MasukLorong sayap medis privat di kediaman Oakhaven Ridge tampak seperti zona perang yang sunyi. Julian Romanov berdiri di samping tempat tidur persalinan, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak pucat dengan rahang yang mengeras.Ia tidak mengenakan jas; kemejanya berantakan dengan kancing atas yang terbuka, dan lengan bajunya digulung kasar.Tangannya mencengkeram erat tangan Kiara, seolah-olah kekuatan fisiknya bisa membantu wanita itu menanggung rasa sakit yang luar biasa.“Tuan Romanov, kami mohon Anda menunggu di luar. Ruangan ini harus tetap steril dan tim medis membutuhkan ruang gerak,” ucap Dokter Aris dengan nada setenang mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.“Aku tidak akan pergi ke mana pun,” desis Julian. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang tak terbantahkan.“Lakukan tugasmu, Dokter. Pastikan istriku selamat, atau kau akan menyesal pernah mengambil sumpah medis.”Kiara mengerang kesakitan, tubuhnya melengkung saat kontraksi hebat kembali menghantam
Lonceng Katedral Oakhaven berdentang dua belas kali, suaranya yang berat dan agung bergema di seluruh penjuru kota, membelah kebisingan ribuan orang yang berkumpul di luar pagar besi gereja tua tersebut.Di dalam katedral, suasana begitu kontras; sunyi, sakral, dan sarat dengan ketegangan yang elegan. Wangi bunga lili putih dan ratusan lilin lebah memenuhi ruangan beratap tinggi dengan jendela kaca patri yang menampilkan sejarah kemenangan dan penderitaan.Di barisan kursi terdepan, duduk para tokoh paling berpengaruh di dunia.Para diplomat, CEO teknologi, hingga anggota keluarga kerajaan dari negara tetangga hadir bukan hanya untuk sebuah seremoni, melainkan untuk menyaksikan secara langsung siapa wanita yang berhasil menjinakkan “Sang Tiran” Julian Romanov.Mereka berbisik pelan, mengamati setiap gerak-gerik Julian yang sudah berdiri di depan altar dengan ekspresi yang sangat terkontrol, namun rahangnya tampak mengeras setiap kali matanya melirik ke arah pintu besar katedral.“Tuan
Oakhaven tidak pernah sesibuk ini dalam satu dekade terakhir. Bendera-bendera dengan lambang singa Romanov berkibar di sepanjang jalan protokol, dan hotel-hotel bintang lima telah penuh dipesan oleh tamu-tamu kehormatan dari seluruh penjuru dunia.Media internasional melabeli acara besok sebagai “Pernikahan Abad Ini” sebuah penyatuan yang tidak hanya melambangkan cinta, tetapi juga stabilitas baru bagi imperium ekonomi Romanov yang sempat terguncang.Di dalam kantor yayasan Romanov, Kiara sedang meninjau laporan akhir program rehabilitasi kesehatan untuk sektor buruh. Ia tampak sangat berbeda dari gadis yang dulu sering menunduk ketakutan.Mengenakan setelan blazer berwarna gading yang elegan, dengan rambut yang disanggul rapi, ia memancarkan aura otoritas yang tenang. Perutnya kini sudah mulai membuncit di balik pakaiannya, namun hal itu tidak menghalangi produktivitasnya.“Nona Kiara, perwakilan dari WHO ingin mengonfirmasi kehadiran Anda di simposium bulan depan,” ucap sekretarisny
Persiapan untuk perjalanan keliling dunia seharusnya menjadi prioritas utama di penthouse Oakhaven Ridge, namun suasana pagi itu terasa berbeda. Koper-koper mewah yang sudah terbuka di sudut kamar utama masih tampak kosong.Kiara duduk di tepi ranjang, wajahnya sepucat kertas, dengan butiran keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Aroma parfum maskulin Julian yang biasanya ia sukai, pagi ini terasa seperti racun yang memicu gejolak hebat di perutnya.Julian masuk ke kamar dengan langkah terburu-buru, masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia langsung berlutut di depan Kiara, menggenggam tangan wanita itu yang terasa dingin dan lembap.“Masih mual?” tanya Julian, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan.Kiara hanya mengangguk lemah, menutup mulutnya dengan punggung tangan.“Hanya pusing sedikit, Julian. Mungkin aku terlalu bersemangat memikirkan perjalanan kita besok. Atau mungkin makanan di jamuan makan malam kemarin tidak cocok denganku.”“Ini sud
Malam di Oakhaven tidak pernah terlihat secerah ini. Dari balkon lantai teratas penthouse Romanov, lampu-lampu kota tampak seperti hamparan permata yang berserakan di atas beludru hitam.Angin malam yang dingin bertiup stabil, membawa aroma laut dan aspal basah, namun udara di balkon itu terasa hangat.Julian berdiri bersandar pada pagar kaca, mengenakan kemeja hitam dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan ketenangan yang jarang ia miliki selama bertahun-tahun ini.Kiara melangkah keluar dari dalam kabin kaca, tangannya memegang segelas anggur merah.Ia berdiri di samping Julian, dan menatap pemandangan yang sama. Kota yang dulu terasa seperti penjara raksasa baginya, kini tampak seperti kanvas kosong yang siap ia lukis bersama pria di sampingnya.“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Kiara lembut, memecah kesunyian.Julian menoleh, matanya yang tajam kini melunak saat menatap wajah tunangannya.“Aku sedang mengingat pertama kali aku membawamu ke sini. Kau menatap kota ini dengan ket
Taman di belakang rumah baru yang dibangun Julian untuk Melisha tampak seperti lukisan. Bunga-bunga mawar putih yang mekar sempurna berpadu dengan aroma rumput basah setelah hujan sore tadi.Julian telah mengatur semuanya dengan detail yang sangat privat; tidak ada wartawan, tidak ada kilatan lampu flash, hanya cahaya lampu taman yang kekuningan dan lembut serta suara desir angin di antara pepohonan.Melisha duduk di kursi roda di teras, namun wajahnya kini penuh dengan kehidupan.Dia menatap Julian dan putrinya dengan senyum tulus, sebuah pengampunan yang telah ia berikan sepenuhnya sejak Julian memindahkan mereka ke tempat yang ia sebut 'benteng' itu.Julian berdiri di tengah jalan setapak berbatu, berhadapan dengan Kiara.Ketegangan yang biasanya mewarnai wajah Julian kini berganti dengan kegugupan yang manusiawi. Ia meraih tangan Kiara, merasakan jemari wanita itu yang bergetar hebat dalam genggamannya.“Julian, ada apa dengan semua persiapan ini?” bisik Kiara, matanya berkaca-kac
Lampu flash kamera menyambar tanpa henti, menciptakan efek stroboskopik yang menyilaukan di dalam aula utama Romanov Tower.Ratusan jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional telah berkumpul, memenuhi setiap kursi yang tersedia.Atmosfer di dalam ruangan terasa berat oleh spekulasi; se
Aroma khas rumah sakit yang menindas perlahan memudar, digantikan oleh kesibukan para perawat yang mulai melepas kabel-kabel monitor di ruangan Melisha. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari wajah Melisha yang kini tampak jauh lebih segar.Warna kulitnya yang semula pucat pasi perla
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus kaca jendela penthouse, namun suasana di dalam ruangan masih terasa sisa-sisa kegelapan semalam.Julian sudah bangun lebih awal. Ia tidak berada di tempat tidur, melainkan berdiri di balkon luas yang menghadap langsung ke jantung kota Oakhaven.Meskipun jaru
Pintu apartemen terbanting keras, gema suaranya memantul di dinding marmer yang dingin. Julian tidak lagi memiliki sisa kesabaran.Ia mencengkeram lengan Kiara, menyeretnya masuk ke ruang tengah, lalu mendorong tubuh wanita itu hingga terduduk paksa di atas sofa beludru.Kalung perak dengan liontin







