Mag-log inSera tidak tahu apa yang harus dipikirkannya ketika Damian mengatakan mereka akan pergi ke luar kota.
“Aku sudah mengatur semuanya,” ujar Damian singkat.
Sera yang sedang merapikan cangkir di meja menoleh. “Kita?”
“Ya.”
“Untuk urusan keluarga?”
Damian terdiam sesaat. Tatapannya berpindah dari wajah Sera ke cangkir yang berada di tangannya.
“Bukan.”
Jawaban itu justru membuat Sera semak
“Ayah, apa Ayah dulu tidak menyukai Ibu?”Damian hampir tersedak kopinya.Sera yang sedang duduk di seberangnya langsung menutup mulut, berusaha menahan tawa. Anak mereka duduk di antara keduanya, menatap Damian dengan rasa ingin tahu yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghilang.“Kenapa kau bertanya begitu?” Damian meletakkan cangkirnya.“Karena tadi Tante Clara bilang Ayah dan Ibu menikah bukan karena saling mencintai.”Damian menoleh perlahan ke arah Sera.Sera mengangkat kedua tangan. “Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mengatakan apa-apa.”“Tentu saja,” gumam Damian.Anak mereka menarik ujung lengan kemeja ayahnya.“Jadi, bagaimana Ayah bertemu Ibu?”Damian menarik napas. Ia bisa menghadapi rapat direksi, negosiasi bernilai miliaran, dan orang-orang yang mencoba menjatuhkannya. Namun, menghadapi pertanyaan anak sendiri ternyata
“Damian, kalau kau terus menggendongnya setiap kali dia merengek, dia tidak akan mau turun dari pelukanmu.”Damian menatap Sera dengan wajah datar. Anak mereka tertidur nyaman di dadanya, sama sekali tidak peduli pada perdebatan kedua orang tuanya.“Dia masih kecil.”“Dan kau memanjakannya.”“Aku ayahnya.”Sera mengangkat alis. “Alasan yang sangat bagus.”Damian tidak menjawab. Ia hanya mengecup kepala anak mereka, lalu berjalan melewati Sera seolah baru saja memenangkan perdebatan penting.Sera menggeleng sambil tersenyum.Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi satu hal tidak pernah berubah: Damian Wijaya tetap pria dingin yang sulit dibantah di hadapan orang lain. Hanya saja, di rumah, ia bisa kalah hanya karena satu tatapan dari Sera.Dan Sera selalu tahu cara memanfaatkannya.Waktu mengubah banyak hal.Yayasan yang didirikan Ser
“Bagaimana kalau kita memilih nama yang berarti harapan?”Sera mengangkat wajah dari bayi yang tertidur di pelukannya.Damian duduk di sampingnya sambil membawa buku kecil berwarna krem. Sejak mereka pulang dari rumah sakit, pria itu selalu punya alasan untuk berada dekat anak mereka—memeriksa selimut, memastikan suhu kamar, atau sekadar memperhatikan wajah mungil yang belum banyak ia pahami.“Kau sudah memikirkan nama?” tanya Sera.“Sudah.”“Berapa banyak?”“Tiga halaman.”Sera tertawa kecil. “Kita sedang memilih nama anak, Damian, bukan nama perusahaan.”“Aku ingin memilihnya dengan benar.”Tawa Sera mereda ketika melihat kesungguhan di wajah suaminya.“Kalau begitu, apa yang kau cari?”Damian memandang bayi mereka. Jemari mungil itu bergerak sedikit di balik selimut.“Nama yang mengingatkann
Tangisan itu akhirnya terdengar.Nyaring. Kecil. Namun cukup untuk membuat Damian kehilangan seluruh kata-katanya.“Bayinya lahir dengan selamat,” ujar dokter. “Ibu dan anak dalam kondisi baik.”Damian menatap dokter itu seolah membutuhkan waktu untuk memahami kalimat sederhana tersebut.Lalu terdengar tangisan bayi sekali lagi.Matanya langsung memerah.“Anak saya...” bisiknya.Dokter tersenyum sambil memperlihatkan bayi mungil yang baru saja lahir. Damian mendekat dengan langkah ragu. Tangannya gemetar ketika melihat wajah kecil itu untuk pertama kalinya.Selama berbulan-bulan, ia telah membayangkan momen ini. Ia menyiapkan kamar bayi, membaca buku pengasuhan, bahkan menyimpan foto USG di meja kerjanya.Namun, tidak ada satu pun yang mempersiapkannya menghadapi perasaan sebesar ini.Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.“Kenapa kau menangis?” suara Sera terd
“Damian!”Suara Sera membuat Damian berlari dari ruang kerja menuju kamar mereka.“Ada apa? Kau kesakitan? Kita harus ke rumah sakit sekarang!”Sera mencengkeram seprai, menahan nyeri yang datang semakin kuat. Ia berusaha tersenyum melihat suaminya berdiri dengan wajah pucat.“Sayang, aku rasa bayinya sudah ingin bertemu dengan kita.”Damian membeku.Lalu ia berteriak memanggil semua orang.“CLARA! NADIA! PANGGIL SOPIR! TAS RUMAH SAKITNYA DI MANA?”Clara muncul di ambang pintu sambil membawa tas persalinan yang sudah disiapkan sejak beberapa minggu lalu. Nadia menyusul di belakangnya, lalu langsung tertawa melihat Damian mondar-mandir tanpa arah.“Damian, rumah sakitnya tidak akan pindah tempat,” goda Nadia. “Kau tidak perlu berteriak seperti sedang menghadapi pengambilalihan perusahaan.”“Aku tidak berteriak.”“Kau ba
“Aku datang bukan untuk membahas masa lalu lagi, Ayah. Aku datang untuk mengakhirinya.”Baskoro terdiam ketika Damian meletakkan sebuah map di atas meja ruang kerjanya.Untuk sesaat, pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai kepala keluarga Wijaya itu tampak kehilangan kata-kata. Ia menatap putranya, mencoba mencari kemarahan yang biasanya muncul setiap kali mereka membicarakan masa lalu.Namun, Damian tidak datang dengan amarah.Justru ketenangannya membuat Baskoro merasa lebih gugup.“Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Baskoro akhirnya.Damian menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengannya.“Aku sudah terlalu lama menyimpan kebencian kepadamu.”Baskoro menunduk. Jemarinya saling bertaut di atas meja.“Aku tahu.”“Tidak. Ayah tidak tahu bagaimana rasanya tumbuh dengan keyakinan bahwa keluarga kita hancur karena pengkhianatan orang lain. Aku percaya pad







