LOGIN#Juara favorit big contest dengan tema : Dari Atasan,jadi Pasangan# Claire harus segera menikah demi jabatan presiden direktur. Jika tidak, jabatan tertinggi perusahaan tersebut akan jatuh ke tangan sang adik tiri. Claire sangat tidak rela hingga ia memiliki ide untuk menikah dengan Rainer, asisten pribadinya. Demi perjanjian yang menguntungkan bagi Claire dan Rainer, keduanya menikah. Pasangan pura-pura itu memainkan peran sebagai suami-istri yang saling mencintai. Sandiwara itu berlanjut hingga akhirnya Claire mengetahui latar belakang Rainer yang sangat mengejutkannya. Apakah sandiwara mereka berhasil hingga Claire memperoleh jabatan presiden direktur? Ikuti kisah Claire dan Rainer, ya.
View MoreSeorang arkeolog cantik bernama Mauli Bhusana, hidup di Kota Miranda, ia tinggal di rumah susun. Hari itu telah menunjukkan pukul 8.00 pagi namun, wanita itu belum bangkit dari ranjang. Begitu Mauli tersadar bahwa ia telah terlambat, wanita itu akhirnya langsung bergerak cepat.
Wanita itu berjalan terburu-buru menuju lokasi penemuan benda bersejarah zaman kerajaan Sriwijaya karena datang satu jam lebih lambat dari timnya. Ketika ia sampai, teman-temannya telah sibuk membersihkan sebuah patung manusia yang sedang memegang tongkat pendek sambil duduk bersila.
Timnya memperkirakan benda itu berumur 1.100 tahun. Namun,, para peneliti benda bersejarah itu tidak menyadari bahwa benda tersebut merupakan benda hidup yang sedang bermeditasi.
Setelah sampai, Mauli langsung mengambil perlengkapannya untuk membersihkan benda yang telah mereka temukan sedalam 5 meter dari dalam tanah. Mauli dan timnya telah bekerja selama delapan bulan di situs tersebut, dan patung ini merupakan penemuan paling menakjubkan bagi mereka.
Patung ini berbentuk seperti manusia yang sedang bermeditasi dengan kedua tangan memegang tongkat pendek sepanjang 50 cm. Patung itu terlihat berambut panjang, terdapat bandana melingkar di kepala serta terdapat simbol mirip kelopak bunga di bandana tersebut.
"Aku pikir benda itu patung Budha," kata Beni salah satu rekan Mauli.
"Patung ini cukup unik, apalagi tongkat yang ia genggam," balas Mauli selagi tangannya terus bekerja.
Patung ini tampak berbeda dengan peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya yang mereka temukan. Sejauh ini mereka telah mengoleksi barang-barang antik seperti, keris, tembikar, manik-manik dan perkakas yang lainnya.
Bentuk dari patung tersebut sangat jelas dengan ukiran yang amat detail. Patung itu tidak tampak seperti patung buatan pada zaman modern yang terlihat hidup dan halus. Justru jika dilihat dari jauh benda itu terlihat sosok manusia berlumuran tanah.
Saking kagumnya, Mauli sampai mengambil beberapa gambar benda tersebut dengan ponsel yang ia miliki.
Saking asyiknya, Mauli tidak menyadari bahwa hari sudah mulai gelap, sementara kantornya mulai sepi layaknya tidak berpenghuni. Hanya Mauli seorang yang masih asyik mengambil gambar dan memperhatikan patung tersebut.
"Tidak pulang?" tanya Beni telah berkemas.
"Oh.. tentu saja, duluan saja," jawab Mauli selagi melepas sarung tangan.
Beni berlalu, meninggalkan Mauli yang tengah berkemas. Namun, hatinya berat sekali meninggalkan benda itu. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam benak wanita kelahiran Miranda itu.
Mauli akhirnya pulang, menoleh ke arah patung tersebut untuk terakhir kalinya. Wanita itu tidak sabar untuk kembali melihat patung tersebut esok hari. Di rumahnya, Mauli pun tidak bisa nyenyak tidur karena benda tersebut. Seperti ada ikatan tertentu dengan benda yang baru mereka temukan tersebut.
Tepat jam enam pagi esoknya, Mauli sudah berada di lokasi, beraktivitas lengkap dengan sarung tangan. Imbasnya, semua orang jadi memperhatikan wanita itu karena tidak biasanya Mauli datang sepagi ini.
"Tumben," sapa Beni seraya menghampiri Mauli.
"Mungkin sedang tanggal muda," kata ketua tim mereka, Profesor Garung.
"Entah kenapa, aku penasaran sekali dengan benda ini," bela Mauli.
Saking tidak bisa jauh dari benda itu, Sambil makan pun ia duduk tepat di depan patung itu itu. Sudah dua hari belakangan ini Mauli juga menjadi pusat perhatian Beni yang menganggap perilaku temannya itu jadi aneh sejak mereka bisa melihat wajah patung itu dengan jelas.
Hari itu, Mauli lagi-lagi adalah orang terakhir. Kekaguman Mauli membuatnya dengan sengaja ia menyentuh benda itu tanpa sarung tangan. Begitu tangan kanannya menyentuh kening patung itu, garis retak mulai bermunculan di bagian yang Mauli sentuh.
Lama kelamaan, retakan tersebut menjalar, menakutkan Mauli. Tiba-tiba saja, patung itu pecah. Di patung itu, sesosok manusia duduk dibungkus oleh bebatuan layaknya fosil.
Mauli mundur perlahan, perasaannya tidak enak. Layaknya cangkang telur, perlahan-lahan, kulit fosil yang membungkus sosok itu runtuh, menyingkapkan seorang pria dengan perlengkapan prajurit kerajaan. Pria menggunakan baju coklat muda garis hitam dengan celana coklat tua.
Pria itu terbangun kemudian memperhatikan sekujur tubuhnya, seperti merasa ada hal aneh yang terjadi pada dirinya.
"Di mana aku?" tanya pria itu,bingung.
"Miranda," jawab Mauli singkat, ketakutan.
"Tempat apa ini? Kenapa pakaianmu berbeda?" tanya pria itu selagi ia berdiri memegang tongkatnya.
"Kau yang berbeda," ungkap Mauli yang saking takutnya mulai menggigil selagi bergerak mundur, menjauh.
Ucapan Mauli membuat prajurit itu semakin bingung. Saking lamanya ia bertapa, prajurit itu tidak mengenali dunianya yang baru, dunianya yang sudah berubah.Pria itu terdiam sejenak, berpikir kemudian ia melontarkan pertanyaan kembali pada wanita cantik berambut panjang bergelombang itu.
"Tahun berapa ini?" tanya pria itu sambil mendekati Mauli yang sudah keringat dingin.
"2022," jawab Mauli.
"Mustahil," sahut pria itu.
Selagi pria itu memproses jawaban Mauli, wanita itu menenangkan dirinya. Kemudian, ia memberanikan diri untuk bertanya, “Memang kau kira ini tahun berapa?”
“Aku pikir 856,” jawab pria itu singkat.
Mauli penasaran, kemudian ia melontarkan pertanyaan lagi, “Siapa kau?”
"Aku adalah prajurit Sriwijaya. Sepertinya aku telah bertapa selama seribu tahun lebih dan sekarang aku berada di dunia yang berbeda.”
Mansion ramai dengan tamu-tamu kecil. Mereka berlarian di taman yang di sulap menjadi halaman playground anak-anak. Berbagai macam mainan dan hidangan tersedia di sana.Karakter-karakter dari berbagai film anak-anak muncul di taman. Mahluk-mahluk kecil itu menjerit senang. Kelakuan mereka tentu saja membuat senyum tak hentinya terukir dari wajah para orang tua.Begitu pula dengan Claire dan Rainer. Pasangan suami istri itu duduk bersama Brandon, Adam, Maya dan Granny. Meskipun ramai, mata mereka tak pernah lepas dari empat sosok tak jauh dari mereka.Rinna dan Linda sedang menemani adik-adiknya. Xavian dan Azran, anak lelaki kembar yang tampan itu kini sedang merayakan ulang tahun pertama mereka."Ternyata Rinna dan Linda sangat telaten menemani adik-adik mereka, ya." Maya menatap bangga pada cucu-cucunya yang rupawan."Kalian mendidik mereka dengan tepat. Kami bangga sekali." Adam menimpali ucapan istrinya."Betul. Aku pun sangat bangga pada cucu-cucuku. Aku senang sekali pamer merek
Rinna dan Linda terlihat saling menatap. Ditunggu beberapa saat pun, tetap saja keduanya diam sambil menundukkan kepala. Hingga akhirnya Rainer berjongkok di depan putri-putrinya.“Papi tau sebenarnya kalian belum mengerti bagaimana memiliki adik. Kalian hanya merasa telah memiliki satu sama lain hingga tidak memerlukan adik.” Rainer mengungkapkan pikirannya.Lelaki itu lalu menjulurkan tangan kepada sang istri. Claire segera menggenggam tangan Rainer. Mereka saling bertatapan dengan senyum di wajah masing-masing.Tangan Rainer lalu mengusap lembut perut Claire. Rinna dan Linda memperhatikan apa yang dilakukan Papi mereka.“Tetapi, di dalam perut Mommy ini sudah ada bayi. Adik kalian. Tuhan yang memberikannya kepada kita, seperti kalian.”“Kita tidak boleh menolaknya karena ini merupakan anugrah,” imbuh Rainer lagi.Lalu, Claire pun ikut berjongkok dan menatap kedua putrinya.“Jadi, jangan membenci sesuatu yang diberikan Tuhan. Apalagi kalian belum melihat dan merasakan bagaimana menj
“Mommy dan Papi ‘kan setiap hari bertemu dengan kalian. Jika kalian mau berlibur sebentar bersama Grandpa, Kakek, Nenek dan Gangan, pasti kami izinkan,” ucap Rainer pada putri-putrinya.“Memangnya Mommy dan Papi tidak kangen kami nanti?” Rinna bertanya dan menatap kedua orang tuanya.“Iya. Kami saja baru berpisah sebentar, kangen,” timpal Linda sambil memeluk saudara kembarnya.Claire mengamati putri kembarnya yang kini berpelukan. Sungguh sulit memisahkan mereka berdua. Padahal psikolog anak sudah mengingatkan bahwa mereka harus paham bahwa mereka adalah dua individu.Selama ini, Rinna dan Linda bertindak layaknya mereka adalah satu orang. Semua harus sama. Pakaian, mainan, juga berkegiatan.Pernah suatu ketika Claire dan Rainer membawa masing-masing satu anak. Hebatnya, keduanya tetap melakukan kegiatan yang sama meski berbeda jarak.Saat Rinna makan spaghetti, ternyata Linda pun meminta makanan yang sama. Saat Linda tidur, termyata Rinna pun tidur. Hingga akhirnya Claire dan Rainer
“Ada apa dengan menantu cantikku?” Maya bertanya pada Brandon.“Beberapa hari yang lalu, Claire sempat terlambat makan karena sibuk meeting. Aku pikir, sakitnya sudah membaik. Entahlah.” Brandon mencoba menjelaskan.Di dalam kamar, Rainer mengumpulkan rambut Claire dan memeganginya. Tangannya yang bebas mengusap-usap lembut punggung sang istri. Claire sedang memuntahkan makanan yang baru saja ia makan.Rainer yang membersihkan bekas muntahan di wastafel kamar mandi. Claire keluar dan segera berbaring. Rasanya ia mual sekali.“Aku ambilkan jeruk dingin mau?”Claire menggeleng pada tawaran Rainer. “Aku mau lemon hangat saja.”“Oke. Sebentar, ya.”Sebelum keluar kamar, Rainer mengusap sayang kepala sang istri. Mencium dahinya dalam-dalam. Lalu, membuka pintu untuk kembali ke dapur.Namun, ia segera tertegun. Di depan pintu, Brandon, Adam menggendong Rinna, Maya menggendong Linda hingga Granny berdiri sambil menatapnya. Mereka menuntut penjelasan.“Kenapa putriku muntah-muntah?” Brandon m
Mengingat Claire sudah mulai curiga pada hubungannya, Brandon lalu meminta berbicara dengan Andrea. Lelaki itu meminta istrinya datang ke perusahaan Rischmont.Andrea datang ke kantor. Wanita itu langsung menuju ruang kerja Brandon. Ia membawa makanan hasil masakannya sendiri.Brandon menyambut istrin
“Daddy!” teriak Claire saat turun dari mobil dan melihat Brandon menunggunya di depan tangga menuju pintu masuk mansion.“Pelan-pelan, putri kecil.” Brandon mengernyit memandang waspada putrinya yang melangkah cepat ke arahnya.Claire kemudian masuk ke dalam dekapan Brandon. Ketika ia membutuhkan pelu
Setelah sarapan, Claire dan Brandon berangkat ke kantor bersama. Claire bercerita tentang paman penjaga taman yang memberinya bunga. Ia menunda cerita bahwa ia juga mendengar sang Daddy berselisih paham di telepon dengan Andrea.“Josh sudah bekerja dengan kita semenjak belum menikah hingga sekarang.
Rainer mondar-mandir di kamar. Ia baru saja kembali kantor dan mendapat kabar dari Claire tentang kebun sayuran di restoran yang baru dikunjungi istrinya itu.Foto-foto dan video kebun tersebut jelas menampakkan kemiripan pada kebun belakang rumah Conrad. Rainer sendiri tidak merasa mengenal pemilik






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore