LOGINDi ujung telepon, suara wanita itu terdengar dingin dan tanpa perasaan.Satu nyawa ... di matanya seolah tak berarti apa-apa.Emosi yang tak dimengerti Reynald langsung melonjak, pelipisnya berdenyut keras, tetapi dia tetap menahan amarahnya dan berkata, "Aurelia, dulu kamu tidak seperti ini. Bagaimanapun juga, kamu tidak seharusnya bertindak kasar terhadapnya."Nada suaranya tak menyembunyikan kekecewaan.Dalam ingatannya, seberapa pun dingin dan rasionalnya Aurelia, dia tidak akan memandang nyawa manusia seremeh itu.Meski begitu, dia sama sekali tidak sempat menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan anak itu.Aurelia awalnya tidak ingin lagi berdebat dengannya, tetapi saat mendengar kalimat terakhir itu, sudut bibirnya tetap terangkat membentuk senyum sinis tipis.Tidak jauh dari sana, pandangan Caleb seolah tanpa sengaja menyapu punggung Aurelia yang tegap lurus.Menangkap seluruh ketertegunannya yang singkat dalam satu pandangan.Dia bisa melihat bahwa kakaknya pernah memilik
Bagas samar-samar memahami maksud Tuan Haryo.Pewaris Keluarga Anandita harus diganti.Selain itu, penjelasan apa pun yang diberikan Keluarga Anandita kemungkinan besar tidak akan memuaskan Tuan Haryo.Selama bertahun-tahun ini, Keluarga Anandita di Kota Selatanaya selalu berjalan mulus, sebagian besar juga berkat hubungan erat dengan Keluarga Wirantara.Singkatnya, hubungan dengan Keluarga Wirantara tidak boleh putus.Sedangkan soal pewaris .…Kalau memang terpaksa, bisa diganti.Bagas melirik putra bungsunya yang berdiri di samping Aurelia, lalu menghela napas tanpa suara.Seandainya usianya cocok, mengganti Caleb untuk pernikahan aliansi pun bukan tidak mungkin.Sayangnya perbedaan usia mereka terpaut delapan tahun. Caleb, bocah tengil itu, juga bukan tipe yang bisa diatur sesuka hati.Keluarga Maheswari tampaknya juga tidak akan setuju satu-satunya penerus mereka menikahi wanita yang pernah bercerai.Meskipun wanita itu adalah putri sulung Keluarga Wirantara.Pikiran berputar serib
Kalimat itu terdengar jelas, tapi sebenarnya ambigu.Bahkan Aurelia yang begitu peka pun sesaat tak memahami apa yang dimaksud Caleb.Yang memang menjadi miliknya.Bagian warisan Keluarga Anandita yang kelak jatuh ke tangannya adalah miliknya, dan jika dia mau memperjuangkannya, mungkin seluruh Keluarga Anandita pun bisa menjadi miliknya.Dengan dukungan Keluarga Maheswari, peluangnya untuk mengambil alih Keluarga Anandita sangat besar.Dulu Reynald bisa duduk di posisi pewaris hanya karena pernikahan politik, itu pun karena Caleb bahkan belum lulus kuliah. Saat itu Om Bagas sedang sakit, sementara Keluarga Anandita sangat membutuhkan seorang pewaris.Reynald bisa sampai di posisinya sekarang karena waktu dan keadaan yang mendukungnya.Caleb menangkap sedikit keraguan di mata Aurelia, tetapi dia tidak menutupinya dan langsung bertanya dengan terus terang, "Boleh?""Tentu saja boleh."Aurelia tersenyum tipis. "Itu adalah hakmu sebagai keturunan Keluarga Anandita."Dia tidak berhak ikut
Telapak tangan wanita itu sedingin kepribadiannya yang dia tunjukkan.Kelopak mata Caleb bergetar pelan. Setelah rasa dingin itu menghilang dan penglihatannya kembali jelas, dia menyentuh daun telinganya dengan canggung. "Aku pergi sekarang."Benar-benar seperti anak kecil.Setelah melangkah pergi dengan langkah besar, Aurelia berbalik menatap Helena yang tampak putus asa dan kesakitan karena rencananya gagal. Anehnya, dia sama sekali tidak merasakan kepuasan apa pun.Mungkin karena darah yang mengalir di sepanjang kaki Helena terlihat terlalu mencolok.Helena kesakitan hingga keringat dingin memenuhi dahinya, tetapi dia tetap tidak lupa bertanya pada Aurelia, "Trik licik apa lagi yang kamu mainkan? Mana Pak Reynald? Kenapa yang datang malah Caleb .…""Kakak!"Sebelum dia selesai bicara, Caleb sudah kembali. Jari-jarinya yang panjang dan bersih menyentuh pergelangan tangan Aurelia, lalu menariknya pelan ke belakang. "Dokternya sudah datang."Dokter penanggung jawab memahami kondisi Hel
Saat tiba di rumah sakit, Neira berniat menemani Aurelia masuk.Aurelia mengangkat pandangannya. "Tidak perlu, kamu cukup beri tahu Lucien."Dia yakin Helena tidak berani bertindak gegabah.Dalam pertarungan yang seimbang, hanya dengan memegang kelemahan lawan barulah bisa benar-benar mengendalikan hidup matinya.Dalam situasi seperti sekarang, jika Helena menggunakan kartu truf itu, sama saja dengan mempercepat ajalnya sendiri.Namun, karena ini menyangkut Shanaya, meski kemungkinan itu hanya sepersepuluh ribu persen kemungkinan, Aurelia tetap tidak berani mempertaruhkannya.Memberi tahu Lucien juga bisa menjadi langkah berjaga-jaga.Neira pun hanya bisa menyetujuinya.Aurelia masuk sendirian ke gedung rawat inap."Kamu sudah datang?"Helena berbaring di ranjang rumah sakit. Sekilas, dia memang tampak lemah dan pucat."Aku kira orang sepertimu tidak punya kelemahan.""Dia adikku, bukan kelemahanku."Bagi Aurelia, keluarga lebih seperti sebuah zirah.Mereka membuatnya menjadi lebih ras
Setelah memberi isyarat pada pihak penyelenggara, Aurelia berjalan keluar untuk menerima telepon. Suaranya dingin dan jernih.“Bukankah tujuanmu sudah tercapai?”Datang berlutut di depan rumah Keluarga Wirantara tidak lebih dari sandiwara menyedihkan yang sengaja dipertontonkan untuk Reynald.Dan Reynald pun memercayainya seperti yang Helena harapkan.“Kak.”Helena membuka mulut dengan hati-hati. “Aku tidak punya tujuan apa-apa. Aku cuma tidak bisa meninggalkan Grup Anandita, tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Aku tahu kamu bukan orang yang suka mempermasalahkan hal kecil. Asal kamu bicara pada Tuan Abimana, aku pasti bisa tetap bekerja .…”Nada suaranya terdengar begitu penuh kepasrahan dan seolah memohon, sampai-sampai hampir membuat orang mengabaikan betapa tidak masuk akalnya permintaan yang dia ajukan.Namun, selama ini memang seperti itulah caranya, dan Reynald kebetulan sangat termakan oleh sikap seperti itu.Namun, Aurelia bukan Reynald. Dengan tajam dia langsung bertanya, “Y
Susana mengerutkan kening dengan sangat tajam, seluruh tubuhnya terasa dingin.Anak lelaki yang telah dia kandung selama sembilan bulan dan lahirkan dengan susah payah itu, sekarang demi seorang wanita, berani bersikap ketus padanya."Apa maksudmu bilang itu bukan urusanku? Aku ini ibumu! Apa salahn
Mendengar itu, ekspresi Lucien langsung mengeras. "Ayo, kita segera ke rumah sakit."Rony yang mendengar suara gaduh itu langsung bergegas ke garasi untuk menyalakan mobil.Setelah duduk di dalam mobil, ketika Lucien hendak membantunya memasang sabuk pengaman, Shanaya sudah lebih dulu tenang dan mem
Kali ini, giliran Shanaya yang bingung. "Dia bukan Nona Kelima? Bukankah sudah dilakukan tes DNA…?""Pasti ada yang manipulasi."Bagaimanapun, ini urusan Keluarga Wirantara. Delara juga tidak menanyakan terlalu banyak, tetapi setidaknya bisa menebak secara kasar.Bahkan sampai menggantikan identitas
Tidak disangka dia pulang secepat ini.Shanaya terkejut sebentar, kemudian senang sekaligus heran. "Kenapa kamu pulang begitu cepat?"Baru pukul delapan lewat sedikit.Dia masih berencana menunggu di depan rumah.Gadis itu baru saja selesai mandi, rambut hitamnya yang seperti sutra tergerai begitu s







