Home / Urban / Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa / Bab 3 Lamaran yang Mendadak

Share

Bab 3 Lamaran yang Mendadak

Author: S.Z.Lestari
last update Last Updated: 2024-08-26 14:40:44

“Apa kabar?” Alexander menatapku dengan senyum yang masih memesona. Pemikiran itu membuatku memalingkan wajah darinya.

“Baik.” Aku menjawab sekedarnya. Tidak mau aku larut dalam kesedihan tatkala melihatnya. Kami berpacaran selama lima tahun dan berakhir begitu saja hanya karena ketidakcocokan. 

Kembali aku berkutat dengan pakaian yang belum aku rapikan. Untuk apa Alex datang kemari ketika hari masih terang seperti ini? biasanya dia datang ketika hari sudah mulai gelap. Oh aku hampir lupa. Dia pacarnya Utami. 

Terdengar suara Utami di dalam kamar berbicara dengan Ibu. Entah apa. aku tidak mau ambil pusing. Tumben pula Utami sudah ada di rumah. Biasanya dia sibuk bekerja dan pulang nanti malam diantar Alex. 

“Eh Ayu, udah kembali ke dunia nyata?” suara Utami menyapa pendengaranku.  “Bengong aja daritadi.” Lalu dia tertawa. Namun, tertawa yang ditahan. Tawanya saja terkesan anggun. Apalah dayaku tertawa saja seperti babi yang mengik. 

“Emangnya enggak boleh?” aku menimpali tetapi dengan suara pelan. 

Lagi, Utami tertawa pelan. “Cari pacar sana. Supaya ada kegiatan.” Ternyata dia mendengar gumamanku. 

“Utami.” Alex berkata dengan nada memeringatkan.

Aku menahan diri untuk tidak memutar mata pada ucapan Alex. Aku tidak perlu untuk dibela seperti itu.

“Loh aku benar, Sayang. Dia mesti cari pacar.” Utami berdecak. 

Aku mendongak memerhatikan Utami yang sudah berganti pakaian rapi dengan tas tangan kerlap-kerlip berwarna merah muda, senada dengan warna gaunnya yang selutut. 

“Kan kalau punya pacar …,” Utami kembali berkata. “Bisa dibawa ke kondangan.”

Alisku berkerut mendengar ucapan Utami. Ke pernikahan membawa pacar menjadi tolak ukur? Yang benar saja. 

“Ayu mau nikah bentar lagi, Nak.”

Timpalan suara Ibu membuatku menoleh. “Bu!” aku berseru. 

“Apa?!” mata Ibu menatapku tajam. Jika tidak ada Alex, sudah pasti suara Ibu menggelegar dengan mata melotot hampir keluar dari tempatnya. Kini Ibu menjaga dirinya agar lebih wibawa di depan Alex. 

“Wah!” Utami berseru. Dia mengibaskan rambutnya. Seruannya terkesan tidak peduli. “Baguslah. Cepat nikah supaya aku dan Alex nikah juga. Nungguin kamu tuh lama banget. Mau dilangkahi tapi nggak boleh. Repot.”

Aku diam. Tidak ingin menimpali. Dialah yang memulai keinginanku untuk tidak menikah. Aku pun sudah memberikan dia keleluasaan untuk menikah dahulu tetapi malah dia menolak dengan alasan yang tidak jelas.

“Kapan, Bu?” Alex bertanya penuh minat.

“Lamarannya kalau jadi nanti sore. Nikahnya ya secepatnya.” Ibu menjawab dengan yakin.

“Bu, aku kan sudah bilang—”

“Ayu,” ucap Ibu pelan padaku tetapi matanya menatapku penuh kekesalan. “Yang penting ada yang mau sama kamu. Kapan lagi kamu mau sendirian?”

Aku menahan air mataku. “Tapi—”

“Nah,” sela Utami. “Ibu benar, Ayu. Sama siapa, Bu?”

“Tukang panggul di pasar Tarrim.” Ibu menjawab dengan senyum mengembang.

Utami mengembangkan senyumnya dan aku yakin dia menahan tawanya. “Bagus. Sesuai.” Lalu dia berbalik. “Ayo, Alex, kita pergi. Sudah terlambat ini.”

“Nak,” panggil Ibu pada Utami. “Nggak mau jdi saksi lamaran Ayu? Nanti kan mau lamaran.”

Utami mengibaskan tangannya ke udara. “Nggak. Acara ini lebih penting.”

Alex berdiri dari duduknya. Dia mengulurkan tangannya pada Ibu dan mencium tangannya takzim. “Maaf, Bu. Kali ini saya dan Utami nggak bisa jadi saksi,” ucapnya. “Di kantor ada syukuran kenaikan jabatan saya.”

“Oh!” Ibu tertawa senang.  “Kalau begitu pergilah. Acara Ayu memang nggak begitu penting diikuti sih.” 

Lalu Ibu mengantarkan Alex dan Utami hingga depan gerbang. Aku menghela napas. Aku mengangkat pakaian yang sudah kulipat dan meletakkannya di atas meja. Biar Ibu yang membawa ke dalam kamarnya saja. Aku akan membawa pakaianku saja. Kemudian aku menguap. Kupikir, tidur sebentar tidaklah buruk.  

***

“Heh, bangun! Jam berapa ini?” suara Ibu lalu kurasakan tanganku sakit sekali. Ibu mencubit lenganku. Pasti akan lebam nantinya. “Bangun!” 

“Aw!” aku mengaduh lalu membuka mata. “Apa, Bu?” tanyaku enggan. 

“Tidur melulu kerjamu!” Ibu meraih tanganku lalu menarikku hingga duduk. Aku meringis lagi merasakan tamparannya di lenganku. “Bangun! Buatin minum sama cemilan!”

Aku melihat jam di dinding. Pukul lima sore. “Iya, Bu. Tapi aku mandi dulu.” Aku gerah dan ingin mandi. Di dalam kamarku tidak ada kipas angin karena rusak. Belum aku ambil dari tukang servis di pasar. 

“Nggak perlu!” Ibu menarikku berdiri. “Bangun! Calon suamimu sudah datang itu.”

Mataku melotot seketika. “Apa, Bu?” 

“Bangun makanya. Ayahmu lagi nentuin tanggal nikahannya kapan.” Ibu tersenyum senang. “Akhirnya ada yang mau sama kamu walau tukang panggul pasar.”

“Bu! Aku nggak mau.” Aku mulai membantah. Gila saja aku nikah dengan tukang panggul. Aku Sarjana. Mana bisa aku nikah dengan orang yang tidak berpendidikan begitu.

“Nggak bisa dibantah.” Ibu berkata setengah berbisik. Dia menatapku. “Kamu dan Tukang panggul itu nggak ada pilihan.” Lalu dia tertawa pelan kemudian pergi dari kamarku. 

“Ayu!” Ayah berteriak memanggil. “Kemari. Calon suamimu mau lihat mukamu.”

Aku menarik rambutku frustrasi. “Aku kabur saja kalau gitu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa   Bab 74 Dari Mata Nayla

    “Aneh juga,” gumamku lebih pada ke diri sendiri saat teringat seseorang.Aku tidak tahu kenapa setiap kali melihat Kak Raihan, rasanya seperti melihat seseorang yang sudah pernah kukenal di kehidupan lain. Bukan karena dia populer, bukan juga karena dia ketua OSIS yang disukai banyak orang tapi karena caranya memandang dunia, seperti orang yang pernah jatuh dan belajar berdiri lagi dengan hati-hati.Aku anak buruh cuci. Ibu berangkat pagi, pulang sore, dengan tangan yang semakin keriput setiap harinya. Kami tinggal di rumah kecil di pinggir kota Tarrim, di gang yang kalau hujan sedikit saja langsung becek.Tapi Ibu selalu bilang, “Nayla, kamu harus sekolah tinggi biar tanganmu nggak sekasar tangan Ibu.”Aku selalu mengangguk, meski sering kali hati terasa lelah. Sampai aku bertemu Kak Raihan.Pagi itu, di lapangan sekolah, aku baru selesai menempel namaku di papan absensi. Kak Raihan lewat sambil membawa clipboard.“Sudah isi data kelompok?” tanyanya ramah.“Sudah, Kak. Tapi aku takut

  • Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa   Bab 73 Gadis Bernama Nayla

    “Jalannya dipercepat!” suara panitia OSIS bergema.Hari pertama masa orientasi di SMA Tarrim selalu riuh. Suara peluit dan tawa bercampur di udara, membuat lapangan terasa seperti lautan putih abu-abu.Raihan berdiri di tepi lapangan dengan clipboard di tangan. Sebagai ketua OSIS, dia sudah terbiasa dengan pemandangan siswa baru yang gugup, panitia yang sibuk, dan matahari yang terlalu terik untuk jam segini. Jam delapan pagi.Namun pagi itu, entah kenapa, ada satu wajah yang membuat langkahnya terhenti.Seorang siswi baru berdiri agak ke belakang sembari menatap kertas lusuh di tangannya dengan wajah bingung. Rambutnya diikat rapid an ada pita biru kecil yang hampir lepas di ujungnya.Raihan menghampiri. “Nama kamu siapa?” tanyanya dengan nada tenang.Gadis itu menoleh cepat. “Nayla, Kak. Nayla Adhani,” jawabnya agak gugup.“Kelompok berapa?”“Harusnya tiga, tapi kertasnya... tintanya luntur.”Raihan menunduk menatap kertas itu sebentar lalu tersenyum. “Oke, Nayla Adhani, ikut aku. K

  • Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa   Bab 72 Jejak yang Ditinggalkan

    “Rai, kenapa nggak pakai mobil aja? Sekalian biar Ayah tenang,” ucap Ayu lembut.Pagi itu, Ayu bersandar di kusen pintu dapur sambil memperhatikan anaknya bersiap berangkat setelah sarapan pagi. Raihan sedang mengikat tali sepatunya di kursi makan.Raihan Sigit Bhagawanta tumbuh menjadi remaja yang sederhana. Mungkin terlalu sederhana untuk ukuran anak orang terkaya di Tarrim.Tidak ada kemewahan mencolok pada dirinya. Seragam sekolahnya sama seperti yang lain, sepatunya kadang berdebu karena naik motor ke sekolah tanpa sopir, dan jam tangannya sudah tergores di tepi. Jam tangan yang dibelinya murah di toko jam di pasar.Raihan menatap ibunya sambil tersenyum. “Aku cuma ke sekolah, Ma, bukan mau rapat direksi. Lagi pula, macet. Naik motor lebih cepat.” Kemudian Raihan menyandang tas punggungnya. Tas punggung sederhana yang orang lain tidak akan tahu kalau itu mahal. mungkin orang hanya menganggap tas itu kwalitas biasa.Sigit yang sedang membaca koran di meja makan menurunkan kacamata

  • Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa   Bab 71 Hidup yang Disempurnakan

    Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang keluarga, menciptakan bayangan lembut di dinding putih.Dari arah dapur terdengar tawa kecil—suara anakku yang kini bukan lagi bocah kecil, melainkan remaja berusia tujuh belas tahun yang mulai memahat dunianya sendiri.“Ayah, tadi Bu Nisa bilang nilai matematikaku sempurna lagi!” teriak Raihan dari arah pintu, seragam putih-abunya sedikit kusut tapi wajahnya bersinar bangga.Aku menoleh dari meja makan, tersenyum. “Wah, pantes dari tadi Mama dengar suara motor berhenti langsung disusul nyengir besar.”Sigit yang sedang duduk di teras menurunkan korannya. “Ketua OSIS pulang juga.”Raihan mengerucutkan bibirnya. “Ayah jangan gitu dong, malu.”Aku tertawa pelan. “Malu kenapa? Kamu kerja keras, Rai. Mama bangga banget sama kamu.”Dia duduk di kursi dekatku lalu membuka kotak bekalnya. Bekal yang kubuatkan selalu habis tidak bersisa. “Teman-teman aku tadi pada heran, Ma. Mereka pikir aku ikut les mahal di kota. Padahal cuma belajar sama Ayah tiap

  • Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa   Bab 70 Raihan Sigit Bhagawanta

    “Aduh... perutku kayak ditarik dari dalam,” gumamku pelan sambil memegang sisi perut.Sigit yang sedang menata pakaian bayi di ranjang langsung menoleh cepat. “Kenapa, Yu? Kram lagi? Mau aku pijitin?” wajahnya mulai tegang.Aku menggeleng sambil tersenyum lemah. “Kayaknya bukan kram, Git. Tapi kayak... nyeri banget. Dari tadi makin sering.”Wajahnya langsung berubah panik. “Serius, Yu? Jangan bercanda dulu deh. Kamu udah ngerasain kayak gini dari kapan?”Aku menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang datang lagi. “Sejak sore, tapi aku pikir cuma kontraksi palsu.”Sigit buru-buru duduk di sampingku, tangannya memegang bahuku. “Kontraksi palsu apa! Kamu udah kelihatan pucat begini!”Aku ingin tertawa tapi malah meringis. Sigit kalau panik malah lucu. Tetapi aku tidak bisa tertawa sekarang. Perutku sakit.“Tenang dulu, Git,” kataku berusaha menahan sakit. “Kalau kamu panik, nanti aku ikut panik.”Dia mengusap rambutku dengan gugup. “Aku nggak panik... ya, mungkin sedikit.”Aku menata

  • Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa   Bab 69 Nafas Baru

    “Aku bikinin teh atau kopi, Git?” tanyaku sambil berdiri di pintu teras, mengenakan apron biru muda.Sigit menoleh dari arah teras, di tangannya sudah ada selang air untuk menyiram tanaman. “Teh aja, Yu. Tapi manisnya jangan kayak kamu, nanti aku nggak sanggup minum.”Aku terkekeh. “Aduh, Sigit, pagi-pagi udah gombal.”Dia tersenyum sambil nyiram pot bunga. “Biar semangat. Hidup tuh harus dimulai dengan teh hangat dan senyum istri,” katanya masih berusaha gombal.Aku memutar bola mata pura-pura jengkel padanya lalu meletakkan satu cangkir the dan satu lagi kopi di meja teras. “Kalau gitu, habisin ya. Aku nggak maunya dingin cuma gara-gara kamu sibuk nyiramin bunga yang udah kamu siram kemarin.”Sigit tertawa mendengar ucapanku. “Bunga juga butuh perhatian, kayak kamu, Yu,” balasnya. “Kan kemarin disiram. Hari ini belum. Kayak cinta. Tiap hari.”Aku menatapnya sambil menggeleng tapi senyumku tak bisa kutahan. Ada saja yang dikatakannya setiap hari.Aku menghela napas pelan lalu duduk d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status