Share

SLTC - 032

Penulis: Haifa Dinantee
last update Tanggal publikasi: 2023-11-17 11:06:40

“Tunggu! Saya belum sepenuhnya faham dengan maksud perkataan Ibu. Tadi Ibu bilang kalau suami saya adalah... bos besar?” tanya Sova dengan memicingkan matanya.

“Iya, Nyonya,” sahut bu Ais yang merasa serba salah.

“Hehehehe... “ Sova terkekeh saat mendengar ucapan dari bu Ais. “Jangan ngadi-ngadi, Bu. Aneh rasanya, suami saya yang tukang ojol bisa jadi bos besar dalam semalam. Simsalabim... boommmbbb,” kolah Sova seraya menggerakkan tangan kanannya seolah seorang peri yang sedang memantrai s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   116. Pengkhianat itu muncul

    Malam itu, langit di atas gudang tua masih gelap tanpa bintang. Udara dingin menyusup di sela-sela papan kayu yang lapuk, membawa bau debu, minyak tanah, dan besi berkarat. Roy berdiri diam di antara keributan yang perlahan mereda. Napasnya masih berat, dadanya naik turun menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Darah dari luka di pelipisnya menetes perlahan ke pipi, lalu jatuh ke lantai berdebu. Di depannya, Rian sudah tergeletak tak berdaya dengan tangan yang patah, sementara dua petugas polisi memborgolnya dan membawanya keluar. Di sudut ruangan, Beni sedang ditolong oleh paramedis. Wajahnya pucat, tubuhnya penuh memar, tapi matanya perlahan terbuka. Saat ia melihat Roy, ia tersenyum tipis—senyum lega yang hampir tak terlihat. Roy membalasnya dengan anggukan kecil. “Kau aman, Pak,” bisik Beni pelan. Roy mengangguk lagi, tapi hatinya belum benar-benar tenang. Bayangan tentang Sova dan Rafa masih memenuhi kepalanya. Selama per

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   115. Akhirnya

    "Jangan pedulikan saya, pak Roy! Ingat bu Sova di rumah," tolak Beni dengan suara yang terdengar payah.Roy mengangguk pelan seolah memberi isyarat bahwa ia ada di sana, bahwa ia datang untuk menyelamatkan Beni. "Lepaskan dia. Urusan ini hanya antara kau dan aku. Dia tidak ada hubungannya sama sekali." Rian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa keras, suaranya bergema di dinding gudang kosong itu. "Ah, Roy... kau tidak pernah pandai bernegosiasi. Kau pikir aku bodoh? Jika aku melepaskan dia sekarang, kau akan membunuhku di tempat ini, bukan? Tidak, tidak. Dia adalah jaminan terbaikku. Dan kau... kau adalah kunci dari segalanya." Rian melangkah lebih dekat lagi, matanya menyala penuh kebencian. "Dengar baik-baik. Selama sembilan tahun ini aku bersembunyi, membangun kembali kekuasaanku, menyusup diam-diam. Aku tahu segalanya tentangmu—perusahaan barumu, rumah mewahmu, istri cantikmu, anakmu, bahkan Beni yang begitu setia kepada bos-nya. K

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   114. Memasuki Sarang Lawan

    Asap knalpot berputar liar di udara malam saat mobil Roy melesat semakin kencang, membelok tajam memasuki jalanan berbatu di pinggiran utara kota, daerah yang sepi, penuh bangunan tua yang terbengkalai, sisa-sisa pabrik tekstil yang sudah ditutup puluhan tahun lalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena amarah yang membakar setiap inci tubuhnya. Roy tersenyum smirk, pertanda bahwa semua masih bisa ia kendalikan, meskipun rasa takut akan kehilangan Sova membuncah. Bukan tanpa perhitungan ia mendatangi tempat ini, tapi rencana yang sudah ia susun runtuh seketika saat pertahanan terakhirnya diusik. Di balik keningnya yang berkerut, bayangan wajah Sova yang menangis, suara tangisan bayinya, dan ketakutan di mata mereka terus berputar tanpa henti. Sosok lembut dan damai yang ia bangun selama bertahun-tahun kini runtuh seketika; pria yang dulu dikenal sebagai pemimpin kejam dan tak kenal ampun, sosok yang ia kubur dalam-dalam kini bangkit kembali,

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   113. Terjebak

    "Ayo!" pinta Hilda agar Sova terus bergerak masuk ke dalam kamar. Sova pun mengikutinya. Sova terdiam di sofa kamar, sementara Hilda memeriksa setiap jendela, kemudian menutup gordennya. "Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres." Hilda duduk di sofa yang bersebelahan dengan Sova. "Maksudnya?" "Rumah ini sudah gak aman," sahut Hilda. "Sova, ingat, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh keluar dari sini. Setidaknya, kita bisa lebih aman di dalam. Cepat hubungi Roy!" titah Hilda. "Kang Roy tadi pergi dengan tergesa-gesa, wajahnya sangat serius. Dia bilang ada urusan pekerjaan, tapi... aku merasa ini ada hubungannya dengan Beni yang hilang." Hilda mengangguk pelan, matanya menatap ke arah jendela-jendela besar yang tertutup tirai tebal. Ia juga tahu sedikit banyak tentang masa lalu Roy, hal-hal yang tidak pernah dibicarakan secara terang-terangan namun terasa berat di bahu pria itu. "Tenanglah, Roy orang yang hebat, dia pasti bisa mengatasi semuanya. Selama ini dia selalu bisa men

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   112. Harus Pergi

    Roy mematikan layar ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya tampak menonjol. Pesan ancaman itu tercetak jelas di benaknya, setiap kata seolah berubah menjadi pisau yang menusuk tajam ke dalam kesadarannya. Ia tahu betul siapa pengirim pesan itu—orang yang mengenal dirinya luar dalam, orang yang paham betul apa yang paling ia takuti, dan orang yang sengaja memanfaatkan kelemahan terbesarnya untuk menjeratnya. "Kang... siapa yang menelepon? Ada apa?" suara Sova terdengar pelan dan cemas, ia melangkah mendekat, tangannya yang lembut menyentuh lengan Roy dengan penuh kekhawatiran. Matanya yang bening menatap lurus ke manik mata suaminya, berusaha membaca apa yang sedang terjadi di balik raut wajah yang berubah pucat itu. Roy menoleh perlahan, menatap wajah wanita yang telah mengubah seluruh hidupnya. Wanita yang ia nikahi hanya sebagai sarana untuk mewariskan segala hartanya, namun kini telah menjadi satu-satunya alasan ia ingin tetap

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   111. Richard

    Roy menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya dwngan sedikit kasar.Suara itu adalah suara Richard. Bos mafia yang dulu berada di bawah kendalinya. “Richard… ini saya” jawab Roy dengan suara yang tenang namun tegas. Ada jeda beberapa detik di seberang sana, seolah orang yang dipanggil itu sedang terkejut sekaligus senang mendengar suara orang yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. “Bos Roy. Wah, sungguh keajaiban. Sekian purnama saya menunggu anda menghubungis saya, akhirnya hal itu tiba. Pasti ada masalah besar yang membuat anda memutuskan untuk memecah kesunyian ini, kan?” tanya Richard dengan nada yang terdengar antusias sekaligus penasaran. “Kamu benar. Saya butuh bantuanmu, Richard.""Dengan senang hati saya akan membantu. Maaf, karena saya menghentikan pengawasan dan perlindungan diam-diam terhadap anda karena permintaan anak buah anda saat itu," ucapnya membuka kisah lama. Sepeninggal Roy, Richard

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 054

    Sova membuka matanya perlahan. Rasanya lemas sekali, badannya pun terasa remuk. Tapi, ada satu hal yang begitu mengganjal pikirannya. “Bayiku?” tanyanya seraya membuka mata dengan lebar, dengan tangan mengusap perut yang masih rata. “Tenang! Tenang, Nona!” seseorang menenangkan Sova yang kin

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 053

    “Darah?” Sari menekan rasa paniknya, agar Sova bisa lebih tenang. Sari bertekad untuk membuka pintu toilet sambil mempersiapkan segala macam yang bisa saja terjadi. Krieett... Sari mengintip sedikit keluar. Netranya tak menemukan siapapun di luar. Sikap waspada ya semakin Ia tampakkan agar tak terli

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 052

    Sova tak bisa berpikir jernih saat mendengar suara perempuan dari nomor telepon Roy. Otaknya sudah traveling kemana-mana, apakah suaminya selingkuh? “Ya Tuhan, cobaan hidup macam apa ini?” lirihnya dalam hati, seraya menahan buliran bening yang ingin terjun bebas dari sudut matanya. Bi Ais tak bisa

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC -051

    “Katanya, hari ini pak Roy ada meeting.” Bu Ais mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh. “Ada calon apa baru... gitu, dari Suwiss. Ah, susah ngomongnya.” Bu Ais terkekeh sambil menepok mulutnya sendiri pelan. “Calon investor?” tanya Sova sambil menghapus air matanya. “Emmhhh... kayaknya tadi bukan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status