Share

2. Melamar Lelaki

"Menikahlah denganku. Bantu aku mendapatkan posisi sebagai Presdir. Setelahnya, aku akan menerima proposal kerja samamu yang sempat kutolak.”

Claire mengingat pertama kali mereka bertemu. Rainer datang padanya dengan membawa proposal kerja sama.

Proposal itu cukup menjanjikan sebenarnya, hanya saja Claire memafaatkan lelaki itu lebih dulu dengan mengikatnya menjadi asistennya. Ia berjanji akan mempertimbangkan, tetapi hingga satu tahun mereka berstatus sebagai bos dan asisten … wanita itu abai dari janjinya.

Untuk itulah, Claire merasa saat ini adalah waktu yang tepat kembali menggunakan proposal itu sebagai senjatanya melunakkan kekeraskepalaan Rainer.

"Kenapa harus aku?" tanya lelaki itu lagi.

Claire tersenyum mendengar nada bicara asistennya melembut. "Karena kamu satu-satunya lelaki yang kukenal dengan cukup baik."

Rainer meledakkan tawanya. Semua orang tahu seperti apa watak Claire.

Wanita itu cantik, tetapi perilaku tegas dan ketusnya menjadi semacam tembok penghalang untuk berinteraksi akrab dengannya.

"Kamu tidak mengenal apa pun tentangku. Sandiwara ini akan lebih cepat ketahuan."

"Kita bisa saling mengenal.”

"Aku sudah tau semua tentangmu," dengus Rainer.

Kesal, kemudian, Claire mengajukan beberapa pertanyaan remeh, tetapi sarat akan hal detail yang menyangkut dirinya.

Semua jawaban Rainer tepat. Dan hal itu membuat bibir Claire membuka, takjub akan kemampuan sang asisten mengenal ia dan kebiasaannya meski baru bekerja selama setahun.

"See? Aku tau semua tentangmu, tetapi kamu tidak tau apa pun tentangku."

"Aku akan belajar mengenalmu!” ulang Claire, tetapi Rainer mengabaikan pernyataannya. “Aku juga akan menuruti syarat-syaratmu!”

Terlihat, bibir Rainer membentuk senyum tipis. Lelaki itu kemudian berbalik menghadap Claire sepenuhnya.

“Baiklah. Aku mau, dengan beberapa syarat.”

Claire mengangguk. Wajahnya pucat pasi, menunggu syarat Rainer. “Katakan!”

“Setelah menikah, aku ingin kita tinggal di apartemen-ku.” Mulut Claire membuka, tetapi tangan Rainer lebih dulu terangkat dan menghentikan niat protesnya. “Selain itu, proposal itu harus segera kamu setujui begitu kamu disahkan jadi Presdir. Deal?”

Claire meneguk ludah kasar. Permintaan pertama Rainer begitu memberatkannya. Namun, ia sadar … ia tidak sedang dalam kapasitas menolak.

Untuk itu, akhirnya Claire mengulurkan tangannya ke arah Rainer. "Deal!" katanya dengan lugas.

Namun, di luar dugaan … lelaki itu kini menggeleng. Senyum dan tatapan penuh kepuasan jelas terlihat di sana, membuat Claire menyatukan alis karena bingung.

"Memohonlah padaku agar aku mau menikahimu."

"Oke. Rainer, maukah kau menikah denganku?" tanya Claire dengan nada datar.

"Kau pikir ada orang yang mau diajak menikah dengan permintaan seperti itu?"

"Memangnya aku harus bagaimana?"

Jari Rainer menunjuk ke bawah. "Berlutut."

"Apa? Kamu gila? Aku harus berlutut dan melamarmu? Lebih baik kamu kupecat."

"Baiklah kalau begitu. Cari saja pria lain yang mau menikahi wanita sepertimu!" Rainer melangkah ke pintu kembali.

"Tunggu, tunggu," pinta Claire.

Wanita itu mengembuskan napas berat. Demi jabatan tertinggi di perusahaan, ia akan menuruti kemauan Rainer. Cuma ini jalan satu-satunya.

Rainer menghentikan langkah. Ia mengamati Claire. Wanita itu sedang berusaha berlutut.

Selain memakai stiletto, Claire juga menggunakan rok span di atas lutut.

Rok itu tertarik ke atas hingga setengah paha saat Claire berlutut menghadap Rainer, membuat lelaki itu menahan gelak tawanya.

“Oke … siapa nama lengkapmu?” tanya Claire mendongakkan kepala.

“Katanya mengenalku dengan cukup baik,” sindir Rainer.

“Cepat! Lututku sakit!”

"King Rainer Conrad."

"King?" Dahi Claire berkerut dalam.

Rainer mengangguk.

Claire mengatur napasnya, menahan diri untuk tidak melemparkan umpatan ke hadapan Rainer yang terlihat angkuh.

"King Rainer Conrad, maukah kamu menikah denganku?" ucap Claire dengan nada lembut.

Rainer diam sesaat. Lalu menjawab,"Cukup bagus. Anggap ini latihan. Aku akan mencari cincin pertunangan kita lebih dulu."

Setelahnya, lelaki itu melangkah keluar ruangan tanpa perlu repot-repot membantu Claire berdiri.

Wanita yang masih berlutut itu menggeram dalam hati. Matanya menatap pintu yang telah ditutup sang asisten. Susah payah, Claire kembali berdiri sambil mengerutkan kening.

"King Rainer Conrad? Kenapa rasanya aku mengenal nama itu?"

Namun, hingga jam kerja hari itu usai, Claire tak menemukan satu pun jawaban di mana ia pernah mengenal atau mendengar nama itu.

Rainer sudah muncul lagi di hadapannya. Claire bangkit sembari meraih clutch mewahnya, berjalan mendekati sang asisten yang langsung berjalan di hadapannya.

“Kita harus ke butik,” ucap Claire seraya berusaha mengikuti langkah-langkah panjang Rainer.

“Buat apa?”

“Kamu harus membeli pakaian baru.”

“Kenapa dengan pakaianku?”

“Tidak serasi dengan pakaianku. Dan … Aw!”

Claire menabrak Rainer yang tiba-tiba berhenti berjalan. Lelaki itu membalik tubuh dan menatap Claire. Mata Rainer mengamati penampilan wanita di depannya.

“Maksudmu? Aku harus membeli pakaian dan aksesoris bermerk sepertimu?”

“Iya.”

“Tidak. Buang-buang uang!” tegas Rainer lalu melanjutkan berjalan menuju tempat parkir mobil.

Wanita itu berdecak kesal. Terlebih saat Rainer kembali meninggalkannya dengan langkah yang lebar-lebar.

“Rainer!” seru Claire. “Bisakah kamu jalan pelan-pelan?! Kakiku sakit mengikuti langkah cepatmu.”

Rainer menulikan telinganya. Mereka sampai pada sebuah mobil mewah yang dipakai Rainer setiap hari untuk menjemput dan mengantar atasannya itu.

Dalam perjalanan, mereka saling diam. Claire melepas heels dan memijat betisnya. Rainer tampak hanya fokus pada lalu lintas di depannya.

“Kita ke mana? Ini bukan arah ke penthouse,” tanya Claire saat mengamati jalanan.

“Memang bukan.”

“Lalu? Ke mana?”

“Aku harus mengambil cincin untuk pernikahan kita besok.”

“Oh.”

Hening kemudian. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Membayangkan besok mereka akan menikah dan menjadi suami-istri.

Rainer meminta Claire menunggu di mobil. Wanita itu menatap asistennya yang masuk ke salah satu toko perhiasan kecil.

Claire mengembuskan napas kasar menyadari bahwa itu bukan salah satu toko perhiasan ternama dunia.

“Kamu membeli perhiasan di toko tersebut?” Claire bertanya, cenderung berkata sinis pada Rainer yang telah kembali memasuki mobil. “Aku harus mengingatkan bahwa aku alergi memakai perhiasan yang bukan emas asli.”

“Kemarikan jari manismu,” titah Rainer, mengabaikan pernyataan Claire.

Claire memajukan tangannya ke arah Rainer. Tanpa kata-kata, lelaki itu dengan cepat menyisipkan sebuah cincin permata ke jari manis Claire.

Wanita itu kemudian menatap jarinya.

Cincin berbatu emerald dua belas karat, dikelilingi oleh empat belas berlian solitaire yang dilapisi emas putih. Tampak cantik di jari Claire. Bahkan ukurannya pun pas.

“Ternyata kamu pintar memilih cincin pertunangan,” puji Claire.

“Itu cincin leluhurku,” balas Rainer. “Toko perhiasan itu hanya menyesuaikannya dengan ukuran jarimu.”

*****

Hari berlalu begitu cepat, hingga tidak terasa hari ini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.

Rainer lagi-lagi membuktikan ucapannya jika ia mengenal Claire dengan baik. Gaun pengantin ini, contohnya.

Kapan asistennya itu menyiapkan ini semua?

Gaun itu terlihat begitu sempurna di tubuh moleknya.

Bergaun pengantin putih keluaran butik ternama dengan bagian atas berbahan brokat halus, bawahannya berbahan organza satin mewah berlapis lima.

“Selamat!”

Claire dan Rainer kini resmi menjadi sepasang suami-istri. Rainer mengenakan cincin emas polos di jari Claire dan sebaliknya. Mereka berfoto dengan menunjukkan jari masing-masing.

“Cium pengantin wanitanya.”

Tubuh Claire menegang saat mendengar seruan dari para tamu.

Namun, Rainer tampak tenang dan tersenyum ramah pada para tamu. Ia melirik wanita di sampingnya dan memberikan kode untuk melakukan apa yang diminta para tamu.

Rainer mencondongkan tubuh ke depan Claire. Tangan kokoh Rainer memegangi lekuk pinggang istrinya.

“Ikuti aku, atau sandiwara ini akan berakhir karena akting burukmu.”

Komen (2)
goodnovel comment avatar
blackcoffe
langsung nikah beneran. wkakakaks
goodnovel comment avatar
Yiming
Claire mau aja lagi berlutut melamar Rainer. demi kekuasaan.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status