로그인Bima melangkah naik ke lantai dua rumahnya. Setibanya di depan pintu kamar, ia mengetuk pintu itu dengan perlahan.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang terdengar dari balik pintu. Tanpa menunggu ijin, Bima memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci.Bima menghela napas panjang, saat melihat di atas tempat tidur bernuansa merah muda itu, Nabila sedang meringkuk di bawah selimut, memeluk boneka beruang pemberian Bima tahun lalu."Sayang .... " Panggilan yang biasa dijawab dengan suara ceria, kini diabaikan begitu saja oleh Nabila."Papa mengerti perasaan kamu Nak." Perlahan Bima melangkah mendekati ranjang kemudian duduk di tepi. "Kamu pasti sedih dan kecewa, itu wajar Sayang, tapi kamu harus tahu satu hal .... ""Papa pergi aja!" teriak Nabila dengan suara parau.Bima menghela napas panjang, mengusap punggung kecil yang bergetar itu. "Kakak Nabila ...."Isakan itu semakin kencang. "Papa pergi aja! Cepat pergi! Papa urus aja bayi laki-laki itu. Papa 'kan suka
Pada jam makan malam, Nila dan Bima sudah menyiapkan diri untuk memberitahu kabar bahagia kehamilan itu pada Nabila.Setelah makanan spesial terhidang di atas meja, Nila memanggil anak sambungnya yang masih berada di dalam kamar.Kedatangan Nabila disambut senyum manis sang ayah ... Bima, melebarkan kedua tangan, menyambut pelukan anak Kesayangan."Kesayangan Papa. Kamu sedang apa di kamar tadi? Kok baru keluar?" "Aku lagi belajar matematika Pa. Besok kan ada ujian harian. Aku mau dapat nilai bagus, biar bisa dapat hadiah dari Mami Nila." Tatapan Nabila tertuju pada wanita cantik_sang Ibu sambung. Nila selalu bisa mengambil hati Nabila, memanjakan gadis kecil itu dengan memberikan hadiah-hadiah kecil atas pencapaian yang diraihnya. "Kalau begitu, kamu tunjukkan kamu bisa menjadi anak yang pintar dan membanggakan ya." Bima melepas pelukan, mengecup lembut kening Nabila. "Oke, aku janji aku bakal jadi anak yang pintar dan membanggakan untuk kalian berdua. Dan untuk Mama juga," senyu
Sebulan berlalu begitu cepat. Pagi hari seperti biasa, Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.Saat beranjak dari tempat tidur, Nila merasakan kepalanya pusing, dan perutnya agak mual.Nila terdiam sejenak. Matanya beralih pada kalender duduk yang ada di atas meja.Di sana lingkaran merah yang terlihat, sudah terlewat beberapa hari. Di tanggal 10 hari terakhir ia datang bulan, tetapi sudah hampir tanggal 15 ia belum juga kedatangan tamu bulanan."Apa mungkin?" Tak ingin menebak-nebak, Nila mengambil testpack dari dalam laci meja dan masuk ke dalam kamar mandi.Setelah mengikuti semua arahan dalam kartu panduan itu, Nila menunggu beberapa menit sebelum membukanya.Nila menatap benda persegi panjang di tangannya dengan jantung yang bertalu hebat.Dua garis merah terlihat jelas saat ia membuka alat tes kehamilan it
"Ahhh!"Suara desahan panjang terdengar di ruang kamar bercahaya temaram itu. Suara yang lolos dari mulut Nila, memecah keheningan kamar. "Mas! Ahhh!" Nila memejamkan kedua mata sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.Khawatir wanitanya melukai bibir sendiri, Bima menghentikan kegiatan gilanya yang tengah menjilat bagian V sang Istri."Nikmati Sayang. Malam ini aku akan membuatmu merasakan apa yang tidak pernah kamu dapatkan dari Yanto," ucap Bima dengan senyuman mesum."Cukup ahhh Mas .... " rengek Nila di sela napasnya yang memburu. Bulir bening menetes di sudut matanya.Bukan karena sakit, melainkan karena rasa syukur yang meluap. Penghinaan Yanto di masa lalu tentang kekurangan fisiknya seketika lebur oleh cara Bima memujanya.Bima menegakkan kepala, wajahnya kemerahan dengan peluh yang membasahi dahi.Ia berpindah posisi, merangkak naik hingga wajahnya sejajar dengan Nila, lalu mengecup lembut air mata di pipi istrinya. "Kenapa menangis, Sayang? Apa aku terlalu kasar?"Nila
Satu minggu berlalu dengan sangat cepat. Hari ini adalah hari pernikahan Bima dan Nila.Bima berdiri di depan cermin, merapikan dasi putihnya. Nabila, yang mengenakan gaun mungil berwarna senada, berlari masuk dan memeluk kaki sang ayah."Papa! Mami Nila cantik sekali! Seperti bidadari!" seru Nabila riang.Bima berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Nabila, mengusap pipi putrinya dengan lembut. "Iya, sayang. Mulai hari ini, Nabila punya Mami yang sah. Nabila senang?""Senang banget! Nabila janji nggak akan nakal lagi dan nangis lagi."Pak Hermawan masuk ke ruangan, terlihat jauh lebih segar dan bahagia. "Sudah siap, Cucuku? Semua tamu penting sudah menunggu. Para kolega dari luar negeri pun sudah hadir."Bima berdiri tegak, menggenggam tangan kakeknya. "Siap, Kek. Terima kasih sudah mengembalikan harga diri keluarga kita."Ija
Sama seperti Yuni yang tenggelam dalam penyesalan, di dinding penjara yang lembap dan berbau pesing menjadi saksi bisu hancurnya hidup Yanto.Pria yang dulunya merasa paling berkuasa saat melayangkan tangan ke wajah Nila itu, kini meringkuk seperti tikus di sudut sel yang gelap.Hukuman lima belas tahun penjara bukan hanya sekadar angka di atas kertas vonis.Baginya, setiap detik di dalam sana adalah neraka yang nyata. Di dalam sel nomor 402 itu, Yanto bukanlah siapa-siapa. Dia berada di kasta terendah.Narapidana kasus KDRT. Di dunia hitam penjara, penyiksa wanita dianggap lebih rendah daripada kotoran sapi."Woi, Tukang Pukul Perempuan! Bangun!" teriak sebuah suara parau yang menggelegar.Seorang pria bertubuh raksasa dengan tato naga yang melilit lehernya, yang biasa dipanggil Bang Jalu, menendang tulang kering Yanto dengan sepatu botnya yang keras.
Setelah Nabila tenang dan kembali tidur, Nila melangkah pelan-pelan keluar dari kamar, menemui Bima yang duduk termenung di ruang tamu.Tatapan pria itu kosong, dengan wajah muram. Sesekali Bima menghela napas panjang, sambil memutar jam yang melingkar di pergelangan tangannya.Nila menghentikan la
Di dalam ruang kerjanya, Robby mengemasi meja dengan tergesa-gesa. Matanya mengamati pintu, takut tiba-tiba istrinya datang. Sesekali ia mengusap keringat di kening. Bulir bening itu terus mengalir, meski di dalam ruangan yang sejuk.Detak jantungnya berdebar kian cepat dengan tangan dan kaki yang
Mendengar suara sahutan dari luar kamar, Nila mengedarkan pandangan ke seluruh ruang bercahaya kemerahan itu. Tak ada jendela, ataupun ventilasi udara. Bagaimana caranya ia kabur? Sementara di luar sana pasti banyak orang yang menjaga kamar ini.Suara serak dan bergema pria di luar sana terdengar
Selama satu jam menunggu, Bima dihubungi anak buahnya. Orang yang diperintah mencari tahu tentang Brama itu mengirim nomor telepon seseorang.Bima menghubungi nomor telepon itu, dan berbicara pada seorang laki-laki di ujung sambungan."Selamat sore. Apa benar saya sedang berbicara dengan Pak Brama?







