Beranda / Romansa / Suamiku Selalu Ingin Bercerai / Bab 19 Aku Ingin Pulang

Share

Bab 19 Aku Ingin Pulang

Penulis: Fachra. L
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-12 16:27:50

Langit siang terasa begitu menyilaukan.

Aria berjalan tanpa arah. Dia tidak tahu harus ke mana—dia bahkan tidak yakin kenapa dia pergi. Tapi setiap sudut penthouse itu, setiap tatapan Aditya, setiap perhatian yang diberikan pria itu … semuanya terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.

Bukan cinta. Bukan keinginan. Hanya kasihan.

Aria menyeberang jalan tanpa memperhatikan lampu lalu lintas. Tiba-tiba, klakson mobil terdengar nyaring di telinganya.

Tiinn …!

Langkahnya terhenti. Dia berdiri di tengah jalan, dikelilingi mobil-mobil yang berhenti mendadak. Suara orang-orang meneriakinya terdengar samar. Pandangannya berputar. Dunia terasa bergoyang di bawah kakinya.

Lalu, hangat.

Cairan panas mengalir dari hidungnya. Aria menurunkan pandangannya, melihat tetes-tetes merah jatuh ke aspal.

Da rah.

Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya semakin pendek. Tubuhnya terasa semakin lemas.

Dia sekarat. Dia benar-benar akan mati di sini.

Tapi sebelum pikirannya bisa meresapi kepanikan itu, suara deru
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Maria Raden
Bru ini aku baca novel Ampe Baper
goodnovel comment avatar
Sun Ndari
sampai nangis ak bacanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 110 Kehancuran yang Tumbuh di Rahim Anakku

    Pagi itu, Ava tidak sempat sampai ke meja makan.Rasa mual datang begitu saja—keras, mendadak—seperti gelombang yang menghantam lambungnya tanpa aba-aba. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berbalik cepat, nyaris tersandung di lorong sebelum akhirnya berlutut di depan wastafel kamar mandi.Tidak banyak yang keluar. Hanya air liur, sedikit asam, dan sensasi pusing yang membuat kepalanya terasa ringan—terlalu ringan, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya terikat pada lantai.“Ava?”Suara ibunya terdengar dari balik pintu. Cemas. Terburu-buru.“Ava, sayang?”Ia tidak menjawab. Tidak karena tak mau, tapi karena tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya menekan dahi ke pinggir wastafel, memejamkan mata, bernapas pendek-pendek, mencoba menunggu dunia berhenti berputar.Ketika pintu akhirnya terbuka, Isla sudah berdiri di sana dengan wajah yang langsung berubah pucat.“Kita ke rumah sakit,” katanya tegas. Tidak menunggu bantahan.“Aku cuma pusing,” Ava be

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 109 BESOK

    Aria sudah sadar sejak pagi.Bukan benar-benar terjaga—lebih seperti terombang-ambing di antara tidur dan bangun. Tubuhnya lemah, kepalanya terasa berat, dan setiap kali matanya terbuka, dunia di sekelilingnya selalu tampak sedikit kabur.Namun ada satu hal yang selalu sama.“Ponselku…” suaranya lirih setiap kali ia membuka mata. “Norton, ada kabar?”Norton akan mendekat. Selalu dengan ekspresi yang sama—hati-hati, penuh harap yang ditahan. Ia akan mengecek layar ponsel, lalu menggeleng pelan.“Belum ada, Nyonya.”Dan Aria akan mengangguk. Tidak marah. Tidak kecewa secara terbuka. Hanya menutup mata kembali, seolah mengumpulkan tenaga untuk menunggu lagi.Waktu terasa berjalan aneh hari itu.Lambat. Terlalu lambat.Janji Davis terngiang terus di kepalanya. Aku akan membawanya kembali padamu. Tapi pagi berlalu tanpa kabar. Siang merambat dengan sunyi yang menyesakkan.Setiap kali Aria tertidur, Norton duduk tidak jauh darinya, ponsel di tangan, nyaris tidak berkedip. Setiap kali lay

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 108 Sampai Waktu Itu Tiba

    Abram tidak tidur malam itu.Lampu ruang kerjanya masih menyala ketika rumah lain telah lama tenggelam dalam gelap. Di atas meja kayu tua, beberapa berkas terbuka rapi—laporan, catatan singkat, nama-nama yang tidak ingin ia baca terlalu lama.Di sudut meja, ponselnya tergeletak diam. Tidak berdering. Tidak bergetar. Seolah ikut memahami bahwa malam ini, tak ada kabar baik yang pantas datang.Abram duduk dengan punggung sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Usianya terasa berat di persendian, tapi bukan itu yang membuat napasnya sesak. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih pelan, tapi jauh lebih melelahkan.Keputusan.Ia telah membuat terlalu banyak keputusan sepanjang hidupnya. Untuk perusahaan. Untuk keluarga. Untuk orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Tapi tak satu pun yang terasa seberat ini—keputusan yang ia buat diam-diam, tanpa persetujuan siapa pun.Mengubur jejak seseorang.Bukan untuk menyakiti Aria. Hanya … untuk membeli waktu.Abram memejam

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 107 Dia Harus Tahu!

    Lampu di langit-langit menyala tanpa ampun. Terang, putih, dan dingin. Tidak pernah benar-benar padam, hanya meredup sebentar sebelum kembali menyilaukan, seolah waktu di tempat itu menolak memberi jeda.Aditya duduk bersandar pada dinding sel. Punggungnya terasa kaku, tulang lehernya nyeri karena posisi tidur yang tak pernah nyaman. Bau logam, lembap, dan sesuatu yang terlalu lama terkurung menyusup ke napasnya.Di sini, waktu bukan garis lurus—ia pecah, melambat, lalu menghilang begitu saja.‘Dia baik-baik saja.’Itu yang Davis katakan. Tapi Aditya tahu. Terlalu mengenal pria itu untuk tidak menangkap keraguan yang diselipkan di antara jeda napasnya. Ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang sengaja tidak diucapkan.Dan itu tentang Aria.Jari Aditya mengepal perlahan.Baik-baik saja versi siapa?Aria tidak pernah benar-benar “baik-baik saja” jika dia tidak di sisinya. Apalagi setelah semua yang terjadi. Setelah Martha. Setelah hari-hari panjang menunggu yang tidak pernah dijelask

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 106 Tidak Sanggup Kehilangan

    Sejak pemakaman Martha, keheningan seolah menetap dan menolak pergi.Ia duduk di sofa ruang keluarga, memeluk bantal kecil yang sejak tadi tidak benar-benar ia sadari keberadaannya. Matanya sembab, tapi air mata sudah lama berhenti jatuh. Yang tersisa hanyalah rasa nyeri tumpul, seperti luka yang tak lagi berdarah tapi belum sembuh.Martha telah pergi.Dan Aditya … tidak pulang.Janji itu masih terngiang jelas di kepalanya.‘Aku tidak akan lama.’Aditya mengucapkannya malam itu, sambil menggenggam tangannya dengan erat—terlalu erat untuk seseorang yang berkata akan segera kembali.Aria ingat ia sempat menatap wajah suaminya lama, merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi memilih diam. Ia terlalu lelah untuk bertanya.Sekarang, sudah tiga hari berlalu.Ponsel Aria kembali menyala di tangannya. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab.Nomor Aditya tidak aktif.Ia sudah mencoba berkali-kali—pagi, siang, malam—bahkan di jam-jam tidak masuk akal k

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 105 Aku Pasti Akan Menjemputmu!

    Klinik itu masih sepi ketika Ava datang. Bau antiseptik menyambutnya, dingin dan bersih, kontras dengan dadanya yang terasa sesak sejak pagi. Ia duduk di salah satu kursi tunggu, jemarinya saling mengait di pangkuan, gelisah tanpa sadar.Isla keluar dari ruang praktik beberapa menit kemudian. Melihat Ava di sana, langkahnya melambat. “Kenapa tidak bilang kalau kau mau datang?” tanyanya lembut, meski ada kekhawatiran yang jelas di matanya.“Aku hanya … ingin bicara,” jawab Ava pelan.Isla mengajaknya masuk ke ruangannya. Begitu pintu tertutup, Ava menunduk, seolah lantai lebih aman untuk ditatap daripada wajah ibunya sendiri.“Bu,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar tipis. “Bagaimana kalau … kita salah? Bagaimana kalau Ayah terlalu jauh dan mereka menahan Aditya tanpa alasan yang benar?”Isla tidak langsung menjawab. Ia duduk berhadapan dengan putrinya, menautkan pandangan mereka dengan tenang—terlalu tenang untuk kegelisahan yang Ava rasakan.“Kami tidak menahannya, Ava,” kata Isla p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status