samping meja maka
Saat Caleb menutup pintu, gerakannya kembali terhenti sejenak. Melihat Aurelia hendak melangkah pergi, dia tanpa sadar memanggilnya, "Kakak."Aurelia menoleh ke arahnya, tatapannya tenang dan penuh kesabaran khas seorang kakak perempuan."Ada apa?"Dia mengira Caleb sedang kekurangan sesuatu. "Pelayan seharusnya sudah menyiapkan pakaian baru dan perlengkapan mandi untukmu, semuanya ada di kamar."Jakun Caleb bergerak naik turun. Dia bertanya seolah-olah hanya basa-basi, "Tuan Nathan sedang mengejarmu?"Pertanyaan itu terlontar begitu tiba-tiba, hingga lorong itu menjadi hening sejenak.Aurelia bersandar di sisi kusen pintu, tampak sedikit terkejut karena dia bertanya dengan begitu terus terang."Iya."Dia tidak menyangkal, malah tersenyum kecil. "Menurutmu, gimana dia?"Caleb melihat dari sepasang mata indah Aurelia yang jernih itu, dia benar-benar sedang meminta pendapatnya.Kepercayaan itu membuat hatinya dipenuhi rasa getir yang samar, tetapi juga disertai kegembiraan tersembunyi ya
Nathan sama sekali tidak memikirkannya. Dia melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu berdiri pada saat yang tepat. "Sudah larut. Aku pulang ke hotel dulu."Kemudian dia menoleh kepada Caleb dengan ramah. "Mau pulang bareng? Biar kuantar."Gerakan Caleb sedikit terhenti. Mata beningnya yang berkilau menatap Aurelia. "Kak, boleh tidak aku menginap di sini malam ini?"Aurelia tampak sedikit terkejut, tetapi tetap menyetujuinya dengan senang hati. "Tentu saja boleh. Rivaldi, suruh pelayan bereskan kamar untuk Caleb. Aku akan mengantar Tuan Nathan keluar.""Baik."Rivaldi mengangguk. Dia melirik Caleb dengan tatapan penuh makna, lalu bangkit berdiri untuk mencari Bi Nena.Aurelia berjalan berdampingan dengan Nathan menuju ruang depan rumah.Saat keduanya berjalan hingga ke gerbang halaman, Nathan menghentikan langkahnya. Dia menoleh menatap Aurelia dan berkata dengan nada lembut, "Anak dari Keluarga Anandita itu adik mantan suamimu, 'kan?""Ya."Nathan mengangguk pelan. "Kelihatannya h
Rivaldi mengangkat sebelah alisnya tanpa menunjukkan perubahan ekspresi. Tatapannya masih tertuju pada jalan di depan, tetapi pendengarannya tidak luput menangkap sepatah kata pun.Di seberang telepon, ucapan itu jelas membuat Yuliana terdiam sesaat. Dengan ragu, dia kembali bertanya, "Lalu, apa yang kamu inginkan? Bilang saja sama Ibu."Caleb terdiam beberapa detik. Dari sudut matanya, dia melirik Rivaldi yang duduk di sampingnya, lalu menelan kembali kata-kata yang sudah hampir terucap."Sudahlah. Aku tutup dulu."Dia mengakhiri panggilan, lalu membalik ponselnya dan meletakkannya di atas lutut. Dia menoleh menatap ke luar jendela mobil tanpa berkata apa-apa lagi.Rivaldi meliriknya sekilas melalui kaca spion, tidak menanyakan apa pun. Dia hanya mengangkat suhu AC satu tingkat.Mobil melaju terus ke arah selatan di malam hari. Saat memasuki wilayah Kota Panaraya, waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan malam.Rivaldi tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan mengemudikan mobil
Hanya demi membela orang luar, dia terus mengungkit-ungkit masalah ini di sini tanpa mau mengalah.Benar-benar bodoh.Suasana di ruang VIP itu pun terdiam selama dua detik.Reynald semakin memikirkannya, semakin merasa itu konyol. "Caleb, dia bilang menganggapmu sebagai adik, lalu kamu benar-benar menganggap dirimu adik kandungnya? Kamu dan aku, kitalah saudara kandung yang sedarah ....""Apa urusanmu?"Caleb langsung memotong ucapannya. Di sepasang mata yang biasanya jernih dan dingin itu, tiba-tiba tersirat sedikit ketegasan. "Kalau kamu menindasnya, kamu memang harus membayar harganya."Nada bicaranya pelan, tetapi tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk bernegosiasi. "Kalau kamu tidak menghargainya, masih banyak orang yang …."Sebelum kata-kata terakhirnya selesai terucap, pintu ruang VIP itu tiba-tiba didorong terbuka dari luar.Saat melihat Rivaldi berdiri di ambang pintu, Dia langsung menghentikan ucapannya.Rivaldi berdiri di depan pintu, tatapannya menyapu kedua bersaudara ya
Efisiensi kerja Rivaldi jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkan Aurelia.Keesokan harinya, saat lampu-lampu kota mulai menyala, baru saja dia kembali ke Vila Brisa Alam ketika telepon dari Rivaldi masuk.Aurelia mengangkatnya, sedikit terkejut. "Ada apa?"Keluarga Anandita memiliki pengaruh yang cukup besar di Kota Selatanaya. Jika Reynald sudah lebih dulu mengetahui kabar bahwa Rivaldi akan kembali, bukan tidak mungkin dia mengubah rencananya."Sudah beres." Rivaldi menjawab dengan kalimat yang sama sekali tidak nyambung.Namun Aurelia langsung mengerti. Tanpa sadar, dia melirik layar ponselnya. "Kamu yakin?"Saat itu baru lewat sedikit dari pukul enam sore. Kemungkinan besar, rombongan itu bahkan belum sempat masuk ke ruang VIP restoran.Rivaldi terdengar seperti baru selesai menyaksikan sebuah pertunjukan besar. Nada suaranya masih menyiratkan senyum. "Yakin. Tapi bukan aku yang menyelesaikannya, melainkan Caleb."Bukan perbuatannya, jadi dia tidak mau mengambil kredit.Aurelia







