Share

Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang
Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang
Penulis: Harmony^-

1. Kabur Dari Perjodohan

Penulis: Harmony^-
last update Tanggal publikasi: 2023-06-30 14:39:17

“Jangan menentang, Marsha!” desis sang ayah tiri, “ini demi keluarga kita!”

Wanita itu sontak menunduk.

Marsha bukannya ingin melawan, tapi sungguh tak nyaman dengan keputusan Bima  yang memaksanya untuk menikah dengan anak rekan bisnis pria itu.

“Ayah yakin untuk keluarga kita?” Marsha menghela napas panjang, “Ayah juga bilang begitu ketika hendak menjodohkan Kak Nada dan Kak Zahra, tapi apa mereka bahagia? Apa perusahaan ayah semakin maju?”

Ia tersenyum getir mengingat pria berusia 60 tahun itu selalu saja menggunakan alasan yang sama untuk menikahkan kedua kakak tirinya dan sekarang ia juga melakukan hal yang sama pada Marsha. Apa mereka komoditas yang bisa dijual untuk ‘keperluan bisnis’ keluarga?

“Marsha! Kamu jangan kurang ajar pada–”

Wajah Dena–ibu kandung Marsha–itu memerah karena melihat kelakuan anaknya yang kurang ajar pada suaminya. Untungnya, Bima dapat menahan sang istri.

Pria itu lalu bangkit dari tempatnya duduk dan mendekat pada Marsha. “Kamu sudah berusia 25 tahun.”

“Kamu juga belum memiliki kekasih. Jadi, Ayah membuatkan solusi yang baik untukmu yang lajang,” ucap Bima dengan nada menekan, “kamu tidak mau menjadi perawan tua, kan?”

Dengan air mata yang masih menggenang di ujung matanya, Marsha menggeleng.

Tapi, ia pun tak ingin bernasib sama dengan saudari-saudarinya itu yang memiliki suami sukses dan tampan, tapi tukang selingkuh. Padahal, mereka sudah memiliki putri yang lucu dan cerdas.

“Kenapa?” tegas Bima pada putri tirinya itu menahan marah.

“Hanya enggan,” ucapnya tidak mau membuat pertengkaran ini semakin runyam, lalu bangkit dari kursinya. “Aku izin pergi.”

 

Hanya saja, langkah Marsha terhenti ketika merasakan panas di pipinya.

Sontak, ia menatap tak percaya pada Dena yang menamparnya.

Hanya demi mendukung lelaki di sampingnya, ibu kandung Marsha ini menamparnya? Padahal, dulu Dena tak pernah mau melihat dirinya menangis. Tapi, sekarang?

Merasa tak punya alasan untuk bertahan, Marsha lantas segera masuk ke dalam kamarnya.

Ia membereskan pakaian serta beberapa barang dengan cepat.

Sementara itu, Dena yang menyusul sang putri, begitu terkejut melihat tindakannya.

“Marsha!” bentaknya tak percaya. Rasa sesalnya saat menampar putrinya tadi hilang berganti amarah, “jika kamu angkat kaki dari rumah ini, kamu dan Mama tidak akan memiliki hubungan lagi.”

Marsha menatap mata sang Ibu cukup lama.

Melihat kesungguhan sang ibu, ia pun memejamkan mata, sebelum akhirnya bicara. “Ma, seharusnya Mama mengerti bagaimana rasanya kehilangan suami. Sakit, kan?”

“Aku tak ingin melihat anakku sepertiku saat melihat Mama ditinggal Ayah. Aku harap Mama sedikit mengerti keputusanku. Maafkan aku.”

Marsha memijat kepalanya pening ketika teringat kejadian tadi pagi.

Setelah bertengkar hebat dengan kedua orang tuanya dan membawa keluar barang-barangnya dengan gegabah, Marsha kini tak bisa pulang ke rumah dan beristirahat di kamar yang nyaman itu. Padahal, ia butuh istirahat setelah menangani pasien-pasiennya di rumah sakit.

Kala sedang berpikir, Marsha tak sengaja melihat asrama perawat di balik jendela kaca tempatnya berdiri. Sebuah ide gila pun muncul.

“Apa aku tidur di sana saja?” gumam perempuan itu, “Sehari tidur di ranjang keras, tak apalah. Daripada jadi gelandangan.”

Tak lama, Marsha pun berjalan ke gedung yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari gedung utama RS. Zahara.

Ia pun masuk ke sana dan tidur dalam keadaan lampu mati.

Hanya saja, setelah tidur beberapa saat, Marsha tiba-tiba merasa ditindih sesuatu yang berat.

Dengusan napas seseorang mulai terdengar samar di telinganya.

Awalnya, Marsha berpikir bahwa ia sedang ketindihan atau sleep paralysis akibat terlalu lelah. Namun anehnya, ia merasa semakin bergairah.

Bahkan, seolah ada sentuhan panas dari tangan kekar yang memeluk tubuhnya.

Ia juga merasakan dinginnya malam seolah sedang telanjang dan tak lama, tubuh bagian bawah Marsha tiba-tiba terasa sakit–seperti ada sesuatu yang keras menusuknya di bawah sana.

Marsha sontak membuka mata.

Ia seketika sadar dan menemukan seorang lelaki mengurungnya di bawah tubuh kurusnya.

"Ah ... tunggu, a-apa ini?!!" erang Marsha, mulai kesakitan. Ia meronta mencoba melepaskan diri, tetapi tenaga pria itu lebih besar.

"Maafkan aku, tapi tubuhku panas sekali.” Suara pria itu terdengar berat dengan napas yang semakin tak teratur, “aku tak bisa menahannya.”

Marsha, yang kini dapat melihat wajah tampan pria itu lebih jelas, sedikit malu. Tampak sekali pria itu menikmati permainan mereka.

“S-siapa kamu?” cicit Marsha–mulai kehilangan kendali napasnya.

Alih-alih menjawab, pria itu tetap melanjutkan permainannya, lalu berkata, “Saya yakin ini adalah pengalaman pertama Anda.”

“Tapi, saya janji akan membuat permainan ini berkesan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Iin Romita
Haaa. ... Nikmatilah malam ini bersamanya ..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   179. Aku Selalu Di sisimu

    “Tolong selamatkan istriku, aku tidak bisa hidup tanpanya.”Marsha terdiam. Samar-samar suara suaminya yang merintih di tengah isak tangisnya, membuat hati Marsha merasa pilu. Namun kasih sayang terhadap buah hatinya lebih besar dari cinta pada suaminya. Kini bukan Derren yang menjadi dunianya, namun bayi mungil yang bahkan belum pernah dia lihat sekali pun.Zahra memasuki ruangan. Menatap Marsha yang merenung dalam lamunan panjang yang terasa berat. “Kamu mendengarnya, Marsha. Suamimu ingin kamu hidup.”Marsha melirik pelan. Suara kelam Zahra membuatnya menangis. Tatapan sendu yang senantiasa pilu itu terasa menyesakkan untuknya. Marsha tahu, banyak orang mengharapkan pilihan untuk melanjutkan hidup dan melepas bayinya. Namun ibu mana yang cukup gila untuk melakukan itu?“Tolong selamatkan anakku saja, Zahra.” Marsha tampak putus asa. Senyum pudar yang dia sanjung dengan Di setiap keputusannya selalu di tentang suaminya. Namun dia akan tetap memohon keselamatan bayinya.Lantas, dia

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   178. Permohonan

    Anna mendorong kursi roda Lea menuju tempat chek out bandara. Mereka siap pergi meninggalkan negara ini.Marsha hanya diam menatap keduanya berjalan menjauh. Dia mengantar kedua wanita itu ke sini. Mengemudikan mobilnya secara pribadi dan mengucapkan perpisahan dengan benar.“Terima kasih sudah mengantar istri dan anakku.” Seorang lelaki berusia 60 tahun berdiri di sampingnya dengan tatapan dingin—ciri khas orang tersebut.Wajah tampan yang eksotis selalu membuat Marsha merasa lelaki ini tidak akan pernah pantas di panggil “kakek” nantinya.“Senang bisa membantu Anda, Tuan Sean.”Lelaki itu mengukir sedikit senyum, menatap perut Marsha yang terlihat aneh hari ini. “Dan selamat atas kehamilanmu.”Marsha membulatkan mata, menurunkan pandangan dengan cepat sambil mengusap perutnya yang sedikit membesar.“Tidak Tuan.” Marsha menggeleng kuat. “Saya tidak mengandung. Sungguh.”Sean hanya terkekeh, menepuk pund

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   177. Salam Perpisahan

    “Nona, bolehkah saya masuk ke dalam?” Mina berdiri di depan pintu bersama Agam. Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah mereka. Sebentar lagi mereka akan mengabarkan kabar baik walau di sertai kabar buruk.“Masuk saja. Aku sudah ganti pakaian,” ucap Marsha dari dalam kamarnya dengan suara lantang.Mina membuka pintu, melihat Tuannya sedang duduk di depan meja rias dengan membuat wajahnya semakin cantik dengan riasan tipis.“Ada apa dengan raut wajah itu?” Marsha melihat wajah kedua sekretaris itu dari pantulan cermin dengan wajah heran. Wajah sumringah mereka membuat senyumannya ikut terbit, walau sedikit.“Kami mendapatkan informasi jika Tuan Hardy telah kembali di tangkap setelah kemarin berhasil kabur dari penjara.” Mina membuka omongan.Agam yang berdiri di sebelahnya hanya mengangguk-angguk. Namun berita kedua yang akan dia sampaikan bisa membuat senyum senang Marsha hilang.“Namun ada berita buruk yang menyertai itu.” Agam berbicara dengan wajah serius, membuat Marsha menat

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   176. Jatah?

    Marsha duduk bersandar di belakang kursi penumpang. Sementara Derren yang duduk di sampingnya hanya bisa menghela napas lelah beberapa kali sambil melihat penampilan dirinya yang kacau setelah di jambak istrinya sendiri sebagai ‘korban salah target’.“Rambutku pitak.” Gumam Derren melihat sebagian sisi rambutnya yang sedikit gundul.Sementara Marsha yang mendengarnya hanya memalingkan wajahnya, pura-pura tidak mendengarnya.“Aku harap seseorang bertanggung jawab. Bukannya malah memalingkan wajah dan tidak meminta maaf sama sekali. Bahkan bersikap acuh tak acuh.” Sindir Derren.Marsha masih diam. Dia tidak ingin mendengar dan memilih memejamkan mata.Lelaki itu diam. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Suasana canggung dan mencengkram itu membuat Marsha tidak nyaman. Dia segera membuka mata dan melirik apa yang di lakukan suaminya. Dia menemukan wajah sendu Derren dari pantulan kaca jendela mobil di

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   175. Sedikit Keributan

    Gama berdiri di depan kantornya dengan menggenggam papan nama miliknya dengan tatapan sendu.Di belakangnya, Agam, berdiri menunggunya dengan sabar sambil membawa sebuah kotak lumayan besar dalam pelukannya. “Anda tidak ingin pergi?” tanya Agam, membenarkan genggamannya pada kotak besar yang sedikit merosot karena kelebihan muatan. “Saya membawa benda yang cukup berat. Bisakah Anda menepi?” Mendengar itu, dengan wajah memelas Gama menepi dari depan pintu, bahkan membantu Agam membuka bilik pintu lebih lebar agar lelaki itu bisa masuk dengan mudah.“Marsha akan segera pindah ke kantor ini, kan? Kapan??” tanya Gama, lesu. Agam melirik sekilas ke arah Gama yang kembali berdiri menghalangi jalan di ambang pintu. “Entah. Mungkin dia akan segera sampai. Mungkin juga sore hari baru bisa mampir. Kenapa? Anda terlihat gelisah. Bukannya perjanjiannya berjalan lancar kemarin?” Agam menaikkan sebelah alisnya. “Jangan bilang Anda baru menyesalinya

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   174. Tawaran

    Marsha duduk bersantai di teras samping rumahnya dengan membaca beberapa dokumen sebelum akhirnya Derren datang membawa sebuah amplop dan memberikannya pada Marsha.“Sha, coba lihat apa yang aku dapatkan dari pelelangan yang aku hadiri hari ini.” Derren memberikan benda itu ke tangan istrinya.Marsha menaikkan sebelah alisnya sambil menerima benda itu. “Kamu itu orang sipil tapi terus-menerus datang ke tempat ilegal seperti itu. Apa tidak bahaya? Jika Tuan Bridam tahu, kamu akan mendapatkan masalah.”Derren hanya mengangkat acuh bahunya dan duduk di bangku yang berseberangan dengan Marsha, melihat istrinya membuka dokumen itu dan membulatkan matanya dengan sempurna.“Astaga.” Marsha menatap Derren dengan senyum kaku. “Bagaimana bisa kamu mendapat benda sebagus ini? Apakah ini untukku?”Derren mengangguk mantap. “Aku mendapatkannya dengan susah payah. Mengingat benda itu adalah barang berharga karena perusahaannya masuk ke dalam perusahaan raksasa ke-6 di dunia.”Marsha mengangguk-angg

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   148. Kasus Penculikan

    “Apa yang akan kamu lakukan, Marsha?” Tiga orang yang sedang di sekap bersama dengannya bertanya dengan kompak. Bahkan mereka yang di tutup matanya, mengarahkan pandangan mereka tepat ke arah Marsha berada--tanpa meleset sedikit pun. Marsha yang mendengar itu hanya menghela na

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   149. Mereka Berhasil Di Temukan

    Tok ... tok .... Seorang lelaki berjalan masuk ke dalam kamar Derren. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah masam rekannya, Daniel, yang terlihat sangat cemas sampai ke taraf gelisah. Sementara lelaki yang ia tahu adalah suami Nona mereka, Marsha, juga memasang wajah tegang nan cemas.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   160. Misi Mandiri

    Marsha diam sepanjang hari. Tak ada yang membuatnya melakukan aktivitas. Ia hanya diam di kamarnya dan menikmati waktu membacanya dengan santai. Ponselnya juga sudah di matikan karena bosan menjawab pertanyaan teman terdekatnya tentang bagaimana kondisinya saat ini. “Nona.” Da

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   155. Senjata Nyata

    “Di mana Marsha? Ia baik-baik saja, kan?” tanya Lea, begitu melihat Derren dan Daniel duduk di depan pintu tempat Marsha mendapat perawatan intensif. “Di dalam. Keadaannya semakin membaik dari sejam yang lalu. Kau tak perlu khawatir.” Derren menjelaskan. Matanya yang sembab dan sayu ter

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status