LOGIN“Nona, anda sangat cantik!” Puji Rere berkali-kali. Pelayan itu tampak sangat puas melihat gaun pengantin warna putih yang dipakai oleh Serena. Sedang Serena yang terus mendapat pujian hanya menatap cermin datar.
“Nona, Anda benar-benar seperti dewi musim dingin! Jika Anda tersenyum sedikit saja, pasti semua pria akan langsung terpikat pada Anda. Tidak, tidak, tidak tersenyum pun mereka pasti sudah jatuh cinta pada kecantikan Anda!”Sekarang pujiannya jadi semakin berlebihanHarris telah berjanji pada Serena bahwa apa pun yang terjadi, Bekav dan dirinya akan berdiri di belakang Braun serta melindungi Serena. Janji itu tersimpan rapat sebagai rahasia mereka berdua. Darius bahkan tak pernah mendengarnya. Darius hanya beranggapan bahwa sebagai saudara yang memiliki ikatan darah, Harris tak akan tega membiarkan adiknya ikut terseret ke dalam neraka. Alasan itulah yang membuat Darius dengan percaya diri mengirimkan surat ke Bekav, meminta Harris menyelamatkan Serena.Siapa sangka usaha itu berakhir sia-sia?Darius mengira Harris begitu dingin dan tega pada saudaranya sendiri. Namun, satu hal yang tak pernah diketahui Darius, kedatangan Serena ke sel penjara itu murni atas keputusan Serena sendiri.Di tempat lain, Harris berdiri mematung di balik jendela ruang kerjanya. Penampilannya masih berantakan, lengkap dengan noda lumpur yang masih menempel di ujung sepatunya. Pikirannya melayang, memutar kembali ingatan beberapa saat lalu
Sebuah ciuman? Serena berkedip beberapa kali. Di dalam sel yang hening, tentu suara Darius terdengar sangat jernih. Meskipun begitu, Serena tetap tercengang ketika mendengarnya. Sesaat gadis itu bahkan mengira indra pendengarannya telah rusak. Apakah dia baru saja salah dengar? “A-apa?” bisik Serena, suaranya yang tadinya begitu tegas mendadak goyah. Genggaman tangan Serena pada jemari Darius perlahan melonggar karena terkejut, namun Darius justru berbalik membalikkan telapak tangannya, mengunci jemari Serena di dalam genggamannya yang hangat dan sedikit gemetar. Wajah pria itu berubah sedikit muram. “Kau bilang akan melakukan apa pun, bukan?” suara Darius terdengar serak, begitu rendah namun cukup untuk membelah keheningan di antara mereka. “Bukankan ini permintaan yang sangat mudah?""Maksudku—""Berikan aku ciuman!" Potong Darius lugas, mengulangi permintaannya. Kali ini Serena mendengarnya dengan sangat jelas.
Aroma pengap segera tercium begitu Serena memasuki sebuah lorong yang gelap. Lampu redup yang dipasang di salah satu sisi dinding tak cukup untuk menerangi ruang di sekitarnya. Beberapa tikus dan kecoa beberapa kali melintas di sekitar kaki para ksatria yang mengawalnya. Udara di sekitar semakin lembab ketika mereka melangkah semakin dalam. Suara rintihan dan aroma amis bercampur busuk mulai tercium ketika mereka melintasi sel-sel yang dihuni oleh para tahanan.Itu terlihat sangat buruk. Diam-diam Serena menelan ludahnya, berusaha sebisa mungkin menekan sedikit gelisahannya. Serena bisa melihat penampilan yang mengerikan ketika melewati beberapa sel. Para tahanan itu semuanya memiliki tubuh yang kurus serta penampilan yang tak terurus. Beberapa luka terlihat di anggota badan mereka. Serena tahu di sini mereka pasti disiksa. Jadi, apakah Darius saat ini baik-baik saja?Serena menatap lantai dingin yang ditapakinya serta kaki telanjangnya yang mulai terasa sakit dan
"Jadilah selirku, dan aku akan menjamin keselamatanmu. Aku akan membawamu pergi jauh dari ibu kota dan kita akan hidup berbahagia bersama.” Komandan itu bicara dengan percaya diri, seolah-olah ia sedang menawarkan sebuah anugerah yang tak tertolak. Di belakangnya, dua bawahannya diam terpaku, penuh dengan rasa keterkejutan. “Berbahagia bersama?” Serena mengulanginya dengan nada mencibir. Awalnya dia berpikir mungkin perilaku sang komandan lebih bagus dari anak buahnya. Meskipun terkesan lebih beretika tapi sebenarnya mereka sama saja. “Ya. Meski aku tak memiliki gelar bangsawan setidaknya aku aku bisa pastikan hidupmu akan lebih baik daripada harus tinggal di penjara.” Komandan itu tampak percaya diri dengan kekayaannya. Berpikir bahwa selama dia memiliki kekayaan, semua hal di dunia bisa dengan mudah berada dalam genggamannya. Namun, jawaban Serena selanjutnya menampar ekspetasinya. “Bagiku lebih baik menjadi gelandangan dari pada menjad
“Kecil.”Serena bergumam pelan, menatap datar ke bawah. Tepatnya ke arah celana ksatria di depannya yang telah jatuh ke tanah. Suaranya memang tidak keras, tapi cukup untuk bisa di dengarkan semua orang. Setelah komentar singkat Serena terlontar, suasana mendadak hening, hanya menyisakan deru napas yang tertahan. Merasa harga dirinya sebagai pria telah dihina, wajah ksatria itu memerah padam hingga ke pangkal telinga. “Jangan meremehkannya. Kau pasti malu jika sudah mencicipinya!”Serena menatapnya tanpa ekspresi. Sebenarnya dia sudah sangat panik saat ini. Ia bisa merasakan punggunya mulai dibasahi oleh keringat dingin. Namun, gadis itu cukup lihai untuk menutupinya dengan wajah datar dan tatapan yang dingin. Seolah dia tak akan tumbang apapun yang terjadi.‘Dewi, jika kehidupan ini benar-benar kesempatan kedua yang kau berikan padaku, maka bantu aku menyelamatkan suamiku.’Itu doa yang dipanjatkan Serena dalam hati. Setelah pergolakan
“Akhirnya tertangkap juga. Menyerahlah!”Serena mengangkat wajahnya, mata birunya menatap nyalang para ksatria istana yang berhasil mengepungnya. Dia baru saja berhasil berdiri. Jatuh beberapa kali membuat kakinya terasa sakit dan pergelangan kakinya berdenyut nyeri. Jemarinya sempat gemetar hebat, tapi Serena memaksakan diri mengepalkan tangannya di balik jubah untuk menyembunyikan rasa takut yang mulai merayap naik ke tenggorokannya.“Dimana rekanmu? Ah, mungkinkah dia meninggalkanmu dan kabur sendirian? Betapa menyedihkannya … haha….” Ksatria yang bertubuh paling besar tertawa keras, suaranya menggema di gang sempit yang pengap itu. Dua ksatria lainnya melangkah mendekati Serena, memaksa gadis itu melangkah mundur dengan waspada.“Aku baru tau bahwa ajudan Braun itu ternyata pengecut. Tapi pilihannya untuk kabur sendirian dan meninggalkan tuannya benar-benar pilihan yang bagus.” Timpal ksatria yang lain sambil tertawa mengejek.Serena mengerutk







