Home / Rumah Tangga / Suami Tukar Tambah / Bab.2 Tuduhan Menyakitkan

Share

Bab.2 Tuduhan Menyakitkan

Author: Ice_Cupse
last update Last Updated: 2025-05-21 22:19:01

“Dasar laki-laki nggak modal! Ternyata kamu adalah gelandangan. Dari mana kamu kenal gelandangan ini, Swasti?” hina Andra saat prosesi pernikahan Benua dan Kahiyang akan dilaksanakan.

Benua, pria itu beralasan tidak memiliki uang. Sejak dia membuka mata, ponsel beserta dompet miliknya entah pergi kemana. Dia juga tidak bisa menghubungi siapapun.

“Ah, dari seorang teman,” jawab Swasti dengan gugup. Yang dibalas oleh Benua dengan kerutan di dahinya. Benua ingin membuka mulutnya membantah ucapan Swasti, tapi tidak memiliki kesempatan karena Andra kembali mengejeknya.

Andra dan Swasti sengaja curi waktu untuk menyaksikan prosesi pernikahan Kahiyang dan Benua. Tanpa mereka duga, Benua tidak memiliki apapun yang bisa dijadikan mahar, membuat Andra mengejek Benua dengan sangat puas.

Kahiyang tertunduk mendengar hinaan yang diucapkan Andra padanya, setelah menatap kakak perempuannya dengan amarah. Kebaya yang dia impikan menjadi saksi janji suci pernikahannya, nyatanya dipakai oleh orang lain dengan cara yang menyakitkan. Sedangkan dirinya, duduk bersanding dengan pria asing dengan pakaian seadanya.

“Ini, aku pikir cukup untuk dijadikan sebagai mahar,” ejek Andra seraya melemparkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah di atas meja. Tidak lupa dia mengakhirinya dengan sebuah senyum sinis seraya menatap sepasang calon pengantin itu bergantian. Lalu meninggalkan ruangan dan kembali ke panggung pelaminan yang sudah menantinya.

Kahiyang menatap nanar kepergian Andra, rasa kecewa dan amarah juga menggerogoti hatinya. Samar, dia melihat senyum dibibir Swasti yang menimbulkan sebuah pertanyaan besar dalam diri Kahiyang.

Begitu juga Benua, pria yang sejak tadi dikurung di kamar tamu itu menatap tajam ke arah Andra. Merasa terhina karena ucapan pria itu. Ingin sekali dia menghajar wajah pria sombong tersebut, namun dia tahu itu bukan jalan yang terbaik. Justru akan menimbulkan masalah lain.

Benua menatap Kahiyang, tersirat kekecewaan yang besar di wajah gadis itu. Membuat Benua merasa kasihan dengan gadis malang tersebut. Tapi, seketika dia sadar. Bahwa yang seharusnya dikasihani bukanlah Kahiyang, melainkan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja dalam waktu semalam dia mendapat masalah. Baru kemarin dia bersenang-senang dengan teman-temannya, lalu pagi ini dia harus menikahi seorang gadis asing.

Benua menatap selembar uang seratus ribu yang tadi dilempar oleh Andra, lalu mengambil napas berat. ‘Aku janji, akan membayar kesombonganmu suatu hari nanti,’ batin Benua seraya menatap uang tersebut.

Gunjingan-gunjingan dari keluarga dan para tetangga juga mulai terdengar setelah prosesi pernikahan Kahiyang dan Benua. Kahiyang tidak tahu dari mana berita itu tersebar dan siapa yang menyebarkannya. Yang terjadi sekarang, semua pusat perhatian tertuju pada mereka berdua. Tatapan sinis, cibiran bahkan hinaan juga sudah Kahiyang dapatkan sejak pagi. Dia hanya diam, membela diri juga rasanya percuma. Mereka tidak akan percaya pada pendosa.

***

“Kamu yang rencanakan semua ini, Swasti?” tanya Kahiyang yang tiba-tiba menyelinap ke kamar kakak perempuannya. Dengan berdiri dan bersandar pada daun pintu, dia melipat kedua tangan di depan dada dan bersikap santai. Membuat si empunya kamar terlonjak kaget dan sedikit mengumpat.

“Apa sih kamu! Ngagetin aja!” teriak Swasti yang sedang melepas pernak-pernik yang menghiasi kepalanya.

“Jawab aja, apa ini semua rencana kamu merebut Andra dariku? Apa kamu nggak bisa cari suami sendiri sampai-sampai kamu merebut dari adikmu sendiri?” cibir Kahiyang pada Swasti.

“Jaga mulutmu, Kahi!” teriak Swasti. Dia berdiri sembari menatap sang adik yang masih berdiri di samping pintu. “ Kecurigaanmu itu nggak berdasar, nggak punya bukti. Tega banget sih kamu ngomong gitu. Yang korban disini itu aku. Aku yang harus gantikan kamu menikah, Kahi,” jawab Swasti dengan mata berembun.

“Aku nggak mengharapkan ucapan terima kasih darimu, tapi aku mohon jangan ngomong gitu,” ucapnya sembari terisak.

“Kamu nggak usah pura-pura. Aku tahu kalau kamu sejak dulu udah tertarik sama Andra ‘kan? Itu sebabnya kamu fitnah aku dengan cara seperti ini,” cecar Kahiyang.

Swasti berdiri, tidak terima dengan tuduhan Kahiyang padanya. “Kenapa sih kamu selalu berburuk sangka sama aku? Sebenarnya apa salahku sama kamu?” 

Swasti terisak di tempatnya, menyalahkan diri sendiri karena tidak menjadi kakak yang baik untuk Kahiyang. Tapi, Kahiyang paham betul jika tangis itu hanya kepura-puraan saja.

“Swasti, ada apa ini?” Andra masuk ke kamar setelah mendengar teriakan Swasti. Mendapati istrinya tengah menangis, membuat Andra merasa marah. Matanya beralih menatap tajam pada Kahiyang yang berdiri tidak jauh darinya. Tanpa sebuah aba-aba, dia menampar gadis itu dengan keras.

“Apa belum puas kamu!” teriak Andra dengan mata menyala.

Kahiyang yang merasakan panas pada pipinya, balas menatap tajam pada sang mantan kekasih. “Kamu udah permalukan aku dan keluargamu, dan sekarang kamu masih serang kakakmu yang udah lindungin kamu? Sungguh, Kahiyang aku bener-bener nggak nyangka ternyata kamu wanita nggak punya hati,” imbuh Andra.

Teriakan Andra berhasil mengundang perhatian Burhan. Pria bertubuh tegap itu datang untuk melihat apa yang terjadi. Hal itu menjadikan kesempatan bagi Swasti untuk semakin memojokkan adiknya.

“Kahiyang menuduhku merencanakan kejadian hari ini, Pak. Dia merasa aku menjebaknya dan membuat kekacauan ini,” lirih Swasti dengan suara serak. “Aku mana tega, Pak. Aku juga nggak kepikiran buat rencanain itu, aku sibuk kerja sampai pulang malam. Tapi, Kahi—”

“Swasti, aku nggak ngomong kaya gitu, ya! Aku cuma tanya apa kamu yang merencanakannya?” Sergah Kahiyang membela diri.

“Itu sama aja kamu nuduh!” potong Andra seraya menunjuk wajah Kahiyang. Wajahnya merah padam menunjukan bahwa dia tengah murka. 

“Cukup!” Suara Barito Burhan berhasilkan mengheningkan suasana. “Putri keduaku memang salah, tapi bukan berarti kamu bisa menamparnya seenak hati. Bagaimanapun juga kamu nggak berhak untuk main fisik dengannya.”

Andra memalingkan wajahnya, dia bahkan tidak mengindahkan perkataan ayah mertuanya. Lalu beralih pada Swasti yang masih terisak di tempatnya. 

“Kembali ke kamar masing-masing. Aku tidak mau mendengar keributan lagi,” titah Burhan lalu keluar dari kamar Swasti. Dia juga mengingatkan Kahiyang untuk datang menemuinya saat semua kerabat sudah pergi.

“Puas kamu, Kahiyang? Sudah bikin keluarga kita berantakan, saling tuduh satu sama lain,” lirih Swasti.

Kahiyang menghentikan langkahnya, kemudian berdecih mendengar pertanyaan kakaknya. Lalu dia membalik badan dan berucap, “Bukankah itu keahlianmu? Kamu selalu berteriak histeris saat terpojok agar orang lain membelamu, lalu aku yang selalu menjadi tumbal dari setiap tindakanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Tukar Tambah   Tidak Mungkin

    “Oh, a-anu. Ini kan jam istirahat, saya ijin makan siang sama istri. Nanti setelah selesai makan balik ke kantor lagi.” Benua terbata seraya memainkan matanya sebagai kode pada Neo.“Loh, sejak kapan kamu punya istri? Aku nggak tau kalau kamu udah nikah,” tanya Neo dengan wajah bingung.Sebagai sahabat yang cukup dekat dengannya, Neo tidak tahu menahu tentang pernikahan Benua dan tidak mendengar apapun.“Hahaha…, panjang ceritanya,” ucap Benua dengan nada tenang tapi matanya melotot seolah mengintimidasinya.Awalnya Neo menaikkan satu alisnya tidak paham. Tapi lirikan mata Benua pada Kahiyang membuat Neo sadar jika Benua sedang bersandiwara.“Oh, baiklah. Maaf kalau ganggu makan siang kalian.” Neo pergi. Tapi dia masih penasaran dengan yang terjadi. Yang mengundang rasa penasarannya adalah wanita yang saat ini bersama dengan Benua. Karena ini pertama kalinya mereka bertemu.“Siapa?” tanya Kahiyang dengan berbisik. Seolah takut jika suaranya terdengar oleh orang lain.“Oh, itu. Teman k

  • Suami Tukar Tambah   Bab 28 Siapa?

    Swasti merasa tersinggung. Sebelum dia datang ke salon, dia menyempatkan untuk mengecek saldo dari kartu yang diberikan oleh ibu mertuanya dan nominal uang dalam kartu tersebut hampir seratus juta.“Maaf, Kak. Tetep tidak bisa,” balas kasir itu lagi. “Ada kartu lain, mungkin?”Dan tentu saja, kejadian itu membuat Swasti semakin panik. Bukan karena tidak mempunyai uang, melainkan biaya perawatan yang dijalani hari ini bernilai lebih dari sepuluh juta. Jika dia memakai uang pribadinya, bahkan saldonya saja tidak cukup.“Gimana, Swas? Ada kartu lain nggak? Kamu udah janji loh bayarin perawatan aku.” Sherly mengingatkan kembali tentang janji Swasti padanya. “Kalo gitu aku duluan ya, masih ada urusan soalnya,” pamit Sherly.Sherly pergi begitu saja, melimpahkan semua tagihan pada Swasti yang sedang kebingungan. ‘Sialan!’ umpat Swasti dalam hati.Swasti terpaksa memakai uang pribadinya untuk membayar perawatannya dan Sherly. Bukan hanya kesal, tapi dia juga marah karena ATM yang diberikan

  • Suami Tukar Tambah   Bab.27 Coba Lagi!

    Swasti datang ke kantor Andra. Dia memaksa bertemu dengan alasan ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan suaminya itu. Sebenarnya Andra menolak, tapi dia takut jika Swasti membuat keributan di kantor yang akan membuat namanya jelek.Akhirnya Andra mengijinkan Swasti masuk ke kantornya. “Kantor kamu ternyata besar juga, ya?” komentar Swasti seraya mengedarkan pandangannya memindai seluruh ruangan.Andra tidak menggubris ucapan Swasti, dia lebih memilih untuk fokus bekerja daripada harus mengomentari ucapan Swasti yang menurutnya tidak penting itu.“Mau ngomong apa sih? Telpon kan juga bisa,” protes Andra pada Swasti. “Aku udah telpon kamu berkali-kali tapi nggak kamu jawab,” jawab Swasti. Dia berdiri di samping Andra, ikut menatap layar komputer pada meja pria itu.Andra berdalih jika dirinya sedang bekerja dan tidak ingin diganggu dengan hal pribadi yang tidak penting. Yang tentu saja jawaban itu membuat Swasti geram. “Aku udah mutusin kalau aku mau berhenti kerja,” ucapnya denga

  • Suami Tukar Tambah   Masih Swasti

    Swasti membeku. Rasanya ada batu besar yang menghantam kepalanya. Uang gaji milik Andra bukan menjadi miliknya, melainkan diberikan pada ibunya. Semua?“Tapi, Ndra. Di gaji kamu itu juga ada hak aku sebagai istrimu. Kok kamu kasih semua ke mamamu sih?” protes Swasti kesal.Swasti yang marah, melempar sendok ke atas piring hingga menimbulkan bunyi berdenting. Yang tentu saja menarik perhatian dari suaminya. Juga, tanpa diduga Andin mendengar ucapan Swasti yang minta uang gaji.“Swasti, kamu ‘kan punya gaji sendiri. Kenapa kamu repot urusi gaji Andra. Kalau kamu mau beli sesuatu, ya beli aja. Kamu kerja juga,” sela Andin seraya menggeser sebuah kursi untuknya duduk.Mendengar ucapan ibu mertuanya, Swasti naik pitam. Bukan masalah punya uang atau tidak, tapi dia sedang menanyakan haknya sebagai istri.“Tapi, aku istrinya Andra, Ma. Jadi wajar dong kalau minta uang. Aku berhak juga!” teriak Swasti.Suasana semakin menegang saat keduanya tidak ada yang mau mengalah. Tetap berpegang pada pe

  • Suami Tukar Tambah   Bab.25 Jungkir Balik Dunia Swasti

    Swasti terdiam. Dia merasa terpojok oleh situasi. Ibu mertuanya terus mencecarnya tanpa henti perihal kewajiban istri. Sedangkan Andra tetap diam seolah sedang menyaksikan drama rumah tangga di televisi. Tak bergeming sedikitpun.“Kalau kaya gitu percuma dong Andra jadikan kamu sebagai istrinya. Buat apa kalau istri cuma tugas di ranjang aja!” seru Andin.Kalimat yang diucapkan Andin cukup sederhana, tapi mampu membuat Swasti terasa tertampar. Dia berdecak kesal, baru beberapa jam dia terlelap, kini harus bangun hanya untuk masalah sepele.“Ma, tanpa mengurangi rasa hormatku sama Mama, aku bener-bener capek, kerja pulang malam. Dan aku harus berangkat kerja siang. Jadi aku harus tidur sehat supaya nggak ngantuk di tempat kerja.” Swasti membela diri.Alih-alih puas dengan jawaban menantunya, Andin justru bertambah kesal karena menurutnya alasan Swasti terlalu dibuat-buat.“Itu resiko kamu sebagai istri yang bekerja. Jangan jadikan kerjaan sebagai alasan kamu mangkir dari tugas sebagai

  • Suami Tukar Tambah   Istri Apa Pembantu, Sih?

    Kejadian kemarin membuat hubungan Benua dan Kahiyang menjadi lebih dekat. Kahiyang juga tidak sungkan bertanya tentang pria yang bernama Shenzhen tersebut. Mau tidak mau Benua menceritakan siapa dan hubungannya dengan Benua.“Dia tinggal di kamar bawah. Mungkin dia pernah liat kamu keluar dari kamar ini. Itu sebabnya aku nggak ijinin kamu buat sembarangan keluar kamar. Karena aku nggak mau terjadi sesuatu hal yang nggak diinginkan,” terang Benua.“Jadi semua penghuni rumah ini semuanya laki-laki?” tanya Kahiyang dengan mata membola. Tak disangka, peraturan yang menjadikannya seperti burung dalam sangkar ternyata karena untuk melindungi dirinya dari mata jahat pria lain. Kahiyang merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk pada Benua.Semua yang mengganjal di hati Kahiyang, sudah dia luapkan dan mendapat jawaban dari Benua. Tak ada lagi prasangka pada pria itu. Membuat hati Kahiyang terasa lega dan lebih legowo menerima Benua menjadi suaminya.Pembicaraan malam itu cukup intens, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status