مشاركة

bab 7

مؤلف: Gafa author
last update تاريخ النشر: 2026-09-08 17:36:20

"Ayo, Nyonya, telan sedikit lagi," bisik bibi pelayan dengan tangan bergetar, menyodorkan sendok berisi bubur gurih ke bibir Rosemary yang pucat.

Rosemary tidak menolak. Ia membuka mulutnya perlahan, mengunyah dan menelan makanan itu tanpa bersuara. Tatapan matanya tidak lagi liar atau dipenuhi jeritan histeris seperti dua hari lalu. Ada ketenangan yang aneh memancar dari dirinya—sebuah ketenangan pasrah yang sengaja ia bangun sebagai topeng. Di dalam benaknya, setiap sendok bubur yang masuk ke
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 12

    "Cepat jalan, jangan buang waktu lagi!" jerit Rosemary seraya menekan perutnya yang membuncit dan melangkah setengah berlari menembus rintik hujan yang mulai membasahi pelataran kafe.Pria berbadan tegap itu memegang payung hitam tinggi untuk melindungi Rosemary, lalu membukakan pintu penumpang depan sedan perak yang terparkir darurat di pinggir jalan. Tanpa memedulikan rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya atau denyut nyeri di pinggangnya, Rosemary menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil. Mesin mobil meraung keras, roda-rodanya berdecit tajam mengikis aspal basah sebelum kendaraan itu melesat cepat menembus kegelapan malam yang kian pekat.Pikiran Rosemary kacau-balau. Selama tiga bulan terakhir, ia telah membangun benteng pertahanan yang begitu kokoh di dalam hatinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa cintanya pada Calvin telah mati sepenuhnya, berganti menjadi kebencian dan rasa dingin yang tak tersentuh. Namun, mendengar kabar bahwa pria itu terbaring kritis di ambang kem

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 11

    "Jangan membuang waktu, masuk ke dalam mobil!" gertak pria berbadan tegap itu seraya mendorong tubuh Calvin secara kasar hingga pria itu terjerembet ke dalam jok belakang mobil sedan hitam tersebut.Pintu mobil langsung dibanting menutup dari luar dengan bunyi gemertak yang keras. Sebelum Calvin sempat memutar tubuh atau memprotes, dua orang pengawal lain di sisi kiri dan kanannya dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangannya menggunakan borgol besi yang dingin. Sedan hitam itu langsung menekan pedal gas dalam-dalam, melesat meninggalkan kawasan pantai yang tenang menuju arah jalan bebas hambatan.Calvin tidak berontak. Pria yang biasanya memancarkan aura dominan dan tak tersentuh itu kini hanya duduk bersandar dengan pasrah. Kepala dan kemejanya masih basah oleh air yang disiramkan Rosemary beberapa menit lalu. Tatapan matanya kosong, memandangi kaca jendela luar yang menampilkan deretan pohon kelapa yang kian menghilang. Jiwanya seolah telah tertinggal di dalam kafe kecil itu—di

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 10

    "Berani-beraninya kau menginjakan kaki di tempat ini!" jerit Rosemary seraya meraih teko kaca berisi air dingin di atas meja kasir dan menghempaskan isinya tepat ke wajah pria yang tengah berlutut di hadapannya.Air dingin membasahi wajah dan kemeja mahal yang kini tampak kusam milik Calvin. Pria itu tidak bergeming sedikit pun. Ia tidak menyapu air yang menetes dari ujung hidungnya, tidak pula berusaha membela diri. Matanya yang merah dan diliputi lingkaran hitam pekat tetap menatap lurus ke arah Rosemary—tatapan yang kini tidak lagi memancarkan keangkuhan atau kemurkaan, melainkan keputusasaan dan penyesalan yang begitu kelam.Lonceng pintu kafe yang berdenting pelan perlahan menghilang dari pendengaran Rosemary, digantikan oleh gemuruh jantungnya yang berdegup kencang. Seluruh ingatan buruk yang telah ia kubur rapat-rapat selama tiga bulan terakhir mendadak mencuat ke permukaan, meracuni udara sejuk pantai yang selama ini menyembuhkan lukanya."Rosemary... tolong," bisik Calvin den

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 9

    "Lepaskan tanganku, Calvin!" jerit Rosemary seraya menghentakkan lengannya sekuat tenaga, mencoba menghempaskan cengkeraman besi yang mengikat pergelangan tangannya.Suara gesekan kain dan napas yang memburu memecah keheningan malam di kamar yang remang itu. Calvin berdiri tegap dalam kegelapan, matanya menyala tajam dipenuhi amarah dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu. Cengkeramannya pada tangan Rosemary tidak mengendur sedikit pun, justru semakin mengetat hingga kulit pucat wanita itu memerah."Kau benar-benar tidak pernah kapok, Rosemary!" gertak Calvin dengan suara rendah yang bergetar. "Bahkan setelah tubuhmu hampir menyerah, setelah infus baru saja dicabut dari tanganmu, kau masih berpikiran untuk mencuri kunciku dan kabur?!""Lalu kau pikir aku akan diam saja menunggu dipotong-potong oleh iblis sepertimu?!" balas Rosemary menantang. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Calvin tanpa ada lagi sisa ketakutan. "Bunuh aku sekalian, Calvin! Bunuh aku dan anak ini jika ka

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 8

    "Pegang kepalanya, cepat!" bentak Davian seraya mendorong pintu kamar utama dengan sikunya, menuntun dua orang perawat yang berlari mengekor di belakangnya.Suasana di dalam kamar megah itu berubah menjadi kacau-balau. Calvin berdiri mematung di tepi ranjang dengan napas tersengal, menatap telapak tangannya sendiri yang dingin dan gemetar. Di atas kasur busa tebal itu, tubuh Rosemary terbaring kaku bagaikan mayat. Wajahnya yang sepucat kertas kontras dengan rambut hitamnya yang berantakan menjuntai di atas bantal.Davian bergegas mendekat, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Rosemary yang terasa sangat lemah dan terputus-putus. Tatapan matanya beralih menatap Calvin dengan kilatan amarah yang meluap-luap."Kau benar-benar gila, Calvin!" bentak Davian seraya menepis kasar tangan Calvin yang mencoba menyentuh kening Rosemary. "Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya! Tubuhnya dehidrasi berat, demamnya tinggi, dan kau masih saja mengurungnya seperti binatang?!""Aku tidak bermak

  • Suami Menyesal Setelah Sandiwara Terungkap    bab 7

    "Ayo, Nyonya, telan sedikit lagi," bisik bibi pelayan dengan tangan bergetar, menyodorkan sendok berisi bubur gurih ke bibir Rosemary yang pucat.Rosemary tidak menolak. Ia membuka mulutnya perlahan, mengunyah dan menelan makanan itu tanpa bersuara. Tatapan matanya tidak lagi liar atau dipenuhi jeritan histeris seperti dua hari lalu. Ada ketenangan yang aneh memancar dari dirinya—sebuah ketenangan pasrah yang sengaja ia bangun sebagai topeng. Di dalam benaknya, setiap sendok bubur yang masuk ke dalam perutnya bukanlah bentuk ketundukan pada Calvin, melainkan bahan bakar. Ia membutuhkan tenaga. Ia harus mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya jika ingin keluar hidup-hidup dari neraka ini.Di sudut ruangan, dua orang pengawal berbadan tegap memperhatikan setiap gerak-gerik Rosemary dengan cermat. Melihat sang nyonya rumah kini bersikap kooperatif dan mau menghabiskan separuh porsi makanannya, ketegangan di wajah para penjaga itu perlahan mengendur. Laporan disampaikan kepada Calvin bahwa Ros

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status