ログインPintu kamar itu tertutup perlahan di belakang mereka.
Suara klik dari gagang pintu terdengar begitu kecil, tetapi entah mengapa membuat dada Sera terasa sesak.
Ia berdiri beberapa langkah dari Damian, masih mengenakan gaun pengantin yang sejak pagi terasa semakin berat. Rambutnya yang ditata rapi mulai terasa melelahkan. Senyum yang sejak tadi ia paksa untuk keluarga dan para tamu telah lama menghilang.
Kini hanya tersisa dirinya dan pria yang secara sah menjadi suaminya.
Damian Wijaya.
Pria yang bahkan sejak berdiri di altar tadi tidak pernah benar-benar menatapnya.
Sera menunduk sebentar.
Kamar itu luas. Terlalu luas untuk dua orang yang bahkan tidak tahu bagaimana harus berbicara satu sama lain.
Damian meletakkan jasnya di sandaran kursi. Gerakannya tenang dan teratur, seolah malam ini tidak berbeda dari malam-malam lainnya. Tidak ada gugup. Tidak ada kecanggungan. Tidak ada sedikit pun kegembiraan setelah pernikahan.
Sera menggenggam ujung gaunnya.
“Damian.”
Pria itu berhenti.
“Ya?”
Sera sempat kehilangan keberanian. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.
Mungkin ucapan terima kasih.
Mungkin pertanyaan tentang apa yang akan terjadi setelah ini.
Atau mungkin sekadar ingin mendengar bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, sebelum Sera sempat mengatakan apa pun, Damian berbalik.
Tatapannya jatuh kepadanya.
Dingin.
Tenang.
Sulit dibaca.
“Mulai malam ini,” katanya, “ada beberapa hal yang harus kamu pahami.”
Sera mengangguk kecil.
“Aku mendengarkan.”
Damian berjalan mendekat, tetapi berhenti dengan jarak yang cukup jauh darinya.
“Pernikahan ini tidak seperti yang kamu bayangkan.”
Jantung Sera berdegup pelan.
“Apa maksudmu?”
“Ini hanya formalitas.”
Sera terdiam.
Damian melanjutkan, “Keluarga kita membutuhkan pernikahan ini. Ada alasan bisnis, hubungan keluarga, dan kepentingan yang tidak perlu kamu pikirkan. Yang penting, kita sudah menikah.”
Setiap kalimat terdengar seperti sesuatu yang telah dipersiapkan sejak lama.
Sera mencoba tersenyum.
“Aku juga tidak mengharapkan sesuatu yang berlebihan.”
Alis Damian sedikit bergerak.
Mungkin karena jawaban itu bukan yang ia duga.
“Tidak?”
Sera menggeleng.
“Aku tahu pernikahan ini tidak berawal dari pilihan kita.”
Tatapan Damian bertahan padanya beberapa detik lebih lama.
Sera tidak tahu apa yang sedang dicari pria itu dari wajahnya.
“Kamu tidak kecewa?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Sera hampir tersenyum pahit.
Tentu saja ia kecewa.
Sejak pertama kali mengetahui bahwa ia akan menikah dengan Damian, ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap pria itu setidaknya mau mengenalnya.
Ia tidak berharap kisah seperti dongeng.
Ia hanya ingin memiliki seorang suami yang bisa menjadi teman.
Seseorang yang bisa diajak berbicara ketika hari terasa berat.
Namun, melihat wajah Damian sekarang, Sera tahu harapan itu mungkin terlalu tinggi.
“Aku belum tahu harus kecewa atau tidak,” jawabnya pelan. “Aku bahkan belum mengenalmu.”
Damian terdiam.
Sera melanjutkan, “Jadi, mungkin lebih baik kita jalani saja dulu.”
Sebuah keheningan panjang memenuhi kamar.
Damian kemudian berkata, “Jangan salah mengartikan apa pun yang kulakukan.”
Sera menatapnya.
“Aku tidak akan.”
“Jangan menungguku makan malam.”
Sera mengangguk.
“Jangan menungguku pulang.”
Sera kembali mengangguk.
“Dan jangan berharap aku akan menjadi suami seperti yang kamu inginkan.”
Ada sesuatu yang menusuk di balik kalimat itu.
Namun, Sera menahannya.
“Aku mengerti.”
Damian menarik napas pelan.
Kemudian, kalimat berikutnya jatuh begitu saja.
“Aku tidak akan pernah mencintaimu.”
Sera membeku.
Untuk sesaat, ia tidak mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.
Aku tidak akan pernah mencintaimu.
Kalimat itu sederhana.
Tidak panjang.
Tidak kasar.
Namun, justru karena diucapkan begitu tenang, luka yang ditinggalkannya terasa lebih dalam.
Sera menelan ludah.
Ia menunduk agar Damian tidak melihat matanya yang mulai memanas.
“Baik.”
Hanya itu yang mampu keluar.
Damian tampak seperti menunggu sesuatu.
Tangisan.
Protes.
Pertanyaan.
Atau mungkin permohonan.
Namun, Sera hanya menarik napas panjang.
“Aku tidak akan memaksamu.”
Damian tidak menjawab.
Sera kemudian berjalan menuju meja rias dan perlahan melepas anting-antingnya.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena takut kepada Damian.
Melainkan karena ia sedang berusaha mempertahankan harga dirinya.
Ia tidak akan memohon kepada seseorang untuk mencintainya.
Apalagi seseorang yang sejak awal sudah mengatakan bahwa hatinya tertutup untuknya.
Setelah beberapa saat, Sera mendengar suara langkah.
Ia menoleh.
Damian mengambil bantal dan selimut dari lemari kecil di dekat sofa.
Sera mengerutkan kening.
“Kamu mau tidur di sofa?”
“Ya.”
“Tempat tidurnya cukup besar.”
“Aku tahu.”
Jawabannya singkat.
Sera menatap sofa itu, kemudian menatap Damian.
“Kalau begitu, silakan.”
Damian berhenti sesaat.
Sera tidak tahu mengapa pria itu terlihat sedikit berbeda.
Hanya sepersekian detik.
Kemudian, wajahnya kembali dingin.
Ia berjalan menuju sofa dan meletakkan bantal.
Sera mematikan lampu utama.
Hanya lampu tidur yang tersisa.
Ia berbaring di sisi ranjang yang paling jauh dari sofa.
Punggungnya menghadap Damian.
Matanya terbuka menatap kegelapan.
Sera mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.
Ia sudah tahu pernikahan ini adalah kewajiban.
Ia sudah tahu Damian tidak menginginkannya.
Lalu, mengapa dadanya masih terasa sakit?
Mungkin karena mendengar kenyataan secara langsung jauh lebih menyakitkan daripada sekadar menduganya.
Di belakangnya terdengar suara kain bergesekan.
Sera memejamkan mata.
Namun, beberapa menit berlalu dan ia masih belum bisa tidur.
Sementara itu, di sofa, Damian juga belum bergerak.
Tatapannya tertuju pada punggung perempuan yang kini membelakanginya.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada isak.
Tidak ada suara kasur yang berguncang karena seseorang menahan tangis.
Sera hanya diam.
Damian mengalihkan pandangan.
Entah mengapa, ketenangan itu justru membuat suasana kamar terasa semakin berat.
Sera menarik selimut sampai ke bahu.
Dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri.
Ia tidak akan mengejar Damian.
Ia tidak akan memaksakan perasaan.
Dan ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan harga diri hanya karena sebuah pernikahan.
Di sofa, Damian memejamkan mata.
Namun, malam itu, tidak satu pun dari mereka benar-benar tidur dengan tenang. Karena tanpa mereka sadari, kalimat yang baru saja diucapkan Damian bukanlah akhir dari hubungan mereka.
Justru kalimat itulah yang kelak akan menjadi sesuatu yang paling ia sesali.
“Kenapa kita ke sini?”Sera menatap restoran kecil di hadapannya. Bangunan itu masih sama seperti yang ia ingat, termasuk taman mungil dengan bunga putih di sepanjang jalan masuk.Tempat itu adalah lokasi pertama mereka bertemu.Damian menggenggam tangannya.“Ada sesuatu yang ingin kulakukan dengan benar kali ini.”“Apa?”“Meminta maaf kepadamu. Di tempat semuanya dimulai.”Sera menatap suaminya, mencoba membaca kesungguhan di wajahnya.Damian membuka pintu dan mempersilakannya masuk.“Setelah kamu.”Sera tersenyum tipis. “Kamu sekarang selalu mengatakan itu.”“Karena dulu aku terlalu sering membuatmu merasa tidak punya pilihan.”Senyum Sera perlahan menghilang.Mereka duduk di meja dekat jendela. Meja yang sama dengan tempat Sera pernah berusaha memulai percakapan, sementara Damian menjawab dingin tanpa benar-
“Damian, berdirilah lebih dekat dengan istrimu!”Suara Sukma Wijaya terdengar tegas dari depan kamera.“Kau dengar? Nenek menganggap jarak sepuluh sentimeter di antara kita sebagai masalah besar.”Sera menahan tawa. “Mungkin karena kau berdiri seperti sedang menghadiri rapat direksi.”“Aku sudah tersenyum.”“Itu bukan senyum. Itu ekspresi saat kau melihat laporan keuangan.”Damian menatapnya datar.Sera akhirnya tertawa, dan tanpa ragu Damian merangkul pinggangnya.“Begini lebih baik?” bisiknya.Jantung Sera berdegup sedikit lebih cepat.“Jangan menggodaku di depan semua orang.”“Bukankah kau yang memulainya?”Sebelum Sera sempat membalas, fotografer meminta seluruh keluarga bersiap. Baskoro berdiri di satu sisi, Clara di sisi lainnya bersama suaminya. Beberapa anggota keluarga besar berkumpul di belakang
“Sebagian besar warisan Ayah akan kugunakan untuk membangun program beasiswa.”Damian mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya.Sera duduk di seberang meja kerja, menggenggam map berisi rancangan program pendidikan yang telah ia susun selama beberapa minggu.“Aku ingin membantu anak-anak yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Terutama mereka yang kehilangan orang tua atau harus bekerja sejak kecil.”Damian menutup dokumennya.“Berapa besar dana yang ingin kau alokasikan?”“Sekitar tujuh puluh persen dari warisan Armand. Sisanya akan kusimpan untuk kebutuhan pribadi dan pengelolaan program.”Ia berhenti sejenak.“Menurutmu, itu terlalu besar?”“Tidak.”Jawaban Damian datang begitu cepat hingga Sera berkedip.“Kau bahkan belum membaca rencanaku sampai selesai.”“Aku sedang mendengarkanmu.”D
“Aku akan menikah!”Clara Wijaya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin berlian di jari manisnya.Sera yang sedang meminum teh langsung terbatuk.“Clara, kau serius?”“Sangat serius!” Clara duduk di sebelahnya dengan wajah berbinar. “Kemarin dia melamarku secara resmi.”Sera segera menggenggam tangannya, lalu memeluknya erat.“Selamat! Aku ikut bahagia untukmu.”Dari seberang meja, Damian mengangkat alis.“Bagus. Berarti mulai sekarang kalian punya kesibukan baru.”Clara melirik kakaknya. “Jangan bilang kau keberatan.”“Aku hanya kasihan kepada calon suamimu. Dia akan mendengar pembicaraan tentang bunga selama berjam-jam.”Sera menatap Damian tajam.“Kalau begitu, kau tidak perlu ikut membantu persiapan.”Damian terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.“Silakan. Aku a
“Bu Sera, apakah benar Damian Wijaya menikahi Anda tanpa cinta?”Sera terhenti di depan gedung tempat acara Yayasan Daniel Adeline berlangsung.Puluhan kamera mengarah kepadanya. Para wartawan berdesakan, melontarkan pertanyaan tanpa memberinya waktu untuk menjawab.“Apakah pernikahan Anda hanya kesepakatan bisnis?”“Bukankah Pak Damian pernah bertunangan dengan Selena Hartono?”“Bagaimana Anda mengubah pria sedingin Damian?”Sera meremas tali tasnya. Ia terbiasa menghadapi masalah yayasan, bukan sorotan media yang mengorek kehidupan pribadinya.Lalu sebuah tangan menyentuh punggungnya.Damian berdiri di sisinya.“Cukup,” katanya tegas. “Jika kalian ingin bertanya tentang perusahaan atau yayasan, kami akan menjawab. Namun, jangan menjadikan kehidupan pribadi istri saya sebagai bahan spekulasi.”Seorang wartawan mengangkat mikrofon.&ldq
“Damian, kenapa aku harus memakai gaun ini?”Sera berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan bingung. Gaun satin berwarna putih gading membingkai tubuhnya dengan anggun. Rambutnya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajah.Damian berdiri di ambang pintu.“Karena malam ini istimewa.”“Lebih istimewa daripada makan malam biasa?”“Jauh lebih istimewa.”Sera menyipitkan mata. “Kau sedang menyembunyikan sesuatu.”Damian mendekat, lalu membetulkan helai rambut yang menutupi pipinya.“Untuk sekali ini, biarkan aku memberimu kejutan.”Sebelum Sera sempat bertanya lagi, Damian mengulurkan tangan.“Percayalah kepadaku.”Sera menyambut tangannya.Ia tidak tahu bahwa laki-laki yang dulu bahkan enggan menatapnya saat mengucapkan janji pernikahan itu telah menghabiskan berminggu-mi







