MasukSetelah memberi isyarat pada pihak penyelenggara, Aurelia berjalan keluar untuk menerima telepon. Suaranya dingin dan jernih.“Bukankah tujuanmu sudah tercapai?”Datang berlutut di depan rumah Keluarga Wirantara tidak lebih dari sandiwara menyedihkan yang sengaja dipertontonkan untuk Reynald.Dan Reynald pun memercayainya seperti yang Helena harapkan.“Kak.”Helena membuka mulut dengan hati-hati. “Aku tidak punya tujuan apa-apa. Aku cuma tidak bisa meninggalkan Grup Anandita, tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Aku tahu kamu bukan orang yang suka mempermasalahkan hal kecil. Asal kamu bicara pada Tuan Abimana, aku pasti bisa tetap bekerja .…”Nada suaranya terdengar begitu penuh kepasrahan dan seolah memohon, sampai-sampai hampir membuat orang mengabaikan betapa tidak masuk akalnya permintaan yang dia ajukan.Namun, selama ini memang seperti itulah caranya, dan Reynald kebetulan sangat termakan oleh sikap seperti itu.Namun, Aurelia bukan Reynald. Dengan tajam dia langsung bertanya, “Y
Reynald merasa dirinya tidak bersalah.Entah kenapa, bahkan sebelum kata-kata itu selesai diucapkan, dia sudah mulai menyesal.Namun dia juga tahu, Aurelia tidak akan benar-benar menceraikannya.Selain dirinya, Aurelia tidak akan menemukan pasangan yang lebih cocok untuk pernikahan politik.Di seluruh Kota Selatanaya, hanya Keluarga Anandita yang bisa dianggap sepadan dengan Keluarga Wirantara. Tidak mungkin Aurelia menurunkan standarnya lagi.Siapa sangka, setelah mendengar ucapannya, Aurelia malah merasa lega lalu berkata, “Bagus kalau kamu bisa setuju sekarang. Beberapa hari ini aku akan meluangkan waktu untuk pulang ke Kota Selatanaya.”Sikapnya sangat tegas dan lugas.Seolah takut kalau terlambat sedetik saja, Reynaldn akan berubah pikiran.Reynald mengernyit, baru saja hendak bicara, asistennya berjalan mendekat lalu berkata dengan hormat, “Pak Reynald, telepon dari Kak Helena.”Helena sedang berada di rumah sakit. Reynald khawatir terjadi sesuatu padanya, jadi tanpa berpikir pan
Aurelia sempat melamun sejenak.Selama bertahun-tahun ini, dia tahu diam-diam banyak orang mengatakan dirinya dingin dan sulit didekati.Di posisinya sekarang, begitu dia terlalu mengedepankan perasaan pribadi, itu justru akan mengkhianati kekuasaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.Karena itu hati nuraninya tetap tenang. Saat kata-kata itu sampai ke telinganya, dia juga hanya menanggapinya dengan senyum tipis.Namun, saat kata-kata itu keluar dari mulut Reynald, dia tetap mengernyitkan kening.Sebenarnya, dulu dia dan Reynald pernah melewati masa-masa yang cukup baik bersama.Di awal pernikahan mereka, bahkan pernah ada saat-saat hangat penuh kasih.Waktu itu setiap ada tamu yang ditolaknya di depan pintu, Reynald selalu tersenyum dan berkata, "Aurelia adalah orang yang paling punya prinsip dan batasan di seluruh dunia."Kini, orang yang dulu ditolaknya di depan pintu justru berubah menjadi orang paling berharga di hatinya.Entah sejak kapan cara bicaranya jadi berbeda.Aur
Helena pergi ke rumah sakit, Aurelia jadi tidak punya kekhawatiran lagi dan akhirnya bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya setelah sekian lama.Tidak disangka, entah pelayan mana yang keceplosan, kabar tentang Helena yang berlutut sampai pingsan di depan rumah tetap sampai ke telinga Tuan Haryo.Begitu Aurelia turun ke bawah, dia langsung merasa suasananya agak aneh.Tuan Haryo duduk di meja makan. Saat melihat Aurelia turun, dia meletakkan sendok buburnya. "Aku dengar sekretaris perempuan itu datang tadi malam? Sampai dibawa ke rumah sakit juga?"Aurelia duduk di kursi kosong. "Mm, dia pingsan karena berlutut.""Konyol!!"Tuan Haryo menepuk meja dengan keras, lalu membentak penuh wibawa, "Dia itu seharusnya berlutut di depan rumah Keluarga Anandita! Kenapa berlutut di depan rumah kita? Memangnya Keluarga Anandita sehebat itu sampai kamu takut setengah mati pada mereka??"Kakek mengira Aurelia sungkan dan masih mempertimbangkan hubungan dengan Keluarga Anandita, jadi tadi tidak lang
Baru saat itu Aurelia tiba-tiba teringat.Benar juga.Waktu itu Caleb bahkan sudah menghubunginya beberapa hari lebih awal, berkali-kali memastikan jadwalnya.Tidak ada alasan lain, semua anggota Keluarga Anandita sedang tidak punya waktu, bahkan Reynald pun mendadak ada urusan dan pergi dinas ke Kota Nortadika.Kabarnya, dia pergi untuk membahas proyek penting dengan pihak Keluarga Maheswari.Suara laki-laki itu di telepon waktu itu terdengar agak kecewa. Jadi sesibuk apa pun Aurelia, dia tetap berusaha meluangkan waktu.Karena itulah foto ini ada.Hanya saja, dua tahun terakhir ini adalah masa puncak kariernya. Di tengah kariernya yang melesat, urusan yang harus ditangani juga makin banyak dan rumit. Ditambah lagi masalah keluarga yang datang silih berganti, membuatnya tidak punya sisa tenaga untuk memikirkan hal lain.Bahkan soal Caleb yang sudah mendapatkan gelar masternya sejak dua tahun lalu pun, terlupakan begitu saja olehnya.Aurelia yang biasanya selalu tenang dan pandai mengh
Rivaldi menarik sudut bibirnya dan tertawa kecil. "Lagi tidak ada kerjaan, jadi sempat lihat CCTV."Kalau dipikir-pikir juga lucu, di Keluarga Wirantara cuma dia yang bersikeras menghubungkan sistem CCTV rumah ke ponselnya.Alasannya juga sangat masuk akal, takut kalau suatu saat Winona pulang, mereka tidak segera memberi tahu dia.Namun, hari itu, Aurelia tidak ada di rumah, jadi dia tidak tahu soal itu.Mendengar penjelasannya, raut wajah Aurelia baru sedikit melunak. "Aku saja tidak cocok ikut campur langsung, apalagi kamu. Nanti orang-orang malah menjadikannya bahan omongan kalau kita menindas yang lemah dengan kekuasaan."Dengan reputasi Rivaldi selama ini, di mata orang lain memang lebih mudah dijadikan bahan gosip.Rivaldi tidak menganggapnya serius. "Memang aku dari awal ....""Kamu dari awal apa?"Aurelia memotong ucapannya, lalu mengingatkan dengan nada tenang, "Rivaldi, sekarang setiap ucapan dan tindakanmu mewakili Grup Wirantara, tidak bisa lagi bertindak seperti gayamu ya
Tatapan Shanaya menyapu setelan jas di tangannya dengan sedikit gelisah, lalu berbisik, "Baiklah."Mereka semua sudah minum alkohol. Davin yang rumahnya lebih dekat langsung naik taksi pulang, sementara Shanaya memesan jasa sopir pengganti.Tidur siangnya terlalu lelap, sehingga kini Shanaya justru
Aldric Yuwana adalah putra tunggal Guru dan Bu Guru.Shanaya menyesap teh hangat perlahan, lalu tersenyum. "Baiklah, dalam dua hari ini aku akan membeli lebih banyak oleh-oleh khas dalam negeri untuk Anda dan Guru bawa ke sana."Melani mengusap lembut rambutnya. "Kalau begitu, bagaimana denganmu? Ma
Lidahnya sangat tajam.Shanaya menggelengkan kepala, meraih ponsel di atas ranjang. Begitu melihat durasi panggilan yang mencapai tujuh jam, dia sempat terpaku.Setelah beberapa saat, barulah Shanaya teringat janji yang dia ucapkan sebelum tertidur.Dia berdeham pelan. "Aku tidur terlalu pulas, tung
Shanaya tidak bisa menebak, dia mundur sedikit. "Pak Lucien mau mengenalkanku?""Bukannya tidak mungkin."Bahu Lucien yang bidang menunduk mendekat, tubuhnya seakan menyelimuti seluruh dirinya. Dengan nada lembut tetapi penuh dorongan, dia bertanya, "Mau bermain dengan cara seperti apa?"Shanaya ter







