Masuk
Begitu langkah kaki Reno terhenti di depan pintu kamar VIP lantai dua yang sedikit renggang, suara desah memburu dan tawa manja seorang wanita dari dalam langsung membekukan darahnya.
Padahal beberapa menit lalu, seorang pelayan hotel memberitahunya dengan sopan bahwa Shena—istrinya—sedang berada di dalam ruangan tersebut untuk beristirahat. "Ah... Dion, pelan-pelan... Bagaimana kalau Reno tiba-tiba datang ke ruang VIP ini?" bisik Shena dari balik pintu dengan napas terengah. Tubuh wanita bergaun malam itu meliuk pasrah di bawah kungkungan pria yang berstatus sebagai adik angkat suaminya sendiri. Keduanya terhanyut dalam gairah terlarang di dalam ruangan megah berdinding kaca tebal yang terkunci dari dalam. "Abaikan si sampah itu, Sayang. Malam ini adalah malam perayaan kesuksesan kita. Proyek ratusan miliar keluargamu tembus karena kekuasaan dan uangku, bukan karena suamimu yang tak berguna itu," sahut suara pria yang sangat Reno kenal. Dion tertawa pelan, menatap gemerlap lampu kota di bawah guyuran hujan lebat dari balik jendela kaca kamar. "Bahkan Vanya Adijaya—Ratu Bisnis yang terkenal sangat dingin dan berpengaruh itu—malam ini sengaja menginap di Suite VIP teratas hotel ini cuma buat memantau pergerakan investasi kita," pamer Dion dengan nada kesombongan yang meluap-luap. "Benarkah? Wanita sesempurna Vanya Adijaya bersedia hadir di hotel milik keluarga kita?" tanya Shena dengan binar mata terkagum-kagum. "Tentu saja. Uang dan jaringanku bisa mendatangkan siapa saja yang kuinginkan ke tempat ini," balas Dion seraya menyunggingkan senyuman culas. Di balik celah pintu yang terbuka dua sentimeter itu, Reno berdiri mematung. Kotak hadiah ulang tahun sederhana bertuliskan nama Shena yang digenggamnya sejak pagi perlahan hancur teremas di jarinya—hancur bagaikan harga dirinya yang baru saja dilempar ke comberan. Dua tahun lalu, saat Shena terbaring sakit keras dan perusahaan ayahnya nyaris ambruk, Renolah yang bergadang tiap malam menunggunya, memijat kakinya yang lelah, dan memasakkan makanan hangat setiap hari. Reno rela menahan hinaan keluarga Wijaya demi menjaga janji sucinya pada almarhum Kakek Shena—satu-satunya orang di keluarga Wijaya yang menyambut Reno dengan tulus dan memohon di pembaringan terakhirnya agar Reno menjaga cucunya. Demi menghormati wasiat almarhum Kakek Shena dan menyelesaikan Aturan Suksesi Keluarga Elric, Reno rela menyembunyikan identitas aslinya sebagai penguasa tunggal Elric Group dan hidup sebagai babu selama tiga tahun. Namun malam ini, wanita yang dijaganya sepenuh hati itu justru mendesah di atas sofa bersama pria lain, menyamakan seluruh pengorbanannya sebagai sampah tak berharga. Rasa sakit yang teramat sangat menghujam ulu hati Reno, membakar sisa-sisa rasa ibanya menjadi dendam yang dingin. BRAK! Pintu ganda kamar VIP terdorong kasar. Reno melangkah masuk ke dalam ruangan, menatap dua pengkhianat di atas sofa itu dengan tatapan tajam menembus jantung. "Suara kalian terlalu bising sampai membuat telingaku gatal," ucap Reno dengan suara datar yang menekan. Shena terperanjat kaget hingga langsung melompat berdiri dan menarik kain gaunnya untuk menutupi dadanya yang terbuka. Wajah cantik wanita itu sempat memucat pasi sebelum akhirnya berganti menjadi tatapan melotot penuh kejijikan. "Reno?! Sedang apa kamu bersembunyi di dalam sana, dasar pria mesum tidak tahu diri!" bentak Shena dengan suara melengking. "Kenapa? Kamu takut rahasia busukmu terbongkar sebelum proyek keluarga Wijaya resmi ditandatangani?" balas Reno seraya melangkah mendekat. "Rahasia busuk apa?! Kamu itu cuma suami tidak tahu diuntung! Tiga tahun aku menikah denganmu, tidak pernah sekalipun kamu memberiku kemewahan atau perhiasan mahal!" jerit Shena meluapkan amarahnya. "Lagipula pernikahan kita dari awal cuma kesalahan karena menuruti wasiat almarhum Kakekku yang pikun!" Reno menghentikan langkah kakinya. Tatapan matanya makin menajam dingin. "Kakekmu tidak pikun, Shena. Beliau satu-satunya orang di keluarga Wijaya yang menyambutku dengan tulus dan memohon agar aku menjagamu," pangkas Reno dengan suara menekan. "Tapi malam ini, kamu sendiri yang menghancurkan kehormatanmu dan menginjak-injak janji almarhum kakekmu demi pria lain." Shena tertawa mengejek, matanya memancarkan rasa hina yang luar biasa. "Menjagaku?! Kamu pikir perhatian murahanmu, masakan hangatmu tiap malam, dan mijitin kakiku itu ada harganya dibanding uang dan koneksi Dion?!" sembur Shena tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Sadar diri, Reno! Kamu itu cuma cacing tanah!" "Uang yang kamu pamerkan untuk menyewa ruang VIP hotel ini sebenarnya hasil keringatmu sendiri atau dana haram, Dion? Kamu yakin sedang tidak menjebak keluarga Wijaya?" sindir Reno santai, berpaling menatap Dion. Wajah Dion seketika memerah menahan malu dan amarah. "Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa berani mempertanyakan kemampuanku?!" "Tutup mulut busukmu, Reno!" teriak Shena histeris membela selingkuhannya. "Tanpa bantuan uang dan koneksi bisnis Dion, perusahaan ayahku sudah bangkrut total hari ini! Kamu tidak punya hak sedikit pun untuk menghina Dion!" "Kamu sungguh percaya semua proyek jutaan dolar itu mengalir murni karena kehebatan Dion, Shena? Kamu benar-benar sebuta itu?" bisik Reno seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. "Tentu saja aku percaya! Memangnya aku harus berharap pada suami sampah sepertimu yang cuma jadi beban keluarga?!" jerit Shena. "Cukup! Jangan berakting seolah kamu paham dunia bisnis kelas atas, wahai parasit tak berguna!" teriak sebuah suara wanita paruh baya dari arah pintu utama suite. Karina, ibu mertua Reno, melangkah masuk ke dalam kamar dengan gaun malam mewahnya. Tangan kanannya menggenggam gelas kristal berisi wine merah pekat. "Ibu! Pria sampah ini tiba-tiba menerobos masuk tanpa izin dan bicara sangat lancang pada Dion!" adu Shena dengan raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Dasar makhluk tak tahu malu! Berani-beraninya kamu merusak malam kebahagiaan dan kejayaan putriku!" murka Karina seraya mendekati Reno dengan langkah lebar. "Malam kejayaan atau malam penjualan diri putri Ibu demi sebongkah investasi yang belum tentu jelas?" balur Reno dengan tatapan mata yang tajam menembus manik mata ibu mertuanya. BYUR! Cairan wine merah pekat di dalam gelas kristal dihempaskan tepat ke wajah Reno tanpa keraguan sedikit pun. Alkohol basah membasahi kemeja putih lusuh milik Reno, menetes perlahan menembus garis rahangnya yang tegap. Sensasi dingin dan bau asam alkohol membakar kulit wajah Reno. Namun Reno bahkan tidak berkedip. Dia menyapu tetesan wine di dagunya menggunakan punggung tangan seraya menatap Karina tanpa emosi. "Tatapan apa itu?! Kamu berani menatapku seperti ingin membunuhku, Reno?!" teriak Karina histeris melihat ketenangan ganjil di mata menantunya. "Aku hanya merasa kasihan padamu, Ibu Mertua. Kamu memeluk erat ular beludak berbisa sambil membuang emas murni ke dalam lumpur comberan," balas Reno dingin. "Emas murni?! Hahaha, pemimpi gila! Kamu itu cuma cacing tanah yang kebetulan menempel di telapak sepatu keluarga kami!" ejek Dion seraya melangkah ke sudut ruangan. "Dion! Panggil para pengawal hotel sekarang juga! Hancurkan wajah sok hebatnya ini sampai dia sadar diri di mana posisinya!" perintah Karina dengan napas memburu akibat amarah. "Dengan senang hati, Bibi Karina. Orang seperti dia memang butuh pelajaran fisik agar otak bodohnya bisa bekerja dengan benar," sahut Dion seraya menekan tombol interkom. Hanya dalam hitungan belasan detik, pintu suite terbuka kasar dan empat pria berbadan tegap berjas hitam menerobos masuk. "Hajar pria ini sampai babak belur! Pastikan dia tidak bisa berjalan keluar dari ruangan ini dengan kakinya sendiri!" perintah Dion seraya menunjuk Reno. Para pengawal tegap itu langsung menerjang Reno tanpa memberi ruang sedikit pun. Pukulan mentah dan tendangan keras mendarat bertubi-tubi di dada dan perut Reno tanpa ampun. BUM! BRAK! Reno sebenarnya memiliki kemampuan beladiri tingkat tinggi untuk meremukkan leher keempat pengawal itu dalam hitungan detik. Namun, Aturan Suksesi Keluarga Elric menahan setiap refleks otot tubuhnya untuk tidak membalas. Demi memegang kendali penuh atas takhta dan aset ratusan triliun Elric Group, Reno wajib menyamar tanpa menggunakan kekuatan fisik maupun kekuasaan selama tiga tahun berturut-turut. Malam ini adalah malam terakhir dari ujian penyamaran tersebut. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 23:50 malam, menyisakan sepuluh menit berdarah sebelum batas waktu tiga tahun itu berakhir sepenuhnya. 'Dua tahun aku merawatmu, Shena... tiga tahun aku menjaga janji almarhum kakekmu... dan ini balasan kalian?' batin Reno seraya menahan muntahan darah di tenggorokannya. 'Tinggal sepuluh menit lagi. Nikmati kesombongan kalian malam ini, karena esok hari kalian akan berlutut memohon ampun padaku.' Darah segar menyembur keluar dari sudut mulut Reno, membasahi lantai karpet bulu kamar VIP. Shena dan Karina menonton pembantaian itu dari atas sofa dengan senyuman puas yang meliuk di bibir mereka. "Pukul lebih keras di bagian wajahnya! Biar dia tahu rasanya menghina calon penguasa baru keluarga Wijaya!" seru Shena seraya menyemangati para pengawal. "Seret anjing ini lewat tangga darurat menuju lorong pintu servis belakang hotel! Biarkan air hujan deras malam ini membersihkan sisa darah kotornya!" tambah Karina seraya tersenyum penuh kedengkian. Keempat pengawal itu mencengkeram kasar kerah kemeja Reno yang sudah robek dan menyeret tubuhnya melintasi koridor belakang. Reno tidak merintih sedikit pun, membiarkan tubuhnya diseret bagaikan bangkai tak berharga. BRAK! Pintu besi tebal jalur belakang hotel terbuka kasar dan tubuh Reno dilemparkan begitu saja ke atas aspal gang yang kotor. Air hujan yang lebat seketika menyiram tubuhnya yang penuh luka memar dan ceceran darah segar. Dion melangkah keluar ke ambang pintu seraya merangkul pinggang Shena yang baru saja menyusul memakai mantel bulu mewahnya. "Ingat posisi rendahmu, Reno! Kamu hanyalah sampah jalanan yang kebetulan kami beri makan selama tiga tahun!" teriak Dion seraya meludah ke arah genangan air di dekat kepala Reno. "Tunggu di sini dan jangan berani bergeser satu sentimeter pun, Pria Miskin!" pangkas Shena seraya melemparkan tatapan paling hina sebelum melangkah masuk dan membiarkan pintu besi tertutup rapat."Reno Elric? Pemilik restoran ini? Hahaha, Nona Vanya, Anda pasti sedang bergurau!" seru Clarissa dengan tawa melengking yang memecah keheningan Restoran Le Mirage. Suara tawa Clarissa bergema nyaring di bawah langit-langit kristal, disusul oleh gelak tawa empat teman sosialitanya yang saling berpandangan penuh cemooh. Mereka menatap Reno dari ujung rambut hingga ujung sepatu kulitnya dengan pandangan paling merendahkan yang bisa ditunjukkan oleh manusia. Bagi mereka, kebenaran tentang identitas asli Reno terlalu absurd untuk diterima oleh akal sehat. "Nona Vanya, Anda mungkin sudah ditipu mentah-mentah oleh pria ini!" lanjut Clarissa seraya melangkah maju dua tindak, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Pria yang Anda gandeng ini cuma mantan babu pencuci piring, tukang masak, dan pelayan rumah tangga Shena selama tiga tahun!" seru wanita bergaun biru di samping Clarissa menimpali. "Benar sekali! Shena sendiri yang dulu sering menceritakan betapa tidak bergunanya pria ini d
"Aaaakkhhh!" jerit Shena histeris saat rasa panas membakar kulit dadanya secara brutal. Clarissa melempar mangkuk kosong itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping, lalu menunjuk wajah Shena yang menangis histeris. "Ini hadiah lima puluh jutamu, Pengemis Gila!" "Suara jeritanmu merusak selera makan para tamu terhormat di tempat ini, Shena!" cemooh Clarissa seraya mengibaskan tangannya dengan wajah berlagak jijik. Shena terkulai berlutut di atas lantai marmer Restoran Le Mirage, memegangi dadanya yang melepuh hebat. Kuah sup penyu yang mendidih meresap ke dalam serat gaun lusuhnya, membakar kulit dadanya dengan rasa perih yang menyengat hingga ke tulang. Airmata bercampur minyak kuah kental menetes parau dari dagu Shena yang bergetar. "Panggil sekuriti sekarang!" perintah Clarissa pada manajer restoran yang berdiri panik di dekat meja. "Seret gembel busuk ini keluar sebelum dia mengotori karpet sutra impor kita!" Para pengunjung VIP berhiaskan perhiasan gemerlap berbi
Di dalam kabin depan, sopir pribadi refleks menginjak pedal rem dan menatap cermin tengah dengan raut wajah panik. "Tuan Reno! Wanita gila itu menghadang tepat di depan mobil!" seru sopir itu dengan nada bergetar. Reno menatap tubuh Shena yang berdiri kaku di tengah jalan melalui kaca depan mobil. Raut wajah Reno tidak berkedip sedikit pun, pancaran matanya berubah menjadi gelap dan penuh keputusan taktis yang mematikan. Aura Dark Executive Mastermind memancar penuh dari tubuh pria tegap itu. Reno menyandarkan punggungnya ke jok kulit, lalu memberikan instruksi dingin yang memutus semua rasa kemanusiaan: "Injak gasnya lebih dalam dan tabrak saja!" Perintah dingin Reno menggelegar di dalam kabin Maybach, memutus seluruh sisa kemanusiaannya tanpa sedikit pun keraguan. Sopir pribadi menekan pedal gas sekuat tenaga, membuat mesin V12 itu meraung ganas membelah keheningan malam. Shena membelalakkan mata saat sorot lampu depan Maybach melaju kencang menerjang tubuhnya. R
"Merunduk di balik meja marmer dan jangan pernah bersuara," perintah Reno seraya menghantamkan gagang senjatanya ke panel kontrol utama di dinding. BZZT! Percikan api hijau meletup pendek, disusul suara dengung halus sistem tenaga yang mati mendadak. Seluruh aliran listrik penthouse padam seketika. Kegelapan pekat menyelimuti ruangan raksasa itu, hanya disirami pantulan kilat hujan badai dari balik dinding kaca. Vanya secara refleks merunduk di balik meja marmer tebal, menekan dadanya yang bergemuruh hebat. Ia bisa merasakan kehadiran Reno melangkah tanpa suara, menyatu sempurna dengan kegelapan malam bagaikan bayangan pemangsa sejati. KLIK. Pintu akses darurat penthouse terdorong terbuka pelan. Tiga siluet tubuh berompi taktis bergerak masuk dengan formasi delta yang sangat presisi. Moncong senapan serbu berperedam suara milik para penyusup menyapu setiap sudut ruangan yang gelap gulita. "Pusat kontrol mati, cari target dan amankan area!" bisik pimpinan penyusup dengan sua
"Bawa dia ke tempat terisolasi dan kunci mulutnya sampai fajar!" pangkas Reno dingin seraya memberi isyarat mata kepada Albert. Dua personel militer privat menyeret Siska yang meratap histeris keluar dari hangar, meninggalkan koper titanium berisi hard drive Adijaya di tangan Vanya. Maybach berarmor membelah kegelapan dini hari menuju Sky Tower dalam keheningan yang mencekat. Pukul 03.20, pintu penthouse terdorong terbuka. Suasana ruangan yang temaram diselimuti bayang-bayang hujan yang membasahi dinding kaca raksasa. Vanya berjalan melepaskan mantel mewahnya, melemparkannya sembarangan ke sofa kulit tanpa memedulikan kerapiannya lagi. Ia melangkah mendekati meja bar, menjangkau botol kristal berisi whiskey dengan jemari yang mendadak hilang kendali. KLING! Mulut botol menghantam tepi gelas kristal berulang kali, berdenting nyaring akibat getaran hebat pada tangan Vanya. Sebuah tangan tegap bernuansa dominan mendadak mencengkeram pergelangan tangan Vanya dari belakang, menghe
"Bekukan seluruh ruang udara sektor empat detik ini juga!" pangkas Reno langsung ke mikrofon satelit seraya mengenakan kemeja barunya dengan gerakan kilat. Vanya menyambar mantel mewahnya dari sofa, matanya memancarkan amarah dingin yang berkilat bahaya. Seluruh kehangatan emosional di dalam penthouse menguap tanpa sisa, tergantikan oleh insting berburu dua penguasa puncak. "Siska memegang enkripsi utama jaringan logistik Adijaya," desis Vanya seraya melangkah cepat ke arah lift VIP bersama Reno. "Jika hard drive itu bocor, lima puluh persen saham proyek lima puluh triliun milikku bisa disita secara ilegal oleh pihak asing." "Dia tidak akan sempat melintasi perbatasan," balas Reno datar, menyambar senjata berpenyadap suara dari brankas tersembunyi di dinding lift. Maybach hitam berarmor melesat membelah hujan badai dengan kecepatan dua ratus kilometer per jam, memotong arus lalu lintas malam bagaikan histeria baja.