LOGINSera mulai merasa tubuhnya tidak lagi bisa diajak bekerja sama.
Sejak pagi, kepalanya terasa berat. Tenggorokannya kering, tubuhnya lemas, dan sesekali pandangannya berkunang-kunang.
Namun ia mengabaikannya.
Ada terlalu banyak hal yang masih memenuhi pikirannya.
Kotak surat Ratna yang menghilang.
Surat yang mungkin sedang berada di tangan seseorang.
Dan kalimat terakhir yang terus menghantuinya.
Anak yang harus dilindungi.
Sera
Malam itu, Damian kembali membuka buku harian milik ibunya.Benda tua itu tergeletak di atas meja kerjanya sejak sore, tertutup oleh bayangan lampu yang redup. Sampulnya sudah kusam, sudut-sudutnya mengelupas, dan sebagian besar halaman di dalamnya telah hilang. Seolah seseorang sengaja mengambil bagian-bagian tertentu dari kehidupan Ratna.Damian membalik halaman demi halaman.Tidak ada apa-apa.Catatan tentang hari-hari biasa. Tentang cuaca. Tentang rumah. Tentang dirinya ketika masih kecil.Lalu ia menemukan sesuatu di bagian belakang sampul.Sebuah lipatan kecil.Damian mengernyit.Dengan hati-hati, ia menarik kertas yang diselipkan di sana.Tulisan tangan itu membuat tangannya berhenti.Tulisan ibunya.Untuk beberapa detik, Damian hanya memandangi namanya sendiri yang tertulis di bagian depan.Untuk Damian. Jika suatu hari kau menemukan ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan semua
Malam telah semakin larut ketika Sera keluar dari kamar.Ia tidak benar-benar tahu apa yang membuatnya terbangun. Mungkin suara hujan yang masih menyisakan rintik di luar jendela. Mungkin juga karena pikirannya belum mampu melepaskan percakapan dengan Damian beberapa jam lalu.Ada hal-hal yang belum bisa aku maafkan.Kalimat itu terus berputar di kepalanya.Sera berjalan perlahan menyusuri lorong yang remang. Rumah besar itu terasa terlalu sunyi setelah semua orang tidur. Cahaya lampu dinding jatuh membentuk bayangan panjang di lantai.Lalu ia melihat seseorang.Damian.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela ujung lorong. Kemeja putihnya masih sama seperti beberapa jam lalu, hanya dua kancing bagian atas yang terbuka. Satu tangannya berada di saku celana, sementara tangan lainnya memegang sesuatu.Dokumen.Sera berhenti beberapa langkah darinya.Damian tampak begitu diam sampai hampir menyerupai bagi
Sera tahu ada sesuatu yang berubah.Bukan karena Damian menjadi lebih dingin. Justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan. Damian masih membukakan pintu untuknya, masih memastikan ia makan tepat waktu, masih meninggalkan segelas air di sisi tempat tidurnya ketika Sera lupa mengambilnya sendiri.Namun sejak mereka kembali dari rumah lama keluarga Wijaya, ada jarak baru yang tidak terlihat.Jarak yang tidak pernah ada beberapa hari lalu.Malam itu, Sera menemukan Damian berdiri sendirian di dekat jendela ruang kerja. Jasnya telah dilepas, lengan kemejanya digulung sampai siku. Di tangannya ada beberapa lembar kertas.Ketika Sera melangkah mendekat, Damian segera membalik dokumen itu.Gerakannya terlalu cepat.Sera berhenti.“Damian.”Pria itu menoleh.Tatapannya bertemu dengan mata Sera hanya beberapa detik sebelum kembali mengarah ke jendela.“Ada apa?”Sera ha
Atmaja datang menemui Damian ke ruang kerjanya pada sore hari.Tanpa pemberitahuan.Tanpa basa-basi.Ia hanya meletakkan sebuah map cokelat di atas meja."Ini ditemukan dari arsip lama keluarga."Damian menatap map itu tanpa menyentuhnya."Untuk apa kau membawanya?"Atmaja tersenyum tipis. "Karena aku pikir kau berhak tahu."Damian membuka map tersebut.Halaman pertama hanya berisi salinan dokumen transaksi yang sudah menguning. Beberapa angka, tanda tangan, cap perusahaan, dan tanggal yang telah berlalu bertahun-tahun.Namun ada satu nama yang membuat jari Damian berhenti.Daniel Adeline.Tatapannya berubah.Atmaja tidak mengatakan apa-apa.Ia membiarkan Damian membaca.Di dalam dokumen itu tercatat sebuah transaksi besar yang berkaitan dengan salah satu proyek lama keluarga Wijaya. Nama Daniel muncul sebagai pihak yang menerima sejumlah dana beberapa hari sebel
Sera tahu malam itu akan terasa panjang bahkan sebelum mobil mereka berhenti di depan kediaman utama keluarga Wijaya.Rumah besar itu dipenuhi cahaya. Lampu-lampu keemasan menyinari halaman, sementara suara percakapan para anggota keluarga terdengar samar dari balik pintu kaca. Malam ini adalah pesta keluarga yang diadakan untuk merayakan keberhasilan salah satu proyek besar keluarga Wijaya.Dulu, Sera selalu merasa seperti seseorang yang kebetulan berada di tempat yang bukan miliknya setiap kali datang ke rumah itu.Namun malam ini berbeda.Bukan karena rumah itu berubah.Melainkan karena tangan Damian yang sejak tadi berada di dekat tangannya.Tidak menggenggam.Hanya berada cukup dekat hingga punggung tangan mereka sesekali bersentuhan.Kontak kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa.Tetapi bagi Sera, itu sudah cukup membuat dadanya terasa hangat."Kita masuk," ujar Damian.Sera menoleh.Pria i
Hujan masih turun ketika Sera terbangun.Suara gemuruh dari kejauhan membuatnya sadar bahwa ia masih berada di rumah lama Damian. Selimut menutupi tubuhnya hingga bahu, sementara sofa di sampingnya kosong.Sera mengusap matanya.Ia teringat percakapan mereka sebelum tertidur.Kamu masih membenciku?Damian tidak menjawab.Anehnya, justru keheningan itu yang terus mengganggunya.Sera bangkit perlahan. Dari arah dapur terdengar suara benda diletakkan di atas meja. Ia berjalan mendekat dan menemukan Damian sedang menuangkan air ke dalam dua gelas.“Kamu belum tidur?”Damian menoleh.“Sudah.”“Lalu?”“Aku bangun lagi.”Sera mengambil gelas yang disodorkannya.“Terima kasih.”Mereka kembali duduk di ruang keluarga. Hujan mulai mereda, tetapi udara masih dingin.Sera memandangi gelas di tangannya.Ada ban







