Beranda / Romansa / Suamiku Selalu Ingin Bercerai / Bab 31 Mati Saja Dengan Tenang

Share

Bab 31 Mati Saja Dengan Tenang

Penulis: Fachra. L
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-20 10:13:33

Sejak percakapan mereka terakhir waktu itu, Aria jadi sangat menghindarinya. Jangankan untuk mengobrol lagi, untuk makan bersama saja Aria tidak mau satu meja dengannya. Dia lebih memilih membawa piringnya ke depan televisi, melakukannya di sana sambil menonton.

Jika dia pulang, Aria selalu saja sudah di kamarnya. Tidur. Hampir seperti sengaja tidak menyisakan waktu bertemu dengannya.

Suasana rumah jadi tidak enak. Hambar, kosong, dan canggung. Sudah tiga hari Aria hanya diam di kamar, tidak menyapanya sama sekali.

Pagi ini pun sama. Bahkan Aria tidak keluar untuk sarapan.

“Nyonya bilang jika dia akan sarapan setelah ini, Tuan,” kata Norton.

Kedua tangan Aditya mengepal di atas meja.

Sudah tiga hari, dan Aria masih mendiamkannya. Sampai kapan?

Mendadak nafsu makannya pun hilang. Aditya berdiri dari kursinya, mengambil jas dan kunci mobil lalu meninggalkan rumah tanpa sarapan.

Baru setelah mobil Aditya pergi, Aria keluar dari kamarnya. Matanya tertuju ke permukaan meja makan, di mana
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Suryat
semoga Aria bisa sehat lagi..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 117 Mempertaruhkan Segalanya

    Lorong rumah sakit itu berbau antiseptik dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.Aria berjalan perlahan, langkahnya hampir tidak bersuara di atas lantai yang mengilap. Jam dinding berdetak pelan, terlalu jelas di antara keheningan yang menggantung.Nama Jordan Hale tertera di papan kecil di samping pintu.Ia berhenti di sana lebih lama dari yang perlu. Tangannya terangkat, lalu turun lagi, seolah mengetuk pintu itu bisa mengubah apa pun. Akhirnya, Aria mendorongnya perlahan.Ruangan itu terang, tapi terasa kosong.Jordan terbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang tampak utuh. Selang infus terpasang rapi. Monitor di sampingnya berdetak stabil, ritmenya tenang, hampir menenangkan … jika bukan karena kenyataan bahwa itu satu-satunya tanda kehidupan yang tersisa.Aria melangkah mendekat.Wajah Jordan pucat, jauh berbeda dari pria yang ia kenal lewat cerita Aditya—pemilik bar yang riuh, yang selalu tertawa keras, yang katanya tidak pernah bisa diam.Sekarang, ia sunyi. Terlalu sun

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 116 Tidak Membiarkannya Menyerah

    Ruang kunjungan itu tidak berubah.Kaca pemisah. Telepon hitam. Kursi besi yang dingin.Namun saat Aditya masuk dari sisi lain, langkahnya sedikit lebih cepat dari kemarin. Wajahnya langsung berubah begitu melihat Aria—senyum itu muncul terlalu cepat, terlalu rapi, seolah sudah ia latih sebelum pintu dibuka.“Hey,” katanya, suaranya terdengar lebih ringan dari seharusnya.Aria membalas senyum itu. Sama cepatnya. Sama terkontrol. Ia mengangkat gagang telepon dan duduk tegak, bahunya lurus, seolah tubuhnya tidak menyimpan apa pun selain ketenangan.“Kau kelihatan … lebih baik,” kata Aria.“Selama aku bisa melihatmu, aku akan selalu lebih baik.” Senyum Aditya semakin melebar.Ucapan itu menyengat hati Aria—tapi di depannya, ia tetap membalas senyum itu.Aria melihatnya, dan tahu kalimat itu tidak sepenuhnya benar.Ada bayangan lelah di bawah mata Aditya yang tidak ada kemarin. Ada kekakuan tipis di bahunya saat ia duduk, seperti seseorang yang tidurnya tidak pernah benar-benar dalam. Tap

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 115 Setakut Ini

    Pagi datang dengan cara yang tidak sopan.Cahaya matahari menembus celah tirai kamar hotel, jatuh tepat di mata Aria. Ia terbangun bukan karena cukup istirahat, melainkan karena tubuhnya menyerah untuk tetap terjaga.Kepalanya terasa berat, seperti diisi sesuatu yang tidak sepenuhnya mimpi dan tidak sepenuhnya nyata.Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring.Langit-langit kamar itu asing. Terlalu putih. Terlalu bersih. Dan kesadaran datang perlahan—menghantam satu per satu.Penjara.Aditya.Nama Jordan.Kata vegetatif.Perutnya bergejolak pelan.Aria duduk, menurunkan kakinya ke lantai. Gerakannya lambat, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya sepakat dengan keputusan untuk bangun. Saat ia berdiri, ada sensasi tidak nyaman yang tiba-tiba menjalar—ringan, tapi cukup untuk membuatnya berhenti sejenak dan memejamkan mata.Ia menarik napas dalam-dalam.Gelombang mual yang datang tanpa peringatan, lalu surut sebelum sempat benar-benar muncul.Aria menuju kamar mandi, menyalakan keran, membasuh w

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 114 Mustahil

    Lampu-lampu hotel menyala terlalu terang bagi mata Aria.Pintu mobil tertutup di belakang mereka dengan bunyi yang pelan, nyaris sopan. Davis berjalan sedikit di depan, Norton di samping Aria, seolah keduanya tahu—jika ia dibiarkan sendiri bahkan satu menit saja, tubuhnya mungkin akan menyerah.Lobi hotel itu luas, bersih, dan dingin. Marmer mengilap memantulkan bayangan langkah kaki mereka. Tidak ada suara selain denting halus dari resepsionis dan bisik pendingin ruangan.Aria berjalan tanpa benar-benar melihat.Tangannya masih dingin. Dadanya masih terasa sesak, seolah udara Baltimore belum sepenuhnya masuk ke paru-parunya sejak ia berdiri di balik kaca penjara itu.Aditya diborgol, tapi mulunya masih tersenyum dan mengatakan, ‘Aku baik-baik saja’.Kebohongan paling lembut yang pernah ia dengar.Lift bergerak naik. Angka-angka menyala satu per satu. Tidak ada percakapan.Begitu pintu kamar terbuka, Davis mempersilakan mereka masuk.“Aku sengaja menyewa kamar yang lebih besar, karena

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 113 Kembali Untuk Membawanya Pulang

    Janji itu menggantung di udara.Aria sendiri tidak tahu dari mana kekuatan itu datang—kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutnya, penuh keyakinan, seolah dunia akan tunduk hanya karena ia mengatakannya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak akan meninggalkan Aditya di tempat ini.Aditya menatapnya lama.“Aria,” ucapnya pelan.Namanya terdengar berbeda di ruang itu. Lebih berat. Lebih dalam. Seolah satu-satunya hal yang masih ia miliki.“Aku tidak ingin kau—”Kalimat itu terhenti.Bukan karena ia kehabisan kata, tapi karena ia tahu: apa pun yang ia ucapkan sekarang tidak akan menghentikannya.Aria menggeleng pelan, cepat. “Jangan,” katanya lirih. “Jangan hentikan aku, karena apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu di sini lebih lama.”Aditya menutup mata sejenak. “Tapi kau tidak tahu, yang kau hadapi itu—““Apa? Siapa?” tanyanya tergesa karena panik. “Jika aku tidak tahu, maka jelaskan padaku, apa yang terjadi sebenarnya?”Aditya diam senejak, seperti sedang menimbang setia

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 112 Menghancurkan Dirinya Sendiri

    Tangis Aria runtuh.Bukan jatuh perlahan—tapi ambruk, seperti sesuatu yang akhirnya dilepaskan setelah terlalu lama ditahan. Bahunya bergetar hebat, napasnya tersendat, dan suara yang keluar darinya pecah menjadi isak-isak kasar yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?” Suaranya patah, serak, hampir tak terdengar.“Jangan bilang begitu…,” suaranya patah, serak, hampir tak terdengar. “Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?”Ia menggeleng, kuat-kuat, seolah ingin menolak kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.“Kenapa kamu tidak pulang?” Dan pertanyaan itu keluar seperti luka yang disobek ulang. “Aku menunggumu. Aku menunggu setiap hari. Aku mencarimu ke mana-mana—”Suaranya naik, lalu pecah lagi di tengah kalimat.“Aku pikir kau pergi. Aku pikir aku kehilanganmu.”Air mata mengalir tanpa henti, membasahi pipinya, jatuh ke tangan yang kini gemetar di atas meja. Aria memukul dadanya sendiri sekali, pelan, frustrasi—seperti ingin menghentika

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status