مشاركة

bab 3

مؤلف: Gafa author
last update تاريخ النشر: 2026-09-07 14:37:25

"Rosemary, cukup! Jangan membuat masalah di rumah ini!" gertak Calvin dengan suara yang membahana, memotong kalimat istrinya secara kasar. Tatapan matanya yang kelam mengkilat penuh intimidasi, tidak ada lagi sisa kepedulian di sana.

Ia memalingkan wajahnya ke arah lorong dengan raut jengkel yang tak tertutupi. "Pelayan! Bawa Rosemary kembali ke kamarnya sekarang juga!"

Rosemary tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang lahir dari kehancuran hatinya yang paling dalam. Dada wanita itu membusung naik turun, menahan badai emosi yang siap meledak kapan saja. Air mata terus membasahi pipinya yang memerah akibat tamparan keras sebelumnya, namun tatapan matanya memancarkan kegetiran dan kebencian yang sama besarnya.

"Calvin, kau memang pria paling brengsek yang pernah aku temui!" jerit Rosemary dengan suara melengking dan parau. "Kau pikir aku ini apa, huh?! Kau pikir aku patung kayu yang tidak punya perasaan?! Selama tiga tahun ini aku mencintaimu dengan tulus, dan kau hanya menjadikanku boneka permainanmu! Tunggu saja... tunggu saja, aku akan membalas semua perbuatan biadabmu ini!"

Mendengar ancaman itu, Calvin bukannya takut, melainkan justru menyunggingkan senyum miring yang sangat meremehkan. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Rosemary dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan nada mengejek.

"Kau mau balas dendam padaku?" sahut Calvin dingin, kekehannya terdengar begitu beracun di telinga Rosemary. "Baiklah, silakan. Aku akan tunggu seperti apa pembalasan dendam dari wanita lemah sepertimu!"

Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada dua orang pelayan paruh baya yang berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan. Ketegangan yang menyelimuti ruangan itu membuat para pekerja rumah tangga tak berani menggerakkan satu otot pun.

"Kalian masih diam saja di sana?!" bentak Calvin dengan nada tinggi yang membuat para pelayan terperanjat kaget. "Apa perlu kuajarkan bagaimana caranya menyeret wanita ini kembali ke kamarnya?!"

Salah satu pelayan dengan cepat melangkah mendekati Rosemary sembari menundukkan kepala tajam-tajam, tak berani menatap mata sang majikan wanita yang sedang diselimuti kemurkaan.

"Nyonya... maafkan kami. Mari, mari kita kembali ke kamar sekarang," bisik pelayan itu dengan suara bergetar, memegang lembut lengan Rosemary untuk membimbingnya keluar dari ruang kerja Calvin.

Rosemary mencoba menghentakkan tangannya untuk melepaskan genggaman tersebut, namun tenaganya yang terkuras habis membuatnya tak berdaya. Saat kakinya diseret perlahan menelusuri lorong menuju kamarnya, ia memutar kepalanya, menatap Calvin yang masih berdiri dengan keangkuhannya di depan pintu.

"Calvin! Kau pria sialan! Aku membencimu sampai mati!" umpat Rosemary histeris, menyuarakan seluruh rasa sakit yang menggerogoti dadanya.

Calvin tak memedulikan makian tersebut. Ia menatap pelayan senior yang berdiri paling dekat dengannya, lalu memberikan instruksi dengan nada tegas dan mutlak tanpa kompromi.

"Bibi, dengarkan aku baik-baik," tegas Calvin, matanya menajam. "Jangan biarkan Rosemary melakukan hal konyol yang bisa menyakiti janin yang ada dalam kandungannya! Mulai hari ini, seluruh asupan makanannya harus terjamin dengan gizi terbaik agar kehamilannya tidak terganggu sedikit pun!"

Pelayan tua itu menatap Calvin dengan raut wajah ragu dan prihatin. Sebagai seorang wanita yang pernah mengandung, ia tahu betul bagaimana kondisi psikologis seorang ibu hamil sangat memengaruhi bayi di dalam kandungan.

"Tapi... tapi Tuan," potong pelayan itu ragu-ragu, mencoba memberanikan diri menyuarakan pendapatnya. "Seorang ibu hamil harus merasa bahagia dan tenang agar bayinya tumbuh sehat. Jika Nyonya terus terkunci dan tertekan seperti ini..."

"Apa perlu kuajarkan bagaimana cara merawat Rosemary?!" potong Calvin cepat dengan nada suara yang turun satu oktaf, terasa jauh lebih berbahaya dan mengancam. "Lakukan saja apa yang kuperintahkan tanpa perlu memberi nasihat padaku!"

Pelayan itu merinding ketakutan. "Baik, Tuan! Baik, saya mengerti!"

Tanpa membuang waktu lagi, pelayan itu bergegas pergi menyusul rekannya yang sedang menuntun Rosemary. Mereka membawa sang nyonya rumah kembali ke dalam kamar utamanya yang luas, namun kini terasa tak ubahnya seperti sebuah sel tahanan yang dingin dan mengisolasi.

Pintu kamar tebal itu ditutup rapat. Suara kunci diputar dari luar terdengar begitu jelas, mengunci seluruh akses keluar bagi Rosemary.

"Nyonya... mohon bersabar. Sementara waktu ini Anda harus nurut dan diam berada di dalam kamar ini demi kebaikan Anda sendiri," jelas pelayan itu lembut, mencoba menenangkan Rosemary yang terduduk lemas di tepi ranjang berseprai putih.

Rosemary mendongak, memandangi pelayan tersebut dengan tatapan mata yang menyalang tajam. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat menahan gelombang emosi yang belum mereda.

"Kalian pikir aku ini patung yang harus diam saja menurut pada perintah iblis itu?!" seru Rosemary dengan senyum sinis yang dipenuhi keputusasaan. Tangannya meremas kuat-kuat kain sprei di bawahnya, membayangkan wajah pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Ia mengepalkan jarinya rapat-rapat, menekan perutnya yang masih datar dengan tatapan yang penuh kepahitan.

"Tunggu saja..." bisik Rosemary dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk pelayan di dekatnya berdiri. "Tunggu saja! Aku akan buat bayi ini keguguran! Aku tidak akan pernah biarkan bayi ini lahir hanya untuk menjadi alat pembalasan dendam untuk pria sialan itu!”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 12

    "Cepat jalan, jangan buang waktu lagi!" jerit Rosemary seraya menekan perutnya yang membuncit dan melangkah setengah berlari menembus rintik hujan yang mulai membasahi pelataran kafe.Pria berbadan tegap itu memegang payung hitam tinggi untuk melindungi Rosemary, lalu membukakan pintu penumpang depan sedan perak yang terparkir darurat di pinggir jalan. Tanpa memedulikan rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya atau denyut nyeri di pinggangnya, Rosemary menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil. Mesin mobil meraung keras, roda-rodanya berdecit tajam mengikis aspal basah sebelum kendaraan itu melesat cepat menembus kegelapan malam yang kian pekat.Pikiran Rosemary kacau-balau. Selama tiga bulan terakhir, ia telah membangun benteng pertahanan yang begitu kokoh di dalam hatinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa cintanya pada Calvin telah mati sepenuhnya, berganti menjadi kebencian dan rasa dingin yang tak tersentuh. Namun, mendengar kabar bahwa pria itu terbaring kritis di ambang kem

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 11

    "Jangan membuang waktu, masuk ke dalam mobil!" gertak pria berbadan tegap itu seraya mendorong tubuh Calvin secara kasar hingga pria itu terjerembet ke dalam jok belakang mobil sedan hitam tersebut.Pintu mobil langsung dibanting menutup dari luar dengan bunyi gemertak yang keras. Sebelum Calvin sempat memutar tubuh atau memprotes, dua orang pengawal lain di sisi kiri dan kanannya dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangannya menggunakan borgol besi yang dingin. Sedan hitam itu langsung menekan pedal gas dalam-dalam, melesat meninggalkan kawasan pantai yang tenang menuju arah jalan bebas hambatan.Calvin tidak berontak. Pria yang biasanya memancarkan aura dominan dan tak tersentuh itu kini hanya duduk bersandar dengan pasrah. Kepala dan kemejanya masih basah oleh air yang disiramkan Rosemary beberapa menit lalu. Tatapan matanya kosong, memandangi kaca jendela luar yang menampilkan deretan pohon kelapa yang kian menghilang. Jiwanya seolah telah tertinggal di dalam kafe kecil itu—di

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 10

    "Berani-beraninya kau menginjakan kaki di tempat ini!" jerit Rosemary seraya meraih teko kaca berisi air dingin di atas meja kasir dan menghempaskan isinya tepat ke wajah pria yang tengah berlutut di hadapannya.Air dingin membasahi wajah dan kemeja mahal yang kini tampak kusam milik Calvin. Pria itu tidak bergeming sedikit pun. Ia tidak menyapu air yang menetes dari ujung hidungnya, tidak pula berusaha membela diri. Matanya yang merah dan diliputi lingkaran hitam pekat tetap menatap lurus ke arah Rosemary—tatapan yang kini tidak lagi memancarkan keangkuhan atau kemurkaan, melainkan keputusasaan dan penyesalan yang begitu kelam.Lonceng pintu kafe yang berdenting pelan perlahan menghilang dari pendengaran Rosemary, digantikan oleh gemuruh jantungnya yang berdegup kencang. Seluruh ingatan buruk yang telah ia kubur rapat-rapat selama tiga bulan terakhir mendadak mencuat ke permukaan, meracuni udara sejuk pantai yang selama ini menyembuhkan lukanya."Rosemary... tolong," bisik Calvin den

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 9

    "Lepaskan tanganku, Calvin!" jerit Rosemary seraya menghentakkan lengannya sekuat tenaga, mencoba menghempaskan cengkeraman besi yang mengikat pergelangan tangannya.Suara gesekan kain dan napas yang memburu memecah keheningan malam di kamar yang remang itu. Calvin berdiri tegap dalam kegelapan, matanya menyala tajam dipenuhi amarah dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu. Cengkeramannya pada tangan Rosemary tidak mengendur sedikit pun, justru semakin mengetat hingga kulit pucat wanita itu memerah."Kau benar-benar tidak pernah kapok, Rosemary!" gertak Calvin dengan suara rendah yang bergetar. "Bahkan setelah tubuhmu hampir menyerah, setelah infus baru saja dicabut dari tanganmu, kau masih berpikiran untuk mencuri kunciku dan kabur?!""Lalu kau pikir aku akan diam saja menunggu dipotong-potong oleh iblis sepertimu?!" balas Rosemary menantang. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Calvin tanpa ada lagi sisa ketakutan. "Bunuh aku sekalian, Calvin! Bunuh aku dan anak ini jika ka

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 8

    "Pegang kepalanya, cepat!" bentak Davian seraya mendorong pintu kamar utama dengan sikunya, menuntun dua orang perawat yang berlari mengekor di belakangnya.Suasana di dalam kamar megah itu berubah menjadi kacau-balau. Calvin berdiri mematung di tepi ranjang dengan napas tersengal, menatap telapak tangannya sendiri yang dingin dan gemetar. Di atas kasur busa tebal itu, tubuh Rosemary terbaring kaku bagaikan mayat. Wajahnya yang sepucat kertas kontras dengan rambut hitamnya yang berantakan menjuntai di atas bantal.Davian bergegas mendekat, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Rosemary yang terasa sangat lemah dan terputus-putus. Tatapan matanya beralih menatap Calvin dengan kilatan amarah yang meluap-luap."Kau benar-benar gila, Calvin!" bentak Davian seraya menepis kasar tangan Calvin yang mencoba menyentuh kening Rosemary. "Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya! Tubuhnya dehidrasi berat, demamnya tinggi, dan kau masih saja mengurungnya seperti binatang?!""Aku tidak bermak

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 7

    "Ayo, Nyonya, telan sedikit lagi," bisik bibi pelayan dengan tangan bergetar, menyodorkan sendok berisi bubur gurih ke bibir Rosemary yang pucat.Rosemary tidak menolak. Ia membuka mulutnya perlahan, mengunyah dan menelan makanan itu tanpa bersuara. Tatapan matanya tidak lagi liar atau dipenuhi jeritan histeris seperti dua hari lalu. Ada ketenangan yang aneh memancar dari dirinya—sebuah ketenangan pasrah yang sengaja ia bangun sebagai topeng. Di dalam benaknya, setiap sendok bubur yang masuk ke dalam perutnya bukanlah bentuk ketundukan pada Calvin, melainkan bahan bakar. Ia membutuhkan tenaga. Ia harus mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya jika ingin keluar hidup-hidup dari neraka ini.Di sudut ruangan, dua orang pengawal berbadan tegap memperhatikan setiap gerak-gerik Rosemary dengan cermat. Melihat sang nyonya rumah kini bersikap kooperatif dan mau menghabiskan separuh porsi makanannya, ketegangan di wajah para penjaga itu perlahan mengendur. Laporan disampaikan kepada Calvin bahwa Ros

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status