Share

Part 2

Sore hari itu juga, Richard Forger berpamitan kepada George Warren dan meyakinkan pria tua tersebut bahwa ia akan membayar kerugian yang dialami oleh George. Meski George Warren sulit mempercayai ucapan Richard, ia membiarkan Richard pergi.

“Ehm… Sebelumnya, bisakah aku meminjam beberapa dolar untuk memesan Taxi, Tuan George?” Sebelum benar-benar pergi, Richard baru sadar jika ia sudah tak memiliki apa-apa lagi. Ia cukup malu pada pria tua itu tetapi memang hanya George Warren seorang, sosok di kota Roxburgh yang bersedia membantu Richard.

“Ck… Ambillah.” George Warren dengan terpaksa memberikan beberapa dolar di sakunya kepada Richard.

“Terima kasih, Tuan George. Kupastikan kau bisa memegang janjiku, aku akan melunasi kerugian yang kau alami.”

George Warren mengangguk lesu. Setengah putus asa, ia berharap jika janji Richard bukanlah bualan semata.

“Tiga hari dari sekarang! Kupastikan aku akan mengganti kerugianmu. Tuan George!”

Setelah mengcapkan kalimat itu, Richard Forger segera memesan Taxi dan meminta driver Taxi untuk melaju ke wilayah utara kota Roxhburgh. Sesekali, Richard memandangi kartu hitam di tangannya. Ia mendapatkan kartu itu beberapa waktu sebelumnya. Richard tak menyangka jika di kemudian hari ia akan benar-benar menggunakan kesempatan tersebut.

“Maaf, kita sudah tiba di alamat yang anda minta.”

Driver Taxi membangunkan Richard yang sedang melamun. Richard berdeham lalu turun dari Taxi. Setelah Taxi meninggalkan Richard, Richard memandangi rumah besar yang berdiri menjulang di depan matanya.

‘Tuan Miller, aku datang…’ Richard membatin lalu berjalan menuju ke gerbang besar kediaman James Miller.

Ketika Richard nyaris tiba di dekat gerbang, tampak seorang security tengah berlari dengan menenteng tongkat pemukul di tangannya. Ia paling benci jika ada pria kumal berada di sekitaran rumah majikannya.

“Bagaimana bisa gelandangan sepertimu berani mendekati kediaman Tuan Miller?! Hei! Jauhkan tubuhmu dari gerbang rumah ini! Aku tak mau rumah majikanku terkontaminasi oleh kuman-kuman yang kau bawa!” Security itu berteriak memaki Richard seraya memamerkan wajah bengisnya seolah ia tak akan segan-segan memukuli Richard jika itu diperlukan.

Richard menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lantas mencoba memberi penjelasan pada Security bahwa ia bukan gelandangan sebagaimana yang dikira oleh security.

“Maaf, aku ke sini atas undangan Tuan Miller. Aku bisa menunjukkan buktinya padamu.” Richard tampak merogoh saku tetapi lagi-lagi security meneriakinya.

“Kau kira ada berapa ratus pengemis yang mencoba mengelabuiku seperti itu, heh?! Kalian orang-orang miskin, apakah tak punya kerjaan lain selain berusaha mengemis di rumah orang kaya? Sudah, pergi sana selagi aku tak menggunakan kekerasan!”

Richard Forger tak memedulikan ucapan security, ia tetap mengeluarkan kartu hitam dari sakunya. Itu adalah sejenis invitation card yang khusus dikeluarkan oleh James Miller, diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk datang ke kediaman James Miller di wilayah utara kota Roxburgh.

“Tuan, kau bisa memeriksa kartu ini. Ini asli dari Tuan Miller dan aku datang untuk memenuhi undangannya. Kau boleh mengusirku jika kartu ini palsu!” Dari luar gerbang, Richard Forger menyerahkan kartu hitam kepada security tetapi security menangkis tangan Richard.

“Sudahlah, waktuku terlalu berharga untuk meladeni orang-orang tak berguna sepertimu. Apakah di rumah kau tak punya kaca? Lihat dulu pantulan dirimu di cermin! Kau bahkan tak layak untuk mendaftar menjadi pembantu di kediaman Tuan Miller! Oh… ya, ya, aku baru ingat jika orang sepertimu tak mungkin punya rumah, juga barang kali tak punya kaca! Sekalgus, tak punya harga diri! Ah, sudahlah… Persetan dengan gelandangan miskin sepertimu!”

Richard menarik napas dalam, tak menyangka jika kesialan masih belum berhenti mengganggunya. Ia melihat Security itu membalikkan badan dan pergi memunggunginya.

“Aku memberimu waktu satu menit. Jika kau tak segera pergi, jangan menyesal karena telah berurusan denganku!”

Lagi, Richard Forger menarik napas dalam. Ia tak menduga jika untuk memenuhi undangan resmi James Miller, ia masih dihadang oleh drama penolakan seperti itu. Demi apapun, Richard tak ingin pergi, ia tetap berdiri di depan pintu gerbang selagi memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam.

Ketika Richard masih berpikir keras, matanya yang tajam menangkap sebuah pemandangan menarik. Ia melihat ada seorang gadis yang tampak berada di depan pintu rumah James Miller. Gadis itu sepertinya sedang mengangkat panggilan telepon.

“Nona yang di sana!!!!” Richard berteriak cukup keras, membuat security terkejut dan segera berbalik badan, security itu berlari ke gerbang untuk mengusir Richard menggunakan kekerasan.

“Nona!!!! Lihat, aku membawa kartu undangan resmi dari Tuan Miller! Lihat ini! Aku berhak masuk tetapi security menghalangiku!!! Ke marilah dan periksa langsung kartuku ini!” Richard berteriak pada gadis itu.

Meski tak begitu mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Richard, gadis tersebut tampak menutup panggilan telepon lalu berjalan menuju ke gerbang.

“Nona Daisy… Aku akan membereskannya… Maaf atas kelengahanku…” Security meminta maaf pada gadis muda yang ia panggil Nona Daisy.

Alih-alih memarahi security karena membiarkan gelandangan mengotori wilayah kediamannya, Daisy justru meminta security untuk berhenti.

“Tunggu! Tadi sepertinya dia berkata tentang undangan dari kakek. Aku perlu memeriksanya. Jika ia berbohong, kau boleh memberinya pelajaran.” Daisy berjalan maju melewati security yang terdiam.

Mendengar ucapan gadis muda nan cantik itu, Richard bisa bernapas lega. Dengan bersemangat, Richard menyerahkan kartu hitam kepada Daisy.

“Nona, aku tak berbohong. Kartu ini adalah kartu asli pemberian Tuan Miller.”

Dengan sedikit ragu-ragu, Daisy meraih kartu yang diulurkan oleh Richard. Selama beberapa detik Daisy mengamati kartu itu. Alisnya mengernyit kala menemukan bahwa kartu tersebut merupakan kartu yang asli. Yang artinya, Richard adalah tamu yang harus disambut oleh keluarga Miller.

Daisy mengembalikan kartu hitam kepada Richard. “Ini adalah kartu asli. Aku tak tahu bagaimana bisa pria sepertimu mendapatkan kartu ini. Tapi yang jelas, kau akan mendapat masalah besar jika ternyata kartu ini hasil curian!” Daisy memperingatkan Richard.

“Tidak! Sungguh itu asli!”

“Baiklah, karena aku sudah memperingatkan, kau bisa masuk. Tapi ingat, kau yang menanggung segala risiko dari perbuatanmu ini!”

Daisy lantas memerintahkan security untuk membuka gerbang. Dengan wajah berseri-seri Richard bersiap memasuki kediaman James Miller.

***

“Shit! Daisy, bisakah kau melakukan sesuatu yang sedikit berguna?!”

Baru saja memasuki ruang tamu, Bellatrix yang merupakan sepupu Daisy tampak menghardik Daisy dengan wajah murka. “Apa maksudmu membawa gembel memasuki rumah kita?! Kau bodoh atau sudah gila, heh?!”

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Siti Amina
bgus ceritax
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status