LOGINBanting tulang menjadi kurir paket, nyatanya harga diri Andra sebagai suami sama sekali tidak ada harganya. Padahal demi sang istri, dia rela membuang jauh-jauh masa lalu dan keluarganya. Namun semua berubah saat ia mengantarkan paket penting. Pelanggannya mendadak menawarkan uang tambahan bernominal besar, asalkan Andra mau menjadi teman ranjang live nya. Gila! Sialnya, dia memang sangat membutuhkan uang tersebut untuk membungkam mulut tajam istrinya. Kejadian malam itu sukses membuat isi kepala Andra berantakan. Dia mulai muak menjadi pria penurut yang selalu diinjak-injak di rumahnya sendiri. Sekarang, Andra harus membuat keputusan pasti untuk masa depannya. Saat fakta terkuak ia bisa punya uang agar disayang, istrinya pasti akan menangis menyesal!
View More"Kok bisa ya lakinya Murni satu kerjaan sama kamu, tapi istrinya bisa kebeli emas? Mana pulangnya gak pernah sampe malem kayak kamu.”
Suara istrinya meninggi. Padahal, Andra baru saja meletakkan paket paket yang akan diantarkan besok di sudut kontrakan sebelum omelan itu menyambar punggungnya. Masalahnya, istrinya tidak tahu bahwa suami temannya itu bisa membeli emas istrinya karena judi. Bahkan sebagian besar uang yang suami temannya dapat itu tidak sepenuhnya halal. Andra hanya bisa tersenyum kecil, mendengar Istrinya membandingkan dirinya dengan Suami temannya itu secara terang-terangan. "Ya udah, nanti Abang cari sampingan tambahan ya, Dek. Biar upah harian Abang makin banyak," ucap Andra lalu duduk di tepi kasur, tepat di samping istrinya. "Abang lapar, Dek," lanjut Andra seraya merangkul mesra bahu Irma. "Kamu masak apa?" Irma sengaja menghentakkan pundaknya kasar hingga genggaman Andra terlepas di udara. "Gak usah pegang-pegang! Risih tahu gak?!" cetus Irma seraya memutar tubuh melotot galak. "Masak masak! Duit kemarin aja udah abis!" Andra hanya bisa meremas jemarinya yang menggantung layu, mengelus dadanya yang mengurut nyeri. Irma berdiri bercekak pinggang. "Tuh ada telur, sana masak sendiri!" bentaknya sebelum melangkah lebar keluar kamar. Andra menatap kepergian Irma dengan sabar. “Makan aja kudu masak sendiri. Gimana kalo gue minta jatah nih nanti malam…” gumam batin Andra seraya menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan memejamkan mata. Tanpa sadar Andra tertidur. Namun dering ponselnya membangunkannya. "Halo, Pak. Iya. Kenapa?" "Dra! Saya cek ada satu paket kamu yang dikirim buat besok, itu minta kirim sekarang katanya urgent. Orangnya udah nelpon terus ke saya ini," seru Pak Lukman di seberang telepon. "Yah mau gimana pak, namanya juga pengiriman reguler, Pak. Mana bisa buru-buru. Lagian ini udah malam, Pak. Sistem kan udah cut off," pangkas Andra seraya mengusap wajahnya yang kelelahan. Kepala gudangnya menyahut lagi bernada tinggi. “Udah lo anter aja dulu, Dra! Mau duit kagak?! Ada lah kalo buat duit rokok mah. Orangnya buru-buru mau make!” Tut... tut... tut... Andra memandangi layar ponselnya yang mati dengan helaan napas berat. "Malem begini masih aja mau make barangnya, mau kemana dah orang-orang..." gumam Andra seraya menyambar jaket Ia melangkah mendekati istrinya sedang melipat baju, lalu mengecup sekilas punggung tangan Irma. "Dek, Abang keluar sebentar ya, ada paketan urgent.." "Nanti Abang pulang... Abang boleh minta jatah enggak, Dek?" rayu Andra pelan seraya mendekat. "Kita kan sudah lama enggak main..." Namun, bukannya luluh, Irma malah melempar handuk kecil di tangannya ke atas kasur dengan wajah bersungut-sungut. "Duit dibawa pulang enggak seberapa, malah pikirannya jatah terus!" ketus Irma pedas. "Aku tuh lagi pusing mikirin kebutuhan rumah! Mana cukup uang semalam buat makan sehari-hari?! Minimal kasih duit yang banyakan dulu baru minta jatah!" Kata-kata itu telak menampar harga diri Andra. Kebas rasanya. Andra hanya bisa menghela napas berat, menahan sesak di dadanya. Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun, ia langsung menyambar kunci motor di atas meja lalu bergegas keluar rumah sebelum omelan istrinya semakin melukai hatinya. Andra mendengus tajam di atas motornya. "Minta jatah ke istri sendiri aja rasanya harus bayar mahal dulu… apa-apa duit, apa-apa duit." Ia memang tak senakal kawan-kawannya yang judi, apalagi yang hobinya main. Hidupnya selurus-lurusnya saja. Bahkan di luar mengantar paket, ia juga mencari sampingan dengan mengojek. Makannya selalu pulang malam. Tapi rasanya itu tidak pernah cukup bagi istrinya. “Awas ya lo kalo pulang gak bawa uang! Gak usah pulang sekalian!” teriak istrinya dari dalam kontrakannya. Andra menghela napas merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, ia tidak perlu membuang rencana pendidikannya demi menuruti kemauan perempuan itu. “Nasib, gini amat nikah muda,” gumam Andra kesal. Dulu, istrinya menolak setengah mati sambil mengomel panjang lebar, mencerca mentah-mentah bahwa sekolah tinggi hanya membuang uang dan ijazah tidak bisa langsung berubah jadi beras. Andra akhirnya memilih bungkam dan terus menyimpan rapat-rapat lembaran ijazah kelulusannya yang bernilai tinggi di dasar lemari. Sebuah gelar dan masa lalu yang sengaja ia kubur dalam-dalam demi menurunkan gengsi, meski kini justru keputusannya itu yang pelan-pelan membunuh harga dirinya. Andra mengembalikan fokusnya ke jalanan gelap. Begitu sampai di depan bangunan berlantai dua. Ia mematikan mesin motor dan turun menatap paketnya. "Tamara? Keren juga namanya,” gumam Andra. Ia mengetuk pintu pagar itu sambil memanggil nama penghuninya sesuai instruksi. "Permisi! Paket! Paket Atas nama Kak Tamara!!" ujarnya memekik dengan suara pelan. Andra mengulangi lebih keras sambil mengecek ulang alamat di ponselnya, memastikan ia tidak salah lokasi. "Paket atas nama Tamara!" panggilnya lagi, kali ini agak lebih tegas. "Langsung masuk aja bang! Orangnya di atas!" teriak pria itu sambil melambaikan tangan, lalu menutup pintu kamarnya begitu saja. Andra menghela napas panjang. Oh.. kosan campur, gumamnya. Langkah kaki Andra menggema berderit di atas tangga kayu yang lapuk. Koridor lantai dua itu remang-remang, diwarnai aroma parfum menyengat yang bercampur dengan kelembapan udara malam. Andra mengecek label paket kecil di tangannya seraya menggelengkan kepala. "Ukuran segini doang apa sih isinya... Bikin orang repot aja malam-malam," gumam batin Andra dongkol. Baru saja tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, telinganya menangkap suara decitan ranjang besi yang beradu dengan dinding, disusul desahan napas tertahan dari balik celah pintu. Sebentar. Suara ap— "Ah... ah... Hah..."Pagi itu, langit di atas gang sempit pemukiman padat tertutup awan mendung yang kusam. Di dalam rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter milik orang tua Indri, aroma kemenyan dan bunga melati murah menyeruak tipis di udara. Andra duduk bersila di atas karpet plastik yang tipis, membetulkan letak peci hitamnya yang sedikit longgar. Kemeja putih yang ia kenakan hari ini adalah kemeja lama yang sedikit menguning di bagian kerah, bukan baju baru buatan penjahit langganan. Di hadapannya, seorang penghulu berwajah tenang duduk berhadapan dengan ayah Indri yang memasang raut wajah tegang dan keras. Indri duduk bersimpuh di sudut ruangan, terbalut kebaya putih sederhana dengan riasan tipis yang ia poles sendiri di depan cermin retak kamar mandi. Tak ada dekorasi bunga segar, tak ada musik pengiring, dan tak ada tamu undangan yang memadati ruangan. Hanya ada dua orang saksi dari tetangga sebelah rumah yang duduk tenang memperhatikan dengan raut wajah polos. "Pak Andra, sudah sia
Dua minggu berlalu bagaikan mimpi buruk bagi Andra. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri lorong Pengadilan Agama dengan setelan kemeja batik yang kusam. Di depan pintu ruang sidang, Irma sudah berdiri tegap didampingi pengacaranya dan Rico yang tak pernah lepas mengawal di sampingnya. Mata Irma begitu dingin, tanpa sedikit pun sisa kasih sayang yang pernah mengisi pernikahan mereka selama bertahun-tahun. "Mas Andra, silakan masuk. Persidangan ikrar talak dan ketetapan perceraian akan segera dimulai," ujar pengacara Irma dengan nada formal. Andra menatap Irma dengan pandangan memelas, mencoba mencari celah untuk mengetuk hati istrinya satu kali lagi. "Irma... beneran kita harus berakhir kayak gini?" bisik Andra parau di depan pintu sidang. Irma tak sudi menatap mata Andra, ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah Rico yang memberikan senyum menguatkan. "Hakim sudah ketok palu, Mas," sahut Irma datar tanpa penyesalan. "Segera selesaikan, saya gak mau ada hubungan apa-apa
Ayah Indri berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan emosi. Matanya menyapu seluruh ruangan—menatap pakaian yang berserakan, kemeja Andra yang belum terkancing, hingga Indri yang terduduk di karpet berbalut selimut. "Indri... Pak Andra..." suara pria paruh baya itu bergetar hebat, sarat akan rasa syok dan kekecewaan yang sangat dalam. "Bapakk..." jerit Indri histeris, langsung menutup wajahnya rapat-rapat sambil menangis sesenggukan. Ayah Indri melangkah masuk dengan cepat, mengabaikan Andra sejenak, lalu menarik lengan Indri kasar agar anaknya berdiri. "Bapak percaya sama kamu! Bapak percaya sama atasan kamu ini! Ini yang kamu bilang dinas luar?!" bentak sang ayah dengan suara serak menahan malu. Andra menelan ludah yang terasa sekeras batu, melangkah mundur satu pijakan dengan wajah pucat pasi. "Pak... tolong tenang dulu, Pak... Saya bisa jelaskan—" gagap Andra memohon. Plak! Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Andra, membuat kepal
Ruangan tengah villa yang tadinya hangat mendadak membeku, menyisakan hawa dingin pegunungan yang menerobos masuk lewat pintu yang terbuka lebar.Andra mematung di atas sofa, tangan kanan masih menggenggam erat selimut, sementara matanya menatap Irma dengan sorot panik yang tak bisa disembunyikan."Ir... Irma? Kamu... kamu kok bisa ada di sini?!" suara Andra bergetar hebat, mencoba bangkit namun tertahan oleh kain yang membungkus tubuhnya.Irma tak menjawab sepatah kata pun. Matanya melirik dingin ke arah Indri yang merapat ketakutan di sudut sofa, menyembunyikan wajahnya yang pucat di balik selimut."Mas... siapa dia, Mas?" bisik Indri gemetar, suaranya nyaris tenggelam oleh ketakutan yang mencekam.Satu sudut bibir Irma terangkat melukiskan senyum sinis yang sarat akan kepedihan.Irma melangkah satu pendaratan maju ke dalam ruangan, matanya menyapu sekeliling—baju-baju yang berserakan di atas karpet, cangkir teh yang masih berasap, dan suaminya yang telanjang dada di depan staf send






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews