로그인Saat tiba di rumah sakit, Neira berniat menemani Aurelia masuk.Aurelia mengangkat pandangannya. "Tidak perlu, kamu cukup beri tahu Lucien."Dia yakin Helena tidak berani bertindak gegabah.Dalam pertarungan yang seimbang, hanya dengan memegang kelemahan lawan barulah bisa benar-benar mengendalikan hidup matinya.Dalam situasi seperti sekarang, jika Helena menggunakan kartu truf itu, sama saja dengan mempercepat ajalnya sendiri.Namun, karena ini menyangkut Shanaya, meski kemungkinan itu hanya sepersepuluh ribu persen kemungkinan, Aurelia tetap tidak berani mempertaruhkannya.Memberi tahu Lucien juga bisa menjadi langkah berjaga-jaga.Neira pun hanya bisa menyetujuinya.Aurelia masuk sendirian ke gedung rawat inap."Kamu sudah datang?"Helena berbaring di ranjang rumah sakit. Sekilas, dia memang tampak lemah dan pucat."Aku kira orang sepertimu tidak punya kelemahan.""Dia adikku, bukan kelemahanku."Bagi Aurelia, keluarga lebih seperti sebuah zirah.Mereka membuatnya menjadi lebih ras
Setelah memberi isyarat pada pihak penyelenggara, Aurelia berjalan keluar untuk menerima telepon. Suaranya dingin dan jernih.“Bukankah tujuanmu sudah tercapai?”Datang berlutut di depan rumah Keluarga Wirantara tidak lebih dari sandiwara menyedihkan yang sengaja dipertontonkan untuk Reynald.Dan Reynald pun memercayainya seperti yang Helena harapkan.“Kak.”Helena membuka mulut dengan hati-hati. “Aku tidak punya tujuan apa-apa. Aku cuma tidak bisa meninggalkan Grup Anandita, tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Aku tahu kamu bukan orang yang suka mempermasalahkan hal kecil. Asal kamu bicara pada Tuan Abimana, aku pasti bisa tetap bekerja .…”Nada suaranya terdengar begitu penuh kepasrahan dan seolah memohon, sampai-sampai hampir membuat orang mengabaikan betapa tidak masuk akalnya permintaan yang dia ajukan.Namun, selama ini memang seperti itulah caranya, dan Reynald kebetulan sangat termakan oleh sikap seperti itu.Namun, Aurelia bukan Reynald. Dengan tajam dia langsung bertanya, “Y
Reynald merasa dirinya tidak bersalah.Entah kenapa, bahkan sebelum kata-kata itu selesai diucapkan, dia sudah mulai menyesal.Namun dia juga tahu, Aurelia tidak akan benar-benar menceraikannya.Selain dirinya, Aurelia tidak akan menemukan pasangan yang lebih cocok untuk pernikahan politik.Di seluruh Kota Selatanaya, hanya Keluarga Anandita yang bisa dianggap sepadan dengan Keluarga Wirantara. Tidak mungkin Aurelia menurunkan standarnya lagi.Siapa sangka, setelah mendengar ucapannya, Aurelia malah merasa lega lalu berkata, “Bagus kalau kamu bisa setuju sekarang. Beberapa hari ini aku akan meluangkan waktu untuk pulang ke Kota Selatanaya.”Sikapnya sangat tegas dan lugas.Seolah takut kalau terlambat sedetik saja, Reynaldn akan berubah pikiran.Reynald mengernyit, baru saja hendak bicara, asistennya berjalan mendekat lalu berkata dengan hormat, “Pak Reynald, telepon dari Kak Helena.”Helena sedang berada di rumah sakit. Reynald khawatir terjadi sesuatu padanya, jadi tanpa berpikir pan
Aurelia sempat melamun sejenak.Selama bertahun-tahun ini, dia tahu diam-diam banyak orang mengatakan dirinya dingin dan sulit didekati.Di posisinya sekarang, begitu dia terlalu mengedepankan perasaan pribadi, itu justru akan mengkhianati kekuasaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.Karena itu hati nuraninya tetap tenang. Saat kata-kata itu sampai ke telinganya, dia juga hanya menanggapinya dengan senyum tipis.Namun, saat kata-kata itu keluar dari mulut Reynald, dia tetap mengernyitkan kening.Sebenarnya, dulu dia dan Reynald pernah melewati masa-masa yang cukup baik bersama.Di awal pernikahan mereka, bahkan pernah ada saat-saat hangat penuh kasih.Waktu itu setiap ada tamu yang ditolaknya di depan pintu, Reynald selalu tersenyum dan berkata, "Aurelia adalah orang yang paling punya prinsip dan batasan di seluruh dunia."Kini, orang yang dulu ditolaknya di depan pintu justru berubah menjadi orang paling berharga di hatinya.Entah sejak kapan cara bicaranya jadi berbeda.Aur
Helena pergi ke rumah sakit, Aurelia jadi tidak punya kekhawatiran lagi dan akhirnya bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya setelah sekian lama.Tidak disangka, entah pelayan mana yang keceplosan, kabar tentang Helena yang berlutut sampai pingsan di depan rumah tetap sampai ke telinga Tuan Haryo.Begitu Aurelia turun ke bawah, dia langsung merasa suasananya agak aneh.Tuan Haryo duduk di meja makan. Saat melihat Aurelia turun, dia meletakkan sendok buburnya. "Aku dengar sekretaris perempuan itu datang tadi malam? Sampai dibawa ke rumah sakit juga?"Aurelia duduk di kursi kosong. "Mm, dia pingsan karena berlutut.""Konyol!!"Tuan Haryo menepuk meja dengan keras, lalu membentak penuh wibawa, "Dia itu seharusnya berlutut di depan rumah Keluarga Anandita! Kenapa berlutut di depan rumah kita? Memangnya Keluarga Anandita sehebat itu sampai kamu takut setengah mati pada mereka??"Kakek mengira Aurelia sungkan dan masih mempertimbangkan hubungan dengan Keluarga Anandita, jadi tadi tidak lang
Baru saat itu Aurelia tiba-tiba teringat.Benar juga.Waktu itu Caleb bahkan sudah menghubunginya beberapa hari lebih awal, berkali-kali memastikan jadwalnya.Tidak ada alasan lain, semua anggota Keluarga Anandita sedang tidak punya waktu, bahkan Reynald pun mendadak ada urusan dan pergi dinas ke Kota Nortadika.Kabarnya, dia pergi untuk membahas proyek penting dengan pihak Keluarga Maheswari.Suara laki-laki itu di telepon waktu itu terdengar agak kecewa. Jadi sesibuk apa pun Aurelia, dia tetap berusaha meluangkan waktu.Karena itulah foto ini ada.Hanya saja, dua tahun terakhir ini adalah masa puncak kariernya. Di tengah kariernya yang melesat, urusan yang harus ditangani juga makin banyak dan rumit. Ditambah lagi masalah keluarga yang datang silih berganti, membuatnya tidak punya sisa tenaga untuk memikirkan hal lain.Bahkan soal Caleb yang sudah mendapatkan gelar masternya sejak dua tahun lalu pun, terlupakan begitu saja olehnya.Aurelia yang biasanya selalu tenang dan pandai mengh
Gayatri refleks membentak dengan suara tajam, "Tidak boleh!"Sekarang belum saat yang tepat untuk membiarkan Gian mengetahui asal-usul dirinya.Anak itu tidak setenang dan setegas Lucien.Tahu terlalu cepat… hanya akan membawa malapetaka.Gayatri mengangkat kepala, dan ketika menatap Lucien, penyesa
Satu kalimat itu membuat kewaspadaan Shanaya meningkat ke titik tertinggi.Asal-usulnya hingga saat ini hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Selain bibi dan rekan kerja orang tuanya dulu, hanya Delara yang pernah dia beri tahu.Apalagi, Herman juga orang Kota Panaraya.Dia menahan semua keraguann
Begitu pertanyaannya keluar, Shanaya melihat pria itu sedikit mengernyit. Dia pun segera mengubah ucapannya. "Aku salah tanya. Maksudku, siapa yang mengajarimu meracik isian ini?"Shanaya hampir lupa, pria itu sebelumnya bilang bahwa pangsit itu dia buat sendiri.Lucien bilang itu dia yang buat pang
Rivaldi sangat ingin menasihatinya agar tidak bertindak gegabah.Bagaimanapun, Adrian adalah ayah kandung dari keponakan mereka berdua…?Begitu pikiran itu muncul di kepalanya, Rivaldi langsung sakit kepala dan segera menampar mulutnya sendiri.Begitu dia bilang, Lucien pasti akan kehilangan kendali







