Share

Chapter 5

“Rajam? Apa salah kami?” Tanya Zavar kepada warga dengan tatapan tajam.

“Kalian telah Berzinah!” pekik mereka kompak.

“Tak ada yang berzinah, kami suami istri,” ucap Zavar mencoba menjelaskan.

“Kalian percaya?” ucap si provokator.

“Tidak!" seru yang lainnya.

“Kenapa kami harus dihukum? Kami tidak bersalah!” papar Zavar menjelaskan dengan tegas.

“Kalian harus dihukum! Sebab kalian sudah merusak nama baik tempat ini!” teriak seorang pria paruh baya dengan suara yang garang.

Zavar berusaha menjelaskan dengan tegas. “Saya sudah katakan, Sarah adalah istri saya. Kami sudah menikah,” ujar Zavar mencoa menenangkan kerumunan yang marah.

Namun, amarah warga tampaknya sudah membutakan mereka. Mereka tidak mau mendengarkan penjelasan Zavar, bahkan beberapa dari mereka mulai merangsek masuk ke dalam rumah. Melihat situasi yang semakin memanas, Zavar memegang tangan Sarah.

“Jangan takut Sarah, ada aku yang menjagamu. Kita harus tetap tenang. Aku akan mengurus ini,” bisiknya pada Sarah, mencoba menenangkan Sarah yang ketakutan.

Kerumunan mulai bergerak semakin dekat, merangsek ke arah Zavar. Ada beberapa warga yang tampaknya sudah siap dengan tinju terkepal, siap untuk melakukan ancaman fisik yang telah mereka lempar sebelumnya.

“Zavar, kamu jangan main-main dengan kami!” pekik warga.

Zavar berdiri di depan pintu, berusaha membentengi rumahnya. “Saya tidak main-main, kalian yang mengusik saya,” katanya dengan suara yang berusaha tegas. “Saya sudah katakan, Sarah adalah istri saya. Kami sudah menikah. Saya tidak mengerti kenapa kalian semua beranggapan buruk tentang kami.”

Warga tampaknya tidak mau mendengar. Mereka mengabaikan penjelasan Zavar dan terus mendekat, ancaman mereka semakin menjadi-jadi.

Akhirnya, seorang pria berbadan besar berjalan maju dan mencoba masuk ke dalam rumah. Dia mendorong Zavar ke samping dan berjalan masuk.

Pria itu memandangi Sarah dengan sinis. “Jadi ini dia, wanita yang sudah merusak nama baik kampung kita,” ujarnya dengan nada penuh ejekan.

Sarah merasa seperti ditikam. Dia ingin berlari dan bersembunyi, tetapi kakinya terasa lemas. Zavar melihat ekspresi Sarah dan semakin merasa harus bertindak.

“Cukup!” teriak Zavar, mengejutkan semua orang. Suaranya yang tegas membuat masyarakat yang ramai seketika diam.

“Sarah dan saya tidak berbuat salah apa-apa. Kami sudah menikah dan itu adalah hak kami untuk hidup bersama. Saya tidak mengerti kenapa kalian merasa berhak menghakimi kami.” papar Zavar geram.

Pria itu menoleh ke Zavar, tampak terkejut. “Kamu berani melawan kami?" tantangnya. Zavar menatap pria itu dengan tegas.

“Ya! Saya bisa menuntut kalian semua karena telah mencemarkan nama baik kami. Saya hanya mempertahankan hak saya dan Sarah.” Zavar berkata dengan penuh keyakinan, berharap ini bisa meredam keributan yang semakin memanas.

Zavar masih berdiri tegap di ambang pintu rumah kontrakannya, menghadapi serbuan amarah warga.

Namun, saat itu, sosok yang dikenal sebagai Pak RT muncul di antara kerumunan. Pak RT, seorang laki-laki paruh baya dengan rambut yang mulai memutih, melangkah maju. Ia tampak tenang dan berwibawa, menenangkan kerumunan dengan gerakan tangan dan suara rendahnya.

“Tenang, mari kita dengar penjelasan dari Zavar,” ujarnya. Wajah Zavar menampakkan rasa lega. Meski suara gemuruh dari kerumunan masih bergema di telinganya.

“Terima kasih, Pak,” katanya dengan suara yang hampir tak terdengar, kemudian Zavar pun menjelaskan semuanya kepada pak RT.

“Pak RT, kami perlu bukti!” teriak salah satu warga, masih dengan nada marah yang belum mereda.

Pak RT menoleh, pandangannya tajam dan tegas. “Kami akan memberikan kesempatan kepada Zavar untuk memberikan bukti,” jawabnya dengan suara yang tenang namun berwibawa. “Kita semua disini menghargai keadilan. Jadi, beri dia kesempatan untuk berbicara.”

Warga mulai berbisik satu sama lain, beberapa tampak ragu, tetapi mereka tidak membantah perintah Pak RT. Suasana menjadi lebih tenang, meski masih terasa tegang.

Pak RT mengangguk, memberikan senyuman penuh pengertian. Ia lalu berbalik ke arah warga dan berkata, “Mari kita dengar penjelasan Zavar. Kita semua di sini mencari kebenaran, bukan?”

Sebagian warga mengangguk, wajah mereka tampak lebih tenang dan siap mendengarkan. Pak RT berdiri di samping Zavar, posisinya menunjukkan dukungan dan empati kepada Zavar.

Dengan semangat baru dan dukungan dari Pak RT, Zavar mulai menjelaskan, suaranya lebih mantap, pandangannya lebih tegas. Meskipun beberapa warga masih tampak skeptis, mereka memilih untuk diam dan mendengarkan, menunggu bukti yang akan diberikan Zavar.

“Kalian tunggu di sini!” ucap Zavar kemudian berlalu masuk ke dalam rumah hendak mengambil sesuatu. Tak berselang lama, sosok Zavar telah keluar dari dalam sambil membawa buku nikah mereka dan memperlihatkan kepada Pak RT.

“Ini, bukti jika kami sudah menikah. Kami tak sepicik yang kalian tuduhkan!” papar Zavar.

Pak RT meraih buku nikah tersebut, kemudian membacanya dengan seksama.

“Iya mereka pasangan suami istri, dan baru menikah tadi siang,” jelas Pak RT memberitahu yang lainnya memperlihatkan buki nikah milik. zavar dan Sarah. Mendengar penjelasan Pak RT, warga-warga lain tersentak kaget. Mereka merasa tak enak hati pada Zavar dan Sarah, karena telah menuduhnya yang tidak-tidak serta mengganggu waktu istirahatnya.

“Maafkan kami Zavar,” celetuk seorang warga yang merasa bersalah.

“Makanya, lain kali jika menuduh sertakan dulu bukti dan faktanya! Jangan main hakim sendiri!” berang Zavar dengan nada kesal.

“Iya Zavar. Sekali lagi kami minta maaf."

“Katakan kepada saya, siapa yang telah menyebarkan berita hoax seperti ini!!” titah Zavar dengan nada mengancam.

Warga saling pandang mencari seseorang yang tdi memberikan mereka informasi.

“Dia….”

“Dia sudah tidak ada di sini,” jawab para warga setelah mencari-cari keberadaan orang yang melapor tadi.

Zavar bertanya-tanya, siapa orang itu. Dan apa maksud dan tujuannya melaporkan yang tidak-tidak pada warga? Semua itu terpikir di dalam benaknya, tapi tak bisa ia temukan jawaban itu sekarang.

Pak RT membubarkan masyarakat, lalu meminta maaf kepada Zavar karena telah membuat kekacauan serta mengganggu ketenangannya.

“Maaf Zavar, karena kami sudah mengganggu waktu istirahatmu,” ucap pak RT merasa tak enak hati.

“Tidak apa-apa Pak,” jawab Zavar.

Setelah pak RT dan warga bubar, Zavar pun masuk ke dalam kontrakannya.

Esok paginya, Sarah terbangun dari tidur. Matahari pagi sudah menyinari kamar tidurnya. Ia merasakan sesuatu yang berat di hati, menghimpit setiap hembusan nafas yang dihembuskan, karena beban yang ia rasakan begitu berat.

Sarah beranjak dari tempat tidur, langkahnya berat, seolah-olah setiap sel tubuhnya menolak untuk bergerak. Sarah berjalan menuju ruang tengah. Tatapannya kosong menatap ke arah jendela. Ia merasa putus asa, emosi yang menderanya begitu dalam hingga ia tak bisa lagi menahannya. Di tengah lamunannya, suara pergerakan dari dapur mengalihkan perhatiannya.

Zavar baru saja selesai menyiapkan sarapan di dapur. Ia melihat Sarah yang duduk termenung di kursi wajahnya tampak kosong, jauh dari ekspresi ceria yang biasa ia miliki setiap pagi kala Zavar menjemputnya menuju ke kampus.

Merasakan hal tersebut, Zavar berjalan mendekati Sarah.

“Kenapa bengong? kamu tidak bersiap-siap ke kampus?” tanya Zavar, suaranya lembut namun jelas terdengar kekhawatiran. Matanya menatap Sarah, mencari jawaban dari balik tatapan kosong wanita di hadapannya.

Sarah menatap Zavar, tidak mampu berbohong tentang apa yang sedang ia rasakan. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan Zavar. Ia hanya duduk di sana, membiarkan Zavar menatapnya dengan kekhawatiran, membiarkan suasananya menjadi hening sejenak.

“Aku hanya...."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status