FAZER LOGINUdara di ruangan itu terasa berat, seolah setiap napas harus dipaksakan keluar masuk paru-paru. Lampu gantung menyala redup, memantulkan kilau dingin di atas meja kaca yang penuh dengan sisa minuman. Bau alkohol bercampur dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Di tengah ruangan, Edgar berdiri dengan napas tertahan, rahangnya mengeras, matanya tidak pernah lepas dari sosok di depannya. Edward. Pria itu berdiri santai, satu tangan memegang gelas, seolah ini hanya pertemuan biasa. Padahal tidak ada yang biasa dari cara dia menatap Edgar—tajam, merendahkan, penuh kendali. “Akhirnya dateng juga chiken loser,” ucap Edward pelan, bibirnya melengkung tipis. “Gue kira lo bakal terus sembunyi di balik alasan-alasan lo.” Edgar tidak menjawab. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, menahan sesuatu yang jelas-jelas hampir meledak. “Lo maunya apa?” tanyanya singkat. Edward tertawa kecil, berjalan mendekat dengan langkah santai. “Langsung ke inti. Bagus. Gue juga gak suka basa-basi.” Ia
Carlos memang terbiasa menertawakan apa pun, termasuk sindiran yang seharusnya menyinggungnya. Sore itu pun sama. Ia duduk santai di lounge langganannya, satu tangan memutar gelas minuman, sementara matanya menyapu ruangan tanpa benar-benar fokus pada apa pun. Di depannya, Gerald bersandar dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang jelas-jelas sedang ia siapkan. “Lo tuh ya, Carlos…” Gerald membuka percakapan sambil menggeleng pelan. “Kadang gue bingung. Lo ini sadar gak sih diri lo kayak apa?” Carlos menyeringai. “Sadar banget. Ganteng, kaya, menarik. Mau lanjut?” Gerald terkekeh pendek, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Playboy cap kadal. Itu julukan yang paling cocok.” Carlos mengangkat bahu, santai. “Gue gak pernah bilang gue cowok baik baik.” “Iya,” Gerald mengangguk pelan. “Masalahnya… sifat kayak gitu ternyata nular juga ya di keluarga lo,ternyata turun temurun.” Carlos berhenti sebentar, lalu tertawa kecil. “Mulai nih. Mau bawa-bawa siapa lagi sekarang?
Perasaan bersalah itu tidak pernah benar-benar pergi dari Mariana;Lucy bernapas dengan sisa-sisa berat yang belum sepenuhnya hilang, bayangan tentang asap rokok dan sosok Edward selalu ikut muncul, menempel seperti bayangan yang tak bisa dilepaskan. Ia sempat ingin mengakhiri semuanya, memutus Edward sekali dan untuk selamanya, demi Lucy, demi dirinya sendiri. Jarinya pernah berhenti di atas layar ponsel, tepat di nama itu. “Udah cukup…” bisiknya pelan. Tapi sebelum keputusan itu benar-benar jadi, bayangan itu muncul—Durasi? Tahan uji.Stamina.. terlalu KuatTeknik.. sangat Kreatif.Dan yang paling pentimg Edward hafal titik-titik sensitif tubuhnya..Mariana tidak rela kehilangan kesenangan begitu aja. “Kalau aku lepas semuanya… aku bakal kehilangan kepuasan.” gumamnya. Pada akhirnya, ia tidak jadi menekan apa pun. Lucy perlahan sembuh. Batuknya mereda, napasnya kembali teratur, dan tangisnya kembali hidup. Rumah yang sempat tegang mulai menemukan ritmenya lagi, meski tidak
Awalnya terasa seperti sesuatu yang ringan, hampir seperti adegan yang terlalu indah untuk dipertanyakan. Edward berdiri di dekat jendela, cahaya sore jatuh miring di bahunya, mempertegas garis rahang yang tegas dan tatapan yang selalu seolah tahu apa yang ia inginkan. Di sela jemarinya, rokok menyala pelan, asapnya naik tipis, melingkar santai sebelum menghilang di udara. Ia menghisap tanpa terburu-buru, seolah dunia berjalan mengikuti ritmenya. Mariana duduk di sofa, memperhatikannya dengan senyum kecil yang sulit ia sembunyikan. “Apa sih lihatnya gitu amat?” Edward melirik, setengah tersenyum. Mariana hanya mengangkat bahu, tertawa pelan. “Nggak. Cuma… kamu tuh sok keren.” Edward mendekat tanpa menjawab, menyingkirkan rokoknya ke asbak, lalu berdiri tepat di depannya. Tangannya naik, menyelip ke rambut Mariana, menariknya sedikit mendongak. Ada aroma asap yang masih menempel, bercampur dengan sesuatu yang hangat dan familiar. Sebelum Mariana sempat bicara, bibir Edward sudah
Beberapa hari setelah itu, semuanya masih berjalan seperti biasa di permukaan. Mariana tetap di rumah, mencoba menjalani hari dengan ritme yang tampak normal, sementara Edgar tetap bersikap tenang seperti sebelumnya—tidak banyak bertanya, tidak pernah memaksa, dan seolah memilih memendam semua yang mungkin berputar di kepalanya. Namun ketenangan itu ternyata tidak benar-benar utuh. Sore itu, Edgar pulang dengan kondisi yang tidak bisa disembunyikan. Begitu pintu terbuka, Mariana yang sedang berada di ruang tengah langsung menoleh, dan dalam satu detik, tubuhnya refleks berdiri. Ada sesuatu yang langsung terasa tidak beres bahkan sebelum ia benar-benar melihat jelas. “Edgar—” Langkahnya cepat mendekat, hampir berlari kecil. Tangannya terangkat, ingin menyentuh wajah suaminya, tetapi tertahan di udara begitu ia melihat lebih jelas. Memar di sudut bibir. Pelipis yang sedikit bengkak. Dan goresan di tangan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan biasa. “Ini kenapa?” su
Beberapa minggu setelah itu, vila yang awalnya terasa asing kini berubah menjadi ruang yang begitu akrab Pagi itu, cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela besar kamar, menyinari lantai kayu dan sebagian tempat tidur yang belum sempat dirapikan. Mariana duduk ditepi ranjamg. Edward keluar dengan langkah santai, rambutnya masih basah, tetesan air jatuh perlahan ke bahu dan dadanya. Ia tidak mengenakan atasan, hanya celana panjang santai yang menggantung rendah di pinggangnya. Tidak ada kesan sengaja pamer, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih nyata. Mariana terpaku sejenak, matanya menangkap setiap detail tanpa bisa langsung berpaling. Tubuh Edward terlihat kuat dan terlatih, bukan berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia menjaga tubuhnya. Bahunya lebar, garis lengannya tegas, dan ada ketenangan dalam cara ia berdiri—seolah ia sepenuhnya nyaman dengan dirinya sendiri. Mariana cepat-cepat mengalihkan pandangan, tapi ekspresi kecil di wajahnya sudah
---Suara musik remix bercampur dentuman bass EDM memenuhi ruangan karaoke VIP malam itu. Lampu-lampu neon berwarna merah dan ungu berputar, menyorot wajah-wajah lelaki yang sedang tertawa keras sambil memegang botol bir. Di pangkuan mereka duduk cewek-cewek LC berpakaian seksi, sebagian sibuk menu
Aurora menatap wajah kakak iparnya dengan cemas. Elina duduk di hadapannya, mata masih sembab, pipi memerah karena tangis yang belum kering sepenuhnya. Ruang tamu kecil itu terasa sesak oleh beratnya cerita yang baru saja ia keluarkan. “Dia bilang begitu, Ra…” suara Elina bergetar, nyaris tak ter
Sejak kabar pernikahan Elina dengan Carlos menyebar, Baskoro merasa hidupnya berubah. Selama ini ia hanya lelaki tua yang habis masa kejayaannya, tenggelam dalam utang judi dan tipu daya kecil di kampung. Tapi kini, pikirnya, ia memiliki menantu miliarder. Setiap kali nongkrong di warung kopi, ia d
---Elina berjalan di lorong kampus dengan langkah hati-hati. Gamis longgar berwarna biru tua yang ia kenakan bergoyang ringan setiap kali ia bergerak. Dari luar, ia tampak seperti mahasiswi biasa—kalem, tertutup, dan selalu menjaga jarak dengan orang-orang. Tidak ada yang tahu, di balik kain yang







