Masuk"Gila ...." desis Putri saat melihat foto-foto Ririn bersama Damar di ponselnya. Dia masih membuka foto-foto dan video yang sempat direkamnya siang tadi di Winter Resto. Sesekali dia berdecak kagum melihat ketampanan dan kegagahan Damar, mengingat kembali kedatangannya ke resto itu dengan mobil sport mewahnya. Putri mengerjap pelan, membayangkan betapa bahagianya dia jika dia yang berhasil menggaet hati Damar. "Ternyata dugaanku bener. Dia bukan cuma janda miskin, tapi pemain kelas kakap." Putri mengingat wajah Ririn yang berbinar saat melihat kedatangan Damar, lalu mencium punggung tangannya selayaknya pasangan. Putri kesal, cemburu bercampur benci. "Dia pasti pakai pelet atau susuk. Kalau nggak, nggak mungkin banget janda pengangguran dan miskin sepertinya bisa dapetin laki-laki kaya itu bahkan Mas Awan pun kena jebakannya juga. Gila sih ini. Beneran nggak waras!" Putri terus mengoceh, berprasangka yang tidak-tidak pad Ririn tanpa mau cari tahu siapa sebenarnya calon istri sepu
Dentingan sendok beradu dengan piring porselen menjadi latar suara yang menemani kegelisahan Ririn. Dia melirik jam tangan mungil di pergelangan tangannya untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Damar, kakak kandungnya, memang super sibuk, tapi janji makan siang ini penting. Ririn rindu bermanja-manja pada sosok pelindung yang dia miliki di kota ini, selain ibu angkatnya. Restoran Winter siang ini cukup padat. Ini adalah tempat favorit para eksekutif muda di kawasan elit untuk menghabiskan waktu istirahat. Ririn menyesap lemon tea-nya, berusaha mengabaikan tatapan beberapa orang yang mungkin menilai penampilannya terlalu sederhana untuk tempat sekelas ini. Hanya gamis pastel lembut dan hijab senada, tanpa tas bermerek yang mencolok."Lho? Bukannya itu si janda yang merebut Mas Awan dariku?"Suara cempreng yang sangat familiar itu membuat punggung Ririn menegang. Dia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Putri. Sepupu Awan yang sejak awal menentang hubungan mereka
“Sudah selesai bicaranya, Tan?” Seketika, semua mata beralih padanya. Tante Mira mengerutkan kening. “Loh, Tante cuma ngomong apa adanya.” Awan menatap lurus.“Sayangnya, yang Tante sebut ‘apa adanya’, sebenarnya cuma asumsi yang lahir dari rasa sok paling tahu.” Tante Mira terdiam sepersekian detik.“Wan!”“Pertama,” lanjut Awan. “Status pernikahan seseorang bukan indikator nilai dirinya. Ririn janda bukan karena dia tak berharga. Pernikahan bisa gagal karena banyak faktor, termasuk laki-laki yang tidak tahu cara menghargai. Lagipula dia bukan diceraikan dengan alasan-alasan yang Tante sebutkan tadi, tapi dia yang menggugat cerai karena suaminya tak tahu diri dan tak mau bersyukur.”Beberapa kepala menunduk. Suasana mendadak hening karena Awan tampak mulai emosi. Volume suaranya sedikit meninggi. “Kedua." Matanya kini menatap Ririn dengan bangga. “Ririn bukan perempuan yang ‘mau enaknya’, seperti yang Tante kira. Dia juga bekerja. Dia membesarkan dirinya sendiri. Dia tak pernah m
Sabtu sore itu, langit menggantung mendung. Bu Ratri sudah berangkat lebih dulu ke rumah adik tirinya, Mira untuk bantu-bantu menyiapkan acara arisan keluarga di sana. Rumahnya berada di kampung lain. Awan sudah janji akan datang belakangan bersama Ririn. Detik ini, Awan dan Ririn sudah melaju ke rumah Mira. Jalanan menuju kampung itu tampak ramai. Kanan kiri jalan sudah padat dengan rumah penduduk, seolah tak ada celah lagi. Sesekali terdengar obrolan ringan Awan dan Ririn tentang kampung itu. Sepertinya, Awan sedang menceritakan suasana masa kecilnya di kampungnya dan kampung sepupunya itu. Mobil berhenti tepat di sebuah rumah berwarna hijau pupus. Halaman tak terlalu luas itu sudah disesaki dengan beberapa kendaraan. Kini, Awan pun ikut memarkirkan mobilnya di sana. Suara tawa dan musik pelan terdengar dari dalam. Ririn memioin ujung hijabnya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.“Aku yakin harus ikut, Mas?” tanyanya, suaranya hampir bergetar.Awan menoleh, lalu tersenyum
Rumah itu berdiri tenang tak jauh dari gang. Ada toko kelontong yang baru saja direnovasi di samping rumah. Cukup lengkap dengan beragam barang kebutuhan rumah tangga. Di sampingnya berjejer kamar kost yang disewakan. Semakin tahun terlihat semakin banyak. Dari awal yang cuma sepuluh kost-an saja, kini sudah terbangun tiga puluh kamar. Semuanya berpenghuni, namun kini tampak lengang. Mungkin mereka sibuk kuliah, kerja atau urusan lain. Entah. Pohon mangga yang menaungi teras toko itu semakin rimbun, makin menciptakan suasana yang tenang, sejuk dan damai. Sore merayap perlahan, meninggalkan jejak cahaya keemasan di dinding. Awan baru saja mematikan mesin mobilnya. Dia menoleh ke arah Ririn yang duduk di samping kemudi dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuan. Jantungnya tak henti berdebar.“Sudah siap?” tanya Awan dengan senyum tipis. Ririn menelan ludah. “Siap, Mas. Tapi deg-degan. Aku grogi.”Awan kembali tersenyum.“Nggak usah takut. Nanti biar aku yang banyak bicara. Ka
Lampu-lampu gantung di kafe BINAR SEMESTA milik Awan itu menyala lembut, membias pada dinding bata yang hangat. Aroma kopi, vanilla, dan musik akustik yang mengalun pelan menciptakan suasana yang tenang seolah waktu memang sengaja melambat malam itu.Ririn melangkah masuk, sedikit heran.“Mas, tumben jam segini udah sepi cafenya? Biasanya masih ramai kan?" tanya Ririn, menoleh pada kakaknya. Damar tersenyum samar, menahan sesuatu.“Iya. Entah. Mungkin sengaja ditutup lebih awal atau ada yang pesan full cafe ini buat kejutan." Ririn mengerutkan kening. Meski terheran, Ririn tetap mengikuti langkah Damar ke dalam. Matanya menelusuri ruangan dan mendadak berhenti. Di tengah kafe, ada sebuah meja yang telah dihias kelopak mawar merah. Di atasnya berdiri kue sederhana bertuliskan :Happy Milad, Ririn.Lampu ruangan tiba-tiba diredupkan. Satu-satu, lilin-lilin kecil menyala. Musik berubah dan diputar dengan versi akustik.Dari sudut ruangan, Awan muncul dengan kemeja putih dan senyum gugu







