Accueil / Romansa / Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku / Bab 3 — Aturan Pernikahan

Partager

Bab 3 — Aturan Pernikahan

last update Date de publication: 2026-08-27 11:02:23

Pagi pertama sebagai istri Damian Wijaya dimulai tanpa sapaan.

Sera terbangun ketika cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai. Untuk beberapa detik, ia lupa bahwa dirinya tidak lagi berada di rumah ibunya.

Lalu ia melihat langit-langit kamar yang asing.

Dan sofa di sudut ruangan.

Bantal yang semalam digunakan Damian masih berada di sana.

Sera menghela napas pelan.

Pernikahan.

Kata itu masih terasa asing di kepalanya.

Ia duduk perlahan, merapikan rambut yang berantakan, kemudian turun dari ranjang. Ketika menoleh, ia menemukan Damian sudah tidak ada.

Sera tidak tahu apakah harus merasa lega atau kecewa.

Mungkin keduanya.

Setelah mandi dan berganti pakaian sederhana, Sera keluar dari kamar. Ia baru saja berjalan menuju tangga ketika seorang staf rumah memberi tahu bahwa Damian menunggunya di ruang kerja.

Sera mengangguk.

"Terima kasih."

Ia berjalan ke sana dengan langkah tenang.

Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Sera mengetuk dua kali sebelum masuk.

Damian berdiri di dekat jendela.

Ia sudah mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Penampilannya begitu rapi, seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi.

Di atas meja terdapat beberapa lembar dokumen.

" Duduk."

Sera menarik kursi di seberang meja.

Tatapannya jatuh pada dokumen tersebut.

"Ini apa?"

"Aturan."

Sera mengangkat wajah.

"Aturan?"

Damian duduk di kursinya. Ia mengambil salah satu lembar kertas, kemudian mendorongnya ke arah Sera.

"Untuk kehidupan kita selama pernikahan ini."

Sera membaca bagian paling atas.

Kesepakatan Rumah Tangga.

Ia hampir tersenyum.

Bahkan pernikahan mereka terdengar seperti perjanjian bisnis.

Sera membaca perlahan.

Mereka akan tetap tinggal di rumah utama keluarga Wijaya, tetapi memiliki ruang pribadi masing-masing. Damian tidak akan meminta Sera mengikuti kegiatan bisnisnya kecuali diperlukan. Sera tidak boleh memasuki ruang kerja Damian tanpa izin.

Kemudian ada aturan mengenai kehidupan sosial.

Tidak boleh membuat pernyataan kepada media tanpa persetujuan.

Tidak boleh menggunakan nama keluarga Wijaya untuk kepentingan pribadi.

Tidak boleh membawa masalah keluarga Adeline ke dalam keluarga Wijaya.

Dan satu aturan yang membuat mata Sera berhenti cukup lama.

Jangan menanyakan masa lalu Damian Wijaya.

Sera mengangkat wajah.

"Yang ini?"

Tatapan Damian menjadi lebih tajam.

"Ada masalah?"

Sera menggeleng.

"Tidak."

Ia kembali membaca.

"Dan berapa lama aturan ini berlaku?"

"Sampai pernikahan ini berakhir."

Sera terdiam.

Tidak ada pembicaraan tentang kapan pernikahan itu berakhir.

Namun ia memahami maksudnya.

Ketika keluarga sudah tidak lagi membutuhkan mereka sebagai pasangan, mungkin semuanya selesai.

Aneh.

Sera seharusnya merasa terluka.

Tetapi justru ada sedikit kelegaan.

Setidaknya Damian sudah menetapkan batas.

Ia tidak perlu menebak-nebak.

"Baik," katanya.

Tangannya mengambil pena.

Damian memperhatikannya.

"Kamu bahkan tidak akan bertanya?"

Sera berhenti.

"Apa yang harus kutanyakan?"

"Kenapa aku membuat aturan ini."

Sera menatapnya beberapa saat.

"Lalu kenapa?"

Damian tidak segera menjawab.

"Karena aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman."

Sera mengangguk.

"Kalau begitu, masuk akal."

Ia menandatangani halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Damian masih memperhatikannya.

"Kamu tidak keberatan?"

Sera meletakkan pena.

"Kenapa aku harus keberatan?"

"Karena ini pernikahan."

Sera tersenyum tipis.

"Justru karena ini pernikahan, kita harus tahu batas masing-masing."

Ada perubahan kecil pada wajah Damian.

Sangat singkat.

Sera hampir tidak menyadarinya.

Ia kemudian berkata, "Aku juga punya satu aturan."

Damian bersandar.

"Silakan."

Sera menatap langsung kepadanya.

"Aku akan menghormati privasimu. Aku tidak akan bertanya tentang masa lalumu kalau kamu tidak ingin membicarakannya."

Damian diam.

"Tapi aku juga ingin kamu menghormati kehidupanku."

"Apa maksudmu?"

"Aku punya pekerjaan, teman, keluarga, dan kehidupan sebelum menikah denganmu. Aku tidak ingin semuanya berubah hanya karena sekarang namaku berada di belakang namamu."

Tatapan Damian mengeras.

"Aku tidak akan mencampurinya."

"Bagus."

Sera kembali mengambil pena.

"Aku juga tidak ingin dikontrol."

"Aku tidak mengontrol siapa pun."

Sera teringat bagaimana Damian mengucapkan aturan-aturan tadi.

Ia hampir tersenyum.

"Semoga begitu."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Damian terlihat sedikit terganggu.

"Kamu selalu bicara seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Tenang."

Sera terdiam.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Karena sebenarnya ia tidak setenang yang Damian kira.

Semalam, setelah Damian mengatakan tidak akan pernah mencintainya, Sera menangis diam-diam di kamar mandi hampir setengah jam.

Hanya saja ia tidak ingin Damian melihatnya.

"Aku hanya tidak suka bertengkar," jawab Sera.

"Atau kamu memang tidak peduli?"

Pertanyaan itu membuat Sera terdiam.

Ia menatap pria di depannya.

"Tentu saja aku peduli."

Lalu ia tersenyum tipis.

"Tapi peduli tidak berarti aku harus memaksakan sesuatu."

Damian tidak menjawab.

Sera menandatangani halaman terakhir.

"Sudah."

Ia mendorong dokumen itu kembali.

Damian mengambilnya.

Sera berdiri.

Namun sebelum ia berbalik, Damian berkata, "Ada satu hal lagi."

Sera menoleh.

"Selama tinggal di rumah ini, kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu butuhkan."

"Aku bisa membeli kebutuhanku sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu?"

Damian menatapnya.

"Kalau ada sesuatu yang kamu perlukan, katakan."

Sera mengernyit.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi dari Damian, sesuatu yang sederhana bisa terasa aneh.

"Baik."

Ia hendak pergi.

"Sera."

Ia berhenti.

Damian tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian urung.

"Jangan membuat masalah dengan keluargaku."

Sera mengangguk.

"Aku tidak berniat melakukannya."

Kemudian ia keluar.

Pintu tertutup.

Damian tetap duduk di tempatnya.

Di atas meja, kontrak pernikahan mereka terbuka.

Semua aturan sudah disepakati.

Sangat mudah.

Terlalu mudah.

Ia menatap tanda tangan Sera.

Tidak ada satu pun bantahan.

Tidak ada permintaan.

Tidak ada pertanyaan mengenai dirinya.

Perempuan itu bahkan menerima aturan paling menyakitkan tanpa berusaha mengubahnya.

Damian mengambil dokumen itu dan memasukkannya ke dalam map.

Namun tangannya berhenti ketika melihat tanda tangan Sera sekali lagi.

Sementara di luar ruangan, Sera berjalan menuju kamarnya.

Ia tahu dirinya baru saja memasuki pernikahan dengan aturan yang jelas.

Tetapi ada satu hal yang tidak tertulis di dalam kontrak itu.

Tidak ada aturan yang melarang perasaan tumbuh.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, Sera merasa justru hal itulah yang paling berbahaya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 125 — Suamiku yang Akhirnya Mencintaiku, Selamanya

    "Damian, kau masih ingat apa yang kau katakan pada malam pertama pernikahan kita?"Damian yang sedang membaca dokumen di sofa mengangkat wajahnya. Ia langsung menyipitkan mata ketika melihat senyum jahil di bibir Sera."Lagi?"Sera tertawa kecil. "Aku belum menyebutkan kalimatnya.""Tidak perlu. Aku sudah tahu.""Kalau begitu, coba ingatkan aku."Damian meletakkan dokumennya, lalu menatap istrinya dengan ekspresi pasrah yang jarang terlihat di hadapan orang lain."Aku tidak akan pernah mencintaimu."Sera menahan tawa. "Wah, kau masih mengingatnya dengan sangat jelas.""Sayangnya, ingatanku tentang kebodohan masa lalu sangat baik.""Jadi, kau mengakui itu kebodohan?"Damian menghela napas panjang."Sera, kalau aku bisa menghapus satu kalimat dari hidupku, kalimat itu yang akan kuhapus lebih dulu."Sera berhenti tertawa.Di balik candaan yang sudah berulang kali mereka lakukan, ia masih b

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 124 — Untuk Ibu

    "Kenapa Ibu menyimpan ini sampai akhir?"Damian memandangi surat di tangannya. Kertasnya mulai menguning, tetapi tulisan Ratna masih terlihat jelas.Malam itu, setelah rumah kembali tenang, ia membuka kotak kecil berisi peninggalan ibu sambungnya. Ia sudah membaca surat-surat Ratna bertahun-tahun lalu, tetapi ada sesuatu yang membuatnya ingin memeriksanya sekali lagi.Di antara lembaran yang tersusun rapi, ia menemukan selembar kertas tipis yang terselip di balik lipatan amplop terakhir.Halaman itu hampir terlewatkan.Damian membukanya perlahan.Tulisan tangan Ratna menyambutnya dengan kalimat sederhana.Untuk Damian, jika suatu hari kau akhirnya memahami arti cinta.Napas Damian tertahan.Ia segera memanggil Sera yang sedang merapikan buku di ruang keluarga."Sera, kemarilah."Sera mendekat dan duduk di sampingnya. "Ada apa?"Damian menunjukkan halaman kecil itu."Aku menemukan sesu

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 123 — Rumah yang Penuh Tawa

    "Ayah! Ayah sudah pulang!"Damian baru saja membuka pintu ketika anak mereka berlari menghampirinya. Ia segera berjongkok dan menangkap tubuh kecil yang menerjang pelukannya."Pelan-pelan. Ayah belum sempat melepas sepatu.""Tapi aku kangen!"Damian mengangkat anaknya, lalu mengecup pipinya."Ayah juga kangen."Dari ruang tengah, Sera menyaksikan mereka sambil tersenyum. Pemandangan itu selalu berhasil menghangatkan hatinya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.Dulu, ia tidak pernah membayangkan Damian Wijaya akan menjadi ayah yang begitu mudah luluh oleh rengekan anak mereka.Pria yang dahulu bahkan enggan menatapnya kini bisa menghentikan rapat hanya karena menerima panggilan video dari rumah."Jangan terlalu dimanjakan," tegur Sera ketika Damian berjalan mendekat sambil menggendong anak mereka.Damian mengangkat alis. "Aku baru pulang.""Dan kau langsung menggendongnya.""Memangnya aku harus men

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 122 — Aku Memilihmu

    "Kalau waktu bisa diputar kembali, apa kau akan tetap menikah denganku?"Damian menghentikan langkahnya.Malam itu, ia membawa Sera kembali ke restoran tempat mereka pertama kali bertemu. Tempat yang dahulu menjadi saksi perjodohan mereka, ketika dua keluarga menentukan masa depan tanpa memedulikan perasaan keduanya.Kini, Damian menggenggam tangan Sera dengan erat."Kenapa kau bertanya begitu?""Karena hari ini ulang tahun pernikahan kita. Aku ingin tahu apakah suamiku menyesali keputusannya."Damian menatapnya."Aku tidak pernah menyesal menikahimu."Sera tersenyum tipis. "Padahal dulu kau mengatakan sesuatu yang berbeda."Damian terdiam.Ia masih mengingat malam pengantin mereka. Sera duduk sendirian dalam gaun putih, sementara dirinya berdiri dengan hati penuh kebencian.Aku tidak akan pernah mencintaimu.Dulu, ia mengucapkan kalimat itu untuk menjaga jarak. Sekarang, kalimat tersebut me

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 121 — Pertanyaan Anak Mereka

    “Ayah, apa Ayah dulu tidak menyukai Ibu?”Damian hampir tersedak kopinya.Sera yang sedang duduk di seberangnya langsung menutup mulut, berusaha menahan tawa. Anak mereka duduk di antara keduanya, menatap Damian dengan rasa ingin tahu yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghilang.“Kenapa kau bertanya begitu?” Damian meletakkan cangkirnya.“Karena tadi Tante Clara bilang Ayah dan Ibu menikah bukan karena saling mencintai.”Damian menoleh perlahan ke arah Sera.Sera mengangkat kedua tangan. “Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mengatakan apa-apa.”“Tentu saja,” gumam Damian.Anak mereka menarik ujung lengan kemeja ayahnya.“Jadi, bagaimana Ayah bertemu Ibu?”Damian menarik napas. Ia bisa menghadapi rapat direksi, negosiasi bernilai miliaran, dan orang-orang yang mencoba menjatuhkannya. Namun, menghadapi pertanyaan anak sendiri ternyata

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 120 — Tahun-Tahun yang Berubah

    “Damian, kalau kau terus menggendongnya setiap kali dia merengek, dia tidak akan mau turun dari pelukanmu.”Damian menatap Sera dengan wajah datar. Anak mereka tertidur nyaman di dadanya, sama sekali tidak peduli pada perdebatan kedua orang tuanya.“Dia masih kecil.”“Dan kau memanjakannya.”“Aku ayahnya.”Sera mengangkat alis. “Alasan yang sangat bagus.”Damian tidak menjawab. Ia hanya mengecup kepala anak mereka, lalu berjalan melewati Sera seolah baru saja memenangkan perdebatan penting.Sera menggeleng sambil tersenyum.Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi satu hal tidak pernah berubah: Damian Wijaya tetap pria dingin yang sulit dibantah di hadapan orang lain. Hanya saja, di rumah, ia bisa kalah hanya karena satu tatapan dari Sera.Dan Sera selalu tahu cara memanfaatkannya.Waktu mengubah banyak hal.Yayasan yang didirikan Ser

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status