Partager

5. Nasihat David

last update Date de publication: 2025-06-27 16:40:16

Tiara duduk membeku di samping Daniel yang menjalankan kuda besi berwarna hitam mengkilat sambil menahan rasa kesal.

"Tiara."

"Ya, Pak David," jawab Tiara ramah.

Daniel seketika melihat ke arah Tiara, melayangkan protesnya dalam diam karena Tiara menjawab panggilan David dengan begitu lembut.

"Apakah besok malam minggu kamu ada kencan?"

"Ada!" jawab Daniel secara reflek. Ia tidak akan pernah mengijinkan pria mana pun menghabiskan waktu bersama Tiara. Waktu Tiara hanya untuknya, tidak boleh dibagi dengan yang lain.

"Cih! Aku bertanya pada Tiara, bukan padamu!" 

"Memang kenyataannya begitu. Lebih baik aku memberitahumu lebih awal daripada kamu kecewa nantinya."

"Bukannya malam minggu adalah waktu untukmu dan Puspita menghabiskan waktu bersama? Mengapa kamu justru pergi bersama Tiara?" David bersikap pura-pura bodoh. Sebenarnya, ia sudah tahu dari dulu jika Daniel sudah tidak lagi menyimpan perasaan pada Puspita. 

Cinta Daniel pada Puspita, istrinya sudah tidak ada lagi. Perasaan itu sudah mati. Berkali-kali Daniel harus menjelaskan soal keinginannya untuk bercerai dari Puspita. Namun, orang tuanya tidak setuju. Mereka terus saja meminta Daniel untuk berpikir ulang soal keinginannya itu. Berbagai nasihat diberikan pada Daniel, tapi tekad Daniel sudah bulat untuk menceraikan Puspita, hingga akhirnya, dua bulan yang lalu ia menjatuhkan talak pada Puspita dan mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan.

"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku sudah mengatakan pada kalian dan aku serius dengan hal itu."

David menghela napas. "Baiklah. Aku hanya meyakinkanmu saja. Jangan sampai kamu salah mengambil keputusan!"

"Harusnya kamu katakan hal itu padanya, bukan padaku. Aku sudah membernya begitu banyak kesempatan tapi sepertinya, aku sudah menjadi yang ke sekian dalam hidupnya. Lalu, jika sudah demikian, untuk apa aku berada di dekatnya?"

David terdiam. Apa yang dikatakan Daniel tidak salah. David sendiri sudah beberapa kali bertemu dengan Puspita ketika istri sepupunya berlibur di luar negeri. Dua kali bertemu kala Puspita sedang bermain ski bersama teman-temannya, di negara dengan banyak pegunungan es dan sekali waktu saat  dirinya sedang meeting di negara menara miring.

"Oke. Aku mengerti! Jika keputusan kamu ini memang sudah kamu pikirkan dengan sangat matang, dan kamu sendiri sudah siap dengan segala konsekuensinya, ya sudah. Bagaimanapun, ini adalah kehidupan kamu. Kamu tetaplah aktor utama dalam kehidupan kamu sendiri. Lakukanlah semua hal yang membuatmu nyaman dan membuat hidupmu lebih hidup dan bersemangat."

Sedikit percakapan itu ternyata mampu mencairkan ketegangan. Tiara akhirnya dapat bernapas lega. 

"Kita mampir dulu ke rumah mama." Daniel membelokkan mobilnya ke jalan yang menuju kediaman rumah orang tuanya.

"Aku ingin cepat-cepat memeluk guling. Badanku sudah sangat lelah." David menguap berulang kali. 

Kedatangannya kali ini untuk memenuhi permintaan Minarti, membujuk Daniel agar bersedia  membatalkan perceraiannya dengan Puspita. Selain itu, David ingin rehat sejenak dari rutinitasnya, barang satu-dua minggu. 

"Dipijat saja, Pak." Usulan Tiara langsung mendapat sambutan dari David.

"Betul. Dipijat. Tapi, aku maunya tukang pijatnya kamu, Tia. Bagaimana?" goda David sambil menaik-turunkan alis kanannya.

Swing! Kotak tisu berhasil mengenai kening David.

"Bicara sembarangan lagi, aku akan me-lakban bibirmu!" Daniel terlihat tidak suka. Tiara adalah miliknya. Tidak ada yang boleh menggodanya selain Daniel White.

"Tuh'Tia! Calon suami kamu kejam sekali. Aku khawatir, jika kamu benar-benar jadi menikah dengannya, apa yang akan terjadi dengan wajah cantikmu?" 

Tiara mendengus kesal. "Menikah apa sih, Pak? Istri Pak Daniel ada di rumahnya. Bukan di sini." Tiara terus berusaha menganulir setiap kalimat yang mengarah ke pembicaraan mengenai perasaan Daniel kepadanya.

"Betulkah? Lalu, buket-buket bunga yang ada di atas meja kerja kamu dari siapa?" tanya David penuh selidik. Ada rasa tidak  rela jika sampai Tiara berjodoh dengan orang lain, bukan dengan sepupunya.

"Itu - Buket itu salah sasaran, Pak. Bukan untuk saya," tegas Tiara. 

Tiara harus menghentikan semua omong kosong ini. Jika tidak sekarang, maka semua orang akan menganggap berita ini benar. Bahwa dirinya dan Daniel telah menjalin hubungan khusus. Jika sampai ini terjadi, maka nama baiknya bisa tercoreng. Dirinya akan dikenal orang sebagai seorang pelakor, bukan sebagai asisten pribadi yang berkompeten dan teruji.

"Benarkah?" tanya David tidak percaya. Setahunya, hanya ada satu yang bernama Tiara di kantor Daniel. Tidak ada Tiara yang lain. 

Lama kelamaan Daniel tidak dapat menahan diri lagi. "Buket itu dari aku. Aku sengaja mengirimkan kepada Tiara, asisten pribadiku," ungkapnya jujur. Wajahnya sangat serius.

Tiara langsung membekap mulutnya sendiri. Ia tidak menyangka jika Daniel akan begitu jujur mengatakan pengirim buket-buket itu adalah dirinya sendiri. Rasa panas mulai menjalar ke seluruh wajah Tiara. Ia merasa sangat malu. 

David langsung tertawa terbahak-bahak. Ia tidak mengira jika sepupunya itu benar-benar telah jatuh cinta pada Tiara, asisten pribadinya sendiri. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua Daniel, Michael White dan Minarti. Akankah keduanya menerimaTiara dengan tangan terbuka, atau justru membenci Tiara karena menganggap Tiara sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Daniel dan Puspita?

David mendadak menghentkan tawanya. "Niel! Kamu benar-benar serius dengan niat kamu itu?"

Tiara menjadi jengah sendiri. Bagaimana bisa mereka membicarakan orang, sedangkan orang tersebut duduk bersama-sama mereka? 

"Pak! Saya turun di sini saja. Ada sesuatu yang harus saya beli. Bapak berdua bisa melanjutkan perjalanan."

Baik Daniel maupun David langsung menatap ke arah Tiara. Mereka baru sadar jika gadis yang menjadi bahan obrolan mereka, ada bersama mereka. David menjadi salah tingkah, dan Daniel tidak dapat menutupi rasa bersalahnya.

Daniel langsung menggeleng tidak setuju. "Aku akan mengantarmu lebih dulu."

David menganggukkan kepalanya tanda setuju. Suasana mobil menjadi hening. Tidak ada lagi yang berbicara, hingga akhirnya mobil sedan panjang itu berhenti di depan sebuah rumah tipe empat lima yang tertata sangat rapi dan asri.

Tiara buru-buru membuka pintu lalu keluar dengan cepat. "Terima kasih tumpangannya, Pak."

Daniel hanya mengangguk lalu kembali menjalankan mesin mobilnya. Ia menjalankan mesin mobil dengan pelan sambil memperhatkan sosok Tiara yang perlahan berjalan melintasi halaman rumah hingga sosok Tiara menghilang, masuk ke dalam rumah.

Daniel menghentikan mobilnya. "Aku bukan sopirmu!"

Mendengar kode dari Daniel, David buru-buru pindah ke depan. Mobil kemudian kembali berjalan perlahan meninggalkan rumah Tiara.

"Aku hanya merasa sedikit khawatir. Akankah om dan tante  menerima Tiara? Ingat Daniel, hubungan Puspita dengan mama kamu cukup baik. Aku takut jika Puspita akan mempengaruhi tante, lalu mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Tiara."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Suddenly Marry With The CEO   74.Tamu Tak Diundang

    "Kita cari yang aman dulu untuk Tiara. Jangan lupa pertimbangkan jarak, agar kamu tidak kesulitan jika terjadi sesuatu pada Tiara. Tidak berharap tapi, berjaga-jaga lebih utama.""Oke."Pintu diketuk, lalu sosok Alex muncul dalam diam. Wajahnya tegang, membuat David curiga."Jangan katakan jika ada tamu yang tidak ingin ditemui Daniel."Alex melirik ke arah Tiara, lalu Daniel. "Saya terima atau saya usir, Bos?""Dia sudah membuat janji?""Masih tentang yang kemarin.""Katakan padanya, aku akan menemuinya di kafe sebelah sepuluh menit lagi. Suruh dia menunggu di sana.""Baik, Bos."Daniel mengambil jasnya lalu memakainya sambil berjalan. "David, kamu temani Tiara di sini. Aku akan menemuinya.""Oke."Daniel menghampiri Tiara. " Aku tinggal dulu. Baik-baiklah di sini. David akan menemani dan menjagamu." Dia mengecup pipi Tiara cukup lama, dan berniat menggesernya ke bibir Tiara, tapi sayang, pensil tutup botol di tangan David lebih dulu mengenai pipi Daniel."Lakukan jika aku sudah tida

  • Suddenly Marry With The CEO   73. Aman

    Perasaan Tiara campur aduk. Antara takut, resah, sebal, dan marah. Bayangan Bernard saat terakhir bertemu di kantor, membuatnya kembali merasa jengkel."Tidak sering, tapi setiap bertemu dia selalu saja meminta untuk berbicara empat mata."Tangan Daniel mengeras. "Dia pikir dia siapa?" gumam Daniel penuh amarah."Saya tidak suka cara dia berbicara dan menatap saya. Rasanya seperti jadi mangsa yang siap dia terkam kapan saja dia mau."Daniel memejamkan matanya. Apa yang ia dan David takutkan sepertinya tidak meleset. Kali ini, Bernard benar-benar mengincar Tiara."Ada apa?" Tiara menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi melihat ekspresi Daniel, ia yakin ini bukan masalah biasa."Kamu tidak memberikan nomor ponselmu'kan?"Tiara menggeleng. "Saya tidak punya urusan dengannya. Kenal juga tidak, akrab apalagi. Untuk apa saya memberikan nomor saya padanya.""Gadis pintar. Aku semakin mencintaimu." Daniel mengecup bibir Tiara. "Sekarang, dengarkan aku."Daniel di

  • Suddenly Marry With The CEO   72. Curiga

    Daniel memeluk erat tubuh Tiara yang masih tertidur. Ditatapnya gadis itu, lalu tersenyum sendiri."Butuh waktu empat tahun untuk menundukkan hatimu, tapi itu sepadan. " Daniel terkekeh sendiri. "Kamu memang layak untuk diperjuangkan." Daniel menghujani wajah Tiara dengan kecupan-kecupan kecil, berharap Tiara bangun lalu mengulang kebersamaan mereka.Sayangnya, aksi Daniel tidak berhasil membangunkan Tiara. Gadis itu sedang asyik dalam mimpinya, mengabaikan pria di sampingnya.Daniel akhirnya melepas pelukan Tiara. Ia bangkit berjalan ke meja lalu menghidupkan laptop dan mulai tenggelam membaca profil perusahaan yang dipimpin Bernard."Apa yang sebenarnya ia inginkan dari Tiara? Apakah dia bermaksud merebut Tiara untuk dijadikan sekretaris atau asistennya?" Pikiran Daniel melanglang buana, kembali ke masa lalu, saat Bernard masih berhubungan baik dengannya dan semakin hari semakin sering bermain bersamanya dan juga Puspita.Tubuh Daniel tegang sesaat. Mungkinkah kecurigaannya benar? B

  • Suddenly Marry With The CEO   71. Jebakan Bernard

    Makan malam berjalan lancar. Berbagai harapan dan doa dipanjatkan untuk kelanggengan pernikahan Daniel dan Tiara. Permohonan kecil yang menjadi harapan besar keluarga besar White diucapkan dengan lantang oleh Minarti, yang langsung di-amin-kan oleh semua yang hadir."Semoga tahun depan, bayi mungil sudah bisa hadir di tengah keluarga ini."Senyum lebar Daniel yang penuh arti, membuat Tiara semakin tersipu. Ia segera merencanakan jadwal bulan madu untuk mereka berdua.Daniel dan Tiara pamit lebih dulu. Mereka masih harus menata barang bawaan Tiara dari kampung halamannya.Di sepanjang jalan menuju apartemen, pikiran Daniel terpusat pada kalimat peringatan David. Bahwa Tiara menjadi incaran Puspita dan Bernard."Tiara. Maukah kamu mengabulkan permintaanku?" Suara Daniel memecah keheningan dalam mobil.Tiara menoleh ke arah Daniel yang juga menatapnya."Mulai besok pagi, kamu tidak perlu lagi datang ke kantor. Jabatanmu sebagai asisten pribadiku berakhir malam ini. Cukup jadi istri yang

  • Suddenly Marry With The CEO   70. Cemburu

    Daniel membawa Tiara pergi, kembali ke apartemennya. Tiara tidak banyak bertanya, tetapi dalam hati ia menyukai ide Daniel yang membawanya pergi."Tidak usah berterimakasih padaku."Tiara melirik sebal tapi tersenyum samar. Ia kagum pada kemampuan Daniel dalam menebak suasana hatinya.Mobil Daniel melesat meninggalkan kediaman Michael White tanpa suara. Ia baru menghubungi Michael setelah dirinya dan Tiara tiba di apartemennya."Pa. Maafkan, aku. Aku dan Tiara tidak bisa hadir malam ini. Tiara sedang tidak enak badan. Lain kali bisa kita adakan lagi makan malam bersama keluarga besar." Daniel memberi tekanan saat mengucap kata keluarga besar.Michael di ujung sana merasakan itu dan ia langsung mengedarkan pandangannya ke ruang keluarga. Ia baru menyadari kehadiran seseorang yang menjadi penyebab utama Daniel dan Tiara batal hadir dalam makan malam hari ini. "Kalian bertemu dengannya?" Michael yakin jika putra dan menantunya sudah tiba di rumahnya namun kemudian pergi setelah melihat s

  • Suddenly Marry With The CEO   69. Insting

    Keesokan harinya, Tiara kembali sibuk di meja kerjanya. Ia menolak cuti yang diberikan cuma-cuma oleh Daniel, karena masih ingin merahasiakan status barunya sebagai istri Daniel White. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan rahasia Tiara dan Daniel kecuali kedua orang tuanya, David dan Budi, supir pribadi Daniel.Daniel meminta Tiara datang ke ruangannya. "Hari ini, kamu harus pulang lebih awal." Begitu ucap Daniel begitu Tiara tiba di ruangannya.Tiara langsung menolak. "Jam kerja saya tidak berubah. Masih sama dengan karyawan lain.""Tapi statusmu yang baru mengijinkanmu untuk itu.""Tidak ada yang berubah dan akan tetap seperti itu, kecuali saya dipecat atau mengundurkan diri.""Pintar.""Maksudnya?" "Kamu sangat paham dengan maksudku." Daniel langsung menekan angka satu di telpon kantornya. " Hubungkan dengan personalia!""Pak...!'"Aku bukan bapakmu, tapi atasan sekaligus suamimu."Tiara berdecih. 'Seharusnya aku tahu akan seperti ini.'"Baiklah-baiklah. Saya akan pulang jam tig

  • Suddenly Marry With The CEO   4. Sepupu Tak Diundang

    “Mengingat apa?” Daniel mengulang pertanyaannya.“Ya mengingat saya adalah satu-satunya wanita yang selalu berada di dekat Pak Daniel, yang menghabiskan waktu lebih lama dari siapapun. Bahkan mungkin, saya lebih lama menghabiskan waktu bersama Bapak dibandingkan Bu Puspita sendiri.”Daniel menjenti

  • Suddenly Marry With The CEO   3. Sepasang Kekasih

    Mobil Daniel melesat jauh meninggalkan mobil Puspita yang baru keluar dari parkir basement gedung kantornya. Tiara duduk di samping sopir, tidak seperti biasanya.“Aku tahu mengapa kamu melakukan itu, tapi sekarang, aku memerintahmu untuk pindah ke belakang!” Perintah Daniel sangat jelas di dengar s

  • Suddenly Marry With The CEO   2. Buket Salah alamat

    Tiara diam membeku di tempatnya berdiri. Ia tidak berani membalas tatapan Daniel yang begitu dingin. Suasana ruangan yang sebelumnya tidak pernah secanggung ini, membuat Tiara ingin segera meninggalkan ruangan itu.“Apakah aku membayarmu hanya untuk duduk diam menatap buket-buket itu?”sindir Daniel.

  • Suddenly Marry With The CEO   1. Buket Bunga

    Tiara menatap nanar buket bunga yang ia terima ketiga kalinya hari ini. Buket bunga mawar berwarna merah ikut memenuhi meja kerjanya, setelah sebelumnya datang buket bunga anggrek bulan dan bunga lily. Bukan rasa bahagia yang ia rasakan, melainkan rasa geram dan kesal.Kata-kata yang tertulis di ka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status