Share

bab 35

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-03-31 18:26:52
"Gue mau jenguk ibu Lo sekalian." Ucap Dalung sambil keluar dari dalam mobil saat Febi keluar.

Febi membiarkan pria itu ikut menjenguk sang ibu. Namun, kehadiran Dalung rupanya membuat ruangan rawat inap itu menjadi heboh. Di sana juga ada Miko adiknya Febi.

"Ibu, lihat ini cowok yang kasih mobil ke kak Febi. Pasti dia pacarnya kak Febi." Ucap Miko sambil menarik tangan Dalung dan membawanya mendekat ke arah sang ibu yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit sana.

Wanita it
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 97

    Pagi datang terlalu cepat. Dan bagi Langga, itu buruk. Karena semalaman ia sama sekali tidak tidur. Pria itu duduk sendirian di ruang kerja sejak dini hari dengan kemeja yang masih kusut dan kopi yang bahkan sudah dingin di meja. Pikirannya kacau. Tentang dapur semalam. Tentang mata Febi yang penuh air mata. Dan tentang dirinya sendiri yang nyaris kehilangan kendali. Langga mengusap wajahnya kasar lalu menghembuskan napas berat. Ia seharusnya menjaga jarak. Seharusnya menghentikan semuanya sebelum semakin menghancurkan Samuel. Namun semakin ia mencoba, semakin perempuan itu memenuhi pikirannya. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat Langga langsung menegakkan tubuhnya. “Mas?” suara Sintia terdengar dari luar. “Udah bangun?” “Ya.” Jawab Langga datar. Sintia membuka pintu sedikit lalu tersenyum kecil. “Febi lagi bikin sarapan sama Samuel di dapur.” Deg. Kalimat itu langsung membuat rahang Langga mengeras samar. Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak. “Samuel dari tadi

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 96

    Suara hujan kecil di luar rumah terdengar jelas menimpa kaca jendela dapur. Langga masih berdiri sangat dekat di depan Febi. Tatapannya turun pelan menatap wajah perempuan yang kini penuh air mata itu. Dan dadanya terasa semakin sakit. Karena ia yakin, perempuan ini juga hancur sama seperti dirinya. “Kalau Samuel tahu…” suara Febi kembali pecah lirih, “…dia bakal benci sama kita dan pasti nggak akan maafin kita.” Febi mengingat bagaimana Sintia juga memperlakukan dirinya dengan baik, dan ia semakin merasa bersalah. Langga menghembuskan napas berat. Tatapannya melemah. “Biar dia benci saya.” bisiknya pelan. “Tapi jangan kamu.” Deg. Febi langsung mengangkat wajah cepat. Matanya membesar menatap pria itu. “Pak jangan ngomong gitu…” “Saya serius.” Ucap Langga dengan suara rendah. Dan terdengar seperti seseorang yang benar-benar sudah menyerah melawan dirinya sendiri. “Asal Samuel nggak nyakitin kamu.” rahangnya mengeras pelan, “…saya rela dia benci saya.” Air mata Febi kembali jat

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 95

    Malam semakin larut. Rumah besar itu akhirnya mulai sunyi setelah Sintia memaksa Samuel masuk ke kamar untuk beristirahat. Meski awalnya lelaki itu terus mengeluh karena ingin tetap mengobrol bersama Febi. “Aku cuma mau duduk bentar lagi…” rengeknya pelan. “Nggak ada bantahan.” Sintia menunjuk kamar Samuel tegas. “Dokter nyuruh kamu istirahat.” Samuel mendesah pasrah sebelum akhirnya menoleh pada Febi. “Kamu jangan pulang diam-diam ya.” Deg. Febi tersenyum kecil. “Iya.” “Janji?” “Iya, Sam.” Baru setelah itu Samuel terlihat sedikit tenang lalu berjalan menuju kamarnya perlahan. Dan sejak Samuel pergi,suasana rumah terasa berubah jauh lebih sunyi. dan lebih canggung. Terutama bagi Febi. Karena kini ia sadar… ia benar-benar akan menginap di rumah ini. Sintia mengantar Febi ke kamar tamu yang berada tidak jauh dari taman belakang. “Kamu tidur sini ya, Nak.” ucap perempuan itu lembut sambil merapikan selimut di atas kasur. “Kalau butuh apa-apa bilang aja.” “Makasi

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 94

    Samuel terdiam sesaat mendengar jawaban ayahnya. Lalu lelaki itu tertawa kecil samar. “Iya juga sih.” Namun entah kenapa, tatapannya masih belum benar-benar lepas dari Langga. Seolah ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam pikirannya. Sementara Febi justru semakin sulit bernapas. Karena jawaban Langga tadi terdengar begitu normal di permukaan… tetapi hanya mereka berdua yang tahu ada banyak hal tersembunyi di balik kalimat itu. “Udah jangan bahas yang aneh-aneh.” Sintia mencoba mencairkan suasana sambil duduk di samping suaminya. “Samuel harus istirahat.” Namun Samuel justru kembali bersandar di sofa sambil menatap Febi lekat. “Aku serius loh.” Suaranya pelan. “Aku kira papa marah karena aku deket sama kamu lagi.” Febi buru-buru menggeleng kecil. “Nggak mungkin…” “Kenapa nggak mungkin?” Samuel tersenyum kecil menggoda. “Siapa tau papa posesif.” “Samuel.” Langga memotong cepat. Nada suaranya terlalu tajam. Dan itu membuat ruangan kembali hening beberapa detik. Samu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 93

    Suasana ruang keluarga itu semula hangat. Suara sendok kecil yang beradu pelan dengan mangkuk sup terdengar samar di tengah obrolan ringan Sintia dan Samuel. Febi masih duduk di samping Samuel, menyuapi lelaki itu perlahan sambil sesekali mengingatkan agar makan pelan-pelan. Dan Samuel, lelaki itu terlihat begitu bahagia hanya karena hal sederhana seperti itu. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Febi. Seolah rasa sakitnya benar-benar berkurang hanya karena perempuan itu ada di dekatnya. “Awas tumpah…” bisik Febi pelan saat Samuel malah terus menatapnya. Samuel tersenyum kecil. “Biarin.” “Sam…” “Aku serius.” Suaranya melembut. “Aku suka lihat kamu dekat gini.” Deg. Pipi Febi langsung memanas. Sedangkan Sintia hanya tertawa kecil sambil menggeleng gemas. “Ya ampun, baru sembuh udah mulai gombal lagi.” Namun berbeda dengan suasana hangat di antara mereka, Langga justru semakin diam sejak tadi. Pria itu berdiri di dekat meja bar sambil menggenggam gelas di ta

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 92

    Keesokan malamnya, Langga menjemput Febi lagi, jelas tentu karena Samuel ingin bertemu dengan Febi. Ia berdiri di depan rumah Febi, ia menatap ke sekeliling yang tampak sederhana. Langga menghela nafasnya kasar. "Pak Langga, saya sudah siap." Seru Febi dari depan pintu, ia sudah mengenakan outfit seadanya. Tadi, ia tidak mau ke rumah pria itu, namun Langga terus memaksa, katanya Samuel tidak mau makan. Febi yang masih di liputi rasa bersalah akhirnya mau. Pun Miko malam ini pergi keluar bersama dengan teman-temannya. Febi membiarkan, karena ia ingin melihat adiknya seperti dulu lagi. "Ayo" Febi menganggukkan kepalanya, ia berjalan di belakang pria itu. Udara malam langsung menyambutnya, angin berhembus pelan, meniup daun-daun di sana. Tidak lama... Mobil Langga berhenti perlahan di halaman rumah besar milik keluarga. Malam sudah sangat larut. Udara terasa dingin setelah hujan turun sejak tadi, sementara lampu-lampu rumah masih menyala hangat dari dalam. Febi turun pelan da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status