مشاركة

bab 4

مؤلف: Gafa author
last update تاريخ النشر: 2026-09-07 14:38:51

"Nyonya, cukup! Tolong, jangan sakiti bayi yang ada dalam kandungan Nyonya!" seru pelayan tua itu dengan suara bergetar. Matanya membelalak panik melihat jemari Rosemary yang meremas perutnya sendiri begitu keras, seolah ingin mencabut kehidupan yang baru saja bersemi di dalam rahimnya.

"Kau pikir bayi ini akan hidup bahagia dalam pernikahan busuk seperti ini?!" jerit Rosemary histeris. Air mata hangat menetes deras melewati pipinya yang memerah, meninggalkan jejak kepedulian yang hancur berkeping-keping. "Dia tidak akan pernah bahagia, Bibi! Dia hanya akan menderita, tumbuh dewasa sambil terus disakiti dan dimanfaatkan oleh ayahnya sendiri! Bayi ini hanya dijadikan alat balas dendam!"

"Nyonya, tenanglah sebentar! Tolong dengarkan Bibi!"

Pelayan tua itu merogoh saku celemeknya dengan jemari yang gemetar hebat, menarik sebuah alat suntik steril yang telah disiapkan atas perintah tegas dari Calvin sebelumnya. Dengan cekatan namun penuh kehati-hatian, pelayan itu menusukkan jarum halus ke lengan atas Rosemary dan menekan pendorongnya.

Obat penenang dosis terukur mengalir cepat masuk ke dalam pembuluh darah Rosemary. Dalam hitungan detik, sensasi dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Ketegangan pada otot-otot Rosemary perlahan menyusut, merampas seluruh tenaga yang tersisa di dalam dirinya. Tubuh wanita itu melemah, terhuyung roboh ke atas kasur empuk yang kini terasa seperti sangkar besi. Pandangannya mulai kabur, namun kobaran amarah di matanya sama sekali belum padam.

"Bibi..." bisik Rosemary parau, suaranya kini terdengar begitu rapuh dan berat saat kepalanya terkulai di atas bantal. "Aku mau cerai... Aku tidak ingin dia terus-menerus menyakitiku..."

Pelayan tua itu menghembuskan napas lega melihat kondisi Rosemary yang mulai tenang secara fisik. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh sang majikan muda, lalu duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang dipenuhi rasa iba.

"Nyonya, bersabarlah sebentar," bujuk pelayan itu dengan nada suara yang lembut, mengusap pelan rambut Rosemary yang berantakan. "Tuan pasti akan kembali menyayangi Anda seperti dulu. Cinta Tuan Calvin pada Nyonya itu nyata."

Rosemary tertawa sinis, sebuah kekehan lemah yang terdengar begitu menyedihkan. "Menyayangiku? Apa Bibi tidak dengar sendiri percakapannya tadi?! Dia hanya ingin balas dendam padaku! Selama tiga tahun ini, seluruh perhatian dan kasih sayangnya tak lebih dari racun berbalut madu!"

"Nyonya, percayalah pada Bibi... Tuan tidak akan pernah tega menyakiti Nyonya sejauh itu," pelayan itu meyakinkan, matanya memancarkan ketulusan yang polos.

"Cukup, Bi! Jangan membela pria iblis itu lagi!" potong Rosemary, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan untuk menegaskan keinginannya. "Aku mau cerai! Aku tidak sudi menetap satu detik pun di rumah terkutuk ini!"

"Nyonya, tolong percayalah pada Bibi," pelayan itu memegang jemari Rosemary yang terasa dingin. "Bibi sudah merawat Tuan Calvin sejak dia masih kecil, sejak dia masih mengenakan celana pendek. Bibi tahu betul bagaimana sifat aslinya. Dia adalah pria yang baik. Dia tidak akan tega menyakiti Nyonya secara sungguhan."

"Tidak tega?" bisik Rosemary, menyunggingkan senyum pahit penuh ironi. "Dia tidak tega? Bibi salah besar. Dia itu cuma sangat pandai bersandiwara! Aktor terbaik yang pernah ada di dunia ini!"

Rosemary memalingkan wajahnya ke arah dinding yang dingin, enggan berdebat lebih panjang dengan pelayan yang sudah terbutakan oleh rasa sayangnya pada sang majikan pria. Berbicara dengan orang yang terus membela penjahat hanya akan menambah beban sesak di dadanya.

Pelayan tua itu mendesah pelan, menyadari bahwa ucapan apa pun tidak akan mampu mengobati luka menganga di hati Rosemary saat ini. Setelah membenarkan letak selimut dan memastikan obat penenang bekerja sepenuhnya, pelayan itu berdiri lalu melangkah keluar kamar, mengunci pintu kayu tebal itu dari luar sesuai instruksi ketat dari Calvin.

Keheningan yang mencekam langsung menyergap kamar luas itu. Cahaya temaram dari lampu tidur memantulkan bayangan sunyi di langit-langit ruangan. Di atas ranjang, Rosemary memejamkan matanya rapat-rapat. Efek obat penenang membuat kelopak matanya terasa amat berat dan kepalanya berputar, tetapi pikirannya tetap menolak untuk menyerah. Kesadarannya terus berontak melawan pengaruh kimiawi yang mencoba menidurkannya.

*Aku tidak boleh menyerah di sini,* batin Rosemary membakar semangatnya sendiri dari dalam keheningan. *Aku tidak boleh membiarkan diriku dan anak ini menjadi piala kemenangan atas dendam gila pria itu. Aku harus cari cara untuk kabur dari sini.*

Dengan usaha yang sangat keras, Rosemary menggerakkan tangannya yang terasa seberat timah. Ia meraba-raba area di bawah bantal hingga jemarinya menyentuh permukaan dingin ponsel miliknya. Dengan perlahan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia menarik ponsel itu ke dalam dekapan selimut.

Layar ponsel menyala, memancarkan cahaya menyilaukan di kegelapan. Jarinya yang gemetar menggeser layar untuk membuka kunci sandi, lalu matanya tertuju pada sudut kanan atas layar. Tidak ada batang sinyal yang muncul di sana. Hanya ada ikon silang kecil bertuliskan *Tidak Ada Layanan*.

"Sial! Benar-benar tidak ada sinyal di ponselku!" umpat Rosemary pelan di balik giginya yang berkertak. Pria itu benar-benar telah memutus seluruh jaringan komunikasi, menjadikan kediaman megah ini sebuah penjara kedap udara yang sempurna.

Rosemary menggenggam ponselnya rapat-rapat, memeluk dada seraya memandangi langit-langit kamar dengan tatapan mata yang berkilat tajam oleh kebencian. Efek obat penenang lambat laun mulai menguasai kesadarannya, membuat sudut matanya mengantuk hebat, namun dendam yang kini membakar jiwanya justru semakin menyala-nyala.

"Calvin..." bisik Rosemary lirih di tengah napasnya yang mulai teratur dan berat. "Kau pikir aku akan membiarkan bayi ini lahir dengan selamat seperti yang kau inginkan? Kau pikir aku akan membiarkanmu menang dalam permainan kotor ini?"

Senyum dingin, penuh ancaman dan keputusasaan terukir di bibirnya yang pucat sebelum matanya benar-benar terpejam.

"Baiklah... kalau itu maumu, akan kubuat kau kecewa seumur hidupmu."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 12

    "Cepat jalan, jangan buang waktu lagi!" jerit Rosemary seraya menekan perutnya yang membuncit dan melangkah setengah berlari menembus rintik hujan yang mulai membasahi pelataran kafe.Pria berbadan tegap itu memegang payung hitam tinggi untuk melindungi Rosemary, lalu membukakan pintu penumpang depan sedan perak yang terparkir darurat di pinggir jalan. Tanpa memedulikan rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya atau denyut nyeri di pinggangnya, Rosemary menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil. Mesin mobil meraung keras, roda-rodanya berdecit tajam mengikis aspal basah sebelum kendaraan itu melesat cepat menembus kegelapan malam yang kian pekat.Pikiran Rosemary kacau-balau. Selama tiga bulan terakhir, ia telah membangun benteng pertahanan yang begitu kokoh di dalam hatinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa cintanya pada Calvin telah mati sepenuhnya, berganti menjadi kebencian dan rasa dingin yang tak tersentuh. Namun, mendengar kabar bahwa pria itu terbaring kritis di ambang kem

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 11

    "Jangan membuang waktu, masuk ke dalam mobil!" gertak pria berbadan tegap itu seraya mendorong tubuh Calvin secara kasar hingga pria itu terjerembet ke dalam jok belakang mobil sedan hitam tersebut.Pintu mobil langsung dibanting menutup dari luar dengan bunyi gemertak yang keras. Sebelum Calvin sempat memutar tubuh atau memprotes, dua orang pengawal lain di sisi kiri dan kanannya dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangannya menggunakan borgol besi yang dingin. Sedan hitam itu langsung menekan pedal gas dalam-dalam, melesat meninggalkan kawasan pantai yang tenang menuju arah jalan bebas hambatan.Calvin tidak berontak. Pria yang biasanya memancarkan aura dominan dan tak tersentuh itu kini hanya duduk bersandar dengan pasrah. Kepala dan kemejanya masih basah oleh air yang disiramkan Rosemary beberapa menit lalu. Tatapan matanya kosong, memandangi kaca jendela luar yang menampilkan deretan pohon kelapa yang kian menghilang. Jiwanya seolah telah tertinggal di dalam kafe kecil itu—di

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 10

    "Berani-beraninya kau menginjakan kaki di tempat ini!" jerit Rosemary seraya meraih teko kaca berisi air dingin di atas meja kasir dan menghempaskan isinya tepat ke wajah pria yang tengah berlutut di hadapannya.Air dingin membasahi wajah dan kemeja mahal yang kini tampak kusam milik Calvin. Pria itu tidak bergeming sedikit pun. Ia tidak menyapu air yang menetes dari ujung hidungnya, tidak pula berusaha membela diri. Matanya yang merah dan diliputi lingkaran hitam pekat tetap menatap lurus ke arah Rosemary—tatapan yang kini tidak lagi memancarkan keangkuhan atau kemurkaan, melainkan keputusasaan dan penyesalan yang begitu kelam.Lonceng pintu kafe yang berdenting pelan perlahan menghilang dari pendengaran Rosemary, digantikan oleh gemuruh jantungnya yang berdegup kencang. Seluruh ingatan buruk yang telah ia kubur rapat-rapat selama tiga bulan terakhir mendadak mencuat ke permukaan, meracuni udara sejuk pantai yang selama ini menyembuhkan lukanya."Rosemary... tolong," bisik Calvin den

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 9

    "Lepaskan tanganku, Calvin!" jerit Rosemary seraya menghentakkan lengannya sekuat tenaga, mencoba menghempaskan cengkeraman besi yang mengikat pergelangan tangannya.Suara gesekan kain dan napas yang memburu memecah keheningan malam di kamar yang remang itu. Calvin berdiri tegap dalam kegelapan, matanya menyala tajam dipenuhi amarah dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu. Cengkeramannya pada tangan Rosemary tidak mengendur sedikit pun, justru semakin mengetat hingga kulit pucat wanita itu memerah."Kau benar-benar tidak pernah kapok, Rosemary!" gertak Calvin dengan suara rendah yang bergetar. "Bahkan setelah tubuhmu hampir menyerah, setelah infus baru saja dicabut dari tanganmu, kau masih berpikiran untuk mencuri kunciku dan kabur?!""Lalu kau pikir aku akan diam saja menunggu dipotong-potong oleh iblis sepertimu?!" balas Rosemary menantang. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Calvin tanpa ada lagi sisa ketakutan. "Bunuh aku sekalian, Calvin! Bunuh aku dan anak ini jika ka

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 8

    "Pegang kepalanya, cepat!" bentak Davian seraya mendorong pintu kamar utama dengan sikunya, menuntun dua orang perawat yang berlari mengekor di belakangnya.Suasana di dalam kamar megah itu berubah menjadi kacau-balau. Calvin berdiri mematung di tepi ranjang dengan napas tersengal, menatap telapak tangannya sendiri yang dingin dan gemetar. Di atas kasur busa tebal itu, tubuh Rosemary terbaring kaku bagaikan mayat. Wajahnya yang sepucat kertas kontras dengan rambut hitamnya yang berantakan menjuntai di atas bantal.Davian bergegas mendekat, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Rosemary yang terasa sangat lemah dan terputus-putus. Tatapan matanya beralih menatap Calvin dengan kilatan amarah yang meluap-luap."Kau benar-benar gila, Calvin!" bentak Davian seraya menepis kasar tangan Calvin yang mencoba menyentuh kening Rosemary. "Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya! Tubuhnya dehidrasi berat, demamnya tinggi, dan kau masih saja mengurungnya seperti binatang?!""Aku tidak bermak

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 7

    "Ayo, Nyonya, telan sedikit lagi," bisik bibi pelayan dengan tangan bergetar, menyodorkan sendok berisi bubur gurih ke bibir Rosemary yang pucat.Rosemary tidak menolak. Ia membuka mulutnya perlahan, mengunyah dan menelan makanan itu tanpa bersuara. Tatapan matanya tidak lagi liar atau dipenuhi jeritan histeris seperti dua hari lalu. Ada ketenangan yang aneh memancar dari dirinya—sebuah ketenangan pasrah yang sengaja ia bangun sebagai topeng. Di dalam benaknya, setiap sendok bubur yang masuk ke dalam perutnya bukanlah bentuk ketundukan pada Calvin, melainkan bahan bakar. Ia membutuhkan tenaga. Ia harus mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya jika ingin keluar hidup-hidup dari neraka ini.Di sudut ruangan, dua orang pengawal berbadan tegap memperhatikan setiap gerak-gerik Rosemary dengan cermat. Melihat sang nyonya rumah kini bersikap kooperatif dan mau menghabiskan separuh porsi makanannya, ketegangan di wajah para penjaga itu perlahan mengendur. Laporan disampaikan kepada Calvin bahwa Ros

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status