MasukRohku melompat menerjangnya, mencoba memukul tangannya, tetapi tubuh kasatmataku meluncur menembus tubuhnya tanpa berdampak apa pun.
Bayiku berjuang di bawah bungkaman selimut tebal itu, tangan-tangan kecilnya bergerak-gerak panik mencari udara.
Natalia menatap ke dalam boks bayi dengan senyum sadis yang sangat mengerikan, menekan selimut itu makin dalam.
"Muka anak ini mirip sekali dengan ibunya yang sudah jadi abu di laut," bisik Natalia tepat di telinga bayi kecilku yang tak berdaya. "Setiap kali aku lihat wajah anak ini, aku teringat betapa bencinya aku pada Seraya. Kamu pikir aku akan merawatmu baik-baik? Kamu cuma alat agar penampilanku sebagai Sera kelihatan makin sempurna di mata publik. Tunggu saja, tidak lama lagi, aku pasti singkirkan kamu, iblis kecil!"
*****
"Ya Allah! Nona Shelina! Ya Allah, Pak Adrian! Ibu!"
Bi Minah, ART senior yang sudah bekerja denganku sejak aku masih merintis bisnis, berlari gemetar turun dari lantai dua.
Syukurlah, ada yang sadar anakku tidak baik-baik saja setelah semalam diperlakukan kejam oleh Natalia.
Kedua tangan Bi Minah menggendong bayi kecilku yang membiru dengan tubuh gemetaran hebat akibat demam tinggi.
Aku yang melayang di sampingnya hanya bisa menangis tanpa air mata. Semalaman aku menjaga boks Shelina, menyaksikan kekejaman wanita iblis itu.
Adrian yang sedang menikmati kopi pagi di ruang makan mendadak berdiri kaget. "Ada apa, Bi? Kenapa teriak-teriak?!"
"I-ini, Pak ... Nona Shelina badannya panas sekali! Terus di pipi dan paha kecilnya ada lebam-lebam hitam!" tangis Bi Minah pecah. Matanya memerah, tangannya gemetar menimang bayiku yang makin lemah.
Natalia—yang kini menggunakan wajahku—turun dari tangga dengan langkah tergesa-gesa.
Begitu melihat kondisi bayi dalam dekapan Bi Minah, raut wajahnya mendadak berubah.
Air mata bercucuran. Akting sempurna untuk menutup kejahatannya.
"Astaga! Bayiku! Anakku kenapa, Adrian?!" jerit Natalia histeris, melemparkan tubuhnya ke dekat Bi Minah dan merebut bayi itu. “Siapa yang tega melakukan ini ke anakku?! Astaga, badannya panas, Sayang!"
"Cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Adrian panik.
Lampu darurat unit gawat darurat menyinari lorong Rumah Sakit. Aku melayang tepat di atas rombongan mereka, mengamati setiap jengkal kejadian dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Bayiku langsung dilarikan ke ruang pemeriksaan khusus anak. Seorang dokter pria berjas putih dengan perawakan tinggi, rahang tegas, dan tatapan mata yang sangat tajam keluar dari ruang pemeriksaan beberapa jam kemudian.
Bimantara. Dialah dokter spesialis anak terbaik di rumah sakit ini, sekaligus temanku yang dulu sempat dijodohkan denganku. Aku menolak perjodohan itu karena aku mencintai Adrian.
"Bimantara … tolong anakku," bisikku lirih.
Bima berjalan mendekati Adrian dan Natalia dengan raut wajah yang sangat dingin dan tegang. Ia memegang lembaran hasil rekam medis dan foto rontgen di tangannya.
"Gimana keadaan anakku, Bima?" tanya Adrian cemas.
"Kondisinya kritis. Suhu tubuhnya mencapai 39,8 derajat celsius akibat infeksi dan stres fisik berat," ujar Bima.
Matanya menatap lurus ke arah Adrian, lalu beralih menatap tajam ke wajah Natalia. "Dan yang lebih parah ... lebam di pipi, paha, serta memar di dada bayi ini bukan karena alergi atau gigitan serangga. Ini adalah bekas cubitan keras dan tekanan fisik yang disengaja."
Adrian melotot kaget. "Apa?! Kekerasan pada bayi?!"
"Ya," tegas Bima, terasa dingin dan curiga. "Seseorang telah menganiaya bayi prematur yang baru keluar dari NICU ini secara brutal. Sebagai dokter yang menangani, aku wajib melaporkan indikasi tindak pidana kekerasan anak ini ke kepolisian. Adrian, aku sarankan kamu segera mencari tahu siapa pelakunya di rumahmu."
Mendengar kata 'kepolisian', tubuh Natalia sempat membeku sejenak. Namun, dengan cepat iblis itu menguasai diri. Air matanya kembali menetes deras, wajahnya menampilkan ekspresi terkejut.
"Ya Tuhan ... tega banget yang lakuin ini ke Shelina!" Natalia menangis, menutup mukanya. Lalu, dengan tiba-tiba, ia menunjuk lurus ke arah Bi Minah yang berdiri gemetar di sudut lorong bersama sopir. "Pasti dia! Nggak ada orang lain lagi yang memegang bayiku selain dia!"
"Bi Minah?!" Adrian menoleh murka.
"Iya, Adrian! Semalam waktu aku capek dan ketiduran, Bi Minah yang izin pegang Shelina untuk diganti popoknya!" Suaranya bergetar menirukan suaraku saat marah. "Aku ingat tadi malam dia kelihatan kesal karena Shelina terus menangis dan mengganggu waktu istirahatnya! Dialah pelakunya!’
Bi Minah tersentak hebat, wajah tuanya pucat pasi bagai kertas. "Ya Allah, Bu Sera! Demi Allah, saya nggak pernah menyakiti Nona Shelina! Saya yang merawat Ibu Sera dari kecil, mana mungkin saya tega menyakiti anaknya Ibu?!" tangis ART tua itu pecah, berlutut di lantai hospital yang dingin.
"Tutup mulutmu, wanita tua!" bentak Adrian murka. Tanpa mendengarkan penjelasan apa pun, Adrian menarik lengan Bi Minah dan mendorongnya kasar. "Ternyata selama ini kamu memelihara ular di rumah kita, Sera! Aku nggak akan tinggal diam!"
"Pak Adrian, tolong dengarkan saya, Pak! Saya nggak bersalah!" jerit Bi Minah terisak-isak saat Adrian memanggil pihak keamanan rumah sakit dan polisi yang kebetulan bertugas di sana.
"Bukan Bi Minah! Yang menganiaya anakku itu Natalia!" jeritku histeris.
Rohku melayang menerjang Natalia, mencoba mencakar matanya, merobek mulut manisnya yang penuh dusta. Namun, lagi-lagi tanganku hanya menembus udara hampa.
Aku harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Bi Minah—satu-satunya orang yang tulus menyayangiku dan bayiku di rumah itu—diseret oleh polisi dalam keadaan terborgol, dijadikan kambing hitam atas kekejaman Natalia.
Amarah yang membakar jiwaku sungguh tak tertahankan.
Mengapa kejahatan begitu mudah menang? Mengapa orang-orang baik di sekitarku harus menjadi korban dari amarah dan keserakahan monster-monster ini?
Natalia bersandar di dada Adrian, berpura-pura menangis terisak-isak atas penangkapan Bi Minah. Namun, dari sudut matanya, aku melihat lirikan dingin penuh kemenangan yang sangat memuakkan.
Malam harinya, lorong rumah sakit mulai sepi. Bayiku dipindahkan ke ruang perawatan intensif terisolasi.
Adrian sedang pergi ke kantor polisi untuk mengurus berkas tuntutan penjara bagi Bi Minah.
Natalia berdiri di depan kaca besar ruang perawatan bayi, menatap anakku yang terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya.
Saat tidak ada orang di sekitarnya, wajah menangis itu berganti menjadi senyuman tipis.
"Dasar wanita tua bodoh. Masuk penjaralah kamu menggantikan aku. Kamu juga harus mati, Setan Kecil," bisik Natalia pelan pada dirinya sendiri.
Klek.
Suara langkah kaki terdengar. Bima berjalan mendekati jendela kaca, berdiri tepat di samping Natalia.
Natalia dengan cepat memasang kembali raut wajah sedihnya. Ia mengusap sudut matanya dengan tisu. "Dokter Bimantara ... terima kasih sudah merawat anak saya. Saya sungguh hancur melihatnya seperti ini."
Bima tidak menatap bayi di balik kaca. Pandangan matanya yang tajam dan menusuk justru tertuju lurus pada wajah Natalia.
Tidak ada sedikit pun rasa iba di mata pria itu.
Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu berbisik dengan suara rendah dan dingin, "Berhenti berdrama."
Natalia tersentak kecil, menoleh ragu. "Maksud Dokter apa?"
Bima melangkah satu tapak lebih dekat, menatap langsung ke dalam manik mata wanita di depannya, lalu mengukir senyum tipis yang penuh sinisme.
"Saya kenal Seraya sejak kami berumur tujuh tahun. Saya tahu setiap gerak-geriknya, suaranya, cara dia sedih, panik, bahkan cara dia memanggil nama saya."
Bima terdiam sebentar, sebelum kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Natalia.
“Saya nggak tahu permainan iblis apa yang sedang kamu jalankan. Tapi satu hal yang pasti. Saya tahu kamu bukan Sera."
-POV Bima-Angin malam tepian sungai berembus pelan, kontras dengan dadaku yang berdebar. Aku berdiri di samping Sera di pembatas jembatan, menikmati gemerlap lampu kota Yogyakarta yang memantul di permukaan air.Sera menoleh menatap wajahku dari dekat. Ada sorot mata yang menyaratkan luka lama, rasa lelah, sekaligus keteguhan baja yang tengah ia pendam seorang diri. "Bima," panggilnya lembut.Aku menoleh, membalas tatapannya. "Ya, Sera? Ada apa?"Sera menarik napas perlahan, jemarinya meremas pelan tepi jaketnya. "Dulu ... gimana perasaan kamu waktu aku menolak perjodohan kita?"Aku tertegun sejenak. Aku buru-buru menarik napas, memasang senyum tipis dan gestur santai untuk menutupi gelombang emosi yang tiba-tiba bergemuruh."Ah ... soal itu?" kataku dengan nada ringan, sengaja menutupi perasaanku sendiri. "Waktu itu sih biasa aja, Sera. Semua baik-baik saja, kok."Sera mengerjapkan mata, mungkinkah dia terkejut dengan jawabanku?"Biasa aja? Kamu ... nggak kecewa sama sekali?"Aku
"Lalu?" tanyaku datar, sengaja memancing reaksi di ujung sambungan telepon.Suara napas Adrian di seberang sana terdengar memburu. Emosinya jelas sudah mencapai ubun-ubun setelah mendengar rengekan dan amukan sang adik.Kali ini kamu tidak akan bisa memanipulasi aku, Adrian. "Sera, kamu sadar nggak kalau kali ini kamu keterlaluan!" seru Adrian. Nadanya tinggi dan bergetar. "Kenapa kamu tega memperlakukan Audrey seperti itu di hadapan teman-temannya? Dia itu adik kandungku! Harga dirinya hancur gara-gara kartu itu diblokir dan ditolak di restoran!"Aku mendengus pelan dalam hati. Menjaga harga diri? Yang benar saja. Di kehidupan pertama, keluarga parasit inilah yang menginjak-injak harga diriku hingga hancur berkeping-keping."Tega?" kataku dengan nada yang sengaja kubuat terdengar tenang dan masuk akal. "Adrian, dengar baik-baik, ya, Sayang. Apa yang aku lakukan itu justru bentuk pendidikan dari seorang kakak ipar yang ingin mengajarinya arti tanggung jawab. Biar dia kapok dan nggak
Aku melanjutkan makan siangku dengan santai, mengiris perlahan sepotong tenderloin steak di piringku, sementara telingaku terus menangkap setiap decak tawa dan kalimat sombong yang meluncur dari meja Audrey di sudut ruangan.Bima yang duduk di hadapanku tampak mengamati gerak-gerikku dengan kening berkerut penasaran. Ia meletakkan garpunya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Ada apa, Sera? Dari tadi kamu terus melirik ke arah sana sambil senyum-senyum," tanya Bima berbisik pelan.Aku menoleh sekilas, lalu mendekatkan wajahku ke arah meja, berbisik tepat di telinganya. "Meja di arah jam sepuluh itu diisi oleh Audrey, adik kandung Adrian," bisikku dengan seringai tipis. "Dia lagi pamer kartu kredit perusahaan yang dikasih Adrian buat foya-foya sama temennya. Padahal, beberapa menit yang lalu, aku sudah suruh Pak Hendra blokir total semua kartu itu."Bima langsung mengulum bibir, menahan tawa. Ia mengangguk kecil tanpa menoleh ke arah meja itu."Jadi penasaran habis ini gimana
"Kamu ngikuti aku, ya?" tanyaku dengan tawa kecil yang tak mampu kubendung.Jantungku rasanya berdesir hangat. Di balik tawa itu, ada perasaan lega yang membuncah di dalam dadaku. Melihat wajah Bima di sini—di tengah kekacauan dan konspirasi yang sedang kuhadapi—terasa seperti menemukan oase di tengah gurun pasir.Bima mendadak salah tingkah. Ia berdehem pelan, membetulkan letak kacamata dan kerahnya dengan gerakan canggung yang sangat kentara."Ngi-ngikuti? Enak aja," kilah Bima, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, sama sekali tidak berani menatap mataku secara langsung. "Aku benareran butuh healing kok. Aku aja baru inget kamu mau ke Jogja juga. Kebetulan jadwal penerbangan kita sama.""Masa, sih?" godaku sambil melipat tangan di dada. "Dokter sekelas Bimantara kehabisan alasan yang lebih logis, ya? Kebetulan yang pas banget, ya."Bima akhirnya menyerah, menyunggingkan senyum tipis yang ketahuan bohongnya. "Ya sudah, anggap saja ini takdir yang menyenangkan."Sepanjang perjalana
Bima menatapku tajam dengan alis bertaut rapat. "Sera, tunggu dulu ... apa benar-benar nggak ada cara lain yang lebih aman? Memalsukan diagnosis penyakit menular seksual seperti itu taruhannya terlalu besar."Aku menggeleng pelan, menatapnya dengan pandangan mantap. "Menurutku, hanya itu satu-satunya cara paling ampuh, Bima. Adrian itu tipe pria yang sangat terobsesi pada citra diri, kebersihan, dan keselamatan fisiknya sendiri. Kalau dia tahu aku terinfeksi HIV, dia pasti bakal menjauh dan nggak akan pernah berani mendekatiku, apalagi menyentuhku lagi."Bima menghela napas panjang, bersandar di kursinya sambil memijit pelipisnya. "Secara teknis, aku bisa aja memasukkan data palsu itu ke sistem laboratorium rumah sakit ini. Kamu juga tahu rumah sakit ini kan milik orang tuaku."Ia menatapku serius, memperingatkan dengan suara rendah. "Tapi kamu tahu sendiri, Sera. Itu pelanggaran berat terhadap kode etik kedokteran. Kalau sampai ketahuan, risikonya lisensi praktisku bisa dicabut perma
Lampu kamar sudah diredupkan. Aku baru saja selesai mengoleskan krim malam di wajahku ketika ponsel di atas nakas bergetar pelan.Tanpa tergesa-gesa, aku meraih benda pipih itu dan menggeser layar untuk mengangkat panggilan dari orang kepercayaan yang kuutus untuk membuntuti suami tercinta."Halo," jawabku."Lapor, Nyonya Sera." Suara di seberang terdengar jelas di tengah sunyinya malam. "Pak Adrian tidak menemui teman-temannya di kafe seperti yang dia katakan. Selepas dari rumah, mobilnya langsung meluncur ke arah distrik komersial dan menjemput Nona Natalia di sebuah apartemen."Sudut bibirku terangkat membentuk senyum miring. Tentu saja, sudah kuduga. Pertemuan formal macam apa yang dilakukan tengah malam berdua saja dengan sekretaris kantor?"Lalu?" tanyaku singkat, nada suaraku datar tanpa emosi."Mereka pergi ke Hotel Grand Imperial, Nona. Dan ... mereka baru saja check-in di kamar suite lantai dua belas."Aku menghembuskan napas pelan, merasa puas namun sama sekali tidak terke







