INICIAR SESIÓN“Ap- apa orang tuamu tidak salah mengundangku?” tanya Zevanya sebelum dia menjawab ajakan Jarreth.“Iya. Mereka memintaku mengajakmu. Bagaimana?”“Aku ... aku tidak tahu. Tapi kalau menurutmu bagaimana? Apakah kamu mau aku datang?”“Aku sangat mau. Tapi ... bagaimana denganmu? Kamu sendiri bagaimana? Aku tidak mau kamu terpaksa datang karena aku.”Zevanya jadi bingung. Ajakan orang tua Jarreth memang mengejutkan. Selain itu, dari Jarreth sendiri juga belum ada pengakuan apapun. Memang Jarreth banyak membantunya, tapi tidak sekalipun Jarreth mengatakan makan malam mereka adalah kencan.Juga, Jarreth tidak pernah mencoba mendekatinya dengan sikap-sikap yang romantis. Lalu, kedatangannya nanti sebagai apa?Kalau memang hanya teman, apakah ajakan ini tidak berlebihan?“Aku ... aku tidak tahu. Tapi aku merasa ini berlebihan, Jarreth. Kita kan- ...”Zevanya tak bisa menyelesaikan kata-katanya. itu akan terdengar seakan meminta Jarreth untuk memberi status pada pertemanan mereka.Sejujurnya,
Nyatanya, Zevanya tak bisa begitu saja mengenyahkan komentar-komentar itu dari pikirannya, seperti yang dia sampaikan pada Jarreth.Zevanya membereskan buku-buku piano yang akan mulai dia gunakan untuk di orchestra dengan pikiran yang melayang jauh.Kata-kata Morgan bahwa dia berasal dari selokan bau dan kotor mulai terngiang lagi di telinganya.Sungguh Morgan tak berperasaan. Mengatakan hal seperti itu, padahal dia adalah ibu dari anak-anaknya juga.Setengah darah Zara dan Zosia adalah darahnya. Kenapa Morgan bisa tega mengatainya seperti itu!Tapi semakin Zevanya melamunkan ini, semakin dia sadar tidak heran Morgan bisa mengupload video itu ke medsos dan membuat videonya viral dengan editan yang tidak benar.Semua karena Morgan memang tidak pernah mencintainya dan karena Morgan memang sejahat itu.Memikirkan ini membuat Zevanya menyesali pernikahannya dengan Morgan. Dan itu membawa pada rentetan penyesalan yang selanjutnya. Bahwa dia menyesali ketika dulu ibu tirinya memaksanya meni
>> Dia wanita, tapi yang di pikirannya hanya hasrat melulu! Tidak tahu malu!>> Sudah nikah tuh ya setia. Awalnya sehat, meski akhirnya lumpuh harusnya menemani. Sadar diri dong! Masa mau enaknya saja!Zevanya membaca komentar-komentar itu dengan hati terguncang. Bagaimana bisa jagad dunia maya secara bersamaan menghujatnya?Lalu yang lebih tak habis pikir adalah mereka semua menghujatnya dengan dasar pikiran yang licik dan salah.Kemarahan merambat di sekujur pembuluh nadi Zevanya hingga dia ingin melempar ponsel yang ada di tangannya.“Mami! Mami kenapa, Mi?” Zosia datang mendekat ketika melihat sang mami termenung dengan memandangi ponsel. Dia sudah beberapa kali mengajak bicara tapi Zevanya seperti tidak mendengar.Maka dari itu Zosia mendekat dan malah melihat wajah maminya yang pucat.“Mi ... mami kenapa?” tanyanya dengan wajah polos.Zevanya mengerjap dan menatapnay. “Eh? Nggak ... nggak. Mami nggak apa-apa.”Zevanya bahkan lupa dengan Cecilia yang masih menunggunya di ujung pon
Bianca hampir melotot mendengar penjelasan wartawan di ujung teleponnya.Sedangkan bulu kuduknya sudah lebih dulu merinding.Tapi dia masih bersikukuh.“Aku tidak mau tahu! Dia menghapus 100 unggahan kalian, maka kalian harus mengunggah 1000! Begitu terus!”“Astaga!!! Gimana caranya?”“Mana kutahu! Kalian yang cari tahu caranya dong!”“Tapi, Nona ... kami ini membeli darimu, harusnya kami yang meminta tanggung jawab darimu. Kami sudah bayar videonya, tapi tidak bisa viral. Jangankan viral, tayang saja tidak bisa. Harusnya kami meminta pengembalian dana darimu!”Bianca tersadar bahwa dia bukanlah boss dari wartawan ini. Dia pun terdiam.“Kami juga maunya video ini viral, bukan malah dicekal!”“Ya, ya, sudahlah kalau begitu. Sekarang pikirkan saja bagaimana caranya kalian tidak rugi sudah membeli video dariku. Aku sendiri tidak akan memberikan pengembalian uang!”Telepon pun ditutup dengan ketidakpuasan dari kedua belah pihak.Dan apa yang dipercakapkan Bianca terdengar oleh Morgan.“Ke
“Hmm ... apa ya?” Zevanya berpikir keras.Tapi tidak bisa menemukan jawabannya.Jadi dia berkata, “Aku tidak tahu. Memangnya kenapa?”Lalu di sinilah semua itu menjadi jebakan.Jarreth memaparkan, “Hidupku tetap manis meskipun semua ini terjadi karena ... ada kamu sekarang di dekatku.”Zevanya terbengong. Lalu merona.Jarreth menambahkan, “Kamu yang manis.”Lalu dia tersenyum.Zevanya yang merasa salah tingkah pun memukuli lengan Jarreth.“Kamu ini ... sejak kapan pandai merayu?”Mendengar itu jarreth mengernyit. “Siapa yang sedang merayu?”Rona di pipi Zevanya pun kembali. Kali ini lebih merah dari sebelumnya.‘Benar juga ya, kenapa aku malah bilang dia merayu?’ batin Zevanya ingin menangis karena telah salah kaprah dan menjadi malu.Setelah malam semakin larut dan mereka telah berbincang cukup panjang lebar, Jarreth pun pamit untuk pulang.Zevanya mengantar Jarreth hingga ke mobil.Sebelum masuk, Jarreth berbalik lagi dan berkata pada Zevanya, “Kamu masuk, biar aku pulang.”“Hmm...”
Seperti halnya furnitur lainnya di rumah itu yang sebagian besar tetap dibiarkan sama, begitu juga halnya dengan jendela yang ada di dapur.Jendela itu tetap dibiarkan seperti semula.Bagi yang tidak tahu, jendela itu tidak terlihat rusak. Tapi bagi yang mengetahuinya, maka akan menyadari jendela itu belum diperbaiki.Kenangan-kenangan di masa lalu pun menghambur di benak Zevanya dengan begitu liarnya.Bagaimana dulu dialah yang mengajak Jarreth ke rumah ini. lalu dia juga yang menarik Jarreth mengikutinya memasuki rumah lewat jendela yang rusak ini.Lalu bagaimana dia menuntun Jarreth pada kamar ibunya, lalu kamar tidurnya sendiri.Dia yang menuntun jalan. Itu juga berarti ... dia yang memulai.Memikirkan ini wajah Zevanya pun merona malu.Tak ada siapapun yang bisa dia salahkan, apalagi Jarreth karena ternyata masih segar di ingatannya, dia lah yang memulai semua kisah panas mereka yang merupakan kesalahan terbesar.&l







