Share

Suamiku Ustadz Dingin
Suamiku Ustadz Dingin
Penulis: El Alfun27

1. Dituduh

"Ustadz kok bisa ada disini?" ucap Balqis menatap sekitar.

"Ini kamar saya," jawab Ashraf. Tatapannya tajam dan dingin.

"Hah, aku kok bisa ada disini," lirih Balqis kebingungan. Dia melihat setiap sudut tempat itu yang sangat asing.

"Keluar kamu sekarang! Bisa-bisanya ada di kamar saya." Gertak Ashraf dengan nada tinggi.

"Ba-baik ustadz, permisi," 

Tapi sebelum Balqis keluar, tiba-tiba ada beberapa teman Ashraf yang memasuki kamar Ashraf.

"Astaghfirullah, Ustadz Ashraf membawa santriwati ke kamarnya?" ucap seorang Ustadz yang merupakan teman dekat Ashraf. juga beberapa orang yang melihat kegaduhan itu.

"Saya tidak menyangka Ustadz Ashraf begini, bagaimana nanti jika Ning Ayra tahu." 

"Ustadz, ini bukan Ustadz Ashraf yang saya kenal."

Ashraf tak ada jawaban saat beberapa ustadz bertanya kepadanya. Tentang Balqis yang sudah ada di kamar Ashraf.

"Maaf semuanya, tapi jangan salah paham dulu. Saya juga tidak tahu kenapa ada dia di kamar saya?" beo Ashraf tak ingin terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dengan santriwati itu.

Semua saling menuduh, tak ada satupun yang membela Ashraf. Bahkan Dito temannya saja turut diam.

Sementara Balqis hanya terdiam, tidak punya nyali untuk menjelaskan. Dia dihadapkan dengan para ustadz senior yang sudah mengajar lama di Pesantren Al- Fatah ini.

"Kamu? Santriwati yang sering melanggar itu kan? Sudah diapakan kamu sama ustadz Ashraf," cecar Zain, Ustadz yang sedikit tidak menyukai Ashraf.

"Jaga ucapanmu Zain, sedikit saja kamu menuduh itu bisa jadi fitnah. Istighfar," Ashraf membantah tuduhan Zain.

Zain hanya mendengkus, keadaan semakin ramai. Bahkan ada beberapa orang pun memasuki kamar Ashraf.

"Ada apa ini?" tanya Gus Rohman, anak pertama Kyai Zulkifli.

Semua terdiam, saat Gus Rohman yang sangat terpandang itu memasuki kamar Ashraf. Entah apa yang sudah membuat Gus Rohman sampai mendengar kegaduhan dalam kamar itu.

"Maaf Gus, ini atas dasar salah paham. Demi Allah, saya tidak melakukan apapun dengan dia," lirih Ashraf sambil menunduk.

"Ini bisa dijelaskan di hadapan Kyai Zulkifli, ayo Ashraf ikuti saya," ujar Gus Rohman lalu meninggalkan kamar itu.

Ashraf pun mengikuti langkah Gus Rohman, dan Balqis juga berjalan di belakang Ashraf. Semua tatapan tak suka ditujukan kepada Asraf dan juga ke Balqis, terkhusus ke Balqis.

***

"Ustadz Ashraf, tolong dijelaskan. Ada apa ini?" tanya Kyai Zulkifli saat berada di aula pesantren, ditemani sang istri- Nyai Asma yang duduk disampingnya.

"Abah, Ashraf ketahuan satu kamar dengan Balqis, santriwati yang sering melanggar aturan," Gus Rohman mencela Ashraf yang hendak menjawab.

"Rohman, Abah sedang bertanya kepada Ashraf, jadi kamu diam dahulu," tegas Kyai Zulkifli. Meskipun pikirannya penuh tanda tanya

"Maaf Abah Kyai, saya juga tidak tahu kenapa ada santriwati di kamar saya. Saya tadi sedang masuk di kamar mandi, dan setelah keluar tiba-tiba dia sudah berada di kamar saya," bela Ashraf sambil menunjuk Balqis, menjelaskan kronologi kejadian tadi.

"Abah yakin, Ustadz Ashraf ini orang baik-baik dan tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu apalagi di kawasan pesantren," ucap Kyai Zulkifli berdiri menatap satu per satu orang-orang yang berada di depannya.

"Maaf Kyai, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Mereka sedang berduaan di dalam satu ruangan, tolong ini lebih dipertegas lagi kalau tidak akan jadi masalah buat santri yang lain."

Zain semakin mengompori semua orang dan Kyai Zulkifli untuk mempercayai semua yang dia ucapkan.

"Maaf Kyai, saya mungkin dikenal santri kurang baik di pesantren ini. Tapi saya tidak akan melakukan hal itu, apalagi dengan Ustadz Ashraf. Saya cukup sadar diri," lirih Balqis.

Balqis mendongakkan kepalanya, menatap semua orang. Dirinya cukup sadar diri dengan keadaannya.

"Baguslah kalau kamu sadar diri!" papar Ashraf dengan kata-kata dingin nan tajam. 

Seperti teriris pisau, namun Balqis sudah terlalu biasa dengan semua tatapan tak suka dan perlakuan kurang baik dari beberapa orang. Balqis hanya oasrah dengan unian yang menimpanya sekarang.

Tiba-tiba ada beberapa pengurus pesantren putri memasuki ruangan itu. Dan juga putri bungsu Kyai Zulkifli, yaitu Ning Ayra.

"Ada apa ini Abah?" tanya Ayra- putri Kyai Zulkifli dengan wajah penasaran. Lalu sambil melihat Ashraf dengan raut bertanya.

"Ayra, ini semua fitnah. Tolong dengarkan penjelasan saya," Ashraf mencoba mendekati Ayra, tunangannya. Mereka berdua dijodohkan oleh Kyai Zulkifli dua bulan yang lalu dan juga keduanya saling menyukai.

"Sepertinya pertunangan kalian harus batal. Demi kebaikan pesantren ini," ucap Kyai Zulkifli membuat semua orang terkejut dan syok. Ayra tersentak mendengar penuturan sang Abahnya.

"Tapi Kyai, ini semua tidak benar. Saya difitnah, demi Allah. Saya tidak melakukan zina dengan santriwati itu. Kalaupun ada bukti, tapi mereka tidak melihat saya melakukan hal apapun. Mereka hanya melihat saya berdua saja," protes Ashraf.

Ashraf sangat tidak terima dengan keputusan Kyai Zulkifli, nafasnya naik turun. Dia tak bisa menerima tuduhan itu.

"Abah, dengarin dulu penjelasan ustadz Ashraf. Ayra yakin, dia tidak mungkin melakukan hal demikian. Walaupun dia ketahuan berdua dengan perempuan itu, Ayra yakin pasti perempuan itu yang berusaha menggodanya," tampik Ayra dengan membela Ashraf. Semakin menyudutkan Balqis.

"Ayra, jaga ucapan kamu, Nak. Jangan langsung menyimpulkan demikian. Tarik kembali kata-katamu Ayra," Nyai Asma mencoba menenangkan sang anak bungsunya. 

"Maaf Ning Ayra, mungkin bagi Ning dan semua orang disini saya bukan santriwati baik. Tapi hal demikian tidak pernah saya lakukan. Saya tidak menggoda ustadz Ashraf, saya dijebak dan kami difitnah."

Balqis gemetar, air matanya jatuh seketika. Di saat seperti ini, tidak ada yang bisa dibela. Semua orang sepertinya menuduhnya, menyimpulkan bahwa dialah akar masalahnya.

"Sudah cukup, Abah tidak mau memperpanjang masalah ini lagi. Abah sudah memikirkan hal ini dan mempertimbangkan akibatnya. Maafkan aku Asrhaf, pertunanganmu dengan Ayra harus dibatalkan. Ini keputusan Abah, mungkin kamu tidak boleh bersama." 

Kyai Zulkifli mengusap pelan bahu Ashraf, lalu meninggalkan semua orang disana. Disusul Gus Rohman, putra sulungnya.

"Ayra, ini fitnah, kamu yakin aku tidak bisa seperti itu. Aku juga tidak akan mau bersama santriwati sepertinya. Ini benar-benar fitnah," Ashraf berusaha membujuk Ayra agar tunangannya itu percaya padanya.

Mata Ayra memanas, tatapannya sangat tajam ke arah Balqis. Ayra selalu mencintai Ashraf, dan cintanya berbalas.

Ayra tidak terima, ia meraih kertas yang dibawanya. Lalu menghampiri Balqis yang tertunduk lemah.

"Kebijakan Pelakor! Kebijakan pelajar nakal! Gara-gara kamu, pertunangan kami gagal. Salah apa saya sama kamu? Tega-teganya menggoda tunangan saya!"

Tanpa aba-aba, sebuah tamparan melayang ke pipi kiri Balqis. Balqis yang belum siap dengan aksi itu nyaris terhuyung mundur. 

"Astaghfirullah, Ning Ayra."

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Andi Jo
sanggat bagus
goodnovel comment avatar
Alfianti Ilha
Ceritanya bagus Thor. Mengisahkan tentang pesantren, lanjutkan dan tetap semangat Thor......
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status