로그인Daniel memeluk erat tubuh Tiara yang masih tertidur. Ditatapnya gadis itu, lalu tersenyum sendiri."Butuh waktu empat tahun untuk menundukkan hatimu, tapi itu sepadan. " Daniel terkekeh sendiri. "Kamu memang layak untuk diperjuangkan." Daniel menghujani wajah Tiara dengan kecupan-kecupan kecil, berharap Tiara bangun lalu mengulang kebersamaan mereka.Sayangnya, aksi Daniel tidak berhasil membangunkan Tiara. Gadis itu sedang asyik dalam bermimpi, mengabaikan pria di sampingnya.Daniel akhirnya melepas pelukan Tiara. Ia justru menghidupkan laptop dan mulai tenggelam membaca profil perusahaan yang dipimpin Bernard."Apa yang sebenarnya ia inginkan dari Tiara? Apakah dia bermaksud merebut Tiara untuk dijadikan sekretaris atau asistennya?" Pikiran Daniel melanglang buana, kembali ke masa lalu, saat Bernard masih berhubungan baik dengannya dan semakin hari semakin sering bermain bersamanya dan juga Puspita.Tubuh Daniel tegang sesaat. Mungkinkah kecurigaannya benar? Bernard akan melakukan h
Makan malam berjalan lancar. Berbagai harapan dan doa dipanjatkan untuk kelanggengan pernikahan Daniel dan Tiara. Permohonan kecil yang menjadi harapan besar keluarga besar White diucapkan dengan lantang oleh Minarti, yang langsung di-amin-kan oleh semua yang hadir."Semoga tahun depan, bayi mungil sudah bisa hadir di tengah keluarga ini."Senyum lebar Daniel yang penuh arti, membuat Tiara semakin tersipu. Ia segera merencanakan jadwal bulan madu untuk mereka berdua.Daniel dan Tiara pamit lebih dulu. Mereka masih harus menata barang bawaan Tiara dari kampung halamannya.Di sepanjang jalan menuju apartemen, pikiran Daniel terpusat pada kalimat peringatan David. Bahwa Tiara menjadi incaran Puspita dan Bernard."Tiara. Maukah kamu mengabulkan permintaanku?" Suara Daniel memecah keheningan dalam mobil.Tiara menoleh ke arah Daniel yang juga menatapnya."Mulai besok pagi, kamu tidak perlu lagi datang ke kantor. Jabatanmu sebagai asisten pribadiku berakhir malam ini. Cukup jadi istri yang
Daniel membawa Tiara pergi, kembali ke apartemennya. Tiara tidak banyak bertanya, tetapi dalam hati ia menyukai ide Daniel yang membawanya pergi."Tidak usah berterimakasih padaku."Tiara melirik sebal tapi tersenyum samar. Ia kagum pada kemampuan Daniel dalam menebak suasana hatinya.Mobil Daniel melesat meninggalkan kediaman Michael White tanpa suara. Ia baru menghubungi Michael setelah dirinya dan Tiara tiba di apartemennya."Pa. Maafkan, aku. Aku dan Tiara tidak bisa hadir malam ini. Tiara sedang tidak enak badan. Lain kali bisa kita adakan lagi makan malam bersama keluarga besar." Daniel memberi tekanan saat mengucap kata keluarga besar.Michael di ujung sana merasakan itu dan ia langsung mengedarkan pandangannya ke ruang keluarga. Ia baru menyadari kehadiran seseorang yang menjadi penyebab utama Daniel dan Tiara batal hadir dalam makan malam hari ini. "Kalian bertemu dengannya?" Michael yakin jika putra dan menantunya sudah tiba di rumahnya namun kemudian pergi setelah melihat s
Keesokan harinya, Tiara kembali sibuk di meja kerjanya. Ia menolak cuti yang diberikan cuma-cuma oleh Daniel, karena masih ingin merahasiakan status barunya sebagai istri Daniel White. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan rahasia Tiara dan Daniel kecuali kedua orang tuanya, David dan Budi, supir pribadi Daniel.Daniel meminta Tiara datang ke ruangannya. "Hari ini, kamu harus pulang lebih awal." Begitu ucap Daniel begitu Tiara tiba di ruangannya.Tiara langsung menolak. "Jam kerja saya tidak berubah. Masih sama dengan karyawan lain.""Tapi statusmu yang baru mengijinkanmu untuk itu.""Tidak ada yang berubah dan akan tetap seperti itu, kecuali saya dipecat atau mengundurkan diri.""Pintar.""Maksudnya?" "Kamu sangat paham dengan maksudku." Daniel langsung menekan angka satu di telpon kantornya. " Hubungkan dengan personalia!""Pak...!'"Aku bukan bapakmu, tapi atasan sekaligus suamimu."Tiara berdecih. 'Seharusnya aku tahu akan seperti ini.'"Baiklah-baiklah. Saya akan pulang jam tig
Lukman kaget bukan kepalang melihat Tiara datang tidak hanya bersama Daniel tetapi juga dengan kedua orang tua Daniel dan David. "Tiara! Bisa kamu jelaskan pada Ayah maksud semua ini?" Tatapan Lukman begitu tajam. Ia sangat ingin menjewer putri sulungnya itu.Michael berjalan maju mendekat ke arah Lukman. Ia tersenyum mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku dan tegang. Monika yang ikut dalam rombongan pun ikut tegang."Selamat Malam. Maaf jika kedatangan kami yang tiba-tiba ini sudah mengganggu istirahat keluarga Pak Lukman. Ada hal penting yang ingin kami diskusikan dengan Pak Lukman dan Ibu, tapi tentu saja jika kami diberi waktu untuk menjelaskan hal tersebut."Yanti yang menangkap sinyal yang dikirim Michael segera menyikut lengan Lukman, lalu berbisik di telinga pria paruh baya itu. "Masa iya tamunya nggak disuruh masuk, Yah?"Lukman tersadar. Ia cepat-cepat mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam dan duduk di sofa di ruang tamu sedangkan Yanti segera masuk menuju dapur u
Michael White masih berbincang dengan Lukman. Entah membicarakan apa. Minarti sampai harus mengingatkan berulang kali untuk menyudahi percakapan mereka, mengingat hidangan yang sudah disiapkan sudah mulai dingin."Baiklah, calon besan. Kami akan menghubungi lagi untuk membicarakan hal ini. Baik-Baik. Terima kasih."Michael mengangsurkan kembali ponsel itu kepada Tiara. "Bicara apa sih, Pa? Keliatan seru sekali." Michael White tertawa. "Pak Lukman mengajak Papa memancing bila kita mengunjungi mereka.""Lah, mengapa justru jadi acara memancing? Bukannya kita akan membahas soal pernikahan Daniel dan Tiara?""Masa membicarakan pernikahan nggak ada habisnya, Ma? Memancingnya jelas setelah kita selesai berdiskusi soal pernikahan. Papa dan Pak Lukman yang mancing, Mama dan Bu Lukman yang akan memasak hasil pancingannya.""Ya-ya-ya. Papa atur aja gimana baiknya. Sekarang kita makan. Daniel dan Tiara sudah mulai mengantuk itu."Makan malam itu berlangsung lancar. Sambutan hangat Minarti dan M
Tiara duduk membeku di samping Daniel yang menjalankan kuda besi berwarna hitam mengkilat sambil menahan rasa kesal."Tiara.""Ya, Pak David," jawab Tiara ramah.Daniel seketika melihat ke arah Tiara, melayangkan protesnya dalam diam karena Tiara menjawab panggilan David dengan begitu lembut."Apaka
“Mengingat apa?” Daniel mengulang pertanyaannya.“Ya mengingat saya adalah satu-satunya wanita yang selalu berada di dekat Pak Daniel, yang menghabiskan waktu lebih lama dari siapapun. Bahkan mungkin, saya lebih lama menghabiskan waktu bersama Bapak dibandingkan Bu Puspita sendiri.”Daniel menjenti
Mobil Daniel melesat jauh meninggalkan mobil Puspita yang baru keluar dari parkir basement gedung kantornya. Tiara duduk di samping sopir, tidak seperti biasanya.“Aku tahu mengapa kamu melakukan itu, tapi sekarang, aku memerintahmu untuk pindah ke belakang!” Perintah Daniel sangat jelas di dengar s
Tiara diam membeku di tempatnya berdiri. Ia tidak berani membalas tatapan Daniel yang begitu dingin. Suasana ruangan yang sebelumnya tidak pernah secanggung ini, membuat Tiara ingin segera meninggalkan ruangan itu.“Apakah aku membayarmu hanya untuk duduk diam menatap buket-buket itu?”sindir Daniel.







