Share

Suddenly Marry With The CEO
Suddenly Marry With The CEO
Author: Lavender My Name

1. Buket Bunga

last update publish date: 2025-06-27 16:39:00

Tiara menatap nanar buket bunga  yang ia terima ketiga kalinya hari ini. Buket bunga mawar berwarna merah ikut memenuhi meja kerjanya, setelah sebelumnya datang buket bunga anggrek bulan dan bunga lily. Bukan rasa bahagia yang ia rasakan, melainkan rasa geram dan kesal.

Kata-kata yang tertulis di kartu ucapan begitu singkat tapi membuat Tiara malu. “Menikahlah denganku.”

Ya. Tiara menjadi wanita idaman lain, atasannya sendiri. Daniel White, CEO Andromeda Grup. Pria berusia tiga puluh tahun, berdarah campuran  itu jatuh cinta pada asisten pribadinya sendiri. Rasa yang menurut Tiara salah sasaran, karena  Daniel masih menyandang status sebagai suami dari seorang Puspita Anggraina, seorang desainer terkenal.

Tiara tidak tahu, jika Daniel sudah menjatuhkan talak pada Puspita dua bulan yang lalu dan mendaftarkan gugatan cerainya ke pengadilan, setelah usahanya untuk mempertahankan rumah tangganya, tidak berhasil.

Rasa  cinta Daniel  menguap bersama dengan kesabarannya atas sikap dan sifat Puspita yang cenderung menyepelekan Daniel. Wanita itu lebih mementingkan hubungannya dengan teman-teman sosialita dan rekan bisnisnya ketimbang Daniel, suaminya sendiri.

Kesabaran yang dimilikinya selama ini sudah habis. Pria itu mencoba mencari pengganti Puspita. Namun ternyata,  dari sekian banyak gadis yang dikenal, yang berhasil menyita  perhatiannya  adalah asisten pribadinya sendiri, yang mulai bekerja padanya tiga tahun lalu.

Kini, Daniel memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Tiara secara terang-terangan, dengan melamar gadis itu untuk menjadi istrinya. Sebuah ajakan yang begitu tiba-tiba, membuat Tiara terkejut setengah mati. Lamaran yang membuat Tiara mengalami  dilema, antara tetap bekerja di perusahaan itu atau mengajukan surat pengunduran diri secepatnya.

“Wah. Cantik sekali bunga-bunganya, Mbak Tiara. Pasti pria itu sangat mencintai Mbak Tiara,” ujar Anto, kepala personalia, yang siang itu menenteng map untuk diserahkan kepada Daniel.  Pria itu menatap penuh takjub buket-buket bunga yang memenuhi meja asisten pribadi  atasannya.

Tiara hanya memutar bola matanya. “Andai dia tahu identitas pengirimnya, pasti bibir tebalnya tidak akan berhenti berbicara,” rutuk Tiara dalam hati.

Anto  meletakkan map itu di hadapan Tiara. Namun dengan sigap, Tiara menyodorkan map itu kembali.

“Loh? Ada apa, Mbak Tiara? Ada yang salah dengan mapnya?” Anto terlihat bingung dengan tindakan Tiara barusan.

“Tidak ada apa-apa, Pak. Pak Anto  silakan ajukan sendiri map ini. Mungkin Pak Daniel ingin menanyakan sesuatu terkait dengan dokumen di dalamnya.” Tiara malas menghadap Daniel, jadi ia memilih untuk menghindar sementara waktu.

“Betulkah? Baiklah kalau begitu. Pak Daniel tidak sedang sibuk’kan?” Anto kembali menerima map berwarna kuning dari tangan Tiara, dengan ragu.

“Tidak. Pak Daniel tidak sedang mengerjakan apa-apa. Cukup ketuk tiga kali, lalu tekan ke bawah kenop pintu, kemudian dorong masuk pintunya.” Tiara tersenyum di sela-sela rasa  kesalnya terhadap Daniel.

Anto tertawa. “Kalau itu saya sudah tahu, Mbak Tiara.” Pria berusia awal empat puluh itu, lantas mendekat melakukan semua yang dikatakan Tiara hingga akhirnya masuk ke dalam ruangan pemimpin tertinggi grup Andromeda.

Kernyitan di alis Daniel terlihat jelas melihat yang masuk ke ruangannya bukan Tiara. “Tiara tidak ada di mejanya?” Suaranya sangat tidak bersahabat.

Suara Daniel yang penuh intimidasi membuat Anto seketika gugup. “A-Ada, P-Pak. Tapi, Mbak Tiara menyuruh saya menyerahkan dokumen ini langsung kepada Pak Daniel.”

Mendengar itu, mood Daniel langsung berubah. Ia tahu alasan mengapa Tiara menyuruh Anto untuk mengajukan sendiri proposalnya. Itu karena buket-buket bunga kirimannya.

Dugaannya ternyata meleset. Ia mengira Tiara akan sangat senang menerima buket-buket bunga darinya, karena ia selalu melihat ekspresi heboh Tiara ketika ia memesan buket bunga untuk Puspita setiap perayaan hari jadi mereka. Namun kenyataannya, Tiara justru tidak bahagia menerima buket-buket bunga darinya.

“Dasar gadis aneh! Apakah dia tidak suka bunga kirimanku? Bukankah para wanita menyukai bunga?” gumam Daniel pada dirinya sendiri.

Daniel membuka map kuning dengan kasar. Lima lembar kertas penuh ketikan yang berada di dalam map itu nyaris sobek, membuat Anto menahan napasnya. Bayangan ia harus mengetik ulang lembaran-lembaran itu, membuatnya harus menahan diri untuk tidak berteriak meluapkan rasa kesalnya.

“Penerimaan karyawan baru?”

“Betul, Pak Daniel. Ada empat posisi yang dibuka.” Anto menjelaskan dengan menundukkan kepalanya. Wajah tampan sang atasan sangat mengerikan siang ini.

“Hmm.”

Anto tercenung mendengar gumaman tidak jelas Daniel. ‘Apakah ada yang salah dengan proposalnya?’

“Apakah kamu melihat ada yang berbeda di meja asistenku?” Daniel bertanya tanpa mengangkat kepalanya. Ia tetap menatap lembaran di depannya meski dengan rasa malas.

“Emmmm-…” Anto ragu untuk menjawab. ‘Apakah yang dimaksud atasannya itu tiga buket bunga dengan rangkaian bunga berbeda?’ Tanya Anto pada dirinya sendiri.

“Memang ada barang lain yang membuat sesak mejanya?” Daniel seakan tahu  ucapan apa yang Anto ucapkan pada dirinya sendiri. Ia semakin kesal karena tidak segera mendapat jawaban atas pertanyaannya.

“I-Iya, Pak. Buket bunga. Ada tiga buket bunga di sana. Tapi sepertinya, Mbak Tiara tidak menyukai bunga-bunga itu.” Anto menjawab dengan sangat jujur.

“Tidak menyukai? Maksudmu dengan tidak menyukai?” Daniel menyipitkan kedua matanya. Betulkah gadis itu menolak buket-buket kirmannya?

“Hmmm-Mak-Maksud saya, Mbak Tiara hanya diam menatap bunga-bunga  tak berdosa itu, Pak.”

Daniel membuang napasnya dengan kasar. “Segera kembali ke ruanganmu!”

“Baik, Pak. Terima kasih.” Dengan langkah cepat, Anto meninggalkan ruangan Daniel. Ia gerah berada lama-lama di ruangan itu. Ketika tangannya hendak menekan kenop pintu, perintah Daniel membuatnya cepat-cepat menarik daun pintu berwarna hitam itu, melangkah dengan gesit ke meja Tiara.

“Mbak Tiara, ditunggu Pak Daniel di dalam.”

Tiara sontak mengangkat wajahnya, mengalihkan perhatiannya dari layar berukuran enam inchi di tangan kanan. “Ya?”

“Pak Daniel ingin berbicara dengan Mbak Tiara.” Anto dengan sedikit berbisik menyampaikan perintah Daniel pada Tiara.

“Dengan saya?” Rasa malas kembali datang.

Anto mengangguk, lalu meninggalkan Tiara begitu saja. “Sepertinya suasana hati pak bos sedang tidak baik-baik saja, Mbak Tiara,” seru Anto yang terdengar sayup-sayup di telinga Tiara.

Tiara bergeming di kursinya. Ia tidak langsung berdiri menyambut perintah itu. Tiara  justru sibuk dengan pikirannya sendiri. ‘Apa yang akan aku katakan jika pak bos menanyakan bunga-bunga itu?’

“Sampai kapan kamu akan mengabaikan perintahku? Ada hal yang harus kamu kerjakan segera! Jangan buang-buang waktu hanya untuk memikirkan hal yang tidak ada gunanya!”

Tiara berjingkat kaget. Suara interkom  hanya terdengar di lantai tujuh, tempat kantor Daniel berada. Mau tidak mau, Tiara bangkit dari kursinya. Ia berjalan pelan menuju ruang Daniel. Perasaan kesal dan malas untuk bertemu sang atasan, membuat Tiara memperlambat langkahnya.

“Tiara! Apakah kamu sengaja mengajakku untuk bermain-main? Aku tidak punya cukup waktu untuk meladenimu!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suddenly Marry With The CEO   74.Tamu Tak Diundang

    "Kita cari yang aman dulu untuk Tiara. Jangan lupa pertimbangkan jarak, agar kamu tidak kesulitan jika terjadi sesuatu pada Tiara. Tidak berharap tapi, berjaga-jaga lebih utama.""Oke."Pintu diketuk, lalu sosok Alex muncul dalam diam. Wajahnya tegang, membuat David curiga."Jangan katakan jika ada tamu yang tidak ingin ditemui Daniel."Alex melirik ke arah Tiara, lalu Daniel. "Saya terima atau saya usir, Bos?""Dia sudah membuat janji?""Masih tentang yang kemarin.""Katakan padanya, aku akan menemuinya di kafe sebelah sepuluh menit lagi. Suruh dia menunggu di sana.""Baik, Bos."Daniel mengambil jasnya lalu memakainya sambil berjalan. "David, kamu temani Tiara di sini. Aku akan menemuinya.""Oke."Daniel menghampiri Tiara. " Aku tinggal dulu. Baik-baiklah di sini. David akan menemani dan menjagamu." Dia mengecup pipi Tiara cukup lama, dan berniat menggesernya ke bibir Tiara, tapi sayang, pensil tutup botol di tangan David lebih dulu mengenai pipi Daniel."Lakukan jika aku sudah tida

  • Suddenly Marry With The CEO   73. Aman

    Perasaan Tiara campur aduk. Antara takut, resah, sebal, dan marah. Bayangan Bernard saat terakhir bertemu di kantor, membuatnya kembali merasa jengkel."Tidak sering, tapi setiap bertemu dia selalu saja meminta untuk berbicara empat mata."Tangan Daniel mengeras. "Dia pikir dia siapa?" gumam Daniel penuh amarah."Saya tidak suka cara dia berbicara dan menatap saya. Rasanya seperti jadi mangsa yang siap dia terkam kapan saja dia mau."Daniel memejamkan matanya. Apa yang ia dan David takutkan sepertinya tidak meleset. Kali ini, Bernard benar-benar mengincar Tiara."Ada apa?" Tiara menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi melihat ekspresi Daniel, ia yakin ini bukan masalah biasa."Kamu tidak memberikan nomor ponselmu'kan?"Tiara menggeleng. "Saya tidak punya urusan dengannya. Kenal juga tidak, akrab apalagi. Untuk apa saya memberikan nomor saya padanya.""Gadis pintar. Aku semakin mencintaimu." Daniel mengecup bibir Tiara. "Sekarang, dengarkan aku."Daniel di

  • Suddenly Marry With The CEO   72. Curiga

    Daniel memeluk erat tubuh Tiara yang masih tertidur. Ditatapnya gadis itu, lalu tersenyum sendiri."Butuh waktu empat tahun untuk menundukkan hatimu, tapi itu sepadan. " Daniel terkekeh sendiri. "Kamu memang layak untuk diperjuangkan." Daniel menghujani wajah Tiara dengan kecupan-kecupan kecil, berharap Tiara bangun lalu mengulang kebersamaan mereka.Sayangnya, aksi Daniel tidak berhasil membangunkan Tiara. Gadis itu sedang asyik dalam mimpinya, mengabaikan pria di sampingnya.Daniel akhirnya melepas pelukan Tiara. Ia bangkit berjalan ke meja lalu menghidupkan laptop dan mulai tenggelam membaca profil perusahaan yang dipimpin Bernard."Apa yang sebenarnya ia inginkan dari Tiara? Apakah dia bermaksud merebut Tiara untuk dijadikan sekretaris atau asistennya?" Pikiran Daniel melanglang buana, kembali ke masa lalu, saat Bernard masih berhubungan baik dengannya dan semakin hari semakin sering bermain bersamanya dan juga Puspita.Tubuh Daniel tegang sesaat. Mungkinkah kecurigaannya benar? B

  • Suddenly Marry With The CEO   71. Jebakan Bernard

    Makan malam berjalan lancar. Berbagai harapan dan doa dipanjatkan untuk kelanggengan pernikahan Daniel dan Tiara. Permohonan kecil yang menjadi harapan besar keluarga besar White diucapkan dengan lantang oleh Minarti, yang langsung di-amin-kan oleh semua yang hadir."Semoga tahun depan, bayi mungil sudah bisa hadir di tengah keluarga ini."Senyum lebar Daniel yang penuh arti, membuat Tiara semakin tersipu. Ia segera merencanakan jadwal bulan madu untuk mereka berdua.Daniel dan Tiara pamit lebih dulu. Mereka masih harus menata barang bawaan Tiara dari kampung halamannya.Di sepanjang jalan menuju apartemen, pikiran Daniel terpusat pada kalimat peringatan David. Bahwa Tiara menjadi incaran Puspita dan Bernard."Tiara. Maukah kamu mengabulkan permintaanku?" Suara Daniel memecah keheningan dalam mobil.Tiara menoleh ke arah Daniel yang juga menatapnya."Mulai besok pagi, kamu tidak perlu lagi datang ke kantor. Jabatanmu sebagai asisten pribadiku berakhir malam ini. Cukup jadi istri yang

  • Suddenly Marry With The CEO   70. Cemburu

    Daniel membawa Tiara pergi, kembali ke apartemennya. Tiara tidak banyak bertanya, tetapi dalam hati ia menyukai ide Daniel yang membawanya pergi."Tidak usah berterimakasih padaku."Tiara melirik sebal tapi tersenyum samar. Ia kagum pada kemampuan Daniel dalam menebak suasana hatinya.Mobil Daniel melesat meninggalkan kediaman Michael White tanpa suara. Ia baru menghubungi Michael setelah dirinya dan Tiara tiba di apartemennya."Pa. Maafkan, aku. Aku dan Tiara tidak bisa hadir malam ini. Tiara sedang tidak enak badan. Lain kali bisa kita adakan lagi makan malam bersama keluarga besar." Daniel memberi tekanan saat mengucap kata keluarga besar.Michael di ujung sana merasakan itu dan ia langsung mengedarkan pandangannya ke ruang keluarga. Ia baru menyadari kehadiran seseorang yang menjadi penyebab utama Daniel dan Tiara batal hadir dalam makan malam hari ini. "Kalian bertemu dengannya?" Michael yakin jika putra dan menantunya sudah tiba di rumahnya namun kemudian pergi setelah melihat s

  • Suddenly Marry With The CEO   69. Insting

    Keesokan harinya, Tiara kembali sibuk di meja kerjanya. Ia menolak cuti yang diberikan cuma-cuma oleh Daniel, karena masih ingin merahasiakan status barunya sebagai istri Daniel White. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan rahasia Tiara dan Daniel kecuali kedua orang tuanya, David dan Budi, supir pribadi Daniel.Daniel meminta Tiara datang ke ruangannya. "Hari ini, kamu harus pulang lebih awal." Begitu ucap Daniel begitu Tiara tiba di ruangannya.Tiara langsung menolak. "Jam kerja saya tidak berubah. Masih sama dengan karyawan lain.""Tapi statusmu yang baru mengijinkanmu untuk itu.""Tidak ada yang berubah dan akan tetap seperti itu, kecuali saya dipecat atau mengundurkan diri.""Pintar.""Maksudnya?" "Kamu sangat paham dengan maksudku." Daniel langsung menekan angka satu di telpon kantornya. " Hubungkan dengan personalia!""Pak...!'"Aku bukan bapakmu, tapi atasan sekaligus suamimu."Tiara berdecih. 'Seharusnya aku tahu akan seperti ini.'"Baiklah-baiklah. Saya akan pulang jam tig

  • Suddenly Marry With The CEO   5. Nasihat David

    Tiara duduk membeku di samping Daniel yang menjalankan kuda besi berwarna hitam mengkilat sambil menahan rasa kesal."Tiara.""Ya, Pak David," jawab Tiara ramah.Daniel seketika melihat ke arah Tiara, melayangkan protesnya dalam diam karena Tiara menjawab panggilan David dengan begitu lembut."Apaka

  • Suddenly Marry With The CEO   4. Sepupu Tak Diundang

    “Mengingat apa?” Daniel mengulang pertanyaannya.“Ya mengingat saya adalah satu-satunya wanita yang selalu berada di dekat Pak Daniel, yang menghabiskan waktu lebih lama dari siapapun. Bahkan mungkin, saya lebih lama menghabiskan waktu bersama Bapak dibandingkan Bu Puspita sendiri.”Daniel menjenti

  • Suddenly Marry With The CEO   3. Sepasang Kekasih

    Mobil Daniel melesat jauh meninggalkan mobil Puspita yang baru keluar dari parkir basement gedung kantornya. Tiara duduk di samping sopir, tidak seperti biasanya.“Aku tahu mengapa kamu melakukan itu, tapi sekarang, aku memerintahmu untuk pindah ke belakang!” Perintah Daniel sangat jelas di dengar s

  • Suddenly Marry With The CEO   2. Buket Salah alamat

    Tiara diam membeku di tempatnya berdiri. Ia tidak berani membalas tatapan Daniel yang begitu dingin. Suasana ruangan yang sebelumnya tidak pernah secanggung ini, membuat Tiara ingin segera meninggalkan ruangan itu.“Apakah aku membayarmu hanya untuk duduk diam menatap buket-buket itu?”sindir Daniel.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status